Harta Berharga

961 Words
"APA YANG KAMU LAKUKAN!" Suara Haris menggelegar memecah kesunyian seantero rumah sakit. Ia cekatan memegangi pergelangan tangan Aisyah yang hendak menghujam d**a Linza yang matanya masih tertutup. Zahra, abi, dan umi menatap nanar Aisyah. Aisyah meronta, berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Haris. Tetapi nihil, tangannya seperti mati rasa. Tenaganya pun tidak sebanding dengan Haris. Ia meringis kesakitan saat Haris mencengkeram lengan tangannya kuat-kuat. Ruangan yang tadinya hening mendadak ramai. Wanita-wanita yang memakai seragam serba putih tergesa menghampiri Linza, mereka cemas, seperti terkejar oleh sesuatu. Ranjang Linza dengan segera pindah ruangan, menyisakan mereka yang masih menatap Aisyah dengan amarah membuncah. "Lepaskan aku, Ris!" Aisyah berontak, membuatnya menambah kekuatan. "Kamu gila, Ris." "KAMU YANG GILA!" Haris membentak Aisyah, tepat di telinga. Batinnya menangis, pilu sekali. Seperti dosa besar mempercayai gadis pendusta sepertinya. Air mata pilu membanjiri pipi lelaki itu. "Ra, panggilkan polisi ...," lirihnya sembari masih mengunci tangan Aisyah. Aisyag menangis terisak, berontak, berusaha melepaskan diri. Selalu, dan selalu, gagal. Malam itu, suara Haris membelah malam. Memecah Bulan. "Aku mencintaimu!" Aisyah berujar di sela-sela isak tangisnya. Tangan mungilnya menyeka air mata. "Aku sudah tidak percaya kepadamu." "Aku mencintaimu sebelum dia mencintaimu, Ris! Seharusnya aku yang ada di hatimu." Ia kembali terisak. Hening. Hanya suara isakan tangis wanita yang dapat didengar. Di luar sana, suara sirine mobil polisi berhenti. Jantung Aisyah berdetak kencang. "Jika aku tidak dapat memilikimu, orang lain pun tak boleh memilikimu!" teriaknya saat digiring pihak kepolisian. Haris tergugu, diam. Lamunannya terpecah saat umi mendatanginya sembari menangis. "Linza, Ris ... Linza ...," lirih wanita tua itu. Deg! "Linza kenapa, Mi?" Dadanya berdebar tak keruan, membayangkan apa yang terjadi pada istrinya itu. "Linza ...." "Linza kenapa, Mi?" tanya Haris sekali lagi. Lirihan umi semakin membuat penasarannya menjadi-jadi. "Bayi yang dikandung Linza tidak dapat terselamatkan, Ris." Abi datang dari pintu menuju mereka. Sesak. Sesak menyelimuti hatinya. Jiwanya hancur lebur. Ia menangis di dalam hati. Meronta, mengadu kepada Allah. Ya Allah, cobaan apa lagi ini yang Engkau berikan? Ia berjalan gontai ke ruang rawat Linza. Hatinya gundah gulana. Sedih berteman dengan pilu. Sakit berteman dengan duka. Itu semua campur aduk. Kehilangan, cukup mampu membuat hatinya menangis, merintih. Kehilangan sesuaty yang belum pernah dimiliki. Apa yang akan dilakukannya ketika Linza bertanya perihal buah hati mereka? Ah! Ia mengacak rambut frustrasi. Belum pernah ia merasakan seperti ini. Kehilangan yang teramat dalam. Helaan napas terus keluar dari mulutnya. Frustrasi! Benar-benar frustrasi! Pilu dalam hati semakin menjadi ketika melihat sang istri sedang terbaring lemah tak berdaya di ranjang. Bagaimana ia akan menceritakannya? Mulai dari mana? Ia kembali menghela napas. Zahra yang duduk untuk menunggui Linza di samping ranjang segera pindah saat melihat Haris menatap pilu sang istri. Wanita cantik bermata lentik, dengan bibir tipis berwarna merah muda sekarang sedang berjuang melawan rasa sakitnya. Ingin sekali dirinya berteriak dalam hati, menyaksikan dan mengalami ini hingga menggetirkan hati. "Kakak, ingatlah. Allah sedang menguji kita," kata Zahra menyemangati Haris. Haris masih diam, matanya berkaca menatap Linza. "Jangan jadikan cobaan sebagai alat untuk menjauhkanmu dari-Nya. Justru, jadikanlah sebagai sarana untuk mempererat iman kepada-Nya." Zahra tersenyum. Haris menatap sekilas, kemudian menunduk. Bagaimana ia bisa lalai? Ia kembali menangis dalam hati. Ya Allah, maafkanku. Dengan lancangnya aku berprasangka buruk kepada-Mu di saat aku harus mendekatkan diri kepada-Mu. Zahra membuka Alquran, membacakan lantunan ayat suci itu dengan merdu. Haris juga berucap, bibirnya bergetar menyebut Nama-Nama Allah SWT. Sang Mahapencipta Alam Semesta ini. Berharap, ia tak akan merasakan kehilangan kedua kali. Dua jam setelah tak sadarkan diri, akhirnya mata dengan bulu lentik yang sedari tadi terpejam kini mulai terbuka. Ia mengerjapkan mata ketika sinar menyilaukannya. Ia menatap langit-langit ruangan, pandangannya buyar. Semenit kemudian, ia mematap sekeliling ruangan. Menemukan Zahra yang tersenyum kepadanya. Ia balas tersenyum. Senyumnya yang mengembang kian memudar saat melihat Haris yang sedang menatapnya sendu. Dalam hatinya menyelinap rasa sakit. Sakit, benar-benar sakit, saat mengingat perlakuannya akhir-akhir ini. Namun, bukankah itu dosa? Bagaimana nanti jika ia dicap sebagai istri yang durhaka kepada suami? Insya Allah, aku telah melupakan itu, batinnya. Ia tersenyum ke arah Haris. Senyum yang indah, mampu membuat laki-laki terpesona. Senyum yang pertama kali dilihat Haris saat ia menemukan cinta di hati Linza untuknya. "Maafkan aku ...," lirihnya. Linza tersenyum, mengangguk. "Aku tidak tahu jika pelakunya bukan kamu ...." Ia menangis batin, menatap Linza yang masih saja menghadirkan senyum hangat. Harus keberapa kali ia melihat gadis terkapar tak berdaya di ranjang rumah sakit? "Aku tahu ini hanya kesalahpahaman." Wanita itu kembali tersenyum menatap Haris. Hei, lihatlah. Ia masih saja tersenyum. Apakah ia akan tetap tersenyum saat mendengar berita ini? Dari mana ia akan menjelaskannya? Ah! Pertanyaan itu selalu muncul meletup-letup layaknya popcorn di kepalanya. "Terima ka—" Suara Haris terputus saat melihat Linza tersenyum sembari meletakkan jari telunjuknya ke bibir. "Tidak usah berterima kasih. Sudah kewajibanku memaafkanmu. Allah SWT. saja yang Mahabesar dan Maha Pencipta menerima permintaan maaf. Apalagi aku, salah satu ciptaan-Nya yang langganan akan dosa. Akan sangat malu jika aku tidak memaafkanmu." Manik matanya berbinar, wajahnya cerah memesona. Maafkan aku ..., lirih Haris dalam hati. Senyum itu memudar kita menyadari sebuah nyawa di dalam perutnya telah hilang. "Bayi kita ... di mana bayi kita?" tanya Linza kepada Haris. Haris diam. Lidahnya kelu, untuk mengutarakan ini, seperti mati rasa. Mulai dari mana? "Bayi kita di mana, Ris! Ra, di mana, Ra? Zahra ...," lirihnya. Air mata turun begitu saja. Perih, hatinya perih. Dengan segera Haris memeluk Linza. Memberikan segala kasih sayang dan kehangatan. Membiarkan wanitanya berkeluh kesah dan melepas lara di dalam pelukannya. Hancur. Hati Linza hancur. Ia memukul-mukuli badan Haris. Menangis terisak di antara kesunyian. Ya Allah .... Cobaan apalagi, ini? Sanggupkah aku melewatinya? Anak yang beberapa bulan ini sebagai tempat curahan hati dan kasih sayang, kini telah tiada. Malam itu suasana pilu menyelimuti mereka. Seorang wanita, yang baru saja kehilangan harta paling berharganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD