Hadirnya Masa Lalu

1153 Words
Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia lebih dekat dari segala yang dekat dengan kita. (Syaikh Ali Mustafa Thantawi dalam hadits An Nafs : 284) "Ma-maafkan aku-" Gadis itu memotong kalimatnya saat melihat wajah Haris tak suka. Ia menunduk. "Bukankah sudah kukatakan, pergilah dari hidupku?" Haris menatap jilbab gadis itu. Hatinya kembali terbayang masa lalu yang ditimbulkan gadis itu hingga berbekas sampai hatinya. "Haris, Ris .... " Haris menatap wajah teduh Umminya. Ia mengatur napasnya, mencoba memadamkan bara api yang berkobar di hati. Ia lalu menunduk, tak berani menatap kedua orangtuanya. "Siapa, le, yang ngajari kamu seperti ini?" Umi Haris beringsut dari duduknya, menghampiri Haris, lalu mengelus punggung Haris. "Dia hanya silaturahim sekaligus bawa kabar duka, Ris." Umi berujar lirih. Senyap. Tiada suara apapun yang mengisi ruangan itu. Tak ada gelombang yang membawa getaran menuju gendang telinga mereka. Abi Haris menunduk, pun Uminya yang sekarang kembali untuk membelai pundak suaminya itu. "Berita duka apa?" "Ayahku telah tiada," lirih gadis itu. Haris menatap gadis itu sejenak, lalu beralih kepada kedua orangtuanya, memastikan apakah ucapan gadis itu bisa dipercayai atau tidak. Dia tidak akan melakukan kebodohan keduakalinya dengan memercayai gadis itu. "Benar, Ris. Bapak Mojo, Ayah Aisyah meninggal." Abi Haris menatap Haris sejenak lalu menautkan kedua tangannya di atas kakinya. Haris terguncang, menatap nanar kedua orangtuanya. Sepertinya baru kemarin ia bertemu dengan beliau. Baru kemarin ia bercakap dengan beliau. Hatinya terenyuh, batinnya berontak untuk percaya. "Maaf." Satu kalimat yang meluncur dari mulut Haris. Aisyah tersenyum, "maafkan aku juga." Aisyah masih menunduk. Linza menatap keduanya bergantian. Siapa yang meminta maaf siapa? Benaknya berkecamuk beberapa pertanyaan yang tak sengaja melintas. "Kapan?" "Seminggu yang lalu, maafkan aku tidak memberitahu kalian." Aisyah kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya di atas jilbabnya. Haris menatap tak percaya. Mengapa baru memberi tahu? Ia mengembuskan napasnya pelan, berusaha menguasai dirinya agar tidak membiarkan hatinya kembali sakit. Abi Haris mengembuskan napasnya berat, sejurus kemudian membawa sepucuk surat berwarna putih. "Ris ... " lirihnya. Haris menengok ke arah Abinya. Ia menaikkan satu alisnya, sepertinya Abinya sedang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi lidahnya seperti kelu. "Ada apa Abi?" Abi Haris menatap Linza yang sedang terheran-heran, lalu beralih menatapnya lagi. Haris yang tahu tingkah laku aneh Abinya, mengulang kembali pertanyaannya, "ada apa, Abi?" Kali ini dengan lebih keras dari sebelumnya. "Abi ingin bicara padamu. Duduklah." Ummi Haris menuntun Haris untuk duduk. Haris mengikuti sambil masih memasang wajah bingung. Abi Haris menghela napas, entah ke berapa kali. Yang jelas, jika dihitung akan melebihi lima kali. Haris semakin dibuat tidak mengerti dengan keadaan ini. Ummi Haris juga menuntun Linza untuk duduk. Dia membawakan beberapa plastik yang dibawa Linza. Ruangan itu senyap, semua mata tertuju kepada Abi Haris, Mata tajam bak elang milik Haris pun turut menatap Abi Haris yang berkali-kali menghela napas. "Sebenarnya, ada apa ini Abi?" Ia menautkan kedua alisnya, menatap Abinya yang juga menatapnya. Abi Haris menatap sekejap bola mata Haris, setelah beberapa kali helaan napas, akhirnya beliau bersuara, "aku akan bicara empat mata denganmu." Abi berjalan ke luar. Haris mengekori. Setapak dua tapak telah mereka lewati, tampak sekali wajah Abi Haris ingin mengutarakan sesuatu tetapi tidak bisa, lidahnya seperti kelu, perkataannya seperti berhenti dan terpenjara di kerongkongan. Menyadari dua puluh meter lebih telah mereka tempuh, Haris segera menyejajarkan langkahnya dengab Abinya yang sedang menatap pepohonan dan dedaunan yang hijau. "Kita sudah berjalan jauh Abi. Apa yang ingin Abi katakan kepadaku?" bola mata Haris menatap Abinya yang belum saja mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah itu. "Kamu percaya, ketetapan Allah adalah yang terbaik?" Abi Haris masih melanjutkan langkahnya. Haris mengikuti. "Tentu Abi. Segala ketetapan-Nya adalah yang terbaik untuk semua umat-Nya." "Jika suatu saat, kamu kembali dipertemukan dengan seseorang yang pernah membuat hatimu sakit, apakah juga kamu akan menerimanya?" Haris menghentikan langkahnya. Menatap langkah-langkah kecil yang ditimbulkan Abinya. Burung-burung Dara yang tak sengaja mendarat di situ kembali mengepakkan sayapnya menuju cakrawala. "Apa yang Abi maksud? Sebenarnya, kita membahas apa?" Langkah Abi Haris terhenti. Ia membalikkan badannya menatap anaknya yang keheranan menatapnya. "Nikahilah Aisyah." Hatinya bergetar hebat. Badannya menegang, dadanya kembali berdesir, ingatannya memutar kejadian-kejadian masa lalu, seolah kesiur angin membawa ingatan itu. Pun dengan langit, yang seolah melihat lara hatinya. "Mengapa aku harus menikahinya? Apakah kejadian itu tidak cukup untuk membuat Abi jera menjodohkanku? Bahkan, memaksaku untuk menikah?" d**a Haris bergemuruh, hatinya menggebu-gebu, tatapan tajamnya sayu, terganti dengan gurat kesedihan. Lima detik berlalu, tidak ada suara apapun di sana. Hanya ada kesiur pohon yang melambai, pun dedaunan kering yang tertiup oleh angin. "Abi .... " Haris menuntut jawaban dari Abinya. Abinya diam seribu bahasa. Menatap lurus ke depan, ke ujung jalan. "Masa lalu adalah pembelajaran. Belajarlah dari masa lalu jika ingin menjadi kenyataan di masa depan. Kuasailah hati dan amarah yang bergemuruh di dadamu itu. Tanamkan sifat sabar dalam hatimu. Innallaha ma'a shobiirin." Abi Haris berjalan di antara batuan yang sengaja diletakkan di situ sebagai pembatas desa. Ia tersenyum simpul, tatkala matanya menangkap beberapa kawanan burung yang pulang ke asalnya. Haris menatap nanar langkah Abinya itu. Akal dan batinnya berontak untuk percaya. Pun dengan sekelebat masa lalu yang membuatnya membenci gadis itu. Ia menundukkan kepalanya, nasehat Abinya adalah yang terbaik baginya. Kenyatahan pelik apa ini? "Aku tidak mau." Haris meringis, otaknya tergambar jelas wajah istrinya itu. Bagaimana nanti istrinya jika ia melakukannya? Melihatnya menangis saja sudah membuat hati Haris teriris, seperti dihujamkan pertanyaan-pertanyaan, "mana tanggung jawabmu?" "Almarhum Bapak Mojo mewasiatkan agar menikahkan putrinya denganmu." Haris kembali menatap nanar ke depan. Kibaran angin yang lewat pun tidak bisa menghiburnya. Cericit bunga di dahan pohon tak lagi didengarnya, pun dengan jangkrik yang meronta tanda senja akan segera tiba. Bisakah dia? Batinnya berkecamuk, ia menghela napasnya gusar, pernyataan yang mengharuskan dia untuk menikahi gadis yang membuat lara hatinya. "Siapa yang sudah tahu?" "Allah, beliau, Abi dan Ummi. Linza belum sempat diberitahu. Beritahulah dia, kamu membutuhkan persetujuan darinya." Langkah kecil Abi Haris kembali terhenti, lalu duduk di sebuah bangku taman. "Kapan ayah?" lirih Haris pasrah, ia mengacak rambutnya frustasi. Mau tidak mau, dia harus menjalankan wasiat itu. "Lusa Insya Allah." Haris mengangguk pasrah, lalu berbalik arah menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, benaknya terus dihinggapi oleh beberapa pertanyaan dan pertanyaan. "Bagaimana aku menyampaikan ini pada Linza?" ia menghela napasnya berulang kali. Sampai di depan rumah, dia disambut oleh Linza yang berdiri dengan wajah cemas di depan pintu, sembari membawa beberapa kantong plastik yang berisi pakaian bayi. "Sudah selesai?" Haris tersenyum lembut ke arah Linza, lalu mengecup lembut keningnya. Haris mengangguk, lalu menggandeng tangan Linza untuk masuk ke kamar. Di tengah perjalanan, Linza berhenti, "apa yang akan dikatakan Abi?" Haris tersenyum getir, lalu membelai pipi indah Linza, "tidak apa-apa. Tidak terlalu penting." Maafkan aku membohongimu. Aku tidak sampai hati mengatakannya padamu, lirih Haris dalam hati sembari merangkul dan mengelus jilbab Linza penuh sayang. Linza tersenyum senang, lalu berlari ke kamar dengan penuh semangat saat sudah berjarak dua meter dari kamar. Maafkan aku sekali lagi, lidahku terasa kelu jika harus mengatakannya padamu, Haris menatap punggung Linza yang sudah ditelan oleh pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD