Risma ingin rencananya sudah terlaksana sebelum mereka berangkat untuk berlibur bersama. Ia sudah sibuk menyiapkan semuanya, bahkan Cakra juga sudah bicara empat mata dengan Arsa di ruang kerjanya. “Papi ingin melamar Alka untuk kamu, bagaimana?” tanya Cakra tanpa basa-basi setelah putranya mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruang kerjanya. “Arsa bisa melamar dia sendiri,” jawab Arsa dengan ketus, dia tidak suka kalau ada yang mengendalikannya, walaupun itu orang tuanya sendiri. “Papi tahu. Tapi asal kamu tahu, hargai orang lain kalau kamu ingin dihargai,” jawab Cakra dengan tegas. “Bukannya Papi yang tidak pernah menghargai orang lain. Apalagi istri sendiri tega diselingkuhi, apa itu yang di namakan menghargai?” jawab Arsa yang tidak mau kalah, dia mengeraskan rahangnya kare

