Keputusan yang Diambil

1059 Words
Semburat matahari bersinar menembus celah-celah gorden. Seorang wanita mengedipkan satu matanya, mengukir senyum indah tatkala sebuah ruangan berukuran tujuh kali delapan meter telah terhiasi oleh pernak-pernik bayi. Ia mengelus perutnya yang semakin membuncit, lalu kembali tersenyum. Ia membayangkan jemari mungil anaknya yang bermain-main dengan udara. Pun dengan senyum manisnya, rengekannya, dan masih banyak lagi hal yang menggemaskan darinya. Samar-samar ia mendengar pintu diketuk. Linza mengukir senyum, berharap jika di balik pintu itu adalah suaminya. Biasanya di jam itu Haris pulang dari jogging. Ia membukakan pintu. Sesosok wanita paruh baya muncul dari belakang pintu. Linza masih tersenyum, "ada apa Ummi? Kok sampai repot-repot ke sini?" "Ada yang ingin Ummi bicarakan kepadamu." Ia mengambil posisi duduk di kursi, yang lalu diikuti oleh Linza. Linza menatap gurat mata Umminya dengan masih tersenyum. Wanita itu tersenyum kecut, lalu mengembuskan napasnya. "Ada apa Ummi? Apa yang ingin Ummi bicarakan kepadaku?" Linza mengernyitkan dahinya, tatkala menunggu selama dua menit tetapi masih belum ada jawaban. "Relakah kamu, jika Haris menikah lagi?" katanya dengan bergetar. Deg. "Ummi." Fiza tersenyum lembut. Mencoba berpikiran positif. "Ummi mengapa bertanya seperti itu?" Linza tersenyum paksa. "Lusa Haris akan menikah dengan Aisyah. Apakah kamu menyetujuinya?" Linza mengatur matanya melotot sempurna, lalu menatap nanar ke arah Umminya. Jantungnya berdetak cepat. Sebilah pedang menggoreskan hatinya. Air matanya berontak untuk keluar. Ia kalut, perasaannya campur aduk, antara tidak mengerti dan sedih. "Ummi. Ummi berbohong, kan?" Linza tersenyum kecut, sembari menyeka air matanya yang keluar. Tatapan sayu yang diberikan kepadanya. Wanita paruh baya itu mendunduk, lalu kembali menatap Linza. "Ummi tidak berbohong, Nduk." Deg. Kembali, hatinya seperti teriris. Relung hatinya seperti terseok, pun dengan air mata yang semakin mengucur deras dari pelupuk. "Relakan Haris menikah lagi, Nduk." "Menikah lagi? Mengapa? Mengapa harus menikah lagi? Apa aku belum cukup untuknya? Apa kurangku?" Linza terisak di depan mertuanya itu. "Bukan kamu, Nduk. Tapi ini wasiat dari Almarhum Ayah Aisyah. Ummi mengatakan ini karena yakin, kamu pasti belum diberi tahu oleh Haris." Linza menyeka air matanya dengan tangannya, "semudah itu kah membagi cinta, Ummi?" ia menangis terisak. "Nduk, ini wasiat, Nduk. Semoga kamu ngerti, ya Nduk. Lama-lama kamu akan mengerti, Nduk. Apalagi, katanya jika dipoligami itu akan dijanjikan surga oleh Allah. Sudah segitu dulu, ya Nduk. Assalamu'alaikum," Ummi Haris keluar. Linza kaku, hatinya kembali dihujam. Pedihnya perasaan ini. Baru saja hatinya bahagia karena akan mempunyai anak, kini kebahagiaan itu perlahan memudar, mendapati suaminya yang akan menikah lagi. Apakah ia akan mampu melihat suaminya itu bersanding dengan wanita selainnya? Apakah ia mampu melihat suaminya duduk di pelaminan bersama wanita selainnya? Sanggupkah dia, jikalau sewaktu-waktu wanita selainnya lah, yang akan menjadi pelipur laranya? Semudah itukah, membagi cinta? Ia menangis tersedu, disaksikan oleh perlengkapan bayi yang baru saja dibelinya. Berulang kali ia menyeka air mata yang membanjiri pipinya. Ya Allah.. Menapa Engkau berikan cobaan ini? Mengapa, Ya Allah? Tak pantaskah aku bersanding dengannya, Ya Allah? Mommy.. Apa yang akan beliau lakukan, saat melihatku seperti ini? Ia kembali menangis sesenggukan, jilbabnya sedikit demi sedikit basah oleh cairan berwarna bening itu. Buliran air matanya pun dengan bebas jatuh hingga lantai. Hatinya perih, jiwanya pedih. "Kamu kenapa?" tanya Haris di ambang pintu saat melihat Linza menangis. Ia lalu menghampiri Linza, mengusap lembut air mata yang sedari tadi mengalir di pipi mungil Linza. Ia mengkerutkan dahinya, memasang wajah khawatir kepada Linza. Linza menunduk, tak berani menatap mata Haris yang sedang menatapnya. Ia takut, kalau-kalau itu akan menambah rasa sakit di hatinya. "Bilang kepadaku, siapa yang menyakitimu?" Haris merangkup pipi mungil Linza. Nadanya khawatir. Ia mendongakkan kepala Linza hingga berhadapan dengannya. Burung berkicau bersahutan, sepoi angin menerpa tubuh mereka berdua. Embusannya menusuk tulang belulang mereka. Karena tidak ada jawaban dari Linza, otak Haris kembali membayangkan yang tidak-tidak. Batinnya berkecamuk rasa penyesalan dalam-dalam. Mengapa tadi ia harus lari pagi? Jika tidak, pasti ia akan tahu kejadian apa ini. Ia menatap wajah Linza yang kembali menunduk. "Linza, jawablah pertanyaanku. Kamu kenapa? Siapa yang menyakitimu?" katanya sambil menyeka air mata istrinya itu. Linza masih diam seribu bahasa, tak bisa berkata apa-apa, lidahnya terasa kelu. Haris kemudian mengelus jilbab Linza, dan memeluknya penuh sayang, "aku tidak akan tenang jika kamu kenapa-napa. Karena aku ini imammu. Tugasku adalah menjagamu, melindungimu, dan membuatmu merasa nyaman." Suara Linza serak akibat banyak menangis. Ia memandang sejenak laki-laki itu. Memandang mata teduhnya, memandang wajah indahnya, memandang semua yang mungkin tidak akan dia dapatkan lagi setelah ini. Haris tersenyum, menatap manik mata istrinya itu. Entah ke berapa kalinya, ia menyeka air mata istrinya itu. "Ingatlah aku adalah imammu. Imam dunia akhiratmu. Pendampingmu, hidup hingga di jannah-Nya kelak. Aku tidak akan membiarkan sedikit pun air mata membasahi pipi indahmu ini lagi. Jika ada yang bisa kulakukan untuk menghentikanmu menangis, pasti akan kulakukan." Wajah Linza lesu, senyumnya memucat, pandangan matanya layu, mendengar ucapan orang di depannya yang sebentar lagi akan meminang gadis lain. "Tetapi, jika hanya dengan air matalah yang akan membuat hatimu sedikit lega, maka lakukanlah." Haris merentangkah setengah tangannya, lalu menatap Linza yang melihat tangannya. Ia tersenyum paksa, lalu menjatuhkan diri di d**a bidang Haris, menumpah-ruahkan keluh-kesahnya lewat buliran-buliran air mata yang membasahi pipinya ke dalam pelukan Haris. Haris, andaikan kamu tahu, betapa tak berdayanya aku sekarang ini, betapa rapuhnya aku ini. Haris mengelus lembut jilbab Linza, sekali-dua kali mengecupnya. Menikmati aroma wewangian khas Linza. Wangi yang selalu membuatnya candu. "Aku harap, suatu saat kamu bisa berbagi kesedihanmu kepadaku. Jangan disimpan sendiri. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kita itu saling melengkapi." Hati Linza terenyuh, kerapuhan hatinya tak sanggup untuk mengutarakan alasan-alasannya menangis. Hanya tetesan air mata inilah, perantaranya untuk menjelaskan betapa laranya hatinya saat ini. Bayangnya masih memutar beberapa ingatannya tentang Haris. Mata indahnya yang mampu menyaingi cakrawala, suara murrotal-nya yang mampu menghipnotisnya, senyum hangatnya yang mampu mengalahkan hangatnya mentari. Dan, saat di mana Haris membacakan surah Ar-Rahmaan sebagai salah satu maharnya. Kemudian, bayangan itu kembali terngiang ucapan Ummi beberapa saat lalu. Ya Rabb. Jika ini yang terbaik untukku, maka aku akan menerimanya Ya Allah. Saya bahagia, saya bahagia ketika melihat Haris nanti bahagia, Ya Allah. "Aku mengizinkanmu," dua kata yang sukses meluncur dari mulut Linza. Haris diam, tak sanggup berkata apa-apa. "Aku mengizinkanmu menikahi Aisyah," katanya memperjelas kalimat sebelumnya. Ia menutup matanya, masih di pelukan Haris. Mungkin, pelukan ini akan dirindukannya. Pelukan hangat nan tenang ini, akan selalu ada di dalam memorinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD