"Kamu tidak apa-apa?" tanya Haris lalu menghampiri Linza. Linza kembali tersenyum dibuatnya.
Derap langkah yang ditimbulkan Haris sampai di telinga Linza. Matanya menatap Haris yang berjalan ke arahnya dengan wajah khawatir.
"Aku tidak apa-apa," katanya setelah melihat Haris yang menyelidik badan Linza, kemudian tertawa kecil.
Cup.
Perlahan keningnya hangat, tersentuh oleh bibir Haris. Belaian-belaian halus hadir di jilbabnya.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa," lirihnya sembari menyalurkan kehangatan ke tubuh Linza. Linza kembali tersenyum, memejamkan mata sembari menikmati energi yang datang dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tubuhnya kembali menghangat saat semburat sinar surya menerpa. Tangannya menggenggam erat punggung Haris.
Hati Haris kalut, mengingat kejadian beberapa saat lalu yang membuatnya bimbang. Benarkah gadis dipelukannya yang melakukan? Lirihnya dalam hati. Bimbang menguasai relungnya. Hatinya sedih dan menuntut seseorang untuk menangkap pelaku di balik semua ini. Tetapi di sisi lain hatinya takut-takut jika gadis yang dipelukannya ini adalah dalang di balik semuanya.
Ia semakin mengeratkan pelukannya, tak ingin melepaskan wanitanya ini. Wanita yang berhari-hari dibuatnya sakit hati. Wanita yang mampu menanggalkan gelarnya sebagai lelaki yang bisa bertanggung jawab kepada istri. Selalu dalam hatinya tersirat rasa sakit, ketakutannya tak bisa membahagiakan Linza sekarang terjadi.
Terenyuh kembali, di saat-saat seperti ini mampu membuat keduanya kembali merajut cinta. Luka yang disembunyikan Linza berangsur terobati. Rindu yang selama ini berteman dengannya semakin sampai pada puncaknya. Merasakan dan mendengarkan detak jantung suaminya nyatanya cukup mampu membuat cintanya semakin membara.
Dalam hatin Haris mendoakan semoga bukan Linza pelakunya.
Terdengar pintu berderit. Seorang gadis kecil berumur kisaran lima tahun menyembul dari balik pintu dengan membawa sebuah boneka beruang kecil.
Pipinya menggelembung, menatap takut ke arah mereka bertiga. Suara cicitan sepatu anak kecil itu terhenti. Terhenyak menyaksikan mereka lalu meneliti satu per satu.
Linza tersenyum. "Apakah kamu tersesat?" Haris yang juga menatapnya ikut tersenyum. Pun Zahra, ia bahkan mulai mengedipkan mata kanannya untuk menggoda gadis manis yang berada sekitar tujuh meter darinya.
Gadis kecil itu kembali menatap ketiganya takut, ia sempat mengedarkan pandangannya hingga ke sudut-sudut ruangan, kemudian celinguk-celinguk di luar ruangan dan melihat perawat-perawat yang berlalu lalang.
Bibir Linza mengembang, menatap gadis imut itu. Yang ditatap semakin takut, rambut ikalnya sesekali naik turun. Zahra menahan tawanya, kemudian menghampirinya.
Awalnya gadis itu menolak didatangi Zahra. Tetapi saat Zahra mengatakan akan mengantarkannya kepada orang tuanya akhirnya menurut.
Sebuah apel merah tepat berada di atas telapak tangan Linza saat gadis kecil itu yang berada di gendongan Zahra mulai menghampirinya. Haris mengelus lembut punggung Linza, tersenyum.
"Apakah kamu mau apel?" Linza terkekeh menatap mata gadis itu yang berbinar penuh minat ke arah apel merah, kemudian mengangguk semangat.
"Nama kamu siapa?" tanyanya lagi. Kali ini gadis itu tersenyum saat menyadari orang-orang yang berada di sekitarnya dirasa tidak berbahaya.
"Asyila." Gadis itu tersenyum lebar menatap ketiganya.
"Nama yang indah." Haris berujar lembut, lalu menatap Linza penuh mesra. Zahra kemudian pamit untuk mengantar gadis itu ke orang tuanya, Linza mengangguk diikuti Haris.
"Kamu mau anak kita lahir laki-laki atau perempuan?" tanya Haris. Pipi Linza merah merona, matanya menatap Haris yang juga menatapnya dengan tatapan teduh.
"Aku akan memilih semuanya. Jika nanti perempuan, pasti cantik seperti uminya. Jika lelaki pasti akan tampan seperti abinya." Haris membusungkan d**a, menyengir kuda.
Linza menggelembungkan kedua pipinya, menatap ke sembarang arah.
Haris meraih tangan Linza. Kembali, d**a Linza berdesir. Entah mengapa, setiap perlakuan Haris mampu menyihir hatinya.
Kesunyian itu tiba-tiba terpecah oleh nada dering di ponsel Haris. Dengan segera Haris meminta izin Linza untuk mengangkat telepon. Batinnya was-was saat berjalan ke arah luar, meninggalkan seorang wanita yang masih tersenyum dan menatapnya penuh cinta.
Keringat mengucur deras di pelipisnya. Dengan langkah dipercepat ia berjalan ke arah tempat yang sepi, jarang dijangkau oleh manusia untuk berlalu lalang.
"Bagaimana hasilnya?" Dadanya berdetak semakin cepat, gelisah menguasai relungnya. Saat menunggu jawaban dari seseorang di seberang sana.
"Saya sudah berada di kantin rumah sakit, Pak. Ada beberapa yang akan saya jelaskan kepada Anda. Saya takut jika lewat telepon kurang efektif." Haris mengangguk, lalu bergegas menutup telepon dan berjalan mantap menuju kantin.
Langkah demi langkah yang ditapakinya semakin mendekatkannya pada kantin. Hati menderu, seakan berkoar. Gelisah kembali menyelimuti hatinya.
Deg!
Langkahnya terhenti saat melihat orang yang baru saja berbicara di telepon dengannya sedang duduk-duduk bersama kedua orang tuanya. Sesekali terlihat wajah mereka yang serius, seperti membicarakan sesuatu.
Orang itu melambaikan tangannya, lalu disusul tatapan kedua orang tuanya mengarah kepadanya.
Mengapa dia bersama kedua orang tuaku? Tidak bisakah masalah ini hanya aku dan dia yang tahu? Jeritnya dalam hati. Was-was menyelimuti. Ia duduk di samping abi.
"Saya telah telah menyimpulkan, Pak. Dan saya menarik kesimpulan bahwa semua bukti-bukti mengarah pada ananda Linza."
Deg!
Matanya kedua kalinya membulat sempurna. Hatinya seperti terhujam. Rasa cemas semakin menguasai hati. Tatapannya nanar ke arah orang yang baru saja berbicara dengannya, membawa seragam polisi.
Hatinya berontak untuk percaya. Anggapan itu seperti tak nyata. Dalam benaknya lalu bertanya, benarkah dia?
Seorang wanita lugu dan lemah yang melakukannya?
Umi shok. Matanya membulat sempurna, begitu pun abi. Umi menggelengkan kepala, sedangkan abi mengacak rambutnya frustrasi.
"Bukankah gadis seperti dia tidak mungkin melakukannya?" Akal Haris berontak, memaksa untuk mengelak.
"Tetapi semua bukti mengarah kepadanya." Lelaki berpostur tubuh tinggi berjenggot itu mempertahankan argumentasinya. Mata hitam legamnya menatap wajah Haris yang pilu.
Tanda tanya besar baginya. Mengapa Linza yang melakukannya? Ia tak habis pikir.
"Ris ..." lirih umi. Matanya menatap Haris sayu. Haris menatap uminya, kemudian menundukkan kepalanya.
"Apa dia tidak menyukai Aisyah?" tanyanya lirih. Haris diam seribu bahasa. Mulutnya bungkam. Seperti ada lem perekat yang sengaja ditempel di mulutnya agar tak berbicara.
Benarkah Linza melakukan itu karena cemburu kepada Aisyah? Jika cemburu, mengapa sampai seperti itu? Bukankah ini keterlaluan? Melakukan sesuatu yang berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa seseorang?
Ia mengambil ponselnya yang berdering. Kemudian mengangkat telepon. Terlihat di layar notifikasi tertera nama Zahra.
Setelah berpamitan untuk mengangkat telepon sebentar dan menjauh dari ketiga orang tersebut, suara Zahra terdengar dari benda persegi panjang canggih itu.
"Assalamualaikum," lirih Zahra dari seberang sana.
"Waalaikumussalam," jawabnya sembari menahan rasa bencinya yang tadi kecil semakin membesar dan berkobar.
Keterlaluan Linza membuatnya murka. Hatinya yang awalnya hangat kini mendingin bersamaan dengan rasa cinta yang menjelma menjadi benci yang berkobar-kobar dalam d**a.
"Kakak di mana? Kak Linza sudah boleh pulang."
Rasa bencinya yang membara mengantarkannya pada jurang ketidakjujuran. "Maaf, aku tidak bisa ikut menjemput. Aku ada urusan. Zahra, maaf Kakak tidak bisa menemani," katanya dengan intonasi datar.