" Jelaskan sama gue sekarang kenapa lo bisa tiba-tiba jadi calon istri bos kita?" sergah Reva ketika bertemu Hana di pantry hotel.
" Ya ampun Rev biarin gue minum dulu kali, gue juga baru sampai" ucap Hana sambil meminum air putihnya.
" Udah? Sekarang jelasin ! Kita baru dua hari nggak ketemu dan kenapa tiba-tiba loe udah jadi calon istri bos kita gitu?"
Hana lalu menarik tangan Reva dan membawanya ke sebuah meja makan kecil di mana tidak ada orang yang dapat mendengar percakapan mereka.
" Tapi loe harus janji sama gue kalau loe nggak akan ngomong tentang hal ini ke siapapun. Siapapun Rev. Termasuk cowok loe!" tegas Hana.
" Iya gue janji. Buruan cerita" desak Reva.
" Rev, gue bukan calon istri bos kita."
" Tapi malam itu gue denger dia ngomong gitu kok!"
" Iya, malam itu. Sekarang gue bukan lagi calon istrinya"
" Kenapa? Dia nyadar kalau loe bukan Cinderella? Tapi bagus deh, gue nggak harus manggil loe Bu Hana" ejek Reva dan malah mendapat tatapan dan senyuman sinis dari Hana.
" Gue bukan calon istri bos lagi karena gue udah jadi istrinya.
" Apaa????!!!! Ist---ppppfftt" teriak Reva yang mulutnya langsung dibekap oleh Hana dengan telapak tangan.
" Tuh kan, gue bilang juga apa! Loe tu ember deh kadang-kadang" ucap Hana.
Reva lalu mengangguk cepat dan menaikkan ibu jarinya tanda bahwa ia akan diam dan tenang.
" Serius loe Han? Kalian udah nikah?" bisik Reva dan dijawab anggukan pelan dari sahabatnya itu.
" Kok bisa sih? Perasaan loe nggak kenal dia kan? Ketemu pak Erkan di hotel juga belum pernah kan? Eh tapi ntar dulu, kok loe kelihatan nggak bahagia gitu sih?" tanya Reva ketika melihat ekspresi Hana yang nampak biasa saja bahkan nampak lesu.
Hana menggigit bibir bawahnya dan nampak berpikir sejenak.
" Gimana ya gue ceritainnya? Gue juga bingung. Jadi gini, loe inget nggak sama orang yang selalu gue panggil eyang? Yang jadi orang tua asuh dan wali gue?"
Reva mengangguk cepat.
" Nah, eyang kan sayang banget ama gue. Dia khawatir kalau-kalau suatu hari eyang udah nggak ada, maka gue akan sendirian dan nggak akan ada yg peduliin gue. Dia takut kalau gue salah pilih pendamping hidup. Di sisi lain, eyang punya cucu yang juga dia khawatirin akan di manfaatin sama perempuan. Dan akhirnya eyang berencana menyatukan dua kekhawatirannya itu dengan satu solusi." jelas Hana.
" Jadi maksud loe, eyang yang selama ini sama-sama loe itu,adalah eyang dari pak Erkan?"
" Tumben pinter! " ucap Hana lalu menyentil ujung hidung sahabatnya itu.
" Jadi seriusan loe itu istri bos? Jadi loe ibu bos gue dong Han!"
" Menurut loe?" Tanya Hana sambil memperlihatkan penampilannya yang telah mengenakan seragam karyawan hotel"
" Eh iya, kok loe masih kerja? Apa jangan-jangan mereka nyembunyiin loe sebagai menantu mereka?"
" Apaan sih!. Malah gue yang minta semuanya nggak sampai ketahuan orang dulu. Paling nggak sampe gue dapat kerjaan yang layak. Jadi pernikahan ini hanya sebatas keluarga aja dulu"
" Serius Han?! "
" Udah ah,nggak usah banyak nanya. Pusing gue! Pokoknya yang loe tahu, gue sama Erkan nggak punya hubungan apa-apa selain karena eyang. Kami udah janji nggak akan saling ganggu dan seperti biasa aja. Dia dengan hidupnya sendiri,gue pun gitu. Dan pokoknya, nggak boleh ada yang tahu tentang ini. Siapapun, inget itu!!! Udah, gue mau kerja dulu. Inget ya, DIEEEMMM" ucap Hana santai lalu mengecup pipi sahabatnya itu dan meninggalkannya dengan kebingungan.
" Hati-hati jatuh cinta Haaan" teriak Reva yang membuat Hana kembali berbalik dan menjulurkan lidahnya
***
Erkan memasuki kamarnya dan kemudian mengambil koper kecil untuk ia bawa dalam perjalanan bisnisnya keluar kota selama beberapa hari. Ia lalu berjalan menuju walking closetnya dan baru menyadari jika aroma kamarnya tidak lagi seperti dulu. Ada aroma khas wanita di dalamnya. Wangi parfum wanita yang lembut dan manis di penciumannya saat ini.
Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke ruangan tersebut dan melihat tidak ada satupun yang berubah di dalamnya setelah hampir seminggu ia telah berbagi kamar dengan wanita yang telah menjadi istrinya. Letak barangnya masih sama seperti hari biasanya. Ia bahkan tidak menemukan satu benda wanita pun diantara barang-barang miliknya selain sebuah koper merah kecil yang berada di sudut ruangan itu.
Setelah memasukkan beberapa barang yang ia butuhkan, ia lalu berjalan meninggalkan kamar tidurnya dan mencari Miranti untuk pamit.
" Masih ada lagi pak yang mau di siapkan?" tanya seorang pelayan pada Erkan ketika Erkan meminta segelas air putih sambil menunggu Miranti di ruang keluarga.
" Tidak, terima kasih. Oh ya, koper merah di kamar saya itu punya siapa?" tanya Erkan yang membuat pelayan dan asisten pribadinya saling menatap heran.
" Emmm, itu koper punya ibu Hana pak"
" Kenapa di simpan di pojok?" tanya Erkan serius dan membuat sang pelayan makin bingung.
" Itu...itu pak. Bu Hana bilangnya simpan di tempat yang nggak mengganggu. Yang nggak ganggu barang bapak" jelasnya.
" Trus isinya?"
" Masih di dalam koper pak. Tadi saya tawarin untuk di atur, tapi katanya nggak usah. Biar dalam koper saja. Biar gampang"
" Kamu atur isi kopernya. Terserah mau di bagian mana. Saya nggak suka ada koper tergeletak begitu saja. "
Miranti tersenyum mendengar ucapan cucunya itu. Ia tahu jika hati pria serius itu sangat lembut dan ia pun sebenarnya sangatlah manja,hanya saja ia belum menemukan orang yang bisa membuatnya mengeluarkan sisi baiknya tersebut. Ia tahu, Hana lah orangnya. Dan Miranti yakin, tidak lama lagi, kedua cucu kesayangannya itu akan saling jatuh cinta.
" Erkan, udah mau berangkat?"
" Eh eyang. Iya, aku udah mau jalan. Eyang baik-baik ya, aku cuma tiga hari kok. Dan aku juga pengen ngomong sesuatu sama eyang."
" Apa itu sayang? Jangan bilang kamu udah nyerah!"
Erkan tersenyum simpul
" Nggak eyang. Bukan itu. Aku rencananya mau pindah kembali ke apartement."
" Kenapa? Kamu mau menghindari Hana ya? Gimana mungkin kamu di sana dan istri kamu disini. Ya meskipun kamu nggak nyaman, tapi kan kalian harus belajar membiasakan diri kalau kalian memang suami istri." Miranti nampak tidak begitu senang dengan permintaan Erkan.
" Nggak lama kok eyang. Hanya beberapa hari aja. Aku lagi pusing sama beberapa proyek dan kantor baru. Aku akan sering pulang malam dan biar kami nggak saling mengganggu dulu."
" Terserah kamu. Eyang lebih suka kalau kamu di sini atau kamu skalian ngajak Hana pindah ke apartement kamu. Eyang nggak suka kalian tinggal berpisah gitu" ucap Miranti.
" Iya eyang. Aku pikirin nanti. Lagian cuma beberapa hari aja. Ya udah, aku berangkat ya. Kasian mbak Cindy udah nunggu di bandara" pamit Erkan sambil memeluk tubuh Miranti dengan lembut.
" Kamu sama Cindy berangkatnya?" tanya Miranti basa basi sambil mengantar cucunya itu sampai menuju kendaraannya.
" Iya eyang. Skalian bawa Sasha jalan-jalan katanya."
" Sasha ikut juga? Eyang udah lama banget nggak ketemu anak itu. Sejak pindah sekolah ke Australia ikut papanya sampai sekarang. Udah gede pastinya."
" Udah SMA. Tapi kelihatan kayak anak kuliahan. Kemarin aku sempat ketemu waktu dia jemput mbak Cindy."
" Sampaein salam eyang ya. Suruh Cindy main kesini kalau nggak sibuk"
" Siap eyang. Ya udah, aku jalan ya" pamit Erkan.
Sementara itu....
" Rev, gue udah di butik nih. Gue ketemu siapa?" tanya Hana melalui sambungan telepon.
" Ya udah masuk aja. Udah gue kasih tahu kalau loe bakalan gantiin gue untuk seminggu. Cari aja mbak Nadya."
" Ya udah, gue masuk. Cepet sembuh, jangan banyak gaya"
" Makasih Cinderella... Loe emang paling baik didunia, loe itu...."
TUUTT...TUUTT...
Hana langsung mematikan panggilannya begitu mendengar Reva akan mulai hiperbolis untuk menyenangkan hatinya.
" Permisi mbak, saya mau ketemu mbak Nadya. Saya pengganti Reva selama seminggu"
" Oh iya, saya Nadya" ucap wanita cantik pemilik butik itu dengan sangat anggun dan ramah.
" Kalau gitu,kamu bisa ganti pakaian kamu disana. Dan kerjain seperti biasanya. Katanya kamu pernah kerja di departement store kan?"
" Part time sih mbak"
" Sama aja. Hanya aja disini kita harus lebih care dan teliti ke tamu kita karena mereka rata-rata orang yang agak picky gitu."
Hana mengangguk mengerti.
" Ya udah, kamu ganti baju kamu dulu. Jangan lupa hape kamu di silent ya, kamu boleh terima telepon kalau lagi nggak ada tamu aja. Itupun kalau urgent"
" Baik mbak, permisi"
Ketika Hana sedang mengganti pakaiannya dengan pakaian seragam, sebuah notifikasi pesan masuk untuknya.
Ia lalu merogoh isi tasnya dan mencari benda pipih tersebut. Hana lalu mengubah pengaturan ponselnya menjadi tidak bersuara lalu membuka pesan yang tadi masuk untuknya.
Eyang :
-- Erkan lagi keluar kota beberapa hari. Nanti malam kita makan malam ya"
Hana menghela napas ketika membaca pesan Miranti tersebut. Ada sedikit yang mengganjal di hatinya karena ia bahkan tidak mengetahui tentang hal ini meski sudah hampir seminggu menjadi istri pria itu. Ia dan Erkan jarang bertemu, mereka terkadang hanya saling berpapasan sasaat sebelum mereka tertidur. Hana memilih untuk berangkat lebih dulu sebelum Erkan turun untuk sarapan agar menghindari Miranti memintanya berangkat bersama dan membuat mereka semua tahu jika selama ini ia bekerja di hotel keluarga mereka.
Ia lalu menggelengkan kepalanya dan dengan cepat membalas pesan dari Miranti tersebut.
-- Baik eyang. Aku usahain pulang cepet malam ini. --
Setelah mengirimkannya, Hana kemudian menyimpan ponselnya ke dalam sebuah locker yang telah disediakan untuk karyawan lalu dengan cepat kembali bertemu Nadya.
" Mbak, saya udah selesai"
Nadya yang nampak sibuk dengan segala struk belanja para pembelinya kemudian menoleh sekilas pada Hana dan menoleh kepada sepasang pelanggan yang nampak memilih barang.
" Kamu layanin tamu yang disana ya, kayaknya butuh bantuan"
Hana menoleh sesaat pada seorang gadis belia yang nampak kebingungan memilih sebuah pakaian.
" Baik mbak, saya kesana dulu"
Hana lalu berjalan mendekati gadis tersebut dan kemudian tersenyum ramah padanya.
" Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?"
Sang gadis menoleh padanya dan menunjukkan dua buah pakaian yang sejak tadi dipegangnya.
" Menurut mbak, bagusan mana?"
" Maaf kalau boleh tau, ini untuk dipakai sendiri atau untuk orang lain?"
" Saya sendiri lah" ucapnya santai.
" Kalau menurut saya bagus yang kanan, kelihatan lebih fresh. Tapi...."
" Om, bagusan mana sih?" tanya gadis itu tiba-tiba pada seorang pria yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Dan betapa terkejutnya Hana ketika pria itu berdiri di hadapan mereka berdua dan memberikan pendapatnya.
" Ini aja" ucapnya asal.
" Tapi mbaknya bilang ini lebih fresh"
Hana mencoba bersikap tenang dan menyembunyikan wajahnya ketika pria itu kini menoleh padanya.
Wajah terkejut juga salah tingkah kini juga nampak pada Erkan yang biasanya terlihat serius. Ia kemudian berdehem untuk mengalihkan keterkejutan mereka berdua.
" Jadi aku milih yang mana om? Oh iya, om udah ganti baju? Tuh kan, bagusan gini daripada tadi. Lebih keren" ucap gadis itu manja.
Hana menelan air liurnya melihat interaksi kedua orang di hadapannya tersebut. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang ia rasakan saat ini. Cemburu? Entahlah...
" Terserah kamu. Kalau mau, ambil aja dua-duanya. Ayo cepat, mama kamu udah nunggu"
" Serius? Kalau gitu, besok-besok om numpahin baju aku kopi lagi ya, biar bisa beli lagi. Kan lumayan. Mbak, ini ada size yang besar dikit nggak?. Ini kayaknya kekecilan."
tanyanya pada Hana yang mencoba tidak memperhatikan Erkan yang menatapnya.
" Sebentar ya, saya lihat dulu" Hana lalu berjalan menjauhi mereka untuk mengambil ukuran pakaian yang gadis itu minta.
" Apa Erkan suka sama anak ABG gitu ya?.. Aaahh...terserah deh. Gue nggak peduli" ucapnya sambil mengusap dadanya.
Hana kemudian kembali pada Erkan dan gadis itu yang nampak sejak tadi mencoba menggoda dan membuatnya tertawa.
" Permisi, maaf untuk size yang lebih besar warna yang ini sudah nggak ada. Tapi kami punya warna lainnya kok"
" Loh tadi katanya ada. Mbak gimana sih!" ucap gadis itu ketus dan membuat Hana refleks menoleh pada Erkan.
" Maaf mbak, saya tadi bilang akan lihat dulu."
" Iya tapi kan mbak sendiri yang bilang ini bagus. Ternyata nggak ada ukurannya juga. Gimana sih!"
" Kita cari yang lain aja. Ayo" ucap Erkan sambil menarik tangan gadis itu pergi dan meninggalkan butik tersebut.
Entah mengapa d**a Hana kini terasa sangat sakit. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak menyangka akan berada dalam posisi seperti ini.
" Apa yang udah aku lakuin? Apa aku udah bikin kesalahan dengan pernikahan ini?" tanyanya dalam hati.
" Udah nggak usah dimasukin hati. Itu udah biasa" ucap Nadya menepuk pundak Hana dengan pelan.
Sesampainya di mobil, Erkan yang duduk di balik kemudi langsung menjalankan kendaraannya dengan perasaan yang tidak karuan. Entah mengapa melihat Hana dalam posisi seperti tadi membuatnya tidak nyaman. Terlebih ketika Sasha bersikap ketus dan tidak sopan pada gadis itu.
" Apa yang sekarang lagi dia pikirin soal aku ya? Apa dia salah paham?"
Tanpa sadar pikiran itu muncul di dalam pikirannya.