Hari minggu ini, keluarga Handoko berencana makan di luar untuk merayakan kesembuhan Tari dan kepulangan Alka. Sebelum jam dua siang, mereka sudah tampak berangkat ke restauran langganan. Tari yang terlihat sudah tidak menggunakan kursi roda lagi dapat bergerak dengan bebas. Setibanya di restauran, mereka pun langsung menuju meja yang sudah dipesan oleh Bunga terlebih dahulu.
Setelah semuanya mendudukkan diri dan memesan makanan. Beberapa saat kemudian terlihat gadis cantik pemilik manik mata hazel itu beranjak dari duduknya dan ijin hendak pergi ke toilet yang berada di restauran tersebut.
“Alka ke toilet dulu ya,” ucap Alka.
Setelah kakak iparnya menganggukkan kepala, gadis itu pun bergegas meninggalkan meja untuk menuju toilet. Alka tampak berjalan dengan anggun dengan dagu yang terlihat tegak. Banyak pasang mata yang memperhatikan gadis itu berjalan dengan penuh kekaguman.
Setelah Alka memasuki bilik toilet dan menyelesaikan hajatnya, lantas ia pun mencuci tangannya. Di saat gadis cantik itu sibuk membasuh tangannya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan mantan sahabat yang tega mengkhianatinya. Gadis yang berprofesi sebagai model itu tampak baru saja keluar dari bilik toilet yang terletak paling ujung.
Mereka tampak terlihat sama-sama terkejut di saat mata mereka tanpa sengaja saling bertatapan melalui cermin besar yang ada di depannya. Namun, dengan cepat Alka memasang wajah datarnya kembali. Ia pun tak acuh dengan kehadiran Gaby yang sama-sama sedang membasuh tangan.
Setelah selesai dengan urusannya, gadis pemilik mata indah itu pun hendak keluar dari toilet khusus wanita. Namun, ia kembali menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara seorang wanita yang sangat dia kenal.
“Aku sudah hidup bahagia dengan Rafa, jadi buang jauh-jauh perasaan-mu untuk kembali padanya,” ucap Gaby dengan tiba-tiba.
Di dalam toilet tersebut, tidak hanya ada mereka berdua. Ada juga beberapa wanita lainnya yang juga ingin menggunakan bilik-bilik tersebut. Mendengar ucapan sarkas dari salah seorang pengunjung restauran, membuat semua wanita yang berada di dalam toilet itu pun langsung memperhatikan perdebatan kedua mantan sahabat tersebut.
Setelah Gaby mengatakan itu, Alka langsung menghentikan langkahnya. Detik kemudian gadis cantik itu memutar badannya dengan gerakan anggun.
“Kamu sepertinya salah orang bicara begitu padaku.” Alka menjawabnya dengan tak acuh.
“Aku tahu kamu masih mengharapkan Rafa, buktinya sampai sekarang kamu masih sendiri,” ucap Gaby yang terlihat ingin memprovokasi mantan sahabatnya itu di depan umum.
“Apa kamu se-takut itu jika Rafa kembali padaku, sampai-sampai kamu harus memberikan peringatan padaku?” tanya Alka sambil menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
Tampak sekali senyuman yang sedang meremehkan lawan bicaranya. Alka memang sudah jengah dengan sikap Gaby. Gadis itu tidak ingin mantan sahabatnya dapat menginjak-injak harga dirinya, apalagi di tempat umum seperti sekarang.
“Buktikan, jika kamu tidak ingin kembali pada Rafa!” pinta Gaby dengan tersenyum yang tak kalah meremehkannya.
“Haha … Kamu lucu sekali, apa kamu lupa siapa aku?” tanya Alka balik.
Gadis itu tidak menyangka jika wanita yang berada di hadapannya ini selain tidak memiliki manner ternyata juga tidak memiliki otak. Apa Gaby benar-benar amnesia siapa Alka Alisha Handoko yang sebenarnya?
“Apa perlu aku ingatkan kembali kalau aku adalah Alka Alisha Handoko. Kamu dan Rafa bukanlah level-ku dan kalian memang cocok bersama, sama-sama pengkhianat rendahan. Aku tidak mau berurusan dengan orang rendahan seperti kalian, itu sangat menjijikkan.” ucap Alka sambil menatap mantan sahabat dari kepala sampai ujung kaki dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
Gaby yang mendengar penuturan dari mantan sahabatnya itu terlihat sangat terkejut. Dirinya tidak menyangka jika seorang Alka yang terkenal dengan kelembutan dan keramahannya sanggup untuk membuat dirinya tidak berkutik di tempat umum.
‘Dia sudah banyak berubah,’ ucap Gaby di dalam hati.
“Bahkan, aku bisa membeli harga dirimu saat ini juga,” lanjut Alka sambil menekankan setiap kalimatnya.
Setelah selesai mengatakan itu, gadis itu pun bergegas keluar. Ia berjalan dengan dagu yang terangkat dengan elegan. Gadis cantik yang penuh dengan kelembutan itu sudah bertekad tidak akan ada seorang pun yang boleh menginjaknya lagi.
Setelah kepergian Alka, Gaby masih diam mematung. Dirinya benar-benar dikejutkan oleh perubahan sikap sang mantan sahabat. Sekarang wanita cantik yang selalu membuatnya iri itu, terlihat sangat tegas dan tidak bisa terintimidasi. Lalu ia tampak sedang mengepalkan tangannya karena menahan marah.
Mantan sahabatnya sekarang tampak lebih cantik dan dewasa dengan penampilan yang begitu elegan. Sebenarnya tadi ia memberanikan diri untuk memberi peringatan pada Alka karena dia melihat ada beberapa orang wanita yang sedang mengantre bilik di dalam toilet.
Awalnya, saat Gaby melihat mantan sahabatnya berada di dalam toilet yang sama dengannya, timbul keinginannya untuk mempermalukannya. Namun, ia tidak menyangka jika Alka sekarang begitu terlihat tegas dengan aura yang kuat.
Keadaan ternyata tidak seperti yang ia inginkan. Mantan kedua sahabat itu sempat menjadi tontonan orang-orang yang berada di dalam toilet. Mereka semua melihat ke arahnya dengan tatapan yang seolah-olah sedang mencemooh dirinya.
“Kenapa lama sekali di toiletnya?” tanya Bunga saat adik iparnya itu baru saja mendudukkan tubuhnya di kursinya semula.
“Toiletnya ramai, Mbak, jadi harus antre dulu,” jawab Alka sambil tersenyum manis.
Ketika dirinya berjalan mendekat ke arah meja keluarganya, dia sudah merubah raut wajahnya kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Gadis itu dari dulu memang tidak ingin membuat keluarganya khawatir karena masalahnya.
Seorang Alka sanggup melakukan apa saja demi kebahagiaan keluarganya. Karena di samping hanya mereka yang dia miliki di dunia ini, ia juga merasa berhutang budi pada kakak dan kakak iparnya. Mereka berdua dengan lapang d**a sudah mau mengurusnya sejak peristiwa tragis yang terjadi dua belas tahun yang lalu.
“Ya sudah, cepat di makan, keburu dingin nanti jadi nggak enak,” ucap Bunga dengan lembut.
Namun, tatapan Surya yang setajam mata elang seperti sedang menyelidik raut wajah tantenya yang menurutnya sedang menyembunyikan sesuatu. Pria tampan itu memang tidak bisa dibohongi dengan senyum yang menghiasi bibir wanita cantik yang sedang duduk di sampingnya.
Acara makan bersama di luar akhirnya selesai juga setelah memakan waktu lebih dari dua jam. Namun, nyatanya Tari masih belum ingin langsung pulang ke rumah. Gadis ceria itu ingin mampir dulu ke mall untuk mencari beberapa camilan yang biasa dia beli. Karena selama dirinya masih dirawat kemarin, dengan terpaksa gadis itu harus rela bersabar untuk menahan keinginannya.
Suatu saat Mentari pernah meminta pada kakaknya untuk dibelikan camilan kesukaannya, tapi kakaknya langsung menolaknya dengan alasan letaknya di dalam mall. Surya lalu berjanji akan mengantarkan Tari untuk membelinya sendiri, jika ia sudah sembuh.
“Nggak sabar pingin beli jajan yang sudah lama Tari inginkan, karena kebanyakkan di kasih janji melulu,” ucap Tari yang seperti sengaja ingin memancing keributan.
“Eh ... kok jadi nyerempet sih ini, Nenek Sihir,” jawab Surya yang merasa tersindir.
***
Sejak pertemuanya dengan mantan sahabatnya waktu itu, Alka semakin mantap untuk mempercepat keinginannya. Di samping untuk mewujudkan cita-citanya, ia juga ingin membalas semua orang yang telah menyakiti hatinya. Ia ingin membalasnya dengan cara menampar mereka semua melalui kesuksesannya. Ia tidak ingin diremehkan dan direndahkan orang lagi. Mereka semua harus melihat siapa dirinya yang sebenarnya. Selama ini ia selalu menyembunyikan statusnya jika dirinya adalah seorang Handoko.
“Alka yang dulu telah mati. Sekarang jangan pernah main-main denganku. Aku tidak akan pernah bisa kalian bodohi lagi,” ucap Alka pada dirinya sendiri dengan penuh keyakinan.
Siapa yang tidak mengenal 'Perusahaan Handoko Grup’ yang besar di bawah kepemimpinan kakaknya. Sejak kematian kedua orang tuanya, Abi mengambil alih perusahaan dan menggabungkannya dengan perusahaan dia sendiri di bawah nama Handoko Grup.
Setelah Surya berusia 20 tahun dan bisa dilepas untuk memegang kendali. Lantas Abi mempercayakan padanya, sedangkan lelaki paruh baya itu memegang perusahaan almarhum papanya.
Siang ini, Alka datang ke salah satu cabang kantor Handoko Grup untuk menemui sang kakak. Gadis itu ingin menyampaikan niatnya pada kakak laki-lakinya, bahwa dirinya harus segera mewujudkan mimpi dan cita-citanya. Hanya kakak laki-lakinya yang bisa mewujudkan semua mimpinya, menurutnya.
Setelah sampai di lantai paling atas, di mana ruangan Abi berada, lantas ia pun bergegas melangkahkan kakinya ke meja Satria, sekretaris Abi. Di mana letak mejanya berada tak jauh dari ruangan kakaknya, tepatnya dekat dengan sofa tunggu untuk tamu.
“Selamat siang, Mas Satria. Bapak ada di ruangannya ya?” tanya Alka dengan tersenyum.
“Selamat siang. Beliau ada di ruangannya, silahkan langsung masuk saja, Mbak,” jawab Satria dengan sopan.
“Terima kasih ya, Mas. Semangat bekerjanya,” ucap Alka sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal seperti gerakan tangan ‘Merdeka!’
"Sama-sama, Mbak," jawab Satria sambi mengikuti gerakan tangan Alka.
Saat ia sudah berada di dalam ruangan Abi, matanya melihat sang kakak sedang membaca beberapa dokumen. Sambil masuk, tak lupa Alka mengucapkan salam dan mencium punggung tangan kakaknya. Kemudian Abi meminta adiknya itu untuk menunggunya sebentar.
Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu harus mempelajari satu dokumen sebelum memberikan tanda tangannya. Gadis itu pun langsung berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari kaca besar.
Beberapa saat kemudian Abi terlihat selesai dengan urusannya. Ia pun bergegas beranjak menuju sofa mendekati adik satu-satunya. Di mana sang adik sudah menunggu beberapa saat yang lalu. Kakak beradik itu kini tampak duduk saling berhadapan yang hanya dibatasi oleh sebuah meja kaca.
“Tumben datang tanpa mengabari dulu?” tanya Abi sambil mendudukkan tubuhnya.
“Maaf, Alka terpaksa mengganggu kesibukan, Mas Abi. Karena ada sesuatu yang mau Alka sampaikan,” ucap Alka dengan hati-hati.
Detik kemudian mata Abi langsung menatapnya. Pria paruh baya itu sudah bisa menebak jika adiknya sudah begini pasti ada sesuatu yang diinginkannya.
“Ada sesuatu yang kamu inginkan?” tanya Abi dengan telak.
“Iya, Mas. Alka ingin dibantu untuk membuka butik. Sudah saatnya aku membesarkan nama ‘Alka’ dan melanjutkan karirku.” ucap gadis pemilik mata indah itu dengan suara lembutnya.
Abi lantas tampak menghela napas panjang setalah mendengarkan penuturan adik semata wayangnya. Sebagai seorang kakak, tentu dirinya akan mendukung setiap keputusan Alka.
“Baguslah. Berarti saat ini kamu sudah dewasa. Kamu tidak perlu khawatir, Mas akan membantu seluruhnya,” jawab sang kakak dengan yakin.
“Terima kasih, Mas,” ucap Alka sambil beranjak pindah tempat duduk untuk memeluk kakaknya.
Tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang mengetuk pintu ruangan Abi. Dengan otomatis kakak beradik itu pun menghentikan obrolannya dan Alka pun langsung melepaskan pelukannya.
“Masuk!” seru Abi.
Detik kemudian, pintu pun terbuka dan muncul Reno, asisten Abi diikuti oleh OB yang membawa minuman untuk kakak beradik tersebut. Setelah meletakkan minuman di atas meja sofa, mereka berdua bergegas keluar dan tak lupa menutup pintu ruangan kembali.
“Mas senang. Kamu sudah bisa memikirkan dirimu sendiri. Selama ini kamu selalu memikirkan perasaan orang lain. Namun, ada sesuatu yang harus kamu lakukan terlebih dahulu sebelum Mas membantumu!" pinta Abi melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.