Erkan duduk termenung di meja kerjanya sambil menunggu kedatangan Bimo,sahabatnya karena hari ini mereka akan mengadakan meeting untuk kerjasama mereka nantinya.
Erkan menyandarkan tubuhnya mengingat kejadian antara dirinya dan Hana semalam yang hingga saat ini masih mengganjal di hatinya.
Tadi malam....
" Aku udah baikan" ucap Erkan ketika Hana baru keluar dari walking closet dan berjalan menuju sofa tempatnya tidur.
"Hmmmm" jawab Hana singkat.
" Kamu pulang sama Farrel?" tanya Erkan sambil menatap layar laptop yang berada di pangkuannya.
Hana menoleh sinis kepada Erkan
"Hmmmm"
Erkan lalu menatap tajam pada Hana yang kini telah berbaring dalam selimutnya dengan memunggungi dirinya.
" Aku lagi ngomong sama kamu"
Hana tidak bereaksi apapun.
" Hana, kamu dengar nggak? Aku lagi ngomong sama kamu"
Hana menarik napas dalam-dalam lalu membuka selimutnya dan duduk menghadap Erkan.
" Iya kenapa tuan Erkan?" tanyanya dengan nada mengejek.
" Aku lagi nanya sama kamu"
" Kan sudah saya jawab tadi tuan Erkan"
" Aku nggak dengar"
" Lagian kenapa sih nanya-nanya? Kan sesuai perjanjian di awal, kita nggak akan saling mencampuri kan?" Hana mulai terdengar kesal.
" Perjanjian itu berlaku di luar rumah. Di dalam rumah perjanjian itu nggak ada. Setidaknya kita menghargai eyang yang juga ada di rumah ini. Dan bisa nggak sih kamu bersikap seperti orang normal? Ngomong yang baik,nggak pake emosi" ucap Erkan.
" Wohoho...Liat deh siapa yang ngomong. Kamu sendiri hargain eyang nggak? Dan saya nggak peduli kamu mau bilang nggak normal atau apapun, tapi ini saya. Dan selama saya nggak merugikan atau menyakiti orang lain, saya nggak akan merubah diri saya. Maaf kalau saya nggak bisa semanis pacar kamu"
Hana berjalan ingin keluar dari kamar untuk menghindari percakapan mereka yang nampak tidak baik.
" Bentar, maksud kamu apa? Dimana saya nggak menghargai eyang? Dan pacar? Pacar apa?"
Hana menghentikan langkahnya, menarik napas lalu mencoba menghembuskannya perlahan kemudian berbalik menghadap Erkan yang juga kini telah berdiri di belakangnya.
" Lupain aja"
" Tunggu, kamu nggak bisa ngomongin sesuatu dan nggak kamu selesaikan. Apa maksud kamu? Dan aku mau tahu kenapa juga semua hal harus kamu ceritakan sama Farrel? Seakrab apa kalian sampai aku sakit dan kamu begadang pun, bisa dia tahu."
" Ya saya mana tahu! Kenapa jadi nyalahin saya sih?! Jadi menurut kamu saya salah? Dan kamu yang bawa pacar kamu ke rumah ini,pacaran, apa itu bener?apa itu menghargai eyang?" tutur Hana kehilangan kesabaran.
" Bawa siapa Hana???!!!! Aku nggak bawa siapapun. Apa maksud kamu Lara? Yayaya, Farrel yang ngasih tahu pastinya. Apa dia cerita kalau dia datang karena baru sempat untuk ngambil barang titipannya sama Farrel? Lagian kenapa kalau Lara kesini?"
Wajah Hana yang tadinya nampak berapi-api dan kesal, kini langsung berubah merona dan nampak salah tingkah.
" Terserah!!!" lalu Hana menutup pintu dengan keras dan meninggalkan Erkan yang kini juga sedang kesal.
*
" Apa dia beneran punya hubungan sama Farrel ya? Semalam apa dia ketemu Farrel lagi di bawah?"
Erkan nampak gusar dan mencoba mengalihkan perhatiannya dengan kembali menatap layar monitor di hadapannya.
" Apa tadi yang Farrel maksud itu rencana menjemput Hana lagi?" batin Erkan ketika mengingat perkataan Farrel sewaktu sarapan yang mengatakan akan menjemput teman yang kemarin.
TOK TOK
" Boleh masuk pak?" tanya Bimo
" Masuk aja. Gue udah dari tadi nunggu. Gimana? Semua siap?"
" Beres. Tinggal nunggu keputusan loe ajam Kalau loe suka sama presentasi mereka, ya kita bisa jalan secepatnya" ucap Bimo yang kini duduk di kursi tepat di hadapan meja kerja Erkan.
Erkan mengangguk mengerti.
" Jadi gimana?" tanya Bimo asal.
Erkan mengernyit tidak mengerti.
" Apanya?"
" Istri bro...Istri. Gimana sama dia?"
" Hana baik-baik aja" jawab Erkan santai sambil menatap layar ponselnya.
" Owwh, jadi sekarang namanya Hana? Bukan lagi cucu angkat eyang atau DIA?. Gila, padahal br semingguan lebih loh"
" Maksudnya?"
" Belum nyadar?" tanya Bimo kembali.
Erkan menaikkan kedua pundaknya tidak mengerti.
" Belum nyadar kalau mulai jatuh cinta? Gue aja pertama lihat hari itu udah langsung tahu kalau dia cantik banget. Kayak cewek-cewek Thailand yang bening gitu. Perpaduan Asia sama Eropa. Gue...."
" Ayo, kita mulai aja meetingnya" potong Erkan.
" Baik boss, baik..." ucap Bimo terkekeh melihat sahabatnya yang nampak sedikit salah tingkah.
" Jadi, udah beneran move on dari Lara?" sambungnya sambil merangkul pundak Erkan.
" Kita batalin meeting ini. Rencana kerjasama kita batal" ancam Erkan dengan tatapan tajamnya.
" Oke oke...Gue diem" ucap Bimo dengan gerakan mengunci mulutnya.
***
" Ada apa? Kenapa rame banget?" tanya Erkan pada Nita,sekretarisnya ketika melihat beberapa orang nampak memasuki gedung perkantorannya.
" Lagi ada interview pak, udah sejak kemarin."jawab Nita
Erkan mengangguk dan membuka pintu mobilnya untuk kembali menuju ruang kerjanya.
" Saya mau espresso, double shot." pinta Erkan pada Nita karena merasa sedikit lelah setelah meetingnya barusan bersama Bimo.
" Baik pak"
Mereka lalu berjalan memasuki lobby dan tanpa sengaja, Erkan menoleh kepada sosok seorang wanita yang sepertinya tidak asing baginya.
" Ngapain dia disini?" batin Erkan.
Ia kemudian memperhatikan penampilan wanita berambut panjang itu yang nampak rapih dengan kemeja dan rok kainnya, lengkap dengan map yang ada di tangannya. Erkan pun dapat menyimpulkan jika wanita itu pasti salah satu pelamar yang akan wawancara hari ini.
" Ada apa pak?" tanya Nita yang heran melihat sang atasan berhenti dan nampak serius.
" Ada posisi apa aja untuk mereka?"
" Staff biasa pak, ada admin, personalia, PR, juga untuk marketing hotel kita"
Erkan mengernyitkan kening.
" Kasi tahu mereka, saya akan ikut interview"
Nita nampak keheranan namun untuk bertanya alasannya adalah hal yang sangat tidak mungkin.
" Ba...Baik pak" dengan cekatan sang sekertaris menyusul atasannya dengan tangan yang langsung menelepon panitia penerimaan karyawan baru.
Sesampainya di dalam ruang kerjanya, Erkan nampak gelisah dan menelepon sang sekertaris.
" Nit, bawa data-data pelamar ke ruangan saya. Sekarang"
" Baik pak" Nita menutup teleponnya sambil kembali menekan nomor telepon lainnya.
" Bawa semua data pelamar ke ruangan pak Erkan, sekarang!"
Tidak sampai lima menit, salah seorang karyawan naik ke lantai khusus direksi dan membawakan setumpuk berkas yang kemudian Nita beri isyarat untuk langsung membawanya ke ruangan Erkan dengan Nita yang membukakan pintu untuknya.
" Ada lagi pak?" tanya karyawan tersebut.
" Nggak ada. Kamu boleh pergi."
Sang karyawan tersebut lalu meninggalkan Erkan dan Nita yang entah akan melakukan apa dengan berkas para pelamar tersebut.
" Bantu saya untuk mencari pelamar dengan nama Raihana" perintah Erkan yang langsung dikerjakan oleh Nita dengan cepat setelah menaruh kopi pesanan Erkan terlebih dahulu.
Mereka berdua lalu nampak sibuk membuka map-map tersebut satu per satu tanpa berbicara apapun.Membaca nama para pelamar yang sedang mereka cari.
Nita yang tahu jika sang atasan saat ini sedang kesal, berusaha untuk sedikit mengalihkan perhatiannya.
" Ini siapa pak? Teman bapak atau titipan kenalan bapak?"
Erkan masih nampak serius dengan yang dikerjakannya saat ini.
" Istri saya"
Nita yang terkejut hanya bisa membelalakkan kedua matanya tidak percaya.
" I...istri bapak?"
" Iya, istri saya. Sepertinya dia nggak tahu kalau kantor ini milik saya. Nggak usah nanya, nanti kamu juga bakalan tahu. Cari saja terus"
Nita lalu kembali fokus mencari nama Raihana meski banyak tanda tanya di kepalanya saat ini.
" Ini pak. Raihana Sofiyah. Apa benar?" ucap Nita sambil mengulurkan sebuah map pada Erkan yang langsung ia buka dan baca dengan seksama.
" Iya benar. Kita bisa mulai interviewnya 5 menit lagi. Dan tunda meeting saya sampai nanti malam"
" Baik pak" jawab Nita yang langsung mengumpulkan kembali map-map di atas meja atasannya untuk kembali ia bawa menuju ruang interview.
Sementara itu....
Hana nampak kesal dengan beberapa foto yang baru Reva kirimkan padanya melalui aplikasi chat di ponselnya. Foto dimana Erkan sedang duduk berdekatan dengan seorang gadis berkacamata dengan rambut pendek dan nampak serius membaca sesuatu. Ada juga foto yang memperlihatkan bagaiman wanita di sisi Erkan menuangkan air di gelas untuk Erkan minum.
" Revaaa...ngerusak mood gue aja. Gue nggak peduli dia mau sama siapa kek, ngapain kek, pokoknya gue nggak peduli" ucap Hana sambil memasukkan ponsel miliknya kembali kedalam tas dan berusaha untuk melupakannya.
" Dasar playboy robocop. Semua jenis perempuan kayaknya dia udah punya. Tipe penggoda kayak Lara, tipe ABG, tipe betty la fea, semuanya juga di hajar. Ihhh...apaan sih gue!"
***
Setelah menunggu sekitar 20 menit, tiga orang yang mendapatkan giliran interview pertama kali telah keluar dan nampak girang.
" Lihat muka bosnya nggak? Keren banget, ganteng banget" ucap salah satunya yang kemudian kembali duduk di samping Hana.
" Masa sih? Tungguin gue ya, pulangnya barengan aja. Eh, tante gue ikut interview kalian tadi kan?" tanya seseorang lainnya.
" Iya, ada. Beneran deh, bosnya tuh cool banget. Gue mau banget kalau jadi sekertarisnya dia. Dan semoga belum punya istri, biar gue godain. Tapi kalau udah punya, gue juga nggak apa-apa jadi selingkuhan dia. Asli dia tuh tipe gue banget"
Mendengar hal tersebut membuat Hana bergidik ngeri dan menatap tak percaya pada ketiga gadis tersebut.
" Nomor 03, 26, dan 54. Silahkan masuk" ujar seorang wanita yang memanggil nomor milik Hana.
Hana lalu merapikan kemeja dan rok yang ia pakai dan berjalan menuju ruangan yang di siapkan meninggalkan ketiga gadis yang masih sibuk membicarakan sosok sang bos yang baru mereka temui.
" Silahkan duduk" ucap salah seorang penginterview yang mempersilahkan mereka bertiga untuk duduk.
Hana melihat ada 3 kursi penginterview di hadapannya namun kursi yang berada di tengah sedang kosong dan hanya terlihat seorang wanita paruh baya yang anggun dan seorang pria berkacamata.
" Baik, silahkan memperkenalkan diri kalian dulu sambil menunggu bapak sedang menelepon." ucap sang wanita paruh baya.
Mereka semua telah selesai memperkenalkan diri tepat disaat Erkan datang mendekati mereka dan langsung duduk di kursi yang sejak tadi nampak kosong.
" Maaf saya baru bergabung. Mari kita lihat kemampuan kalian"
Hana hampir saja melompat karena terkejut melihat orang yang duduk tepat dihadapannya adalah orang yang baru saja makan siang bersama seorang wanita sementara ia panas-panasan menunggu ojek onlinenya.
Hana menatap tajam pada pria yang kini nampak menanyakan beberapa hal kepada dua orang gadis lain selain dirinya.
" Dasar playboy. Dasar ganjen. Nggak liat apa ada gue disini? Keterlaluan banget!" kesalnya dalam hati.
Erkan melirik sekilas pada Hana yang sedang mengaitkan rambut panjangnya ke telinganya dan menatap langit-langit ruangan dengan sedikit menerawang.
" Baik, Raihana Sofiyah, bisa ceritakan sedikit tentang diri kamu?"
" Kamuu???Nggak sopan banget. Sama mereka tadi, dia manggil dengan sebutan Anda. Nggak sekalian manggil loe gue aja?" kisruh Hana dalam hati.
Hana menarik napas, kemudian berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya dan melupakan bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Erkan.
Hari ini Hana kelihatan cantik dengan kemeja biru muda lengan panjang dan rok pensil sebatas lutut berwarna putih tulang. Rambutnya ia gerai dengan sentuhan sedikit bergelombang di bagian ujung rambutnya. Hal yang membuat Erkan berbisik dalam hatinya jika apa yang Bimo katakan bahwa istrinya tersebut memang sangat cantik.
" Baik, kalian silahkan bertanya. Saya mau membaca CV nya baik-baik dulu" ujar Erkan mempersilahkan kedua bawahannya untuk bertanya seputar kemampuan Hana.
Erkan terlihat sedang membaca dengan serius namun sebenarnya ia mencuri dengar setiap perkataan Hana yang menurutnya cerdas dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. Ia pun baru mengetahui jika istrinya tersebut memiliki banyak pengetahuan dan keahlian.
Hana dapat berbahasa mandarin dan bahasa inggris dengan fasih. Ia bahkan memiliki beberapa piagam untuk prestasi non akademik sebagai lampirannya.
" Baik. Disini saya membaca KTP kamu sudah menikah. Apa benar?" tanya Erkan yang lalu menatap Hana dengan tatapan serius.
" Ii..iya...Saya sudah menikah" jawab Hana.
(" Sialan Erkan! Sengaja banget?") batin Hana kesal.
" Sudah punya anak?"
" A..anak? Belum. Saya baru menikah"
("Anak? Pertanyaan macam itu !!!!")
" Ow...pengantin baru rupanya" ejek Erkan dengan kepala yang mengangguk-angguk.
" Kamu lulusan S1?" tanya Erkan yang melihat gelar di belakang nama Hana padahal sebelumnya Miranti mengatakan Hana sedang mengurus skripsinya.
" Iya apk. Fresh graduate. Saya baru selesai wisuda beberapa hari lalu. Makanya saya hanya melampirkan surat keterangan untuk sementara, sampai ijazah saya terbit" jelas Hana yang membuat Erkan sedikit kesal karena ia tidak tahu jika gadis itu ternyata sudah wisuda dan ia tidak mengetahuinya.
" Apa suami kamu tahu kamu melamar pekerjaan disini?" tanya Erkan yang kini memajukan tubuhnya rapat ke meja dengan tangan mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoin yang ada di tangannya.
( " Erkan reseeeeee!!!!")
Hana menarik napas perlahan menahan kekesalannya.
" Nggak pak. Saya nggak bilang sama suami saya. Saya terpaksa nyari pekerjaan sembunyi-sembunyi seperti ini karena suami saya nggak menghidupi saya. Dia malah asik sama perempuan lain."
" Wah, luar biasa juga suami kamu ya. Punya istri cantik kayak kamu tapi mash di sia-siakan" ucap salah satu penginterview dengan kacamata yang duduk di sisi kiri Erkan dan langsung mendapat kerlingan sinis dari atasannya tersebut dan membuat ia langsung tertunduk.
" Saya suka perempuan seperti kamu. Mandiri dan meski kamu punya tampang yang,maaf, bisa memudahkan kamu dapat kerjaan lain, seperti model misalnya, tapi kamu malah memilih melamar kerjaan dan hanya staff biasa."
" Makasih bu." ucap Hana.
" Gimana pak, masih ada yang mau di tambahkan?" tanya wanita tersebut kepada dua orang penginterview lainnya yang lalu mendapat isyarat bahwa mereka tidak ingin menanyakan apapun lagi.
" Baik, kalau begitu cukup sekian dulu. Kami akan menghubungi kalian dalam waktu kurang lebih 10 hari kerja. Terima kasih" tambahnya.
Hana dan kedua peserta lainnya lalu mendekati ketiga orang yang duduk di kursinya tersebut untuk bersalaman sebagai adab kesopanan. Dan ketika tiba giliran Hana untuk berjabat tangan dengan Erkan, Hana hanya menempelkan tangannya sekilas dan bahkan tanpa senyum di wajahnya.
Begitu selesai menutup pintu, Hana lalu berjalan mendekati ketiga wanita yang tadi sempat ia dengar sangat memuja Erkan dengan segala kelebihannya.
" Ternyata, bos yang tadi di dalam, orangnya gay. Dia sering sama teman saya" ucap Hana setengah berbisik dan mengedipkan satu matanya kepada ketiga wanita yang kini hanya melongo mendengar ucapan Hana barusan.