Ya Allah, Mengapa Mencintainya Begitu Menyakitkan?

910 Words
Kedua manusia itu mencari sumber suara. Menatap Aisyah yang sedang membawakan secangkir kopi. Gadis itu tersenyum ke arah mereka berdua, lalu menuntun Haris untuk duduk. "Aku buatkan kopi," katanya sambil duduk di samping Haris. Ia memeluk tangan kekar Haris. Haris diam, tak bisa melawan ketika Ummi juga melihatnya. Kesekian kalinya, dadanya kembali sesak, hatinya kembali terjatuh ke dasar samudera. Samudera yang amat dalam, sebuah samudera duka nestapa. Batinnya terseok, mendapati seorang gadis sedang bermesraan dengan suaminya. Kembali, dadanya bergemuruh. Seperti udara tak mengizinkan dia untuk bahagia. Ia merintih, menangis di relung hati. "Kamu tidak papa?" Raut wajah Haris berubah cemas ketika melihat istrinya yang pucat pasi. Linza menggeleng, tersenyum kecut. "Ini, lutisnya sudah jadi," ummi bersuara sambil membawa sepiring lutis ke atas meja. Semua yang berada di sana memperhatikan gerakan Ummi. Zahra pun datang dengan beberapa gelas air dan cerek. "Ayo, Kak. Kakak 'kan tadi minta?" Zahra menatap Linza yang masih terpaku di tempat. Masih berdiri di tempat di mana ia dipeluk oleh Haris. "Ini nanti habis, lutisnya." Zahra mengambil beberapa potong lutis, lalu dimasukkannya ke dalam mulut. Linza mengangguk, remang. Kembali, matanya menangkap sesosok Haris yang disuapi Aisyah penuh mesra. Aisyah tersenyum lembut, pun dengan Ummi yang sepertinya juga menyukai saat-saat itu. Haris melirik Linza, matanya sendu. Menatap keadaan istrinya yang memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, keringat menjalar di dahinya, dan matanya menyiratkan kesedihan teramat dalam. Haris ingin menumpahkan air matanya ketika melihat itu. Hatinya teriris, ketika menatap mata Linza. Mata yang mengandung banyak penderitaan. "Pengantin baru, ya begitu." Ummi menggelengkan kepalanya. Deg. Hatinya kembali terhujam beribu pedang. Hatinya kembali jatuh ke dasar samudera. Hatinya bergetar hebat mendengarnya. "Ummi, bisa saja." Aisyah tertawa, diikuti Ummi. Mereka berdua bercanda bersama. Mata Haris masih menatap Linza yang matanya sudah berkaca. Menyaksikan mereka berdua tepat di depannya semakin membuatnya sesak. Air matanya berontak untuk keluar. Matanya terasa berat, seperti tak mampu lagi menahan bendungan air matanya yang semakin banyak. Zahra menatap Linza pilu. "Ummi, Linza mau ke kamar." Ia tersenyum getir, lalu kembali ke kamarnya. Mata Haris masih mengikuti gerak Linza menuju kamarnya. Pun dengan Zahra yang ikut merasakan sakit hati yang ditanggung kakak iparnya itu. Bukankah Linza adalah wanita yang tangguh? Wanita yang berkorban demi orang lain, tanpa peduli bagaimana luka di hatinya? Wanita yang mampu tersenyum simpul, di kala duka masih tersemat di d**a? Wanita yang berpura-pura bahagia di atas penderitaannya? Ia mampu menyembunyikan luka, di saat hatinya lara. Ia menunduk, kemudian menatap punggung Linza yang semakin jauh darinya. Kapan agar aku bisa sepertimu? Menjadi seorang gadis tangguh sepertimu? Yang menyimpan luka sendirian. Yang memendam keputusasaan berteman kesunyian? Yang memeluk kebencian kemudian kauberi kehangatan? Angannya terus terbayang jelas senyum yang barusan Linza sajikan. Kapan aku bisa sepertimu? Lirihnya dalam hati. *** Sepanjang perjalanan menuju kamar, Linza menyeka air matanya dengan tangan kanannya. Percuma saja, bendungan yang sedari tadi ia cegah untuk meledak, akhirnya meledak juga. Air mata yang mati-matian ia jaga akhirnya jatuh juga. Linangan air jatuh di pipi dan membasahi jilbab tosca-nya. Ia menatap diri di cermin. "Beginikah rasanya diduakan?" Ia kembali menyeka air matanya, mencoba tersenyum di depan cermin dengan masih sesenggukan. Menghela napas, lalu pergi mencari mukena untuk dijadikan ibadah salat. Ia akan mengadukan segala keluh-kesahnya kepada Allah, Sang Pencipta Alam semesta ini. Ya Allah.. Jika hal ini bisa menambah ketakwaanku kepada-Mu, maka aku rela, Ya Allah.. Rela menatap Haris bersentuhan dengan wanita selainku. Rela menatap limpahan perhatian yang terbagi untukku.. Berikanlah aku cobaan untuk menguji keimananku, Ya Allah.. Sejak dulu aku tahu, bahwa hati ini tak akan mampu, Ya Allah.. Hati ini tak akan mampu dibagi rasa cinta suci itu Ya Allah.. Hati ini rapuh, Ya Allah.. Rapuh bagai serpihan kaca.. Rapuh bagai secuil hati yang terluka.. Mengapa mencintainya begitu menyakitkan? Kuatkanlah hatiku, Ya Allah.. Kuatkan hatiku layaknya Kaumenciptakan gunung. Kuatkan hatiku layaknya Kaumenciptakan langit.. Kuatkan hatiku layaknya Kaumenciptakan bumi.. Betapa besar kuasa-Mu atasku.. Salahkah, Ya Allah.. Ketika aku mencintainya.. Egoiskah, Ya Allah.. Ketika inginku hanya bersamanya? Ya Allah.. Dekatkanlah hatiku kembali jika Engkau menghendaki, berilah sekat antara hati kita jika Engkau murkai. Murka dengan dosa yang selama ini kulakukan. Murka dengan apa yang selama ini menyenangkan hati. Hamba-Mu kerdil, Ya Allah.. Hamba kerdil yang berani menghadap-Mu. Hamba kerdil yang lancangnya meminta kepada-Mu. Bersimpuh di hadapan-Mu, sembari memohon kepada-Mu. Memohon agar diberikan kesabaran. Memohon agar diberikan benteng pertahanan. Aku tahu, Ya Allah.. Aku tak pantas meminta kepada-Mu. Aku tak pantas memohon kepada-Mu. Menangisku mengingat dosaku, Ya Allah.. Ya Allah, Maafkan aku.. Maafkan aku yang mencintai ciptaan-Mu. Mencintai hingga lupa bagaimana cara bersyukur kepada-Mu. Mencintai hingga lupa rasa cintaku pada-Mu. Ya Allah.. Sang Maha Pencipta Alam ini.. Sang Maha Pembolak-balikkan hati. Teguhkanlah hatiku, lapangkanlah dadaku, serta longgarkanlah hatiku untuk menerima ini Ya Allah... Menerima ujian yang Kauberikan kepadaku.. Menerima dengan lapang apa yang menjadi ketetapan-Mu. Robbana aatiina widdunya hasanah, wafil'a khiroti hasanah, waqiinaa adzaa bannaarr... Air matanya kembali mengalir. Deras seperti hujan yang menetes. Rintik-rintik, tetapi banyak. Kenyataan bahwa diduakan itu sangatlah pelik. Dirinya harus pandai menjaga hati. Agar tak ada dendam yang bersarang di sana. Agar tak ada rasa cemburu yang berakar di sana. Perlahan, pintu diketuk. Suara Zahra ada dari balik pintu. "Assalamu'alaikum, Kak Linza. Zahra masuk, ya?" Linza mengiyakan. Dua detik berikutnya, Zahra menyembul dari balik pintu dengan memasang wajah cemas. "Kak Aisyah..." "Aisyah, kenapa?" Linza menatap Zahra yang seperti ingin mengucapkan, tetapi tak bisa mengucapkan. Menggantung. Hatinya didera perasaan takut dan was-was. "Kak Aisyah.."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD