Bila kalian ingin menganggap Shayla wanita yang cengeng, maka silahkan.
Kenyataannya bahwa, Shayla memang wanita yang cengeng. Mudah menangis. Bahkan dirinya tidak berhenti menangis setelah ia melepaskan gaun pengantin rancangan Giovanni dan langsung pergi meninggalkan Max begitu saja.
"Dasar Max berengsek!" Shayla menaiki tangga rumahnya dengan cepat, segera menuju ke kamar.
Tangan Shayla sudah memegang gagang pintu, menekan tuasnya, kemudian membukanya dengan kasar. "Dia kira dia yang paling tam-"
"Surprise!" Teriakan yang memotong umpatan Shayla membuat Shayla berjengit kaget. Lalu memegangi dadanya sendiri yang saat ini sudah berdetak tak karuan.
"Angela!" Shayla berteriak terkejut.
Angela tertawa, lalu melebarkan kedua tangannya, membuka pelukan. "Lama tak berjumpa, Shay."
Shayla tidak bisa menahan diri lagi, dia dengan cepat menghambur ke pelukan Angela, sahabatnya.
"Hei, What happen with you?" Angela mengusap punggung Shayla yang bergetar karena tangisan hebat Shayla.
Shayla tidak menjawab, memeluk Angela makin erat. Menumpahkan segala kesedihannya.
she was so fragile
***
Di kamar yang luas ini, Angela dan Shayla duduk berdua diatas kasur. Dengan kaki terlipat dan saling berhadapan. Mereka berdua adalah sahabat dari kecil. Angela selalu ada untuk Shayla, dan Shayla selalu ada untuk Angela. Selalu melengkapi.
Angela menghela napas saat melihat Shayla yang mengelap ingusnya dengan tisu. Hidung mancung Shayla memerah seperti tomat. Terlalu banyak menangis.
"Dia benar-benar berengsek, Angela! Dia pikir dia yang paling tampan? Dia pikir dia bisa membeli semuanya dengan uang yang dia miliki?"
Angela tertawa, menatap jahil Shayla. "Tetapi Max Jasper memang tampan, Shay."
"Angela!" Shayla melotot protes, sedangkan Angela malah makin terbahak. Sahabatnya itu terlalu sulit diajak berbicara serius. Sama saja seperti Angelo. "Masalahnya saat ini, bagaimana aku menghilangkan kissmark ini?"
"Well, kenapa harus dihilangkan? With this kissmark on your neck, you look so sexy and adorable, beb."
Mendengar itu Shayla segera mengambil bonekanya dan bersiap melemparkannya pada Angela, tetapi Angela lebih cepat dengan menutupi wajahnya dengan bantal. Sehingga boneka beruang itu tidak mengenai wajah cantiknya.
"Angelo bisa membunuhku kalau dia melihat kissmark ini." Shayla mengusap lehernya dengan wajah sedih.
Angela memutar bola matanya, "lebih tepatnya Angelo yang akan membunuh Max karena telah mencumbumu. Kakak-ku itu punya rasa cemburu yang besar."
Shayla tidak menjawab, dia hanya mencebikkan bibirnya.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir, Shay." Angela berdeham. "Angelo tidak akan menemui-mu hari ini, atau tiga bulan kedepan lagi."
"Why?!" Mata Shayla terbelalak terkejut.
"Angelo pulang ke Bali, membantu Mama mengurus resor dan dia akan ada pelatihan dokter di rumah-sakit Papa." Jelas Angela santai.
Shayla terdiam, raut wajahnya berubah sendu. "Kenapa Angelo tidak pamit?"
"Shay," Angela tersenyum tipis, berusaha mengobati kesedihan Shayla. "Angelo tidak akan bisa melihat wanita yang dia cintai bersanding di altar pernikahan dengan lelaki lain. Angelo memang merelakanmu, tetapi dia tidak bisa merelakan perasaannya sendiri."
"Jadi, maksud Angelo kembali ke Indonesia untuk menghindariku?" Tanya Shayla.
Angela lagi-lagi tersenyum tipis. "Angelo hanya mencoba berdamai dengan perasaannya."
Shayla terdiam, menundukkan kepalanya. Bahkan Angelo tidak membiarkanku merasakan apa yang dia rasakan saat ini padaku. Rasa cinta Angelo padaku terlalu besar. Angelo terlalu baik untuk itu.
Lagi-lagi, air mata Shayla menitik dalam diam.
***
Derap langkah kaki perlahan Max terdengar mengisi ruangan kosong itu. Menginjak lantai per lantai yang dihiasi dengan kubik marmer putih.
"Max? Kamukah itu?"
Max tersenyum mendengar suara itu, suara wanita yang sejak kecil selalu mengisi hatinya dan mengisi hari-harinya.
"Max..."
"Amanda!" Max dengan refleks menangkap tubuh Amanda yang hampir saja terperosok jatuh ke tangga. "Hati-hati,"
Wanita yang dipanggil Amanda itu masih dalam pelukan Max, tertawa kecil.
Max menegakkan tubuhnya, memegang kedua bahu Amanda. Mata biru Max menatap mata hazel Amanda yang hanya menatap kosong kedepan, menatap ke d**a bidangnya. Sudah tidak ada binar mata dalam iris mata hazel itu. Hanya pandangan kosong, disertai senyuman tipis Amanda.
Tangan Max membelai pipi Amanda, membawa beberapa helaian rambut hitam wanita itu kebelakang telinga.
Max kembali menghela napas, kemudian mengecup bibir pink Amanda. Mengecupnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Ada apa Max?" Setelah ciuman itu terlepas, dengan perlahan tangan Amanda meraba-raba, sampai kemudian tangan kanannya mengusap pipi kiri Max.
Max menggenggam tangan yang ada di pipinya itu, mengusap punggung tangan itu. Lalu mengecupnya berkali-kali. "Dimana tongkatmu?"
Amanda mengernyit, lau tersenyum. "Aku ini tidak bisa melihat, Max. Mana mungkin aku tahu tongkatku ada dimana."
"Amanda," Max bergumam lirih. Amanda selalu begitu. Mengucapkan tentang kondisinya dengan kata-kata yang santai. Seolah tidak ada beban atas kebutaan Amanda yang di derita wanita itu tiga tahun silam.
Tanpa mengatakan apa-apa, Amanda menarik tangan Max menuju kamar dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia arahkan kedepan, sebagai pengganti tongkat pembimbing.
Melihat itu Max dengan cepat meraih tangan Amanda, menurunkannya. "Biar aku yang membimbingmu."
Amanda hanya tersenyum. Membiarkan telapak tangan Max menggenggam tangannya.
Max membimbing Amanda sehingga wanita itu duduk di pinggir kasur dengan sempurna. Lalu Max berada di bawah kasur, masih menggenggam tangan Amanda. Dan mata biru Max masih menatap Amanda dengan intens. Mengagumi keindahan objek Tuhan dihadapannya.
"Dimana Aunty?" Max bertanya tentang pengasuh Amanda dirumah ini.
"Sedang ke supermarket. Aku ingin makan strawberry untuk dessert makan malam. Kamu akan makan malam disini kan, Max?" Jelas terdengar nada penuh harap dari Amanda, membuat Max menyetujui secara langsung.
"Sudah dua hari kamu tidak kemari. Kamu kemana? Sibuk kerja?" Amanda mencecarnya dengan banyak pertanyaan sekaligus.
Max tertawa kecil, "itu, kamu sudah tahu jawabannya."
Amanda terdiam, tidak menjawab. Matanya masih memandang lurus kedepan dengan senyuman tipisnya.
Max berbohong kepada Amanda. Max yang setiap hari rutin datang ke rumah untuk bertemu Amanda, kala itu absen dua kali tidak ke rumah Amanda karena Max harus mengurus pernikahannya dengan Shayla.
Shayla, bagaimana keadaan wanita itu sekarang?
Max merutuk dalam hati kala ingatannya saat ini malah mengarah pada Shayla. Teringat bahwa setelah Max mencumbunya habis-habisan, Shayla melepas gaun pengantin itu dengan cepat dan berlari keluar gedung. Mencegat taksi begitu saja dan meninggalkan Max yang terheran-heran.
"Kamu menyimpan sebuah masalah Max. Tell me." Amanda mengusap rambut pirang Max dengan sayang.
Amanda seperti biasa bisa menebak keadaan Max, walaupun dalam keadaan buta sekalipun. Sama seperti saat ini.
Max tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia menggenggam tangan Amanda makin erat. Max harus berusaha jujur, walaupun itu akan menyakiti hatinya dan tentu saja Amanda.
"Ada yang harus aku beritahukan kepadamu," bisik Max.
Amanda bergumam, "aku dengarkan."
"Aku... Akan menikah dua minggu lagi."
Hening, Max mengangkat wajah menatap Amanda. Wanita itu masih memandang lurus kedepan. Sorot matanya makin kosong.
"Dengan siapa?" Amanda bertanya lirih.
Dengan susah payah Max menelan ludah, membasahi kerongkongannya yang terasa kering. "Dengan Shayla. Aku membutuhkan wanita itu agar perusahaanku bisa seratus persen mendapatkan kekayaan dari perusahaan keluarga Shayla. Tolonglah Amanda, pahamilah ini semua."
Amanda dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Max, "hubungan kita, apakah berakhir disini Max?"
Max terdiam, tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak ingin menjawab.
Amanda menarik napas dengan cepat, lalu lekas berdiri.
Max menggapai tangannya, "Kamu mau kemana?"
"Lepas!" Amanda mendesis. Kali ini Max tahu, Amanda betul-betul kecewa dengannya. "Sudah aku bilang bukan? Kamu itu terlalu sempurna buatku, kamu terlalu baik, Max! Tidak seharusnya kamu menjalin berpacaran dengan wanita buta sepertiku!"
"Amanda, jangan berpikiran seperti itu. Itu semua benar-benar tidak ada di pikiranku. Aku tulus Amanda, aku mencintaimu."
Amanda mengusap air matanya dengan kasar, "ayahmu pasti tidak akan mau menikahkan anak tampannya dengan wanita buta sepertiku."
"Cukup Amanda!"
"Kenapa Max? Kenapa kamu harus menikahi wanita lain?" Amanda terisak. "Usahaku selaa tiga tahun menunggu kamu dan menunggu donor mata nyatanya sia-sia."
"Donor mata pasti akan ada untuk kamu, Amanda." Max mencoba menenangkan.
"Tapi kapan?!" Amanda tidak bisa menahan kesedihannya. Dia berteriak marah. "Kapan aku bisa melihat lagi, Max? Kapan aku bisa melihat iris mata biru langitmu kembali..."
Max tidak bisa menahan kesedihannya, dia memeluk Amanda dengan erat dari belakang. Amanda menundukkan kedua wajahnya, merasakan pelukan Max. Merasakan Max yang masih dan selalu menyayanginya.
"Aku takut kehilanganmu, Max. Aku takut tidak bisa melihatmu... lagi."
Nyatanya, seorang yang sempurna terlihat juga memiliki sebuah kekurangan. Bila Max, dia terlihat sempurna, tetapi memiliki luka lama yang begitu hebat.