Matahari merambat makin tinggi, melimpahkan hawa panas yang menyengat di atas permukaan jalanan kota. Di balik kaca depan berlapisan film gelap milik Mercedes-AMG C63 Coupe, mata Revan menatap lurus ke jalur aspal di depannya. Jalanan utama agak lengang siang itu, namun fokus Revan sama sekali tak teralihkan oleh deretan pertokoan atau kemacetan tipis di persimpangan. Tangannya yang bengkak mencengkeram lingkar kemudi berlapis alcantara dengan eratan yang stabil, menahan cengkeraman meski sesekali rasa nyeri menyengat dari kulit jarinya yang terkelupas.
Setiap kali mobil bertubuh tegap itu melewati gundukan jalan atau merayap di atas permukaan jalan yang tidak rata, getaran halus roda langsung merambat ke sasis. Revan menggerakkan sedikit posisi duduknya, menahan ringisan pelan saat tulang rusuk kirinya kembali berdenyut. Cedera akibat hantaman siku di arena pertarungan tadi malam itu cukup parah, namun rasa cemas yang merayap di benaknya jauh lebih dominan daripada rasa sakit fisik mana pun.
Gedung-gedung tinggi di pusat kota perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindang saat mobil sport hitam itu memasuki kawasan perumahan kelas menengah yang tenang. Jalanan di kompleks ini sepi, hanya ada beberapa mobil penghuni yang terparkir rapi di garasi masing-masing. Namun bagi Revan, ketenangan ini terasa artifisial dan rapuh—seperti permukaan danau yang tenang sebelum diterjang badai.
Revan mengurangi kecepatan. Matanya bergerak cepat memperhatikan setiap sudut persimpangan, menyapu deretan mobil yang terparkir di pinggir jalan, hingga ke celah-celah lorong antar rumah. Ia mencari keberadaan dua mobil SUV tanpa plat nomor yang sempat dilaporkan Dion. Namun siang itu, jalanan perumahan tampak sepi tanpa ada pergerakan mencurigakan.
Laju Mercedes-AMG itu akhirnya terhenti di depan sebuah rumah berdesain minimalis dengan pagar besi hitam yang tertutup rapat. Rumah itu tidak terlalu besar, namun terawat dengan sangat baik. Di halaman depan, beberapa pot tanaman hias tampak hijau menyegarkan, kontras dengan aura kelam yang dibawa oleh Revan di dalam kabin mobilnya.
Revan menekan tombol di panel dasbor. Pagar besi otomatis bergeser pelan dengan suara derit halus. Ia mengarahkan moncong C63 Coupe hitamnya memasuki garasi tertutup, lalu mematikan mesin V8-nya. Seketika raungan gahar yang tadinya mengisi udara meredup total, menyisakan keheningan pekat di dalam garasi.
Revan menghela napas panjang. Ia berdiam diri selama beberapa saat di dalam mobil, memejamkan mata untuk merapikan raut wajahnya. Ia tidak boleh terlihat terlalu kacau di depan ibunya. Dengan perlahan, ia menurunkan gulungan lengan jaket hoodie-nya untuk menutupi perban kusam di pergelangan tangan, membetulkan kerah baju agar bekas memar di lehernya tersamar, lalu mengembuskan napas terakhir sebelum membuka pintu mobil.
Klek.
Begitu kakinya menapak di lantai garasi yang bersih, pintu penghubung antara garasi dan ruang tengah terbuka. Sosok wanita paruh baya berusia akhir empat puluhan melangkah keluar dengan raut cemas yang tidak bisa disembunyikan. Ibunya memegang selembar kain serbet dapur di tangannya, matanya yang agak sembab langsung tertuju pada Revan.
"Revan? Kamu sudah pulang, Nak?" suara ibunya terdengar lembut, tapi ada getaran halus di sana.
Revan mencoba tersenyum—sebuah senyuman tipis yang terasa kaku di sudut bibirnya yang robek. "Iya, Bu. Jam kuliah pertama Revan sudah selesai."
Ibunya melangkah mendekat, matanya menyapu penampilan Revan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sesaat kemudian, pandangan sang ibu tertahan pada lebam membiru di pelipis kiri Revan serta bekas luka kecil di sudut bibirnya. Air muka ibunya seketika mengencang; rasa cemas dan sedih terpancar jelas di sana.
"Wajah kamu..." jemari ibunya terulur, menyentuh pelan udara di dekat pipi Revan tanpa berani menempelkan kulitnya. "Kenapa memar lagi, Van? Kamu... berantem lagi semalam?"
Revan dengan lembut memegang pergelangan tangan ibunya, menurunkannya pelan-pelan agar sang ibu tidak memegang tangannya yang bengkak. "Cuma insiden kecil di tempat latihan, Bu. Revan nggak apa-apa. Nanti juga hilang sendiri."
"Insiden kecil gimana? Kamu selalu bilang begitu tiap kali pulang dengan luka baru," suara ibunya mulai bergetar. Kaca-kaca bening mulai menggenang di sudut matanya. "Ibu selalu cemas setiap kali kamu belum pulang, Van. Tolong... kurangi kegiatan yang berbahaya di luar sana. Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu."
"Revan bisa jaga diri, Bu," jawab Revan dengan nada selembut mungkin. Ia merangkul bahu ibunya pelan, membimbing wanita itu berjalan masuk ke dalam ruang tengah yang hangat. "Ayah ada di mana?"
"Ayahmu ada di ruang kerja di belakang," ibunya mengusap sudut matanya dengan ujung kain serbet. "Sejak pagi Ayah belum keluar dari kamar kerja setelah Dion menelepon. Ibu tidak paham apa yang sebenarnya terjadi, Van... Kenapa suasana rumah kita rasanya jadi berbeda begini?"
Revan menahan napasnya sejenak. Ia mengelus lengan ibunya hangat, mencoba menyalurkan rasa aman yang sebenarnya tidak ia miliki sendiri. "Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma ada sedikit urusan pekerjaan Ayah yang perlu diselesaikan. Revan sama Dion yang bakal bantu. Ibu tidak usah cemas, ya? Ibu masak apa siang ini?"
"Ibu... Ibu buat sup ayam kesukaanmu," jawab ibunya pelan, mencoba tersenyum meski matanya masih berkaca-kaca. "Sana mandi dulu, ganti baju. Nanti Ibu obati luka di mukamu itu."
"Siap, Bu. Revan ke belakang sebentar nemuin Ayah."
Revan melepaskan rangkulannya, lalu berjalan melewati lorong tengah menuju ruang kerja ayahnya yang terletak di dekat taman belakang. Setiap langkah kakinya terasa berat. Kebohongan demi kebohongan yang ia ucapkan untuk menenangkan ibunya selalu meninggalkan rasa bersalah yang menggerogoti dadanya. Ibunya adalah wanita paling hangat yang hanya menginginkan kehidupan keluarga yang tenang, namun keadaan memaksa mereka hidup di balik dinding kaca yang sewaktu-waktu bisa hancur berantakan.
Revan menghentikan langkahnya di depan pintu kayu tebal yang tertutup rapat. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu itu hingga terbuka pelan.
Di dalam ruangan yang remang dengan tirai jendela tertutup setengah, seorang pria berusia lima puluhan duduk di balik meja kayu tua. Ayah Revan memiliki postur tubuh yang kekar dengan garis wajah yang sangat mirip dengan Revan, namun rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipis. Di atas meja kerjanya, sebuah monitor menampilkan delapan sudut pandang kamera CCTV yang mengawasi seluruh area luar rumah dan garasi.
Begitu pintu terbuka, ayahnya langsung menoleh tajam. Matanya yang berpengalaman menatap Revan secara keseluruhan, tidak melewatkan sedikit pun memar di wajah anaknya serta cara berjalan Revan yang agak tertahan.
"Kamu pulang selamat," ucap ayahnya dengan suara berat dan dalam.
Revan melangkah masuk, membiarkan pintu berdesing pelan saat menutup di belakangnya. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja sang ayah, melipat kedua tangannya di d**a. "Dion bilang ada dua SUV hitam yang memutari kompleks tadi pagi."
Ayahnya tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan badannya ke kursi, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur. "Mereka bukan cuma lewat, Van. Mereka sempat berhenti tepat tiga puluh detik di depan pagar garasi sebelum tancap gas. Mereka sudah memetakan rumah ini."
Revan mengepalkan tangannya di dalam lipatan baju. "Perlu Revan dan Dion cari tahu siapa mereka sebenarnya?"
Ayahnya memalingkan wajah, menatap salah satu layar monitor yang menampilkan pemandangan pagar depan yang sepi. Garis rahangnya mengeras, menyimpan ketegangan yang sangat dalam. "Tidak perlu gegabah. Ini urusan lama yang seharusnya tidak mengganggu kehidupan kita lagi. Ayah hanya ingin kamu tetap waspada."
Revan menatap ayahnya lekat-lekat. Ia tahu ayahnya sengaja menutup rapat-rapat detail masalah ini demi melindunginya, namun pergerakan musuh di luar sana sudah terlalu nyata untuk diabaikan. "Tapi mereka makin dekat, Yah. Tadi malam pun ada orang-orang mencurigakan di sekitar arena pertarungan."
Ayahnya mendongak, menatap Revan dengan pandangan yang sarat akan rasa bersalah. "Ayah minta maaf, Revan. Harusnya kamu fokus kuliah dan memikirkan masa depanmu, bukan malah ikut menanggung ketegangan seperti ini."
"Revan tidak pernah mempermasalahkan itu, Yah," jawab Revan mantap. "Tugas Revan sekarang memastikan Ibu dan rumah ini tetap aman. Revan cuma butuh Ayah jujur kalau situasi makin memburuk."
Ayahnya mengangguk perlahan, memegang bahu Revan dengan eratan yang kuat. "Selalu jaga dirimu baik-baik, Van. Gunakan bantuan Dion dan teman-temanmu jika diperlukan. Tapi ingat, jangan bertindak sendiri tanpa perhitungan."
"Revan paham, Yah."
Revan melepaskan pegangan di bahunya, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang kerja.
Satu jam kemudian, Revan berdiri di balik jendela kamarnya di lantai dua. Ia sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaus oblong hitam yang santai. Luka memar di wajahnya telah diolesi salep oleh ibunya dengan telaten—sebuah momen hangat yang selalu membuat d**a Revan berdenyut ngilu karena merasa bersalah telah membuat ibunya cemas.
Revan menatap keluar jendela, memandangi jalanan kompleks yang tampak tenang di bawah terik siang yang mulai bergeser. Di atas meja belajarnya, ponselnya berdering pelan. Layar ponsel menampilkan nama Dion.
Revan menggeser ikon hijau lalu menempelkannya ke telinga. "Gimana, Yon?"
"Gua udah cek rekaman CCTV jalanan yang terhubung ke kompleks lu," suara Dion terdengar cepat di seberang sana. "Dua SUV hitam itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang di daerah pelabuhan. Plat nomornya palsu, tapi gua berhasil meretas sinyal GPS bawaan mobil mereka sebelum dimatikan."
"Posisi mereka sekarang di mana?" tanya Revan, matanya menyipit tajam.
"Mereka bergerak balik ke arah pusat kota, tepatnya menyisir area sekitar perbatasan kampus lu," jawab Dion. "Kelihatannya mereka sadar kalau jalanan perumahan lu terlalu sepi buat bikin pergerakan tanpa ketahuan. Mereka mau nyari titik lemah lu di area yang ramai."
Dada Revan berdesir hening. Kata-kata Dion seketika memicu memori singkat di kepalanya: kampus.
Bayangan gedung fakultas yang ramai, area parkiran luar laboratorium tua yang sepi, serta sosok Clara yang tadi siang memegang buku catatannya dengan tangan gemetaran mendadak melintas begitu jelas di pikiran Revan.
"Van? Lu masih di situ?" panggil Dion dari telepon.
"Iya," jawab Revan dingin. "Pantau terus pergerakan mobil-mobil itu. Kalau mereka mulai masuk ke area kampus, langsung kabarin gua detik itu juga."
"Sip. Raka sama anak-anak superbike*
juga udah standby di warkop perbatasan. Kalau ada apa-apa di jalan, kita siap blokir rute mereka."
"Oke. Thanks, Yon."
Revan memutus sambungan telepon, lalu melempar ponselnya ke atas kasur. Ia berjalan mendekati meja, mengambil jaket kulit hitamnya yang terikat di sandaran kursi. Saat ia menyambar kunci mobil Mercedes-AMG-nya, mata Revan tak sengaja tertuju pada cermin kecil di dinding.
Di dalam pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri—seorang pemuda dengan memar di wajah, bengkak di jemari tangan, serta tatapan mata dingin yang tak lagi memiliki keraguan. Revan tahu, ketenangan di rumah ini hanyalah jeda singkat. Di luar sana, jalanan kota dan area kampus sudah mulai dikepung oleh bayang-bayang musuh yang siap menerkam.
Dan kali ini, Revan bersumpah tak akan membiarkan siapa pun—baik keluarganya maupun orang tak bersalah di sekitarnya—menjadi korban dari ancaman berdarah yang sedang mengintai mereka.