Amarah yang Membuncah

1678 Words
Sekarang aku baru mengerti, rasa sebuah penyesalan yang selalu datang di akhir. ** بسم الله الر حمن الر حيم ** Malam telah berganti pagi. Di atas sana, secercah cahaya mentari menyinari bumi. Cericit burung-burung berlalu-lalang mencari dahan untuk bertengger. Beberapa di antaranya tak sengaja berpapasan dengan kawanan kupu yang juga sedang mencari nektar. Pagi ini kabut tipis melapisi udara. Dengan sepoi angin dari barat yang dirasa mampu menusuk tulang-belulang manusia. Semalam hujan turun. Membuat beberapa tumbuhan menjadi lebih hijau dari biasanya. Beberapa daun jika diperhatikan masih mempertahankan embunnya. Saat sinar matahari menerpa, perlahan embun itu menetes ke tanah. Di antaranya hinggap dari daun ke daun lain. Seorang wanita mengerucutkan bibirnya, menatap lelaki di depannya yang masih disibukkan oleh menggoreng telur. Dengan dan tanpa celemek pun, wajah tetap berkarisma, berwibawa, dan tentu tampan yang bisa dikatakan kawula muda ketika melihatnya sekilas. "Jadi, kapan kita akan berjalan-jalan?" tanya wanita itu memecah kecanggungan. Lelaki itu berhenti sejenak, memperhatikan wanita di sampingnya yang sedang merengek itu, kemudian melanjutkan aktivitasnya. "Sebentar. Nanti sekitar jam sembilan, ya." Aisyah menghela napas pelan, kemudian menghampiri Haris saat sudah selesai menggoreng telur. Tangan mungilnya menggapai lengan kekar Haris. Kemudian, dengan penuh manja bersandar di sana. "Bukankah terlalu lama?" tanya Aisyah. Matanya menerawang langit-langit ruangan yang dicat warna putih itu. Rumah sepi. Umi dan abi pergi ke rumah saudara beberapa hari karena urusan keluarga. Sanak saudara dari umi menikah, dan kata umi cukup mereka berdua saja yang ke sana. Toh mereka saudara yang tidak terlalu dekat. Tiba-tiba datang Zahra. Dengan langkah gontai ia duduk di meja makan, menatap mereka berdua. Menekukkan wajahnya. "Kenapa?" "Malas sekali. Hari ini agendaku dipenuhi oleh wawancara. Kapan skripsiku selesai?" tanyanya bermonolog sembari menyangga kepala dengan kedua tangan. Mereka berdua tertawa terbahak. "Wah, padahal hari ini jika kamu tidak sibuk, aku ingin mengajakmu berlibur." Mata gadis manis itu terbelalak sempurna. "Berlibur?" Aisyah mengiyakan. "Aku sama Mas Haris mau jalan-jalan sebentar." Ia tersenyum lembut. Kemudian membenahkan jilbab merahnya. Tiga pasang mata itu menatap Linza yang kebetulan sedang lewat. "Ayo, kita ajak Linza sekalian," kata Aisyah sembari menunjuk Linza menggunakan isyarat mata. Haris diam. Hening beberapa saat, hingga akhirnya Linza tersenyum, membalas ajakan Aisyah. "Maaf, aku masih ada pekerjaan di rumah, Is. Kapan-kapan nanti aku akan ikut kalian lagi," katanya tersenyum. Senyum kebohongan belaka untuk menutupi rasa duka lara di dalam hatinya. Kemudian pamit pergi. Langkah demi langkah seperti berat bagi Linza. Setiap menit, setiap detik, embusan napasnya selalu menyertai nama Haris. Denyut nadinya seperti selalu mengalun nama indah dari sang suami. Ingatan di otaknya selalu memutar kejadian di mana pertama kali ia mendengar Haris membacakan Ar-Rahmaan dengan lantang sebagai bukti dan landasan atas cinta suci mereka berdua. Menjauh dari mereka pun, setapak rasanya seperti setahun. Entah apa yang digunakan alam untuk memanipulasi waktu hingga selama ini. Mata yang tadinya berkaca, sekarang telah pecah. Tetesan demi tetesan air bening seperti kristal itu jatuh membebaskan diri ke pipi. Dadanya kembali sesak saat mengingat kejadian dua hari lalu, di mana saat ia memberikan penjelasan kepada Haris. "Aku ingin menjelaskan kepadamu, Ris ... " lirihnya lembut. Menatap manik mata Haris yang enggan untuk memandangnya. Ia menghela napas panjang. "Bukan aku yang melakukannya. Aku tidak tahu apa-apa mengenai ini," lanjutnya. Malam itu, di bawah kerlipan sang bintang. Hanya dibantu penerangan lampu seadanya, rumah sakit itu mendadak hening, menyisakan jangkrik yang bersembunyi di semak belukar. Dinginnya malam tak menyurutkan sang rembulan untuk memancarkan keindahannya. "Kamu percaya, kan kepadaku?" tanya Linza sembari tersenyum ke arah Haris. Selang beberapa detik kemudian, senyumnya memudar saat mendapati wajah Haris yang tidak berubah. "Katakan kepadaku jika kamu mempercayaiku." Hening. Hanya ada suara jangkrik dan orang yang masih beraktivitas pada malam itu. "Ris, katakan kepadaku. Kamu percaya, kan jika bukan aku pelakunya? Kamu mempercayaiku, kan?" Diam. "Hei, lihatlah kelopak mataku. Aku tidak berbohong kepadamu," katanya sembari menyejajarkan wajahnya dengan Haris. Haris memalingkan muka. "Kamu-" "Za, maafkan aku. Aku tidak bisa mempercayaimu." Mata Linza membulat sempurna. "Tapi aku-" "Semua bukti mengarah kepadamu. Aku tidak bisa langsung memercayaimu begitu saja." Haris menunduk, sepertinya tak berani menatap mata Linza yang mulai berkaca. "Aku ini istrimu ... " lirihnya sembari mengusap air mata. Hatinya lara. Ia menangis tersedu, menatap punggung Haris yang menjauh darinya. Hatinya teriris cukup miris, seperti terkoyak-koyak dengan manis oleh pisau penggores secara halus. Sesak menyelimuti hati yang dirundung rasa pilu. Bulan, bintang, pohon, dan cakrawala menjadi saksi atas dukanya seorang Linza, wanita dengan beribu senyum yang mampu memendam laranya. Ya Allah ... lirihnya dalam hati. Sebegitubencinya kamu kepadaku, Ris ... hingga hatimu tak mampu mengerti keadaanku. Mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.... "Ah benarkah?" kata Aisyah. Dari kamar, ia dapat mendengar Aisyah yang sedang bercanda tawa dengan Haris. Aisyah memakai gamis warna abu-abu, sedangkan Haris masih dengan celana panjang hitamnya, dipadu dengan baju koko bercorak batik cokelat sebagai atasannya. Tampan sekali jika dipandang. Linza yang tak sengaja melihatnya tersenyum getir. Ia harus bersabar menghadapi keadaan yang membuatnya seperti ini. Deg! Tiba-tiba hatinya tercekat saat kelopak matanya menangkap Haris yang sedang memberikan seikat mawar merah kepada Aisyah. Hatinya kembali sesak, air matanya meleleh begitu saja. Dalam benak selalu bertanya, mengapa ia tak diperlakukan seperti itu dulu? Dengan cepat-cepat ia beristigfar, meminta ampun kepada Allah, karena dengan lancang menyaksikan kemesraan pasutri yang membuatnya terbakar api cemburu. Apakah ia akan menjadi wanita yang tangguh seperti di film-film? Tabah dan merelakan saat suaminya bersama orang lain? Begitukah takdirnya kini? Mereka pergi, berjalan menuju mobil. Dalam hitungan beberapa menit mobil itu sudah berjalan di jalanan utama, sebelum benar-benar hilang ditelan oleh bumi. Ia menatap mobil itu dengan tatapan sendu. Pilu telah menggerogoti hatinya, cemburu telah meracuni jiwanya. Lalu, bagaimana cara untuk mendapatkan penawarnya, sedangkan penawarnya saja yang membuatnya seperti ini? Ah, berbelit memang jika dijelaskan. Setelah selesai membereskan rumah, ia mengelus perutnya yang semakin membuncit. Tersenyum, setidaknya walaupun para orang-orang dewasa itu membenci dan menghindarinya, buah hati kecil yang sebentar lagi akan melihat indahnya dunia tak akan mengingkari. "Aku akan membeli beberapa peralatan untuk menyiapkan kehadiranmu. Tidak mengapa tanpa abimu. Umi akan tetap bersamamu, jangan takut," katanya masih mengelus perut yang semakin hari semakin membuncit saja. Dengan bergegas ia melangkah menuju lemari, mengambil gamis terbaiknya untuk pergi membelikan baju buah hati yang sebentar lagi akan mewarnai hari-harinya. *** "Suaminya di mana, Mbak?" tanya wanita berjilbab lengkap dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Linza tersenyum getir, membalas senyumnya. Tak menjawab. "Suaminya kerja mungkin, Bu. Sudahlah, mari kita lanjutkan memilih bajunya. Cocoknya pakai yang mana ya?" tanya lelaki yang sudah pasti menjadi suami wanita itu. Selang beberapa menit kemudian mengelus, mencium perut istrinya dengan penuh sayang. Bibirnya berzikir, menyebut nama-nama Allah di depan ruh yang sebentar lagi resmi memiliki jasad. Deg! Menatap itu hanya membuatnya iri. Dalam hati ia berpatri, mengelus lembut buah hatinya. "Umi bersamamu, Nak," lirihnya. Suaranya serak akibat menahan rasa sesak di d**a. Setelah membeli beberapa pakaian, ia menuntun badannya menuju taksi. Dalam hati yang masih kalut itu ia menatap pohon-pohon dari taksi. Tangannya masih mengelus lembut buah hati yang masih berada dalam janinnya. Pedih. Tidak ada siapapun yang bisa dijadikan sandaran untuk berkeluh kesah. *** Matahari telah tergelincir sejak tadi. Malam telah menguasai cakrawala sejak tadi. Haris menatap wanita di depannya dengan perasaan cemas. Entahlah, apa yang membuatnya seperti itu. Hatinya menyelinap rasa was-was. Apa yang membuat hatinya merasa demikian? tanyanya dalam hati. "Kenapa tidak memakan es krim ini?" Haris tersenyum, menggeleng, menatap manik mata Aisyah yang juga sedang menatapnya. "Apakah harus aku menyuapimu?" Kembali, Haris menggeleng. Kali ini dengan isyarat tangan. "Makan saja. Aku membelikannya untukmu." Aisyah menatap Haris dengan wajah menggoda. "Jangan terlalu memikirkan rumah. Tidak akan ada apa-apa di sana. Kamu mengkhawatirkan Linza, kan?" tanyanya. Haris diam. "Tidak apa-apa. Dia juga istrimu. Berhak memiliki rasa sayangmu," katanya sembari tersenyum, melanjutkan aktivitas makan es krimnya. Haris mengangguk, menatap sekitar. Restoran kayu yang didekor dengan kerlipan lampu kecil menghiasi dinding, menjadi pengganti gantungan bintang yang menghiasi langit malam. Beberapa pelayan terlatih mengambil dan menawari pengunjung yang baru datang. Ia kembali menatap wanita yang di depannya. Wanita yang masih diakuinya menjadi Linza. Entahlah, dosakah ketika ia di sini bersama Aisyah tetapi hatinya masih berangan-angan bersama Linza? Ia menghela napas berat. Tiba-tiba lamunannya terpecah saat menyadari ponselnya berdering. Haris meminta izin kepada Aisyah untuk mengangkat. Aisyah mengangguk, mengiyakan. Dalam radius sekitar tujuh meter, ia mengangkat telepon. Dadanya berdegup ketika nama yang tertera di layar ponselnya adalah polisi yang tempo lalu menyelidiki kasus Aisyah. Hei, mengapa menelepon? "Selamat malam Pak Haris." Suara di seberang sana menyapa. Haris membalasnya. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada Bapak. Ternyata dalam investigasi kemarin kami salah menarik kesimpulan." "Maksudnya?" Haris mengernyitkan dahi, bingung dengan apa yang dibicarakan oleh lawan bicaranya. "Saudari Linza tidak bersalah. Saudari Aisyah sendirilah yang bersalah. Dia bersandiwara untuk menjebak Saudari Linza agar terseret dalam kasus ini." Deg! Matanya menatap Aisyah yang masih menikmati es krim yang baru saja dibelinya. Kemudian kembali mendengar lagi. "Saudari Aisyah dalam melaksanakan sandiwara ini dibantu oleh salah satu anak buah saya. Maafkan saya sebelumnya. Jika bukan karena pengakuan dari anak buah saya, saya tidak akan mengetahuinya. Maaf sebelumnya." Sambungan diputuskan Haris. Jadi selama ini, hatinya benar? Linza benar? Ya Allah, apa yang telah aku lakukan? rintih dalam hati. Hatinya seperti terhujam beribu pedang. Di mana tanggung jawabmu? Di mana janjimu? Pertanyaan-pertanyaan itu menohok hingga ulu hatinya. Ya Allah ... maafkan aku .... Linza ... maafkan aku .... Matanya yang sedari tadi meredup seakan kembali berkobar, menatap wanita yang sedang menikmati es krim di meja minimalisnya. Salahku yang masih mempercayainya! Perlahan kakinya melangkah menuju wanita itu dengan amarah yang telah membuncah. Karena Aisyah, ia jadi tak acuh dengan Linza. Karena Aisyah, ia jadi tak mempedulikan anak dan istrinya. Semakin dekat. Semakin dekat. Dari jarak lima meter dari wanita itu, ponsel Haris berbunyi lagi. Ia menghela napas, kemudian merogoh kantong celananya. "Assalamualaikum Kak Haris!" Gadis di seberang sana mengucap salam dengan intonasi cemas. Napasnya memburu. "Waalaikumussalam, ada apa Zahra?" tanya Haris tak mengerti dengan semua ini. "Kak Linza ... " katanya menggantung. Deg! "Linza kenapa?" Jantungnya berdetak kencang, was-was menyelimuti hati. "Kak Linza kecelakaan, Kak!" Deg! Kakinya seperti ingin roboh. Merasakan dadanya yang terhujam oleh beribu pedang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD