"Setelah hujan akan ada pelangi."
---***---
"Za!" Matanya sayu, menatap wanitanya yang sedang dimasukkan ke ruang ICU. Langkahnya ia perbesar, mencoba meraih tangan Linza tetapi nihil.
Matanya berkaca, dadanya dipenuhi sesak. Ia menangis tersedu di depan ruang ICU sembari memukul-mukul tembok.
Hatinya sakit, jiwanya perih.
Pantaskah ia menjadi pemimpin keluarga? Jika matanya saja tak mampu melihat sebuah kebenaran.
Rintihan istrinya selama ini tak dihiraukannya. Ia malah asyik bersenang-senang dengan Aisyah yang membuat Linza menderita.
Dadanya kembali sesak. Sakit rasanya, seperti menerima beribu hujaman peluru.
Umi dan abi datang dari arah barat, menatap keadaan Haris yang memprihatinkan. Umi menuntun Haris duduk. Diusapnya kepala anak laki-lakinya itu.
Abi menatap iba, menepuk pelan pundak Haris.
"Allah tidak akan menimpakan sebuah musibah kepada umat-Nya kecuali masih dalam batasannya."
Umi ikut larut, menangis tersedu di dekat Haris. Hatinya kalut, benar-benar sakit. Pantaskah ia meminta maaf kepada Linza?
"Linza Mi ..., " lirih Haris. Dadanya sesak, menangis di pelukan hangat uminya. Hati umi lebih sakit. Perih, rasanya. Bak tenggelam ke dasar jurang yang teramat curam setelah ditusuk-tusuk oleh sebilah pedang.
"Linza akan baik-baik saja, Ris. Abi tahu, dia wanita yang kuat."
Dua menit mereka habiskan hanya untuk menumpah-ruahkan segala rasa sakit yang berada di d**a lantaran tak bisa lagi diucapkan oleh kata-kata.
Haris beristigfar, air matanya meleleh tak mau berhenti. Begitupun umi, wanita paruh baya yang merasakan sesaknya sebuah penyesalan. Langkah yang ditempuhnya keliru, benar-benar keliru.
Mengapa ia memaksa Haris untuk menikahi Aisyah? Mengapa ia memfitnah wanita yang benar-benar tulus dan baik hatinya?
Hati seputih kapas yang selalu dikotorinya. Hati yang pilu tetapi mampu tersenyum ketika menderu.
Benarkah ia telah gagal menjadi seorang ibu? batinnya pilu.
"Ini semua salah Umi, Ris. Jika saja Umi tak menjodohkanmu dengan Aisyah. Jika saja Umi---"
"Umi, jangan berkata seperti itu. Berdoa saja semoga Linza baik-baik saja." Abi menatap keduanya. Bagaimanapun juga, ia juga secara tidak sengaja telah memfitnah Linza. Beribu kata maaf ingin sekali dilontarkannya.
Tangis umi kembali pecah, memecah kesunyian yang berada di koridor itu. Para perawat yang sesekali lewat menatap iba, sebuah duka yang dapat mereka lihat dari keluarga itu.
"Umi ..., " lirih Zahra, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian datang menghampiri.
Tiga pasang mata itu terbelalak, saat muncul Aisyah dari balik punggung Zahra.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Haris sembari menatap sinis. Tidak ada lagi kata berbaik hati kepada wanita penipu seperti dia. Wajahnya beringas, amarahnya kembali membuncah.
"Maafkan aku ... aku ingin meminta maaf kepada Linza. Hanya itu. Aku tidak bermaksud apa-apa."
Mata Haris masih melotot, otaknya kembali mengingat kejadian tadi saat masih berada di restoran beberapa jam yang lalu.
"Kamu ...."
Aisyah tersenyum ramah, kemudian berubah menjadi heran saat melihat wajah Haris yang memerah akibat amarah yang membuncah.
"Ada apa?"
"Berhenti bersandiwara. Ini semua karena kamu, kan?"
Alis Aisyah terangkat, kemudian meretangkan setengah tangan, seolah bertanya, dan tak tahu maksud ini apa.
"Kamu tidak tahu? Cih." Haris mendecih, kemudian sudut bibirnya terangkat, menciptakan seringai mengejek.
"BERHENTI BERSANDIWARA!" bentak Haris. Napasnya yang semula teratur sekarang mulai tak beraturan.
Sejenak lenggang. Hingga wajah Aisyah terangkat. Menatap wajah Haris yang semakin memerah.
"Maafkan aku ...," lirihnya. Kemudian memasang wajah sendu. Sendu sekali.
"Piawai sekali aktingmu.Hampir-hampir saja aku, umi, dan abi ikut terkena pengaruhmu. Sepertinya bakatmu menjadi aktris." Haris menyindir, masih menatap tajam lawan bicaranya. Tak ingin terjebak lagi dalam tipu muslihatnya.
"Maafkan aku ...," lirihnya. Air matanya keluar, menangis tersedu. Tak peduli jika ia dijadikan bahan tontonan oleh pelanggan yang berkunjung, atau pelayan yang hanya sekadar lewat untuk melayani pembeli.
Dan lagi-lagi, hati Haris keras. Keras sekali seperti batu. Kali ini bahkan Haris tak mau lagi menatap Aisyah. Selalu saja ia memalingkan mata. Seperti tidak sudi menatap wajah Aisyah.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kembalilah kepadaku."
"Kak Haris! Kak Linza sudah dibawa ke rumah sakit! Cepat ke sini!" Perintah Zahra dari via telepon. Memecahkan perselisihan yang terjadi. Haris bergegas pergi, meninggalkan Aisyah yang masih beruraian air mata. Ia peduli? Tentu saja tidak. Biarkan wanita sepertinya pulang sendiri. Untuk mengurusi Aisyah ia sudah tidak ada waktu lagi.
Sayup-sayup dari belakang ia dapat mendengar teriakan Aisyah. "Aku tidak akan mengulanginya lagi!"
Zahra menatap keempat orang itu bingung. Sebenarnya ada apa? tanyanya dalam hati. Aneh sekali apakah ada sesuatu? terkanya lagi dalam hati.
Haris lupa memberitahukan itu kepada Zahra. Hanya abi dan umilah yang pertama kali ia beri tahu. Haris menghela napas, memalingkan wajahnya dari menatap Aisyah yang mengemis kepada Haris.
Tiba-tiba pintu terbuka, muncul wanita cantik berambut putih sebahu, memakai pakaian serba putih. Bergegas Haris mendatanginya.
"Bagaimana Dokter?" Dua detik dokter itu menatap Haris, kemudian menghela napasnya panjang.
"Anda suami dari Nyonya Linza?" Dan lagi-lagi, Haris mengangguk kuat-kuat. Dadanya berdebar. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Cemas mulai menguasai relung hatinya. Sedetik bagaikan semenit hanya untuk menunggu jawaban.
"Ada dua kemungkinan, bayi yang dikandung Nyonya Linza akan mengalami keguguran. Atau jika sudah lahir nanti akan mengalami kelainan." Dokter wanita itu menghela napas berat.
"Tapi juga ada kemungkinan lain, Nyonya Linza tidak bisa terselamatkan."
Deg!
Hatinya hancur. Jiwanya melebur. Menatap wajah dokter wanita itu dengan mata berkaca. Ia tidak salah dengar, kan?
"Kecelakaannya parah. Cukup mampu membuat bayi yang dikandung Nyonya Linza mengalami prematur, atau cacat dalam berpikir. Daya tahan Nyonya Linza pun tidak terlalu menguntungkan," katanya lagi, yang sukses membuat Haris menangis dalam hati.
Abi macam apa kamu, Ris? Untuk mengurusi anak istri saja tidak becus! uringnya dalam hati.
Helaan napas kembali terdengar dari dokter itu.
"Berdoalah, semoga Tuhan memberi Mukjizat," katanya, sebelum benar-benar pergi.
Haris menunduk, merasakan gejolak lara yang semakin merambat. Dadanya sesak saat mengingat senyum Linza yang mengembang. Terputar jelas di memori otaknya.
Haris berjalan gontai menuju Masjid rumah sakit. Langkahnya terseret, berat sepertinya ketika dirasa. Hatinya hancur lebur, kalut.
Ya Allah, bisakah aku hidup tanpanya? Ia mendongak ke arah langit-langit koridor rumah sakit.
Setelah mengambil wudu, ia berdiri kokoh menunaikan salat. Bibirnya bergetar melantunkan untaian demi untaian doa dalam salat. Matanya tertuju pada sajadah yang tergelar di depannya.
Setelah mengucap salam, ia mengadahkan tangannya. Meminta kepada Allah SWT., Sangpencipta Alam Semesta ini dengan wajah mengemis. Bersimpuh dengan menangis.
"Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ini, Ya Allah. Maafkan hamba-Mu ...," lirihnya berkali-kali. Dadanya bergetar hebat. Menangis tersedu di depan Allah SWT.. Berharap mendapat ampunan-Nya.
"Ya Allah, hamba tahu, rencana-Mulah yang terbaik. Maka dari itu, apapun yang menjadi keputusan-Mu, buatlah hamba menjadi orang yang tabah dalam menerimanya, Ya Allah...."
Setelah menangis berkeluh kesah kepada Allah SWT., akhirnya ia kembali menuju ke ruang ICU. Dadanya berdebar tak keruan. Cemas perlahan meracuni hatinya.
Langkahnya dipercepat saat melihat kerumunan dari mereka tersenyum. Ia ikut menyunggingkan senyum.
"Ada apa, Mi?" Umi senyum sumringah.
"Linza sudah siuman, Ris. Alhamdulillah." Senyum itu belum saja memudar. Wajah mereka berseri, layaknya rembulan malam. Racun yang menguasai hati Haris berangsur sembuh.
Senyum Haris merekah, dadanya bahagia, haru menyelimuti mereka.
Terima kasih, Ya Allah. Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim.... Allah, Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Senyumnya memudar tatkala matanya tak menemukan Aisyah.
"Aisyah di mana?" tanyanya sembari menatap ke segala arah, kembali memastikan.
Mereka bertiga diam.
"Kak Aisyah ada di dalam, Kak." Zahra menunjuk ke dalam. Mata Haris terbelalak.
"Zahra sudah tahu kejadiannya dari umi dan Kak Aisyah. Zahra lihat Kak Aisyah mengatakannya dengan bersungguh-sungguh." Zahra menunduk.
Haris menatap mereka bertiga bergantian. Mereka menunduk.
"Apa salahnya memberikan kesempatan Aisyah untuk memintab maaf?" Umi menatap Haris sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya menuju ke arah pintu. Gorden tertutup.
Cemas kembali menguasai Haris. "Mengapa gordennya ditutup?"
Was-was menyelimuti hatinya. Bayangan yang tidak-tidak hadir di benaknya. Bagaimanapun juga, wanita itu sangat berbahaya.
Mereka bertiga mengangkat bahu, tidak tahu. Haris mengacak rambutnya frustrasi. Dengan segera ia membuka pintu itu. Bayangan-bayangan yang tidak-tidak cukup mampu menghantuinya.
Matanya terbelalak sempurna, saat melihat Aisyah sedang membawa pisau tajam untuk menikam Linza yang masih menutup mata.
"LINZAAAAA!!!" teriak Haris.