Kobaran Api

1179 Words
Pagi datang. Menyisakan embun yang menetes dari dedaunan. Pualam berkilauan layaknya mutiara. Angin pagi berembus, jilbab Linza terhempas. Kelopaknya mulai terbuka saat matahari belum sepenuhnya tampak. Berkali-kali mengerjap, lalu menyipitkan mata tatkala didapatinya mega dari ufuk timur. "Astaghfirullah!" Linza tercekat, menatap waktu subuh yang sebentar lagi akan berakhir. "Kok Haris tidak membangunkanku, sih?" Linza mendengkus, lalu bergegas pergi menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudu. Setelah menyempurnakan rukun wudu dan dilengkapi doa, ia terduduk di sisi ranjang. Seperti menunggu seseorang. Mendengkus kesal kesekian kalinya, ketika telah menatap jam dinding yang berputar lebih dari tiga menit sejak dia duduk. Sesegera mungkin ia berjalan dengan mengenakan mukena menuju tempat yang biasanya dijadikan Haris sebagai kamar kedua, ruang kerjanya. Ia mengoceh tak jelas, menyumpah-serapahi Haris sembari berjalan cepat ke ruang kerja Haris. Biasanya, saking lelahnya bekerja, ia sampai tertidur di situ. "Aku sudah mengatakan kepadanya, jika jangan bekerja lembur. Begini, kan jadinya. Telat subuhnya," katanya bermonolog. Saat sudah sampai di pintu ruang kerja Haris, seperti biasanya ia membuka knop tanpa salam. Ia mengendap, karena ingin menepuk lembut pipi suaminya itu agar bangun. Ia terkekeh pelan, membayangkan wajah lucu suaminya saat bangun dari tidur. Dengan hati-hati, ia membuka knop pintu. Hatinya sesak, ketika ia melihat suaminya, Haris Ahmad Al-Faruq, sedang sujud, melaksanakan salat subuh dengan seorang wanita, wanita selainnya. Batinnya menderu, pedih menimpa, berenang di samudera duka nestapa. Dia menunggu siapa? Sejak tadi menyalahkan siapa? Ia menunduk, bayangannya jelas terputar kembali, kenangan bersama Haris. Setiap pagi dibangunkan Haris, setiap pagi salat berjamaah dengan Haris. Sekarang, masa lalu itu hanya angan belaka. Hanya sebagai bekasan masa lalu yang masih tersimpan indah di memori. Dengan langkah gontai ia kembali ke kamarnya. Ia menatap wajahnya yang terpantul di cermin. Mengapa hadirnya cinta hanya untuk melukai hati? Ketika hati ini baru saja merasakan kehangatan cinta, lalu mengapa kehangatan itu tiba-tiba diambil alih oleh kedinginan? Dingin yang membekukan? Ya Allah.. Mengapa Kauberikan hati, ketika fungsinya hanya disakiti? Mengapa Kauciptakan cinta, jika hadirnya saja menyiksa? Mengapa Kausatukan jiwa, jika belum tentu bahagia? Air matanya tak dapat terbendung lagi. Dengan leluasanya menetes membasahi pipinya. Hatinya terguncang, benarkah hatinya belum bisa menerima? Ya Allah.. Tolong bukakanlah hatiku.. Relakan hatiku.. Menjadi ahli jannah-Mu adalah cita-citaku.. Lengkapilah hati rapuh ini dengan benteng yang kokoh. Kokoh, lagi mengokohkan. Agar tidak ada siapa pun hati yang bisa menyakiti. Agar tiada satu pun jiwa yang bisa menyayat hati. Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.. Hati ini layaknya serpihan kaca. Jangan biarkan hati ini kembali dalam duka nestapa.. Rasa yang selama ini terpatri indah dalam hati biarlah hanyut ke hilir berteman dengan sunyi. Ya Allah, Sang Pencipta alam semesta ini.. Buatlah sekat dalam jiwa antara hati dan cinta.. Agar bagaimana nanti aku bisa menyelesaikan pedihnya asa. Perihal nanti hasilnya, biarlah aku yang merasa. Ya Allah.. Layaknya embun yang menetes dari daun. Sebening apapun, dan seindah apapun embun, pasti akan terjatuh jua. Begitulah cintaku padanya.. Seberapa banyak pun, seberapa besar pun, nyatanya tak bisa dipungkiri akan terjatuh juga rasa. Semilir angin kembali datang. Menyisakan kebisuan pagi yang hendak sirna. Tulang-belulangnya ngilu, terhempas angin yang berontak untuk pergi. Suara jangkrik melengking, semakin berkurang seiring dengan air mata yang mengucur deras di pelupuk matanya. Ia menyeka air matanya. Mencoba tersenyum melalui pantulan kaca. Insya Allah, aku kuat, hiburnya dalam diri. *** Kali ini matahari sempurna menampakkan dirinya. Suara lengkingan jangkrik tergantikan cericit burung yang nyaring. Linza kembali menatap wajahnya di cermin, membenahkan jilbab tosca-nya. Lalu perlahan berjalan, menuruni anak tangga, untuk melakukan rutinitasnya, membantu Ummi memasak. Langkahnya terhenti, tepat lima meter dari dapur, mendapati Ummi sedang dibantu oleh Zahra dan Aisyah. Lara kembali menjalar di relung hatinya. "Eh, Kak Linza," kata Zahra sambil tersenyum simpul ke arah Linza. Linza tersenyum, lalu membalas sapaan dari adik gadisnya itu. Matanya menangkap Aisyah yang tersenyum kepadanya. Linza balas tersenyum, tersenyum getir, lalu menghampiri Zahra yang sedang mengupas bengkuang. "Bengkuangnya mau dibuat apa, Ummi?" tanya Linza saat mengambil beberapa buah berkulit cokelat itu. Mencoba melupakan percakapan yang tercipta beberapa waktu yang lalu bersama Ummi. Ummi Haris tersenyum lembut, menatap Linza sejenak. Senyum yang mampu menentramkan hati. "Lutis, kamu mau?" Matanya menatap perut Linza yang semakin membuncit. Linza menelan air liurnya, membayangkan makanan itu, lalu mengangguk senang. "Kamu duduk saja, tidak usah membantu." Linza menggeleng, lalu memaksakan untuk membantu, sayangnya, sudah dituntun Zahra untuk duduk di sofa. "Tidak apa, Ummi sudah dibantu sama menantu Ummi yang cantik," katanya sambil tersenyum kepada Aisyah. Deg. Hatinya kembali sesak, batinnya terjebak dalam kepiluan. Terseok dalam kobaran api kecemburuan. Jiwanya merintih, hujaman demi hujaman menggores relung hatinya. Kesekian kalinya, hatinya pedih, menatap balasan senyum yang dilemparkan Aisyah kepada Ummi. Ya Allah, apakah kehadiranku tidak dianggap di sini? Apakah manusia kerdilmu ini tak Kauberi kuasa untuk dilihat ummi? Jika memang Kautakdirkan aku menikahi Haris, lalu mengapa cobaan ini begitu berat, Ya Allah? Ketakutanku, tak sanggup lagi menerima cobaan yang Engkau beri. Sebuah cairan bening terbendung di matanya. Matanya terasa berat, seiring dengan berontaknya cairan untuk keluar. Ya Allah.. Jika memang rasa ini membuatku semakin dekat kepada-Mu, Maka aku rela, Ya Allah.. Aku rela merasakan sakit ini.. Sakit yang menggores kerapuhan diri.. Hamba-Mu rapuh, Ya Allah.. Kuatkan hamba-Mu ini dengan kuasa-Mu.. Agar hamba sanggup melewati ujian pelik ini Ya Allah.. Setetes cairan bening jatuh dari pelupuknya. Mereka berontak keluar. Sia-sia sudah rasanya ia membendungnya. Tepukan kecil hadir di pundak Linza. Linza menoleh. "Kak, sabar, ya." Zahra mengambil tangan Linza, tangan mungil Linza dieratkan dengannya. "Ingatlah, Allah tidak akan memberi cobaan kepada hamba-Nya jauh melampaui batas kesanggupannya. Hidup itu ada pahit manisnya. Kedua-duanya memiliki peran dan sama-sama melengkapi. Jika salah satunya hilang, pasti akan terasa hambar. Zahra tahu, hati Kakak pedih. Percayalah, di balik cobaan yang Allah berikan, akan ada hikmah yang terkandungnya." Zahra mempererat tangannya dengan Linza. Linza tersenyum, menyeka air matanya. Menatap gadis yang menguatkannya. "Berjanjilah kepadaku, jika Kakak tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu. Kasian adik bayinya di situ." Zahra menunjuk perut buncit Linza dengan tersenyum, lalu dibalas senyum tipis Linza. Dua manusia itu mendengar derap kaki seseorang dari arah ruang kerja Haris. Dua menit terselang, muncullah Haris menghempaskan badannya di depan Linza dan Zahra. Ia menatap wajah Linza sendu, menatap mata indah Linza yang dibasahi oleh air mata. Hatinya sesak, menatap wanitanya yang kembali mengeluarkan air mata. Di mana janjimu yang tidak akan membiarkan istrimu menangis? Di mana tanggung jawabmu? Pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatinya kembali menciut. "Ris ..." Haris menatap Linza. Linza tersenyum. "Mau kubuatkan teh?" Ia menaikkan satu alisnya, lalu beringsut dari duduknya, diikuti Zahra. Haris menggeleng, mendekati istrinya itu, lalu mengecup lembut dahinya. Sesekali membenahkan jilbab yang dipakai wanita di depannya itu. "Maafkan aku," lirihnya saat berpelukan sembari mengusap lembut jilbabnya. Ia kembali menatap Linza. Linza tersenyum, jiwanya kokoh. Kokoh menyembunyikan kesedihan yang ada di hatinya, lalu merangkup pipi istrinya itu. Linza menggeleng, memainkan hidung Linza mancung penuh mesra. "Aku akan membuatkanmu teh," kata Linza tepat di telinga Haris penuh mesra. Haris tersenyum, menatap wanitanya yang hendak bangkit dari pelukannya untuk membuatkannya teh. Gerakannya terhenti ketika mendengar suara lengkingan dari arah dapur menuju mereka. "Mas Haris ..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD