FOUR

1023 Words
Mata hazel milik Shayla menatap lobby gedung perkantoran yang di pijaknya saat ini. Jasper Tower, perusahaan milik keluarga Jasper. Perusahaan yang telah mengahancurkan perusahaan milik ayah Shayla dan merusak seluruh kehidupan Shayla.  "Miss. Shayla, Mr. Max Jasper mengizinkan anda untuk masuk ke ruangannya." Wanita cantik dengan rambut pirang bergelombang itu tersenyum canggung pada Shayla seraya memberikan id-card. "Ini untuk akses anda memasuki gedung kami dan masuk ke ruangan Mr. Max Jasper." Shayla menerima kartu itu, lalu mengibaskan rambutnya. "Sudah aku bilang bukan, bahwa aku adalah calon istri Max Jasper."  Wanita itu menunduk, merasa tidak enak. Karena wanita dihadapan Shayla adalah wanita yang di tugaskan untuk menyambut para tamu. Tetapi, begitu Shayla tiba dan meminta akses bebas untuk masuk ke gedung ini, wanita itu melarangnya. Dan hampir mencemoohnya. Sampai kemudian Shayla menyuruh wanita itu menghubungi ruangan kerja Max dan mengatakan bahwa Shayla Dominic ingin bertemu Max Jasper saat ini juga.  "Maafkan saya sekali lagi, Miss."  "Tentu saja aku maafkan, aku bukan wanita pendendam." Shayla menepuk dua kali pundak wanita dengan rambut bergelombang itu sebelum akhirnya melangkah memasuki lift.  Didalam lift, Shayla hanya termenung. Dia menghela napas, memperhatikan penampilan dirinya di kaca lift yang saat ini memantulkan dirinya.  Shayla membenarkan tatanan rambutnya, lalu merapikan ujung dress berwarna biru langit yang ia pakai.  Satu lantai lagi. Shayla membatin saat lift yang dia naiki sudah berada di lantai 25. Satu lantai lagi dan setelah itu aku akan menemui-mu Max.  Shayla tersenyum anggun begitu pintu itu terbuka. Senyuman anggun yang di dalamnya banyak menyimpan rahasia.  "Selamat datang, Miss. Shayla. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita muda berpakaian kerja kasual nan modern itu datang menyambut Shayla. Kalau Shayla ingin menebak, wanita itu pasti adalah sekertaris pribadi Max.  Diam-diam Shayla memperhatikan wanita cantik dihadapannya dalam waktu sepersekian detik. Sekertaris Max ini benar-benar cantik. Memiliki tubuh anggun bak model dan wajahnya yang cantik. Sang casanova selalu ditemani oleh wanita cantik di semua tempat kepergiannya.  "Dimana Max?" Masih dengan senyum anggunnya Shayla bertanya.  "Mr. Max Jasper di dalam. Bisakah anda tunggu sebentar?"  "Oh tidak perlu menunggu. Aku hanya sebentar, ada urusan kecil dengan Max yang harus segera aku selesaikan."  "Tapi-"  Shayla tidak memperdulikan ucapan sekertaris Max, kaki jenjangnya yang dibalut stilleto berwarna senada dengan dress-nya berjalan menuju ruangan Max. "Max?" Shayla mendorong pintu ruangan kerja Max, dan begitu pintu itu terbuka, Shayla langsung terdiam.  Max dan beberapa orang di dalam ruangan itu langsung menatapnya. Max dengan pandangan malas dan seorang wanita tua dihadapan Max tersenyum sumringah melihat Shayla.  "Max, apa dia Shayla Jasper?" Wanita tua itu menatap Max penuh harap.  Belum saja Max  menjawab, sekertarisnya sudah berada di belakang punggung Shayla. "Maaf Mr, tapi nona ini langsung melangkah memasuki ruangan anda dan tidak mau menunggu." Max tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangan dan menggerakan tangannya menyuruh sekertarisnya kembali dan keluar dari ruangannya.  "Masuklah." Iris mata biru Max menatap Shayla datar.  Shayla mengangguk canggung dan melangkah masuk.  Bahkan seorang lelaki yang dudu di kursi santai dekat jendela menatapnya dengan tajam dan wanita tua yang duduk dihadapan Max masih menatapnya dengan di seratai senyuman ramahnya.  "Ada perlu apa kemari?" Max langsung bertanya pada inti-nya.  "Max, kamu tidak mau mengenalkan wanita cantik ini pada Grandma dan Ethan?" Wanita tua itu bersuara.  Sekarang Shayla tahu, wanita tua di sampingnya ini adalah nenek Max dan lelaki di dekat jendela itu...  Pikiran Shayla langsung buyar begitu Max merengkuh pinggangnya, membuat Shayla tersentak dan menatap Max dengan cepat.  Max hanya mengarahkan matanya melirik sedikit kearah neneknya yang saat ini sudah berdiri. Shayla tahu maksud Max, lelaki ini ingin Shayla ber-akting dihadapan keluarga Max.  "Grandma, ini Shayla Jasper, calon istri Max." Max memperkenalkan Shayla.  Shayla mengembangkan senyumannya, menjabat tangan keriput itu. "Saya Shayla Jasper,"  "Ah, panggil aku Grandma. Toh sebentar lagi kau akan jadi istri Max." Granda menarik Shayla kedalam pelukannya. "Astaga, kamu cantik sekali."  "Terimakasih Grandma." Ucap Shayla. Pipinya bersemu merah, bahkan dia tidak menolak saat Grandma mencium kedua pipinya bergantian.  Grandma memiringkan wajah, tersenyum tipis menatap Shayla. "Max, bukankah iris mata hazel Shayla berwarna sama dengan iris mata Amanda?"  Max terdiam. Tidak berniat menjawab. Sedangkan Ethan -adik Max- mengusap wajahnya. Merasa Grandma kembali mengungkit-ungkit teman masa kecil Max dan Ethan.  Grandma tidak merasa canggung saat bertanya seperti itu. Malah Shayla yang merasa kecanggungan dari ruangan ini.  Sebenarnya apa yang salah? Batin Shayla heran.  Max menarik tangan Shayla, menggenggamnya. "Shayla, perkenalkan lelaki itu Ethan Jasper, adik kandungku. Ethan, ini Shayla Dominic, calon istriku."  "I know." Ehan menjawab pendek, menatap sekilas pada Shayla.  "Jadi, apa yang sebenarnya membawamu kemari? Ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?" Max tersenyum manis menatap Shayla.  Sungguh hal itu benar-benar membuat Shayla sebal. Senyuman memuakan seorang Max Jasper.  "Ya, ada hal penting yang aku ingin sampaikan." Shayla berucap lamat-lamat.  Sebenarnya ini adalah hal penting yang ingin Shayla katakan hanya pada Max. Bukan dengan situasi ada orang lain diantar mereka.  "Kalau begitu, katakan saja. Tentang pernikahan kita? Grandma dan Ethan datang kemari juga ingin membahas tentang pernikahan kita."  Tubuh Shayla menegang, dia tidak ingin membahas pernikahan. Sebaliknya dengan hal itu yang ingi Shayla katakan.  Shayla terkekeh kecil, "tidak bisakah kita bicarakan berdua, Max?"  Alis Max bertaut bingung, lantas dia menggeleng kemudian. "Aku sibuk setelah ini." Max mengangkat tangan, melihat jam tangannya. "Aku sibuk sampai nanti malam. Ada apa? lebih baik kamu katakan sekarang disini."  Shayla terdiam, menatap iris mata biru milik Max. Lalu melirik Ethan dan Grandma. Shayla menghela napas kecil, lalu tersenyum. Baiklah kalau ini maumu Max."  Shayla melepaskan rengkuhan tangan Max di pinggangnya.  "Aku ingin membatalkan pernikahan kita, Max. Aku tidak bisa menikah denganmu karena-"  Bug! Shayla memekik terkjut, sedangkan Ethan langsung beranjak dari tempatnya. Menghampiri Grandma yang pingsan.  "Panggil tim medis sekarang, Max!" Teriak Ethan.  Max terdiam, masih shock dengan apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat.  "Max!" Shayla menyadarkannya, Max mengerjapkan matanya.  "Apa maksud ucapanmu itu Shayla Dominic?" Desis Max.  Shayla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia balik menatap Max sama tajamnya dengan pandangan Mata Max.  "Hei! Bisakah kalian tunda peperangan rumah tangga kalian dulu? Grandma pingsan dan ini gara-gara kau, Miss. Shayla!" Bentak Ethan.  Shayla tidak mengatakan apa-apa, terlalu terkejut dengan bentakan Ethan. Dan Max dengan cepat langsung menghubungi tim medis.  Entahlah, lagi-lagi nasib pernikahannya dengan Max Jasper menggantung lagi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD