"Za," lirih Haris tepat di telinga Linza. Linza diam, tak ingin berkata sepatah kata pun.
"Aku, aku-" Linza mendongak ke arah Haris, lalu tersenyum, "aku tidak apa-apa." Ia tersenyum manis kepada laki-laki yang sedang menatapnya sendu itu.
Wanita bertubuh buncit bagian perutnya itu tersenyum sekali lagi, menyeka air matanya.
"Aku tahu, ini wasiat. Kamu harus melakukannya." Jemari lentiknya mengusap rambut hitam legam milik suaminya itu.
Haris menunduk, mengembuskan napasnya pelan.
"Aku takut jika nanti tidak bisa adil." Linza tersenyum kembali, "selama aku hidup denganmu, aku tidak pernah merasakan ketidakadilanmu itu."
Kembali, jemari lentiknya menekan hidung Haris yang mancung. "Lakukanlah.. Aku menyetujuinya."
Haris menatap manik mata istrinya itu, di dalam hatinya terbesit rasa pilu, dan juga selalu ingin berontak dari keadaan ini.
Hatinya seperti diiris, tatkala menatap wajah sendu istrinya yang berusaha untuk tersenyum.
Berhasilkah ia membuat wanitanya bahagia?
Nyatanya, hanya sedih dan pilu lah yang diberikannya pada istrinya itu.
Hanya sesungging senyum palsu yang disajikan kepadanya. Hatinya bertolak belakang. Hatinya sendu, pilu.
Bimbang pun masih menggerogoti hatinya. Rasa benci masih menjalar di hatinya ketika ia harus menikahi gadis yang tempo hari mempermalukannya.
***
Suara hiruk-pikuk terdengar saat beberapa pasang mata menatapnya sedang duduk di atas pelaminan dan berhadapan dengan seorang penghulu.
Linza tersenyum kecut, menatap lelaki itu. Waktu seolah memutar kejadian lalu. Yang berbeda adalah, nanti gadis yang di sampingnya bukanlah dirinya. Ia menatap tanpa berkedip ke arah Haris yang mengenakan pakaian serba putih.
"Saya terima nikahnya, Aisyah Salsabila Binti Almarhum Atmojo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang senilai dua puluh juta rupiah dibayar tunai."
Hadirin yang berada di sana tersenyum senang, mereka bersuka cita, tersenyum bahagia. Hanya beberapa di antaranya yang bertolak belakang.
Mata Linza berkaca, mendengar suara bahagia yang diucapkan seseorang di sekelilingnya. Hatinya kembali lagi teriris, air matanya berontak untuk keluar.
Mata yang berkaca itu menatap seorang wanita cantik yang menuruni anak tangga dengan gaun pengantin. Pun dengan senyum hangat yang disuguhkan kepada hadirin.
Ia mati-matian mencoba menahan air matanya agar tidak turun. Tetapi sia-sia.
Apalah dia? Bukankah juga seorang manusia yang diberikan perasaan?
Manusia yang bisa merasakan sakit hati?
Napasnya enggan untuk teratur, perlahan setetes air matanya terjatuh. Ia segera berlari keluar menghindari keramaian. Untung saja ia tidak terlalu dekat dengan kumpulan manusia lainnya.
Napasnya terengah, dengan air mata yang mengalir deras, ia berlari menuju lebih jauh dari rumah.
Ia menangis, lantaran rasa sakitnya itu tak mampu hanya dituangkan melalui air mata. Hatinya menjerit, merasakan sakit yang teramat-sangat. Seperti disayat oleh sebilah pisau tajam.
Ia perlahan menyeka air matanya, "Ya Allah, Insya Allah, Saya bahagia, bila nanti melihat Haris bahagia, Ya Allah," lirihnya.
Suara jangkrik nyaring pun seakan ikut berbagi duka dengannya. Mereka menatap sedih seorang wanita yang sedang meratapi dirinya sendiri.
Ya Allah..
Bahagiakanlah dia Ya Allah..
Bahagia saya adalah melihatnya bahagia.
Walaupun bahagianya tidak dengan saya.
Ia tertunduk, masih dengan air mata yang berjatuhan di pipinya. Biarlah hatinya sakit, semoga rasa sakit ini membawanya pada jannah-Nya kelak.
***
"Mengapa aku harus tidur denganmu?" Haris mengambil bantal yang dipegang Aisyah dan menatap tajam ke arah gadis itu.
"Kita sudah menikah," gadis itu berujar pelan.
"Enak sekali, ya kamu. Kembali lagi ke sini, setelah apa yang kamu lakukan kepadaku. Tidak punya rasa malu rupanya." Haris tersenyum menyindir kepada Aisyah.
"Itu masa lalu. Bukan masa sekarang. Itu pun yang meminta ayahku." Gadis itu menatap Haris yang masih menatapnya tajam.
"Ah! Jangan-jangan, kamu yang minta Ayahmu agar membuat wasiat itu. Kamu kira hidup ini hanya main-main?"Haris menatap galak ke arah Aisyah. Di hatinya telah menjalar rasa bencinya yang sempat terpendam beberapa tahun lalu.
"Lalu, kamu sekarang akan pergi ke kamar istri pertamamu itu?" Nadanya sengaja dinaikkan saat melihat Haris berjalan menuju pintu, walaupun cara bicaranya masih sopan.
Haris berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya. "Aku akan mengatakan kepada Ummi tentang perlakuanmu padaku," katanya saat melihat Haris membuka knop pintu.
Haris beristighfar. Rasa bencinya kepada gadis ini meluap-luap.
"Mengapa kamu melakukan ini?" Ia membalikkan badannya, menatap Aisyah. Aisyah mengerutkan dahinya.
"Mengapa kamu dulu mempermalukan keluargaku?" Haris menatap Aisyah yang menunduk, tak berani menatapnya.
"Kamu mengatakan jika kamu menyukaiku. Setiap hari kamu ke rumahku, dan kamu berhasil mengambil hati orangtuaku. Bahkan kamu melamarku. Tetapi setelah itu, mengapa kamu melakukan itu?"
Gadis itu diam tanpa suara. Masih bertahan dalam posisi menunduknya.
"Mengapa!" bentak Haris. Seperti bukan dirinya di saat-saat seperti ini. Ia menatap benci ke gadis yang masih menunduk itu.
"Mengapa kamu lari di saat hari aku mengijabmu?" suara itu menggelegar di antara gelapnya malam. Pun dengan tembok-tembok kokoh tak mampu lali mengedapkan suaranya.
"Kamu tahu perasaanku? Perasaan orangtuaku? Terlebih lagi perasaan orangtuamu?"
Sinar rembulan malam tak sanggup lagi menghangatkan pembicaraan mereka. Angin yang sedari tadi meronta untuk pergi kini tak lagi berada di singgasananya. Berharap menghampiri suara jangkrik nan nyaring dengan sekuat tenaga. Pun mawar yang esok akan mekar.
"Orangtuamu malu bukan kepalang, mempunyai anak sepertimu, yang mengecewakan orangtua. Pun dengan aku dan keluargaku. Terlebih Abiku, yang mengiyakan khitbah-mu. Beliau merasa dipermalukan dan direndahkan oleh keluargamu, padahal keluargamu tak tahu apa pun tentang kaburmu. Ummiku, beliau pingsan berkali-kali mendengar berita tentang kaburmu. Apa yang sebenarnya kamu mau?"
Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya takut, menatap Haris yang masih menatap benci dan acuh padanya.
"Aku belum siap menikah," lirihnya Hampir Haris tak mendegar lirihan gadis itu jika ia tidak menatap gerakan bibir mungil yang dihasilkannya.
"Kamu mengatakan belum siap menikah? Bukankah mencintai itu agar tidak menimbulkan fitnah harus dinikahkan? Itu berarti, nikah juga memiliki andil terhadap rasa cintamu itu. Jika begitu demikian, berarti rasa cintamu padaku hanyalah omong kosong belaka. Kamu kira, ini cinta monyet? Gadis seusiamu masih cinta monyet? Bermain-main dengan acara pernikahan, tanpa memikirkan apa yang ditimbulkannya? Bukankah kamu juga sudah dewasa?"
"Nikah tidak semudah itu, Ris. Harus ada kesiapan mental, pun dengan materi." Gadis itu menggenggam erat seprai ranjangnya. Menatap Haris yang masih tersenyum mengejek kepadanya.
"Jika menikah menurutmu memang tidak mudah, mengapa kamu datang ke rumahku dan membawa keluargamu? Kamu pikir cinta patut dimainkan? Cinta itu terikat oleh hati. Sedikit pun kamu mainkan, hati akan andil di sana. Mereka saling berikatan. Kamu tahu, itu."
Gadis itu kembali menunduk, mendengarkan setiap ocehan lelaki yang sekarang menjadi suaminya itu.
"Mengapa mencintaiku jika kamu tidak berani menikah denganku? Sudah jelas sekali jika cintamu itu hanya main-main. Empat tahun lamanya aku mencoba melupakan kenangan pahit itu. Lalu, mengapa kamu hadir dan merusaknya lagi? Untuk apa kamu datang ke sini dan memintaku untuk menikahimu? Bukankah ini benar-benar lucu? Jika saja Abiku bukan sahabat Ayahmu, hadirmu tak akan diharapkan di sini."
Gadis itu menatap Haris yang amarahnya masih di ubun-ubun. Matanya berkaca. Mendengar kata-kata Haris yang kian membuat hatinya teriris.
"Maafkan aku..." Bibirnya bergetar, air matanya terjatuh, ia menangis sesenggukan.
"Aku benar-benar mencintaimu," lirihnya lagi. Tak ada jawaban dari Haris. Haris hanya diam tanpa suara.
"Maafkan aku..." Ia menangis tersedu, berkali-kali menyeka air matanya. Menghampiri Haris, lalu menggoyang-goyangkan badan Haris, sembari terus meminta maaf.
Sedangkan di sini lain, Linza berulang kali menatap ranjang sisi kanannya. Di mana tempat yang biasanya tidur. Hatinya menciut, air matanya kembali menetes.
"Sehari saja aku sudah begini, bagaimana nanti hari-hari berikutnya? Aku tidak boleh lemah. Tidak baik seperti ini terus," katanya menyemangati diri sendiri, kemudian menyeka air mata menggunakan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya mengelus perutnya yang semakin membuncit.
Dinginnya angin malam yang melintas tak dihiraukannya. Ia menggigil kedinginan di atas ranjang. Perlahan merindukan hangatnya pelukan sang suami.
"Aku tidak boleh cengeng, aku harus bisa mandiri. Aku tidak boleh terlalu bergantung padanya. Orang-orang manja adalah mereka yang lemah." Linza menatap bulan yang masih di atas sana, menggantung di awan. Bulan yang memesona. Pun dengan hiasan kerlipan bintang-bintang yang menaburinya.
"Innallaha ma'ana," lirihnya sebelum matanya benar-benar terpejam untuk tidur.