Cericit burung yang bertengger di dahan pohon mulai ramai. Semilir angin yang berasal dari timur membawa dedaunan yang jatuh berguguran.
Matahari mulai mengintip dari balik kokohnya gunung. Sinarnya perlahan menghangatkan bumi.
Jalanan mulai ramai dipadati beberapa kendaraan beroda empat, pun banyak kendaraan roda dua. Kabut asap mengepul juga turut menghiasi jalanan bersamaan dengan bunyi-bunyian klakson.
"Ingin pergi bersamaku hari ini?" tanya Haris saat melihat wanitanya sedang memilah baju. Linza menatapnya lembut, lalu tersenyum. Mengangguk.
Ia menatap paras suaminya lekat-lekat. Tampannya sejak dulu belum saja memudar. Ia lalu mengikuti arah pandang suaminya itu.
"Ada apa?" tanyanya saat pandangan Haris tertuju ke perut Linza.
"Sudah tujuh bulan?" Linza mengangguk, "lupa, ya?" Haris merangkup pipi mungil Linza. "Memastikan." Ia tersenyum, menatap manik mata Linza. Linza mendengkus. Memutar bola matanya jengah.
"Tadi mau mengajak aku ke mana?" tanya Linza mengalihkan pembicaraan. "Mau beli perlengkapan bayi." Haris mengangkat bahu, lalu keluar.
Linza tersenyum, hati kecilnya seperti tersetrum spekrum-spektrum kecil. Sebentar lagi buah hati mereka akan datang dunia. Tinggal menunggu dua bulan lagi, kata dokter. Ia tak bisa membayangkan, bagaimana nanti senyum malaikat kecilnya yang membuatnya gemas, tingkah lakunya, yang membuat kewalahan, dan bagaimana nanti ia akan menimangnya.
Timbul rasa cemas di hati Linza. Bisakah dia menjadi seorang ibu sesungguhnya? Setidaknya mendekati mirip dengan Carroline?
Bisakah nanti ia membimbing anak-anaknya, sedangkan dia saja terhitung masih mualaf? Ilmunya masih dangkal. Ia menundukkan kepalanya. Beberapa pertanyaannya itu membuat fokusnya buyar. Perasaan takut itu serasa menggerogoti batinnya. Takut jika tidak bisa membimbing anak-anaknya menjadi lebih baik dari dia.
"Umi, ayo cepat." Haris hanya menatap Linza sejenak saat melintasi pintu kamar. Linza mengangguk, menghapus rasa cemasnya, lalu melangkah keluar, menuju mobil Haris.
"Kurasa kita terlalu lama di sini. Apakah kita tidak akan kembali ke Ottawa?" tanya Linza saat mobil yang dikendarainya sudah mendesing, lalu berjalan perlahan.
"Aku lupa ingin mengatakan padamu waktu itu. Masa magangku sudah selesai di sana. Jadi aku dikembalikan di Indonesia. Kemarin aku sudah diberikan surat resmi perihal berkasku yang sudah dicabut dari sana. Ummi dan Abi sudah kuberi tahu, kok."
Linza mengangguk, mengelus perutnya yang semakin membuncit. Tiba-tiba ia menelan ludahnya, merasakan keinginan yang teramat-sangat.
"Aku pengen nasi jagung." Linza memanyunkan bibirnya, lalu menatap wajah tampan Haris yang masih fokus menyetir. Haris sesekali menoleh ke arah Linza yang memasang wajah manis kepadanya. Otaknya berputar. Matanya menjelajah ke penjuru arah. Mencari-cari apa yang diinginkan wanita di sampingnya itu.
Sepanjang perjalanan, Malioboro tampak seperti gula, yang lalu dikerubungi oleh banyak semut sebagai manusia.
"Nanti saja ya makannya," kata Haris sambil menepikan mobilnya di tepi jalan, lalu mengajak Linza berjalan-jalan keliling malioboro.
"Lama sekali aku tidak ke sini." Linza membentangkan setengah tangannya. Ia tersenyum, menatap para pelancong dan pedagang yang sedang melakukan transaksi tawar-menawar.
"Niki namung sewidak, mbak." beberapa kata yang tak sengaja didengar Linza saat melewati beberapa dari perkumpulan mereka.
Matanya berbinar tatkala kelopaknya menatap sebuah baju berukuran kecil. Dengan bergegas dia menghampiri toko tersebut, melupakan nasi jagungnya.
Haris yang tertinggal jauh darinya hanya bisa terkekeh, melihat Linza yang sangat bersemangat.
"Kula nuwun, kula badhe tumbas pakean niki. Pinten reginipun?" Haris tersenyum, setelah melafalkan kalimat dialek Jawa.
Linza sibuk memilah. Baju bayi perempuan bermotif bunga di tengah, piyama bergambar bulan dan berwarna biru, dan sampai sepatu-sepatu yang ukurannya mungil, untuk batita.
Ia mengatupkan rahangnya, lalu tersenyum senang. Bergegas ia memborong semua barang-barang yang menurutnya mungil itu.
Haris tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Matanya menatap sebuah baju bayi berwarna kuning bermotif bunga simple. Ia tersenyum, menghampiri, lalu mengambilnya.
"Sayang," pinta Linza pelan. Wanita itu sedang disibukkan oleh beberapa baju bayi yang bertengger di tangannya. Haris tersenyum, menatap wajah lawan bicaranya yang sangat antusias.
"Suka yang ini atau yang ini?" tanya Linza lalu menunjukkan dua potongan baju bayi ditambah kaus kaki bayi.
"Suka semuanya." Haris tersenyum ke arah wanitanya itu. Linza mendengkus. "Beneran suka mana!" nadanya agak dikeraskan, sebal dengan Haris yang suka bercanda.
"Suka kamu." Haris tersenyum manis. Jantung Linza serasa mau copot. Nadinya berhenti berdenyut, timbul rona merah di kedua pipi mungilnya itu.
Haris tersenyum lembut, mengedipkan satu matanya. Rona wajah istrinya itu membuatnya ingin selalu mencubit pipi kepiting rebus milik Linza.
Linza mengatupkan mulutnya, mengedarkan seluruh pandangannya ke penjuru arah, seolah ingin menyembunyikan bunga-bunga yang berada di hatinya. Setelah merasa puas menatap gadisnya itu, ia segera menuju kasir, dan membawa semua baju yang tadi bertengger di tangan Linza. Tubuh Linza tak berkutik dibuatnya. Begitu pun dengan para ibu yang tak sengaja melihat Haris membawa pakaian bayi. Mereka bahkan tak bisa mengedipkan matanya walau sedetik pun.
Lelaki itu, pesonanya tak memudar walau membawa pakaian bayi sekali pun, lirih Linza sambil tersenyum, lalu mengikuti Haris dari jarak dua meter.
"Berapa, Mbak?" Haris meletakkan baju itu di meja kasir. Bertanya kepada petugas kasir tanpa menatap matanya.
"Kakak belum punya istri, kan?" Gadis kasir itu menatap Haris menggoda, Haris menatapnya datar. Terlebih Linza, setelah dibayar semua, Linza langsung menarik tangan Haris yang masih membawa beberapa plastik pakaian menuju mobil.
"Suka ya. Digoda sama gadis cantik." Linza melipat kedua tangannya di d**a. Haris tersenyum lembut, meraih pipi Linza. "Sayang. Beribu gadis di dunia ini. Bahkan berjuta-juta. Jika dikumpulkan kecantikan dan akhlaknya, tidak ada yang bisa menandingimu di era sekarang. Percayalah kepadaku." Haris menyambung senyum lembutnya. Linza tersenyum, dadanya berdesir menatap bola mata Haris yang indah itu.
"Iya deh. Iya." ia merubah posisi duduknya menjadi semula. Berharap rona yang kesekiankalinya hadir di pipinya tak dilihat Haris. Haris mengangguk, lalu menjalankan mobilnya.
Dua jam telah berlalu. Mobil yang ditumpangi mereka telah terparkir di halaman rumah. Yang mengherankan adalah, di sana juga terparkir sebuah mobil.
"Mobil siapa?" Linza menengok Haris. Haris menggeleng, tanda tidak tahu. Linza mengangguk, lalu keluar dari mobil. Haris menggandeng tangan Linza lembut. Linza kikuk dibuatnya. Semua perlakuan lembut dari Haris itu mampu menyihir hatinya.
Langkah Haris terhenti tatkala matanya menangkap seorang gadis yang duduk di depan Umi dan Abinya. Mereka bicara enam mata.
Tiga pasang mata sayu mereka yang baru saja masuk ke rumah. Gadis itu tersenyum sayu kepada mereka berdua. Guratan kesedihan dan kesembaban terlihat jelas dari sepasang matanya. Memaksa tersenyum.
Dada Haris berdesir hebat. Menatap sepasang mata yang dulu mampu membuatnya merindu berhari-hari. Menatap wajahnya yang dulu mampu membuatnya terpesona. Menatapnya, yang juga membuatnya merasakan duka lara.
"Kamu kenapa ke sini?" Haris berujar dingin. Dahi Linza mengernyit, menatap kejadian yang memaksa otaknya berputar keras. Bahkan batinnya terus bertanya, ada apa ini? Dan gadis itu, siapa?