Cantik

2068 Words
Hana membuka matanya karena merasa silau dengan sinar matahari yang masuk dari sela-sela gorden kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 namun Hana masih berbaring malas dan bahkan menarik selimut menutupi tubuhnya . Hana kemudian tersadar dan langsung duduk menatap keadaan sekitar yang ia sadari ada yang aneh sejak tadi. Tubuhnya teras begitu leluasa berbalik kiri kanan tanpa takut terjatuh tidak seperti malam-malam sebelumnya. " Kok gue bisa disini? Bukannya tadi subuh gue masih tidur di sofa?" tanyanya heran karena ia yakin pukul 4 subuh tadi, ia masih terjaga menunggu Erkan yang nampak gelisah sewaktu tidur sambil mengerjakan skripsi yang tengah ia susun. " Astaga Hana, kamu telat!" teriaknya ketika menyadari jika saat ini matahari sudah sangat terik. Hana lalu berlari cepat dan dengan tergesa-gesa memasuki kamar mandi untuk segera bersiap pergi bekerja. Hanya butuh waktu tidak lebih dari 10 menit bagi Hana hingga akhirnya kini ia telah berjalan menuruni tangga dengan setengah berlari. Membuat beberapa anggota keluarga termasuk Erkan langsung menoleh padanya. " Selamat pagi semua. Maaf saya telat. Saya ketiduran. Eyang, Hana langsung berangkat aja ya" pamit Hana pada Miranti yang terkejut dengan Hana yang sangat terburu-buru " Nggak sarapan dulu? Nanti kamu sakit" tanya Miranti. " Nanti aja eyang. Aku benar-benar telat. Ojek aku udah nungguin di depan. Permisi semuanya" pamit Hana pada semua orang yang bahkan tidak sempat menjawab salam dari Hana karena semua perkataan gadis itu bagai kilatan cahaya yang ia ucapkan dalam satu tarikan napas. " Benar-benar nggak bisa dipercaya kamu bisa menikah dengan gadis seperti itu. Tapi kita harus maklum mengingat dimana dia dibesarkan" Velly mengucapkannya tanpa beban sambil mengoleskan selai pada rotinya. " Mama!" ucap Erya dan Farrel hampir bersamaan. " Lho kenapa? Apa yang mama bilang salah? Nggak kan?" " Paling tidak, dia cukup tahu diri. Dia tidak mencoba menyentuh apalagi mencoba memiliki apa yang bukan miliknya. Dan orang seperti itu lebih baik daripada orang yang mengambil milik orang lain. Saya permisi" ucap Erkan sinis dan kemudian melemparkan serbet yang tadi dipangkunya ke atas meja dengan kasar. " Good job mom!" ujar Farrel yang terlihat sedikit kesal. Erya menatap tak percaya pada ibunya yang setelah mengucapkan hal tersebut malah hanya bersikap santai bahkan ketika Erkan meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya. " Ini terakhir kali kamu berkomentar soal cucu-cucu saya. Saya bisa dengan mudah mengeluarkan kamu dari rumah saya. Dan kamu tahu saya tidak pernah bercanda jika hal itu berhubungan dengan cucu-cucu saya." ancam Miranti tegas lalu meminta Yuni membantunya ke kamar. *** Farrel turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa dan memberikan kunci mobilnya kepada petugas valet untuk memarkirkan mobilnya. Dengan sedikit berlari kecil Farrel mendekati lift sambil menghubungi teman kuliahnya yang telah menunggu karena baru saja tiba dari luar negeri. " I'll be there soon" ucapnya singkat. Ia lalu memasuki lift bersama beberapa tamu lainnya masih dengan sambil menelepon dan mengobrol dengan teman yang sepertinya sudah bosan menungguinya sejak tadi. " 1 minute okay. Bye" Di saat lift itu berhenti di salah satu lantai, Farrel mengerutkan keningnya karena merasa melihat Hana dalam pakaian seragam hotel sambil membawa handuk dan memasukkannya kedalam trolley. Pintu lift kembali tertutup dan membuat Farrel dengan cepat menekan kembali tombol membuka pintu lift untuk memastikan apa yang telah ia lihat barusan. Namun sayang, pintu lift tersebut telah menutup sempurna dan kembali bergerak menuju lantai selanjutnya. " Nggak mungkin Hana kan?" tanyanya dalam hati. Setelah menemui sang teman wanita yang datang menyusulnya dari luar negeri, dan mengobrol cukup lama,Farrel akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah karena malam ini ia akan kembali berpesta dan mengenalkan temannya tersebut kepada teman-temannya yang berada di Indonesia. Setelah sampai di lobby, ia lalu berjalan kepada salah seorang cleaning service yang nampak sedang merapihkan meja dan sofa yang berada di situ. " Permisi, saya mau tanya kalau yang kerjanya dari pagi, selesainya jam berapa ya?" " Maksudnya yang shift pagi pak?" " Iya yang shift pagi" Pria itu kemudian melirik jam tangannya sekilas. " Mestinya sekarang udah selesai sih pak. Ada yang bisa saya bantu pak? Apa ada barang yang tertinggal atau gimana?" Farrel menggeleng cepat. " Nggak mas,nggak. Saya cuma nyari teman saya. Oh iya, apa mas kenal dengan Hana?" tanya Farrel yang mencoba mencari tahu tentang rasa penasarannya. " Oh mbak Hana, Raihana maksudnya pak? Iya saya kenal. Yang rambutnya panjang kan?" " Iya bener. Apa dia kerja disini?" kini Farrel antusias. " Iya pak. Barusan juga saya ketemu. Bentar lagi juga pulang. Atau bapak ada pesan?" Farrel tersenyum licik dalam hati. Merasa ini kesempatan untuk bisa mendekati gadis itu. Sejak awal ia bertemu dengan Hana, ia merasa gadis itu sangat cantik. Ia lucu, namun juga tegas. Dan yang membuat Farrel sangat penasaran pada Hana adalah karena gadis itu tidak pernah menatap atau bahkan menganggapnya ada. " Nggak ada mas. Makasih ya. Biar saya tunggu saja" " Baik pak. Permisi" Farrel lalu berjalan menuju pintu masuk dan meminta agar mobilnya di ambilkan sembari ia melihat-lihat jika saja Hana telah pulang. Setelah mobilnya diantarkan, Farrel kemudian memajukan sedikit kendaraannya hingga tidak begitu menghalangi jalan namun tetap bisa melihat Hana meninggalkan hotel tersebut. " Sialan, gue nggak punya no telepon dia lagi. Jangan-jangan udah pulang" Baru saja Farrel nampak ragu untuk menunggu, tiba-tiba saja ia menoleh pada kaca spion di sampingnya dan menemukan gadis yang ia tunggu telah berjalan dengan santai mendekati dimana ia memarkirkan mobilnya. " Hana" sapa Farrel ketika Hana tepat berjalan di sisi kiri mobil miliknya. Hana menoleh sekilas dan merendahkan tubuhnya untuk sedikit menunduk melihat siapa yang berada di dalam mobil itu dan memanggil namanya " Kamu...!" ucap Hana terkejut. " Masuk, ada yang mau saya omongin" " Nggak usah makasih. Saya bisa pulang sendiri" " Atau kamu mau aku telepon eyang biar kamu mau pulang sama aku?" Hana menatap sinis lalu kemudian akhirnya memasuki mobil yang dikendarai oleh Farrel. " Nggak usah kemana-mana. Saya mau pulang." Farrel tersenyum menang dan mulai menjalankan kendaraannya. " Kamu kerja disana? Tadi aku ngelihat kamu." tanya Farrel to the point. " Trus buat apa nanya?" " Cuma mau mastiin. Tapi kenapa kamu kerja disana jadi cleaning service?Tega banget Erkan sama kamu." " Dia nggak tahu. Eyang juga nggak tahu. Nggak ada yang tahu. Dan jangan coba-coba kasih tahu." " Kenapa?" Hana memutar kedua bola matanya keatas karena kesal " Saya udah kerja disana jauh sebelum masuk keluarga kalian. Dan saya masih mau kerja disana. Bisa nggak sih nggak usah di bahas" " Nggak bisa. Karena kalau orang rumah tahu kamu kerja kayak gitu, mereka pasti nggak suka" " Kamu ngomong gitu seolah orang peduli aja. Udahlah, anggap kamu nggak lihat apapun" " Kami peduli sama kamu. Aku peduli. Sayang aja kalau orang secantik kamu harus...." " Farrel, kamu sadar nggak kalau kamu kayak lagi ngegombal cewek? Kamu tahu kan saya sudah menikah?" Farrel tiba-tiba tersenyum mengejek. " Kenapa? Apa yang lucu?" " Iya iya, kamu udah menikah. Tentu aja aku tahu. Aku juga tahu kamu menikah karena apa. Dan aku juga tahu kamu menikah dengan orang yang tadi lagi di jengukin sama mantan pacarnya." Mendengar hal tersebut hati Hana seolah tidak terima meski semuanya adalah kebenaran yang tidak dapat Hana sangkal. " Jadi dia di jengukin sama Lara?" desirnya dalam hati. Sepanjang perjalanan sampai di rumah, Hana tidak lagi berkata apapun kecuali saat Farrel menanyakan jam pada dirinya yang hanya ia balas dengan menunjukkan ponselnya agar Farrel dapat melihat dengan matanya sendiri. Tiba-tiba saja moodnya berubah menjadi kesal dengan apapun. Pesan dari Reva pun hanya ia baca tanpa berniat membalasnya sedikitpun. Begitu sampai di depan pintu, Hana langsung turun dari kendaraan dan meninggalkan Farrel tanpa berterima kasih atau sekedar berbasa-basi. Sungguh saat ini emosinya sudah berada di puncak kepalanya. " Hana, bentar" tegur Farrel saat Hana baru masuk melewati pintu rumah besar tersebut. Hana lalu berbalik tepat disaat Erkan berjalan menuruni tangga dan melihat mereka berdua. " Ada apa?" tanya Hana. " Aku nggak akan bilang siapapun kalau kamu maunya kayak gitu" " Bagus. Makasih." ucap Hana santai " Tapi, sebagai imbalannya, gimana kalau besok kamu traktir aku makan malam" Hana menghela napas kasar. " Terserah kalau kamu mau bilang. Saya nggak peduli" " Tapi kalau orang lain tau keluarga ini mempekerjakan menantu mereka sebagai cleaning service pasti akan banyak yang peduli" " Kamu salah, saya bukan hanya cleaning service, saya ngerjain banyak hal" Erkan yang memicingkan kedua matanya menatap Hana dan Farrel yang berbicara cukup dekat, merasa sedikit penasaran bercampur kesal. " Mereka ngomongin apa sih? Sejak kapan juga mereka akrab begitu?" tanyanya yang terdengar seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Hana tak sengaja melihat keberadaan Erkan yang berdiri di ujung tangga dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam sakunya. " Kita lihat nanti" ucap Hana singkat yang dibalas senyum usil dari Farrel. " Oke cantik, aku tunggu" " Sopan sedikit kamu ngomong!" " Aku kan cuma muji. Kamu memang cantik kok. Daripada kamu nungguin orang lain muji kamu yang bahkan nggak pernah ngelirik kamu sekalipun." Ujar Farrel lalu melirik pada Erkan yang menatap tajam pada mereka berdua. Hana lalu berjalan dengan kesal meninggalkan Farrel yang nampak puas menggoda Hana. Ia lalu melambai santai kepada Erkan lalu berjalan sambil bersiul kecil menuju kamarnya. Hana berjalan melewati Erkan bahkan tanpa menoleh ataupun menyapanya sedikitpun. Hal itu membuat Erkan sedikit mengernyitkan keningnya kebingungan dengan mood gadis tersebut yang bagai roller coaster. " Dia itu kenapa sih? Semalam baik banget, bukannya makasih udah dipindahin ke ranjang kek, nanya kabar aku kek, sekarang malah kayak gitu!" misuh Erkan sambil berjalan menuju taman. Erkan lalu duduk di sebuah kursi taman di sisi kolam renang sambil melihat ke langit yang penuh dengan bintang. Ia lalu melihat sekitarnya dan teringat saat ia pertama kali melihat Hana dengan tampilan berbeda dari saat Miranti memperkenalkan mereka. Ia mengulum senyumnya ketika mengingat kejadian semalam dimana Hana nampak perhatian padanya. " Kak, ngapain disini?" tanya Erya yang mendapati Erkan sedang nampak menghayal sambil sedikit tersenyum. Erkan yang sedikit terkejut dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya dan nampak salah tingkah. " Nggak...nggak ngapa-ngapain. Kamu mau kemana?" tanya Erkan yang melihat Erya berjalan sambil membawa beberapa camilan di tangannya. " Kami mau karokean. Kak Hana katanya bentar lagi nyusul. Kakak nggak mau ikutan?" Ada papa juga loh" ucap Erya menawarkan. Erkan menggeleng perlahan. " Aku harus nelpon Bimo, besok kami ada meeting" " Ya ya ya....Aku lupa kalau kita beda dunia" ejek Erya. " Ya udah, jangan lama-lama di luar kak, ntar sakit lagi. Kasian istrinya begadang" ucap Erya sambil berjalan meninggalkan Erkan di taman. " Eh bentar...Tahu dari mana kalau semalam Hana begadang?" " Kak Farrel yang ceritaaaa" teriak Erya. Erya lalu kembali berjalan santai dan nampak kerepotan membawa barangnya. " Apaan sih dia! Emang semua harus dia cerita sama orang?" ucap Erkan dengan kedua bibir yang mengatup dan hanya ia yang bisa mendengarkan dirinya sendiri. *** Erkan membuka pintu ruang karaoke dan mini bioskop dimana anggota keluarganya tengah berkumpul dan tidak menyadari kehadirannya yang lalu bersandar di salah satu dinding dalam ruangan kedap suara tersebut. Ia menatap kepada seorang gadis dengan rambut ekor kuda panjangnya sedang berdiri dan nampaknya mendapat giliran untuk menyanyikan sebuah lagu yang tengah di nyanyikannya dengan sepenuh hati Every time that I swear it's over It makes you want me even more You pull away and I come in closer And all we ever stay is torn And baby, I don't know Why I try to deny it When you show up every night I tell you that I want you but it's complicated So complicated When it hurts but it hurts so good Do you take it? Do you break it off? When it hurts but it hurts so good Can you say it? Can you say it? Hana kemudian berbalik dan tidak sengaja menemukan Erkan yang bersandar dengan kedua tangan berlipat di depan dadanya menatapnya dengan serius " Udah ah, ganti aja lagunya. Jadi ngantuk" " Ya udah ganti lagu kesukaan aku aja ya kak. Bentar bentar..." ujar Erya sambil mencari lagu yang ia maksudkan. " Nah, yuk kak kita nyanyi barengan." " Lagu apasih?" " Lagu lama, pasti tahu kok" Erya lalu menekan tombol play dan mulai mengajak Hana bernyanyi dengan riang. " Dasar aneh." ucap Erkan sambil berjalan mendekati Miranti dan ayahnya yang nampak terhibur dengan lagu yang dibawakan oleh Hana dan Erya. Oh now go Walk out the door Just turn around Now, you're not welcome anymore Weren't you the one Who tried to break me with desire? Did you think I'd crumble? Did you think I'd lay down and die? Oh not I I will survive Yeah As Long as I know how to love I know I'll be alive I've got all my life to live I've got all my love to give I will survive I will survive Yeah, yeah " Dia cantik. Dan makin cantik setiap kali aku ngelihat dia" batin Erkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD