Keinginan Max untuk batal menikah dengan Shayla Dominic nyatanya sia-sia. Di malam saat acara makan malam itu berlangsung, dari percakapan bisnis menjadi percakapan yang membahas tentang pernikahan Max dan Shayla.
Yang akan dilaksanakan satu bulan lagi dari hari ini.
"Damn it!" Max mengumpat pelan mengingat rencana pernikahannya, tetapi umpatannya itu membuat Shayla yang berada disebelahnya menoleh. Menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa lihat-lihat?!"
Shayla mencibir, "dasar aneh."
Max tidak menanggapi Shayla, dia kembali memalingkan wajahnya ke kanan. Menatap jalanan London yang pada hari ini disinari cahaya matahari.
Shayla dan Max pada siang ini terpaksa duduk dalam satu mobil yang membawa mereka ke sebuah butik ternama di London. Tentu saja mengunjungi butik itu adalah untuk menemui teman Max yang berprofesi sebagai designer ternama di London ini.
Sepuluh menit dalam keadaan yang tenang di dalam mobil, kemudian mobil itu berhenti. Tepat di depan butik bernama Giovanni.
"Giovani?" Shayla bergumam, tetapi kemudian juga ikut turun ketika pintu mobil di buka oleh supir.
Max hampir saja mendengus kencang saat melihat wanita disampingnya ini menatap gedung butik Giovanni yang menjulang megah dan mewah dengan pandangan mata berbinar.
"Tidak pernah melihat gedung megah, nona?" Max menyindir.
"Tentu saja pernah." Shayla seolah-olah tidak menghiraukan sindiran Max. "Aku hanya senang karena kamu membawaku untuk memilih baju rancangan Giovanni."
Shayla lagi-lagi tersenyum lebar, masih memandangi gedung butik Giovanni.
"Kau ini benar-benar seperti gadis desa." Max melangkah duluan memasuki gedung meninggalkan Shayla yang masih tersenyum senang.
***
"Max! Akhirnya kamu kemari lagi!"
Binar mata Shayla makin terlihat menyilaukan ketika dengan mata kepalanya sendiri dia bertemu dengan Giovanni France, seorang designer pria yang selalu membuat baju yang di inginkan semua wanita di London ini. Mungkin, tidak hanya London, karena Giovanni adalah designer baju yang sudah go international.
Max membalas pelukan Giovanni dengan akrab, "senang bertemu denganmu lagi, Gio."
Giovanni yang akrab dipanggil Gio itu melepaskan pelukannya dari Max, "jadi kali ini, wanita mana lagi yang akan kau belikan baju dari designku?"
Mendengar lontaran ceplas-ceplos dari Gio, sontak Max melemparkan tatapan memohon pada Gio dan kemudian mengarahkan bola matanya melirik kebelakang. Tempat dimana sekarang Shayla yang tadinya tersenyum lebar menjadi berwajah biasa saja setelah mendengar lontaran Gio.
Usai sudah keinginan Max membuat Shayla sedikit tersanjung dengan cara gadis itu menganggap bahwa Shayla lah satu-satunya wanita yang ia ajak ke butik Giovanni dan mendapatkan rancangan Giovanni secara khusus.
Kenyataannya, setiap ingin membawa wanita-wanita ke acara pesta penting yang akan dihadiri Max, dia selalu membawa wanita-wanita itu ke butik Giovanni, membelikan mereka baju apa saja yang mereka inginkan. Mulai dari dress, night gown, ataupun lingerie rancangan Giovanni. Max selalu mengeluarkan uang untuk para wanita-wanita yang menemaninya dan melayani hasrat lelaki Max.
Shayla menghela napas lelah, pikirannya terbukti benar. Max Jasper adalah seorang Casanova London yang bisa memikat semua hati wanita. Dan skandal dari Max itu, membuat Shayla makin menjauh dan ingin menjauh dari Max.
"Ehm, jadi, apa yang bisa aku bantu kali ini?" Gio tidak ingin pusing memikirkan kata-katanya tadi.
Max berdeham, "Gio, kenalkan calon istriku, Shayla Dominic."
Tubuh Shayla seolah menegang kala Max memperkenalkannya sebagai calon istri dihadapan orang lain. Rasanya Shayla belum siap menjadi seorang istri.
"Kemarilah, Shay."
Shayla tersentak dari keterkejutannya, dia tersenyum kikuk kemudian melangkah mendekati Max. Berdiri disamping sang Casanova.
"Shayla Dominic." Shayla mengulurkan tangannya ke hadapan Gio.
Bahkan saat ini, Shayla merasa Gio memperhatikan dirinya dari atas kebawah, bawah keatas. Rasanya Shayla benar-benar gugup dan tak bisa berkutik.
"Ah, senang bertemu denganmu. Aku teman baik Max, Giovanni." Gio akhirnya menyambut jabatan tangan Shayla dengan ramah. "Max selalu mempunyai pilihan yang baik dalam memilih wanita." Gio berucap santai, kemudian membalikkan badannya begitu saja.
Seolah-olah ucapan Gio tadi mengatakan bahwa; kamu juga not bad Shayla, sama seperti wanita-wanita one night stand yang pernah Max kencani.
Lagi-lagi, ucapan Giovanni membuat senyum Shayla hilang dalam hitungan detik, digantikan wajah datarnya. Dan Max, merasa Gio benar-benar mempermalukannya dihadapan Shayla.
"Ayo tunggu apa lagi, kita ke lantai dua. Aku akan menunjukkan rancangan gaun pengantinku pada musim ini." Ajak Gio.
"Dasar lelaki penggoda!" Shayla mencibir ketika dia dan Max berjalan bersisian menyusul Gio.
"Siapa yang kamu sebut lelaki penggoda?" Dahi Max berkerut heran.
Shayla memutar bola matanya dengan malas, "siapa lagi kalau bukan kamu? Mr. Casanova London yang punya segudang wanita!"
***
Tiga puluh menit sudah Max menunggu lagi. Tiga puluh menit untuk ke tiga kalinya.
Max menghela napas lelah, melirik jam tangan miliknya, lalu menyesap sampanye yang disediakan di butik ini.
Bagimana tidak menunggu lama, waktu yang dibutuhkan Shayla untuk mencoba satu gaun pengantin adalah tiga puluh menit. Dan ini sudah yang ketiga kalinya Shayla mencoba. Karena Max selalu tidak suka dengan pilihan gaun Shayla.
Shayla terlalu memilih gaun pengantin yang tertutup, tidak menonjolkan lekuk tubuh wanita itu. Padahal Max tahu kenyataannya, bahwa Shayla memiliki tubuh yang indah dibalik bajunya itu.
Kenapa aku jadi memikirkan tubuhnya? Max menyesap sampanye lagi dengan cepat. Membasahi kerongkongannya yang entah kenapa terasa kering.
"Max," Gio berjalan mendekati Max dengan senyum sumringah. "Lihatlah Shayla sekarang, gaun pilihanmu benar-benar cocok untuk tubuh indahnya."
"Benarkah?"
Gio mengangguk semangat. "Dia berbeda dengan wanita-wanitamu yang lain, Max." Bisik Gio.
Max hanya tersenyum tipis, Shayla memang berbeda dengan wanita-wanitanya yang Max gunakan untuk memuaskan napsunya. Shayla adalah wanita berbeda yang akan Max gunakan untuk mendapatkan kekayaan lebih. Karena Shayla bagaikan kunci perusahaannya.
Max membuka pintu ruangan tempat Shayla mencoba gaun pengantinnya.
"Shayla,"
Shayla membalikkan badannya, dan pada saat itu juga Max tidak bisa menyembunyikan debaran jantungnya.
Shayla Dominic dihadapannya benar-benar terlihat berbeda. Aura kecantikan yang dimiliki wanita itu terasa menguar.
Max menutup pintu ruangan itu, menguncinya dari dalam. Dan kemudian berjalan mendekati Shayla.
"Suka dengan gaun itu?" Max mencoba berbasa-basi. Mencoba fokus pada dirinya sendiri agar tidak bertingkah terlalu jauh.
Kaca diseluruh ruangan ini membuat Max dapat melihat Shayla dari sudut manapun, termasuk melihat bagian belakang tubuh Shayla. Gaun itu memperlihatkan garis punggung Shayla yang indah.
Dan berhadapan dengan Shayla, Max bisa melihat jelas belahan d**a Shayla yang menyembul indah memperlihatkan lekukan itu.
"Aku selalu suka rancangan Giovanni. Tapi aku rasa aku harus diet bila aku memakai gaun ini, Max." Ucap Shayla. "Aku terlihat gendut."
Max mebasahi bibir bawahnya, merengkuh pundak Shayla dan kemudian membalikan badan Shayla sehingga kini mereka berdua menatap kaca dihadapan mereka.
Tidak mengatakan apa-apa, Max hanya tersenyum dibelakang Shayla. Tangannya dengan perlahan menyentuh kedua pinggang ramping Shayla, bergerak perlahan, sampai akhirnya memeluk Shayla sepenuhnya dari belakang.
"Kalau kamu gendut, aku tidak akan bisa memelukmu seperti ini."
Shayla mengulum bibirnya, "bukan itu maksudku, Max."
"Lagipula," Shayla menatap pantulan dirinya dan Max. kali ini Max meletakkan dagunya di pundak Shayla yang terbuka. "Apa gaun ini tidak terlalu terbuka? Aku malu."
Max lagi-lagi tersenyum manis, makin mengeratkan pelukannya. "Tapi aku suka."
Kulit Shayla seolah meremang kala bibir lembab Max mengecup pundaknya.
"Max," Shayla mencoba bernapas dengan tenang.
"Hm?" Max bergumam, menghiraukan Shayla yang terlihat panik.
Apa Shayla tidak pernah melakukan ini sebelumnya? Batin Max heran karena melihat respon kaku dari tubuh Shayla.
Awalnya Max hanya iseng kali ini mengecup leher Shayla, tetapi leher itu mempunyai aroma seperti kue strawberry yang wanginya benar-benar manis. Max menghembuskan napasnya di leher Shayla, membuat Shayla memiringkan kepalanya ke kanan.
Gerakan kepala Shayla itulah yang membuat Max memiliki akses lebih mudah. Max terbawa oleh rasa penasarannya sendiri. Dia mengecup tengkuk Shayla, menjilatnya dengan seduktif, mengigitnya dan kemudian menghisapnya dengan kuat.
"Ah!" Shayla mengigit bibirnya bawahnya dengan kuat. Mengumpat dalam hati ketika desahan itu lolos dari mulutnya.
Shayla menatap kembali cermin di hadapannya, dia melihat Max memejamkan matanya. mengecup tengkuknya terus menerus dan kemudian menjilat belakang telinganya, membuat Shayla memejamkan matanya rapat-rapat, Max membuatnya lemas.
Tangan Max tidak tinggal diam, tangan itu dengan perlahan namun pasti bergerak keatas, sampai akhirnya merasakan gundukan kenyal itu yang masih terbungkus gaun pengantin.
"Max, hentikan," Shayla terengah ketika merasakan Max meremas dadanya.
Rasanya Shayla tidak bisa berkutik, terlalu takhluk dengan pesona sang Casanova yang sebenarnya ia hindari ini.
Tangan kanan Max makin merengkuh Shayla, sedangkan tangan kirinya meremas d**a Shayla. Dan bibir Max digunakan mencumbu Shayla habis-habisan.
"Max," Shayla terengah lagi. "Max sudah cukup."
"Max Jasper! Jangan kau gunakan ruanganku untuk bercinta!" Teriakan Giovanni serta gedoran pintu dari luar ruangan membuat Max melepaskan dirinya dengan cepat dari Shayla.
Max tertawa kecil, menyisir rambutnya kebelakang, "apa itu yang pertama kali untukmu?" Tanya Max.
Bukannya raut wajah malu-malu dari Shayla yang Max dapatkan, tetapi justru Shayla mendorongnya dengan kuat dan menamparnya kencang.
"Shayla!" Max menatap Shayla terkejut. "What the hell are you doing!"
Shayla mengangkat wajahnya, dan pada saat itu, untuk pertama kalinya, Max melihat Shayla menitikkan air matanya. Menatap Max dengan pandangan terluka.
Shayla terisak, memeluk tubuhnya sendiri. "f**k you, Max!"
Max termenung, dan Shayla berjalan cepat meninggalkan ruangan ini.
Pikiran Shayla selalu benar, Max Jasper lelaki berengsek yang suka melecehkan wanita!