Pagi ini Alka berencana akan pulang ke rumah setelah Bunga tiba. Ia berniat ingin membersihkan diri dan berganti pakaian. Surya sudah berangkat ke kantor sejak jam tujuh pagi tadi karena ada meeting penting dengan klien dari Jerman.
Saat Bunga sedang menyuapi cream soup kesukaan putrinya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar. Lalu wanita itu segera beranjak untuk membukanya. Setelah pintu terbuka, seketika ia mengembangkan senyuman saat melihat sahabat lamanya datang bersama dengan suaminya.
“Kami dapat kabar dari Arsa kalau Tari kecelakaan,” tanya Risma sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
Risma berharap kedatangannya kali ini dapat bertemu dengan Alka. Ia ingin meminta maaf dengan layak atas sikap putranya waktu itu. Namun, sepertinya ia masih belum berjodoh untuk bertemu dengan gadis itu. Hingga dirinya berpamitan pulang pun, gadis yang ia tunggu-tunggu masih juga belum terlihat datang.
“Tadi ada Mami Risma dan Papi Cakra, mereka menanyakan kamu,” ucap Bunga menjelaskan setelah adik iparnya tiba.
Alka merasa tidak enak hati terhadap Cakra dan Risma. Di samping itu, dirinya juga merindukan sosok keibuan Risma. Wanita yang tak lain merupakan sahabat baik kakak iparnya itu memang sangat menyayangi dirinya layaknya putri kandungnya sendiri.
“Cie … cie … yang pengen ketemu Calon Mertua,” timpal Tari berniat menggoda sang tante.
Alka seketika melototkan matanya, karena tidak suka dengan ucapan keponakannya. Jika Mentari tidak dalam masa pemulihan, kemungkinan besar Alka akan mencubit mulut cerewetnya.
Beberapa saat kemudian, Alka tampak sedang menyuapi puding karamel kesukaan Tari. Namun, di tengah-tengah suapan, keponakannya memberikan tatapan sendu kepadanya.
“Tante jangan pergi lagi ya. Bukan Tari aja yang sedih, tapi semua orang rumah juga ikutan sedih,” ucap Tari dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Tante janji nggak akan pernah pergi lagi, dan akan berada di samping Tari,” ucap Alka sambil meletakkan sendok yang sebelumnya dia pegang untuk menyuapi keponakannya.
Detik kemudian gadis itu langsung memeluk keponakannya. Ternyata kepergiannya sangat berpengaruh pada semua keluarganya.
***
Setelah visit dokter, Tari sudah diperbolehkan pulang, tapi tetap dengan jadwal kontrol yang akan diberikan oleh perawat. Semua yang mendengar kabar itu pun tampak langsung mengucapkan syukur.
Saat di tengah perjalanan, terdengar suara ponsel Surya yang terus berdering. Namun, sepertinya pria itu tidak berniat untuk menerima panggilan tersebut. Terbukti dengan diabaikannya panggilan tersebut.
“Kenapa nggak diangkat sih, kamu buron dari anak gadis orang ya?” Alka bertanya sambil meliriknya sinis.
“Sembarangan!” sanggah Surya yang tidak terima dengan tuduhan yang baru saja dilontarkan oleh tante cantiknya.
“Tuh… ponsel kamu bunyi terus, berisik!” ucap Alka kembali.
“Kan lagi nyetir, Tan, nggak boleh angkat telepon.” jawab pria pemilik tubuh atletis itu dengan santai.
Sesampainya di rumah, kemudian Tari digendong oleh kakak laki-lakinya untuk menuju ke kamar gadis itu yang berada di lantai dua. Letak kamar Mentari tepat bersebelahan dengan kamar Alka. Setelah berada di dalam kamar, kemudian Surya merebahkan adiknya dengan hati-hati di atas ranjang.
Setelah merebahkan adik perempuannya di atas ranjang, lelaki tampan itu tampak bergegas pergi ke kamarnya. Sewaktu di jalan tadi memang sengaja, lelaki tampan pemilik mata tajam itu tidak menjawab ponselnya. Mengingat ada sebuah nama yang sedang menjalankan perintah darinya. Setelah berada di dalam kamarnya, lalu ia pun segera menelpon balik orang yang telah menghubunginya tadi.
“Ada berita apa?” Surya bertanya tanpa berbasa-basi.
“(……)”
“Ternyata benar mereka. Griss Company benar-benar cari mati!” Surya berkata sambil mengeraskan rahangnya.
“(……)”
“Mereka sudah berani menyentuh keluarga saya. Buat bangkrut Perusahaannya tanpa sisa! Besok pagi sudah harus berakhir semuanya, kamu mengerti maksud saya, kan? Saya tidak menerima kegagalan.” kata Surya bernada tegas.
Setelah mengatakan itu, pria tampan bermata elang itu pun langsung menutup teleponnya tanpa harus menunggu jawaban dari seberang telepon. Siapa yang tidak mengenal kekejaman seorang Surya Pratama Handoko, dan bagi orang yang telah berani menyinggungnya benar-benar seakan menggali kuburannya sendiri.
Benar dugaannya, jika kecelakaan adiknya merupakan sebuah kesengajaan yang sudah direncanakan oleh seseorang. Salah satu pesaingnya, ternyata telah berani mencari masalah dengannya. Ia pun langsung mengambil tindakan buat memberikan hukuman kepada otak dari peristiwa itu. Pria kejam itu harus bisa memberikan pelajaran yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh lawannya.
***
Sudah hampir seminggu sejak kepulangan Tari dari rumah sakit. Kediaman Handoko menjadi ramai kembali. Rumah lebih terasa hidup di bandingkan sebelum kedatangan Alka. Bagi yang tinggal memang sangat bisa merasakan perbedaannya. Bagi Alka melihat kehangatan yang terjalin di dalam keluarganya, seketika membuatnya terharu. Ia pun juga bisa merasakan jika keluarga adalah segalanya, bagi dirinya.
Hari ini waktunya Tari untuk kontrol, Alka dan Bunga terlihat sedang bersiap. Gadis cantik itu mengenakan dress terusan yang panjangnya sampai di bawah lutut. Dress dengan warna navy itu sangat kontras dengan warna kulitnya yang seputih porcelain. Dengan aksen tali pinggang mungil berwarna gold, di tambah polesan makeup tipis dengan rambut terurai dan curly di bagian bawahnya, membuat kecantikan gadis itu tampak terlihat bersinar.
Setelah di rasa semuanya selesai, lantas ia pun bergegas keluar dari kamarnya. Begitu dirinya melangkah menuruni anak tangga, tiba-tiba terdengar siulan jahil dari keponakan laki-lakinya.
“Suit … suit …, ada Bidadari turun nih! Ati-ati kepleset, Neng. Abang nggak kuat gendongnya.” ucap Surya sambil menelisik penampilan sang tante cantiknya.
Namun, yang di maksud malah memberikan lirikannya dengan sinis. Keponakan laki-lakinya memang jahil, dan tidak ada di antara Alka dan Mentari yang belum pernah menjadi korban kejahilan Surya.
“Wuihh … Tante cantik banget, nggak salah kalau Tante jadi seorang perancang terkenal,” ucap Tari dengan penuh kekaguman.
“Wanita di rumah ini semua memang bibit unggul,” Jawab Abi yang tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.
Mendengar ucapan dari papanya, seketika membuat Surya mengacungkan dua jempolnya secara bersamaan. Dirinya memang setuju dengan apa yang baru dikatakan oleh papanya.
Kontrol pertama, Mentari diantar oleh seluruh keluarga, karena mereka semua ingin tahu perkembangan kondisi sang tuan putri. Kurang lebih tiga puluh lima menit ang dibutuhkan Surya untuk berkendara agar sampai di rumah sakit Angkasa.
Karena jadwal dokter yang sangat padat, membuat Abi harus membuat janji terlebih dahulu. Paling tidak dua hari sebelum mereka datang, pihak rumah sakit sudah memasukan data Mentari. Mengingat antrean yang selalu ramai dan demi kenyamanan para pasien di ruangan praktek dokter Arsa Dewananda Ibrahim, membuat pihak rumah sakit memberlakukan mengisi antrean melalui online.
Akhirnya begitu keluarga Handoko tiba, ada perawat yang berjaga di depan ruang praktik langsung mengkonfirmasi data pasien terlebih dahulu. Setelah pencocokkan data selesai, lantas pasien dipersilahkan masuk ke dalam ruang tunggu.
“Nona Mentari, silahkan masuk.” pinta perawat perempuan dengan sopan setelah pasien yang ada di dalam ruangan dokter sudah keluar.
“Terima kasih, Sus.” jawab Mentari dengan senyuman yang tampak menghiasi bibirnya.
Alka dan Surya memang sengaja tidak ikut masuk ke dalam ruangan dokter. Mereka memilih untuk menunggu di luar. Keduanya tampak duduk di kursi tunggu yang disediakan untuk pasien yang sedang mengantre. Banyak pasang mata, baik dari kaum Adam maupun Hawa yang menatap gadis cantik itu dengan penuh kekaguman.
Surya yang menyadari ada banyak pasang mata yang menatap tantenya, seketika ia pun merangkulkan tangannya di pundak Alka. Itulah Surya yang selalu jahil, seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih. Alka yang sibuk bermain ponsel, tampak tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh keponakannya.
Gadis cantik itu membiarkan apa yang dilakukan oleh keponakannya itu padanya. Hal itu memang sudah terbiasa terjadi. Bahkan, ia juga sering memeluk lengan Surya seperti layaknya pasangan kekasih.
“Tante memang tetap yang tercantik, tuh banyak mata yang minta dicolok,” ucap surya memberitahu dengan berbisik di dekat telinga Alka.
“Biarin aja, namanya juga punya mata.” Alka menjawabnya dengan santai.
Bahkan, perempuan dengan segala kelembutannya itu tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel yang berada di tangannya. Menurutnya, permainan di ponselnya jauh lebih menarik daripada perhatian orang-orang kepadanya.
Tak lama kemudian, Tari sudah keluar dari ruangan dokter dengan didorong menggunakan kursi roda. Detik kemudian tampak Arsa juga ikut mengantarkan sampai depan pintu ruangannya. Lelaki tampan berkacamata itu sempat terkejut dengan kehadiran Alka yang terlihat cantik dan anggun di matanya.
Tanpa sengaja mata dokter tampan itu juga melihat tangan Surya yang berada di pundak Alka. Entah kenapa, dirinya merasa risih melihat teman masa kecilnya itu merangkul Alka layaknya sedang merangkul kekasihnya. Bahkan, wanita yang duduk dengan anggun itu masih terlihat sibuk dengan ponselnya dan ia tidak menyadari kehadiran dokter laki-laki yang pernah menghinanya dengan habis-habisan dulu.
“Tari sudah selesai, ayo kita pulang,” ajak Bunga.
“Terima kasih banyak, Dokter Arsa. Titip salam buat Papi dan Maminya, ya. Om pamit dulu,” kata Abi sambil menepuk lengan atas Arsa.
“Sama-sama, Om, itu sudah kewajiban Arsa, dan Insyaallah nanti Arsa sampaikan salamnya,” jawab Arsa dengan ramah.
Alka mendengar suara yang sangat ia kenal, dan tanpa sengaja membuat tubuhnya menegang untuk sesaat. Namun, dengan cepat ia dapat menguasainya. Ia tampak langsung mengangkat wajahnya dan tanpa sengaja matanya bertatapan langsung dengan bola mata dokter tampan yang berkacamata. Dengan cepat gadis cantik itu pun segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Dirinya harus bisa menguasai hatinya. Ia tidak ingin terlihat memalukan di hadapan laki-laki yang pernah menorehkan luka di hatinya.
‘Ayolah hati! Jangan bikin malu lagi seperti dulu,’ pinta Alka dalam hati.
Surya yang mengetahui gestur tubuh dari sang tante, seketika langsung bertindak. Pria tampan itu dengan segera berdiri dari duduknya dan menghampiri papanya. Dirinya memang sengaja berdiri tepat di depan tantenya yang saat ini sedang duduk. Niatnya Hanya untuk menutupi tubuh Alka di balik punggungnya, agar Arsa tidak lagi melihatnya.
Arsa tampak terkesima dengan penampilan Alka yang terlihat sangat cantik, anggun, dan sangat cocok dengan pribadinya. Detik kemudian dokter arogan itu sedikit terkejut karena tiba-tiba pemandangan indah di depannya sudah berganti.
“Terima kasih atas pertolongannya, Dokter Arsa,” ucap Surya sambil memberikan penekanan kata ‘Dokter Arsa’ yang kemudian diangguki oleh teman masa kecilnya itu.
“Terima kasih, Mas.” Alka berucap dengan tersenyum tipis, ketika dirinya sudah berdiri dan berdiri tepat di samping keponakannya.
“Hhmm …” Arsa hanya menjawab dengan dehaman.
‘Kaann … sikapnya tidak pernah berubah,’ batin Alka miris.
Setelah berbasa-basi sebentar, lantas mereka berpamitan terlebih dahulu sebelum berjalan beriringan untuk menuju parkiran. Sebelum pulang ke rumah, mereka mampir makan siang terlebih dulu.
***
Karena keponakan perempuannya menginginkan untuk tidur bersama dengan dirinya, jadi malam ini Alka sudah berada satu ranjang bersama dengan Mentari. Sewaktu Alka masih di London, Mentari sering tidur di kamar tantenya ketika gadis itu sedang merindukannya.
“Tari kangen sama pelukkan Tante.” Tari berucap sambil memeluk erat tubuh Alka.
Di saat mereka sedang seru-serunya bercerita, dengan tiba-tiba keduanya di kejutkan dengan pintu yang terbuka dengan kencang. Detik kemudian muncul-lah Surya dengan cengirannya tanpa dosa.
“Bisa nggak sih, ketuk pintu dulu sebelum masuk?” protes Tari.
“Ya ... maaf.” Surya menjawab dengan wajah tanpa merasa bersalahnya.
Pria itu menjawab perkataan adik perempuannya sambil berjalan mendekati ranjang. Kemudian ia pun langsung merebahkan tubuhnya tepat di tengah-tengah kedua wanita yang berbeda usia itu.
“Hey … hati-hati, Tari belum benar-benar sembuh!” Alka berucap untuk memperingatkannya.
Kemudian, Surya langsung berpindah ke belakang tantenya dan langsung memeluknya dari belakang. Bahkan, tante cantiknya ibarat sebuah guling bagi lelaki berbadan tegap itu, sedangkan Mentari yang melihat kakaknya mulai menguasai tantenya, ia pun tidak terima serta memprotesnya.
“Mas, kok gitu sih, Tante kan mau tidur sama Tari.”
“Mas juga mau tidur sama Tante,” jawab Surya dengan santainya.
Alka yang pusing mendengar perdebatan kakak beradik itu pun langsung ikut berteriak.
“Stop ...! Kalau masih mau Tante tidur di sini, kalian berdua diam dan sekarang semua tidur karena sudah malam. Tante di tengah biar adil buat kalian,” putus Alka pada akhirnya.
Tak terasa waktu cepat berlalu. Setelah jadwal kontrol terakhirnya dua hari yang lalu, gadis itu pun sudah dinyatakan sembuh dan tidak perlu lagi memakai kursi roda ataupun alat bantu lainnya untuk menopang tubuhnya.