Ketangguhan Hati

997 Words
"Kak Aisyah..." "Kenapa?" Raut wajah Linza semakin cemas, dahinya mengkerut. "Kak Aisyah pingsan di lantai bawah." Jemari gadis itu menggenggam roknya kuat-kuat. Berkali-kali menelan susah salivanya. Wajahnya gelisah. "Lalu sekarang bagaimana?" tanya Linza yang tak kalah gelisah dari Zahra. "Dilarikan ke rumah sakit sama kak Haris." Ia menggigit bibir bawahnya. "Ayo, Kak. Kita sudah ditunggu Ummi sama Abi di bawah." Linza mengangguk, bergegas mengikuti langkah Zahra menuruni anak tangga. "Kenapa bisa pingsan?" tanya Linza sembari menyejajarkan langkah kakinya dengan Zahra. Zahra menggeleng, dengan masih memasang wajah cemasnya. "Cepat!" seru Abi yang lalu disusul anggukan kepala dari Ummi. Mereka berdua bergegas menuju mobil Haris, karena Haris tadi menggunakan mobil Aisyah. Suara mendadak hening ketika mereka berdua masuk ke sana. Hanya terdengar alunan murrotal dari Thaha Al-Junayd yang mengiringi jalan mereka. Satu pun tidak ada suara. "Bagaimana itu bisa terjadi?" Ummi masih menatap lurus. Abi banting stir. Linza serasa mual. Ia memegangi perut buncitnya dengan meringis, menatap ke depan yang semakin membuatnya semakin pusing. "Abi! Jangan terlalu ngebut, kasian kak Linza!" seru Zahra. Abi yang memegang kemudi stir tak mengindahkannya. "Di saat seperti ini santai? Bagaimana bisa? Kakak iparmu sedang dalam bahaya dan kamu mengatakan jangan terlalu ngebut?" Abi masih fokus ke depan. Sesekali memencet tombol klakson. Ia frustasi. Linza pusing, pandangannya sayu, berkunang-kunang. "Abi!" Terdengar suara seseorang terjatuh. Ia oleng. *** Haris berulang-kali menatap ke ruangan Aisyah yang dirawat. Pandangannya tak pernah lepas sedikit pun dari tempat itu. Berulang-kali pula ia menghela napas. Mengacak rambutnya kasar, lalu berjalan mondar-mandir sambil matanya masih berkutat dengan tubuh Aisyah yang terbujur kaku di ranjang pasien. Bagaimana pun juga, dia sekarang telah menjadi istrinya. Dua menit menunggu, akhirnya dokter datang, bersamaan dengan datangnya Abi Umminya. Zahra dan Linza kecuali. "Bagaimana dokter?" sambar Ummi yang datang dari arah kanan tepat berdirinya Haris. Haris menengok ke kanan, matanya terbelalak saat menyadari Linza dan Zahra tidak berada di situ. "Ummi, di mana Linza dan-" "Bagaimana, dokter?" ulang Umminya sekali lagi. Wajah keriput itu terpampang jelas perasaan letihnya. Ia tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Haris. "Ada beberapa zat beracun yang masuk ke tubuh ananda Aisyah. Zat itu sangat berbahaya. Kita harus melakukan penanganan khusus," ujar laki-laki berbaju serba putih itu. Ia menghela napas lembut. "Apakah artinya ada yang meracuni, dok?" tanya Abi. Dokter itu mengangguk remang. "Sepertinya begitu." "Tetapi tidak mungkin kami yang meracuni, dok." Dahi dokter itu mengernyit. "Terakhir kali, dia memakan apa? Mungkin karena memakan makanan yang beracun?" kata dokter itu menengahi. Tiga orang itu berpikir keras. Otaknya dipaksa untuk memutar kejadian sebelumnya. Kejadian di mana sebelum terjadi peristiwa ini. Kejadian di mana awal permulaan dari peristiwa ini. "Memakan bengkuang?" Ummi Haris berujar lirih. Tiga pasang mata menatapnya serius. Haris masih ingat tadi pagi, di mana Haris disuapi oleh Aisyah, lalu Aisyah memakan beberapa potong bengkuang, yang kemudian merobohkan badannya beberapa menit selanjutnya. "Bengkuang?" kata mereka bersamaan. Ummi Haris mengangguk. "Mungkinkah Zahra?" Ummi menggeleng cepat. "Tidak mungkin Zahra yang melakulannya," jawabnya sendiri. "Lalu siapa?" Haris menatap kedua orangtuanya itu satu per satu, menatap wajah mereka yang mencoba mengingat sesuatu. "Linza!" pekik Ummi sembari menutup mulutnya tak percaya. Haris tersedak, matanya membulat sempurna. *** "Kak," ucap Zahra sembari menepuk-nepuk kecil pipi hangat Linza. Linza belum saja sadar sejak dua jam yang lalu. "Bagaimana ini dokter?" tanya Zahra yang kebetulan saat itu ada dokter yang berjaga lalu mengganti infus milik Linza. Dokter itu tampak memeriksa Linza sejenak. "Dia sepertinga mempunyai masalah. Seperti tertekan batinnya. Seharusnya ibu hamil tidak boleh ditekan seperti itu. Ada kemungkinan faktor tekanan membuat bayi yamg dikandungnya keguguran." Dokter itu berbalik badan menuju ke luar untuk kembali. Karena tugasnya telah selesai. Zahra menunduk, menatap roknya yang bermotifkan bunga. Dia saja yang hanya menyaksikan mampu meneteskan air mata. Apalagi jika ia menjadi Linza? Bagaimana jika kakaknya itu keguguran? Apa yang akan dilakukan kakaknya itu? Benaknya dihinggapi pertanyaan-pertanyaan was-was seperti itu. Setetes cairan bening jatuh dari pelupuknya. "Kak, semoga suatu saat aku bisa menjadi seorang wanita tangguh sepertimu." Perlahan tangan Linza sedikit demi sedikit bergerak. Seiring dengan pelupuk matanya yang kian membuka. Berat dirasa, tetapi dengan bantuan silauan cahaya, akhirnya matanya terbuka juga. Pandangannya masih kabur. Sepersekian detik kemudian, pandangan kabur itu berubah menjadi putih langit-langit ruangan yang ada di atasnya. "Kak Linza?" Suara lembut datang dari telinga kanannya. Ia mencari sumber suara. "Aku.. Sedang apa di sini?" kata Linza sembari memegang kepalanya yang pening. "Alhamdulillah, Kakak sudah sadar." Zahra tersenyum senang. "Kakak tadi pingsan," lanjutnya. Linza mengangguk remang, tak bisa kuat-kuat karena kepalanya nyut-nyutan. "Di mana yang lainnya?" Linza mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangannya. Tak menemukan seorang pun, kecuali dia dan Zahra. Di mana batang hidung suaminya? Batinnya bertanya-tanya. "Mereka masih menunggu Kak Aisyah," lirihnya. Linza mengangguk, tersenyum menatap Zahra yang sedikit tidak enak. "Mengapa wajahmu seperti itu?" Linza tersenyum lembut. Zahra menunduk, tak berani menatap mata Linza. "Tidak usah seperti itu denganku. Lihat. Aku baik-baik saja." Wanita itu tersenyum. Semburat wajah tenang hadir di sana. "Kakak, berjanjilah kepadaku." Linza menaikkan satu alisnya, menatap heran ke arah Zahra. "Jangan pendam masalahmu sendirian." Linza tersenyum, mendapati gadis yang tengah menatapnya sedang mengkhawatirkannya. Mungkin, jika Haris di situ pasti juga akan mengatakan hal yang sama. Bayangan Haris kembali hadir di benak Linza. Bagaimana keadaan Haris sekarang? Apakah baik-baik saja? Apakah urusannya sudah selesai? Ia memoles senyum tipis. Pasti. Bukan seorang Haris namanya yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebentar lagi, kamu akan melihat Ummi dan Abimu, Nak. Tunggulah sebentar lagi. Bersabarlah, katanya dalam hati, sambil sesekali mengelus perut buncitnya. Zahra menggenggam tangan Linza lembut. "Kumohon, Kak. Jangan kamu pendam sendirian masalah ini," ulangnya kembali. Linza tersenyum lembut entah keberapakalinya. Ia mengisyaratkan Zahra untuk mendekatinya. Zahra menurut. "Ingatlah, aku tak serapuh apa yang kamu lihat. Hatiku tak selemah apa yang kamu bayangkan. Insya Allah, aku kuat. Jangan khawatirkan aku," katanya tepat di telinga Zahra. Zahra tersenyum kecil. Tiba-tiba pintu diketuk, perlahan seseorang menyembul dari balik pintu. "Haris," lirih Linza sembari tersenyum. Senyumnya perlahan memudar ketika ia menyadari tatapan aneh dari Haris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD