Pagi berganti siang dengan rasa gerah yang merayap masuk lewat celah-celah pilar beton Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Udara hangat berhembus pelan di sepanjang koridor lantai dua, membawa serta aroma aspal basah yang menyengat akibat siraman truk pembersih taman kampus. Suasana ruang kuliah 204 terasa hening. Hanya terdengar ketukan berkala spidol hitam di atas papan tulis putih, berpadu dengan suara monoton dosen paruh baya yang sedang menutup materi kuliah manajemen risiko.
Di barisan paling belakang, di sudut remang dekat jendela yang agak berdebu, Revan Novandra duduk menyandar kaku. Punggungnya yang tegap tertempel pada sandaran kursi kayu, mencoba mencari posisi tegak yang paling tidak menyiksa bagi tubuhnya. Setiap kali d**a dan paru-parunya mengembang untuk mengambil napas agak dalam, denyutan nyeri menyengat dari rusuk kirinya—bekas hantaman keras siku Viktor dan petarung veteran di dalam ring fightclub dua malam lalu yang belum seutuhnya pulih.
Revan menurunkan pandangannya, menatap jemari tangan kanannya yang bertumpu di atas paha. Sendi-sendi jarinya masih bengkak membiru dan terkelupas halus, dipaksakan tersembunyi di balik gulungan lengan jaket denim tebal berwarna gelap yang membalut kaus hitam polosnya. Wajahnya yang rupawan dengan garis rahang tegas kini dihiasi lebam kebiruan baru di bawah mata kiri dan pelipis, sementara robekan kecil di sudut bibirnya sudah mengering menjadi bekas luka tipis berwarna kemerahan.
Ia menghembuskan napas pendek yang tertahan di tenggorokan, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang dingin dan sayu. Kehadirannya di kelas pagi ini hanyalah bentuk sandiwara formalitas demi menjaga agar status mahasiswanya tidak digugurkan oleh pihak dekanat. Di balik wajah diamnya, Revan terus mendengarkan dengung halus earpiece nirkabel yang tersembunyi rapat di balik rambutnya—jalur frekuensi radio pribadi yang terhubung langsung ke komputer peretasan Dion di markas aliansi.
Tak jauh dari posisi Revan, tepat di barisan ketiga dari depan, Clara duduk tegak dengan jemari tangan yang memutar pena secara teratur. Hari ini ia mengenakan kemeja garis-garis halus berwarna soft blue berbalut blazer kasual warna nude yang membingkai penampilannya dengan sangat rapi dan elegan. Namun, fokus Clara sejak jam pertama perkuliahan dimulai tidak pernah sepenuhnya tertuju pada slide presentasi di depan kelas.
Clara berkali-kali melirik pelan lewat sudut matanya ke arah pojok belakang. Ada rasa lega yang halus sekaligus cemas yang makin membakar benaknya saat melihat Revan akhirnya kembali menginjakkan kaki di kelas setelah dua hari menghilang tanpa kabar. Namun, kondisi Revan pagi ini membuat d**a Clara makin berdesir sesak. Memar di wajah cowok itu bertambah, napasnya terlihat amat pendek dan tertahan, serta cara duduknya yang begitu kaku memperlihatkan dengan jelas bahwa Revan sedang menahan rasa sakit.
Kenapa dia selalu datang dalam kondisi hancur seperti itu? batin Clara risau, mengunci pandangannya pada buku catatannya.
Suara ketukan spidol di papan tulis mendadak berhenti. Dosen paruh baya di depan kelas merapikan berkas-berkasnya, lalu menatap seluruh mahasiswa di ruangan melalui kacamata tebalnya.
"Baik, materi untuk minggu ini sudah selesai," ujar sang dosen dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Sesuai dengan silabus perkuliahan, tugas besar manajemen risiko semester ini akan dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua orang, dan pembagian anggota tidak akan ditentukan oleh kalian sendiri."
Riuh bisik-bisik kecewa langsung terdengar di seluruh penjuru kelas. Beberapa mahasiswa saling menoleh dan memprotes pelan, berharap bisa memilih teman dekat mereka masing-masing.
"Tidak ada protes," potong sang dosen tegas sambil membuka lembar daftar presensi mahasiswa. "Saya sudah membagi pasangan kelompok berdasarkan urutan nomor induk dan acak agar adil. Tolong catat baik-baik pasangan kalian."
Dosen itu mulai membacakan nama-nama mahasiswa satu per satu secara berurutan. Nadia berpasangan dengan Maya di barisan depan, diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa lain yang langsung sibuk mencatat nama teman kelompoknya di lembar modul.
Clara memegang penanya dengan eratan yang sedikit mengetat, menunggu namanya dipanggil.
"Selanjutnya... kelompok delapan," dosen itu menunduk, meneliti lembar kertas di tangannya. "Clara Anindya... berpasangan dengan Revan Novandra."
Seketika, suasana di ruang kelas 204 mendadak hening untuk beberapa detik.
Beberapa mahasiswa di barisan tengah dan depan langsung menolehkan kepala mereka. Nadia, yang duduk tepat di samping Clara, membelalakkan matanya terkejut lalu refleks menyiku lengan blazer Clara. Bisik-bisik miring mulai terdengar samar dari deretan meja sebelah. Kebanyakan mahasiswa di kelas itu tahu reputasi buruk Revan yang sering membolos, individualis, dan berwajah penuh lebam—membuat berpasangan dengan Revan dianggap sebagai nasib sial dalam tugas akademik.
Clara tersentak pelan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka takdir akan menempatkannya satu kelompok dengan cowok misterius yang selama ini terus mencuri perhatiannya itu.
Di barisan paling belakang, Revan yang tadinya memejamkan mata hanya membuka kelopak matanya perlahan. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi sedikit pun. Ia mendengar namanya dipanggil, namun tidak ada reaksi terkejut atau keberatan yang keluar dari mulutnya. Baginya, tugas kelompok perkuliahan ini hanya akan menjadi beban tambahan baginya, yang secara tidak langsung akan menyeret Clara masuk kedalam masalah pribadinya, yang sewaktu waktu bisa menyerangnya, keluarga, dan orang-orang sekitarnya
"Tugas berupa analisis laporan keuangan dan mitigasi risiko perusahaan," lanjut sang dosen sambil menutup bukunya. "Format diketik rapi dan dikumpulkan paling lambat Jumat minggu depan sebelum jam dua siang di meja saya. Kelas hari ini selesai, terima kasih."
Suara gesekan kaki kursi dan riuh perbincangan mahasiswa seketika pecah begitu dosen melangkah keluar dari ruangan. Mahasiswa-mahasiswa mulai berdiri, merapikan tas, dan menghampiri pasangan kelompoknya masing-masing untuk mendiskusikan pembagian tugas.
Nadia langsung memutar badannya menatap Clara dengan raut wajah penuh prihatin. "Duh, Ra! Kok bisa-bisanya kamu dapet kelompok sama si Revan sih? Takdir kamu apes banget hari ini."
Clara merapikan alat tulisnya ke dalam tas dengan tenang, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. "Nggak apa-apa, Nad. Cuma tugas analisis biasa kok."
"Nggak apa-apa gimana?" bisik Nadia setengah berprotes. "Kamu lihat sendiri kan dia jarang masuk kelas? Mana mukanya lebam-lebam gitu terus. Kalau dia nggak mau diajak kerja sama atau malah bolos lagi sampai minggu depan, gimana? Mending kamu minta tukar kelompok ke dosen sekarang deh!"
Clara menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak usah, Nad. Dosen kan udah bilang nggak bisa diganti. Aku coba ngobrol sama Revan dulu."
Nadia mendesah pasrah, memandangi Clara dengan tatapan heran sebelum akhirnya pamit keluar ruangan bersama Maya menuju kantin utama.
Ruang kelas 204 perlahan makin lengang hingga akhirnya hanya tersisa beberapa orang saja. Clara berdiri dari kursinya, menyampirkan tas kulitnya di bahu, lalu membalikkan badan. Matanya menatap lurus ke sudut paling belakang ruangan.
Revan masih duduk di tempatnya. Ia terlihat sedang merapikan sebuah buku catatan tebal ke dalam tas punggung hitamnya dengan gerakan tangan yang sangat pelan dan tertahan—pemandangan yang makin menegaskan betapa parahnya rasa sakit di jari dan rusuknya.
Clara menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang berdebar halus, lalu melangkah perlahan menyusuri selasar di antara deretan meja kayu menuju ke sudut belakang.
Suara ketukan halus sepatu Clara di lantai semen membuat Revan menghentikan gerakannya. Revan tidak mendongak seketika, namun aura dingin di sekelilingnya makin terasa keras. Ketika ujung sepatu Clara terhenti tepat di depan mejanya, barulah Revan menaikkan pandangannya perlahan.
Manik mata Revan yang tajam, dingin, dan sedikit sayu menatap langsung ke dalam mata cokelat bening milik Clara.
Dari jarak sedekat ini, Clara bisa melihat dengan sangat jelas luka di wajah cowok itu. Lebam kebiruan di bawah mata kirinya tampak masih baru, sementara sayatan di sudut bibirnya terlihat begitu perih. Bahkan, samar-samar tercium aroma wangi antiseptik yang dingin bercampur aroma lembut parfum maskulin dari jaket denim tebal yang dikenakan Revan.
"Revan..." suara Clara terdengar pelan dan halus, memecah keheningan di antara mereka.
Revan menatap Clara tanpa ekspresi, menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi. "Soal tugas kelompok?" suara Revan terdengar berat dan parau, khas suara orang yang menahan lelah luar biasa.
Clara mengangguk pelan. Ia menarik satu kursi di depan meja Revan lalu mendudukinya secara anggun. "Iya. Karena dosen udah bagi kelompoknya, kita harus mulai bagi materi analisisnya dari sekarang biar nggak keteteran."
Revan diam sejenak, memperhatikan jemari Clara yang memegang map dokumen dengan rapi. "Lu yang atur pembagian materinya," ucap Revan pendek dengan nada datar. "Kirim bagian gua ke email atau pesan. Gua bakal kerjain."
Clara sedikit menyipitkan matanya, menatap raut wajah Revan yang terkesan sangat tertutup dan ingin segera mengakhiri percakapan. "Kamu ada waktu buat diskusi sebentar? Kita butuh bicarain modul manajemen risikonya dulu sebelum mulai nulis."
"Gua ada urusan di luar," potong Revan dingin, mulai mengancingkan ritsleting tas punggungnya.
Rasa penasaran dan prihatin bercampur menjadi satu di dalam d**a Clara. Ia memperhatikan bagaimana tangan kanan Revan sedikit gemetaran saat menarik ritsleting tas—akibat sendi jari cowok itu yang bengkak memerah di balik perban kusam.
"Revan," panggil Clara lagi, membuat gerakan tangan Revan terhenti. Clara menatap tepat ke arah luka di pelipis dan tangan Revan dengan pandangan yang sarat akan rasa cemas yang jujur. "Kamu... kamu sebenarnya nggak apa-apa?"
Revan tersentak pelan. Sorot matanya yang dingin sedikit goyah untuk sepersekian detik mendengar pertanyaan yang tak disangka-sangka itu. Selama ini, orang-orang di kampus hanya memandangnya dengan tatapan takut, risih, atau menganggapnya sebagai pembuat masalah. Tak pernah ada satu orang pun yang menanyakan kondisinya dengan nada setulus dan secemas ini.
Revan dengan cepat menguasai kembali raut wajahnya, memalingkan pandangan ke arah jendela yang berdebu. "Gua nggak apa-apa. Nggak usah dipikirin."
"Tapi kamu kelihatan nahan sakit dari tadi," desak Clara pelan namun tegas. "Luka kamu tambah banyak dari dua hari lalu. Kalau kamu butuh bantuan atau..."
"Clara," potong Revan, menyebut nama gadis itu dengan nada berat yang langsung menghentikan kalimat Clara. Revan menatap Clara kembali, memperlihatkan tatapan mata yang dalam dan sarat akan peringatan tak kasat mata. "Jangan terlalu banyak bertanya. Urus aja bagian tugas lu, sisanya biar gua yang beresin."
Revan berdiri perlahan dari kursinya, menahan napas sejenak saat rasa nyeri di rusuk kirinya kembali menusuk tajam. Ia menyampirkan tas punggung hitamnya di salah satu bahu, menarik gulungan lengan jaketnya untuk menutupi perban di pergelangan tangan, lalu melangkah melewati meja Clara tanpa mengucap sepatah kata pun lagi.
Clara tetap duduk di kursinya, memutar badan memandangi punggung tegap Revan yang berjalan perlahan menelusuri lorong kelas menuju pintu keluar. Cara jalan cowok itu masih agak tertahan di kaki kanan, memperlihatkan sisa-sisa cedera dari dunia kelam yang disembunyikannya.
Clara menggenggam map dokumen di pangkuannya dengan eratan yang kuat. Ia sadar, benteng pertahanan di sekitar Revan Novandra begitu tebal dan dingin. Namun, di balik sikap acuh tak acuh dan luka-luka fisik cowok itu, Clara bisa merasakan ada beban bahaya yang teramat besar sedang dipikul oleh Revan sendirian—sebuah rahasia gelap yang kini perlahan mulai mengusik ketenangan hidupnya sendiri.