bc

Romansa di Langit Milan

book_age18+
7
FOLLOW
1K
READ
family
HE
fated
friends to lovers
playboy
kickass heroine
confident
drama
sweet
bxg
lighthearted
bold
city
childhood crush
love at the first sight
polygamy
athlete
like
intro-logo
Blurb

Marie Jane, gadis sederhana bermata zamrud bening dari Catania, Sisilia, berani meninggalkan kampung halaman dan nenek yang sangat dicintainya demi mengejar mimpi menjadi model di Milan. Namun kota besar itu tak semudah bayangannya—ia mengalami kesulitan, bahkan tak sengaja tertabrak mobil kekasih seorang pesepakbola hebat dan terkenal, Fellipe Ignatio. Fellipe yang berhati mulia menolongnya secara diam-diam, tanpa saling mengenal nama. Namun takdir mempertemukan mereka kembali. Fellipe yang sebenarnya tak bahagia dalam hubungannya, mulai merasakan getaran hati yang aneh dan tulus pada gadis asing itu, bahkan sampai hadir dalam mimpinya. Sementara itu, kekasih Fellipe, Beatrisca, menyembunyikan sisi gelap dan perselingkuhannya yang penuh nafsu, hanya mengejar nama besar dan ketenaran Fellipe. Ketika Fellipe mencapai puncak kejayaannya sebagai "Anak Ajaib" sepak bola dan menjuarai laga terbesar di Eropa, Beatrisca justru mengkhianatinya di saat yang paling bersejarah itu. Marie Jane yang akhirnya lolos audisi dan mulai menapaki jalannya menuju mimpi, tak sadar bahwa ia adalah pemilik hati pria hebat itu. Demi rahasia yang terjalin, persaingan, dan cinta yang tumbuh perlahan, mereka harus melewati berbagai rintangan: keraguan hati, ambisi yang salah, rahasia yang terancam terbongkar, serta perbedaan dunia yang memisahkan mereka. Akankah cinta tulus mereka bersatu, atau takdir harus memisahkan selamanya?

chap-preview
Free preview
BAB 1: Awal Dari Segalanya
Angin sepoi-sepoi menyapu rambut panjang Marie Jane Russo yang berwarna brunette, saat ia berdiri memandangi hamparan air danau yang berkilau diterpa sinar matahari sore. Di hadapannya terbentang keindahan Desenzano del Garda—tempat ia menginjakkan kaki setelah meninggalkan Catania, Sisilia, kampung halamannya. Namun, keindahan tempat ini tak sepenuhnya mampu menghapus kerinduan pada neneknya, maupun bayangan mimpi besar yang masih terasa begitu jauh di awan: Milan. Di usianya yang baru 19 tahun, Marie Jane memiliki kecantikan yang nyaris sempurna. Tingginya seratus delapan puluh sentimeter dengan tubuh ramping berlekuk indah, kulit sehalus buah zaitun, dan sepasang mata seindah zamrud bening yang memancarkan ketulusan. Kota Milan yang keras sempat membuatnya takut karena biaya hidup yang melangit. Alhasil, ia terjebak di kota kecil ini, menyembunyikan keindahannya di balik celemek kotor sebagai pelayan kafe demi mengirim uang pada neneknya di kampung. Ia terpaksa mengarang cerita kalau dirinya sudah menjadi model kecil-kecilan di Milan, tak ingin neneknya cemas. Sore itu, suasana kafe milik Rodrigo Caruso terasa lebih ramai. Sekelompok pria berpakaian rapi dari kota besar masuk. Marie Jane menghampiri mereka dengan nampan di d**a dan senyum ramah. "Buongiorno signorina, adakah meja kosong di atas untuk kami bertiga?" tanya salah satu pria yang tampak paling berwibawa. "Sì, signore. Silakan ikuti saya," jawab Marie Jane sopan, menuntun mereka menaiki tangga batu pualam putih ke lantai atas. Pria itu adalah Roberto Accardi, seorang Talent Acquisition ternama dari De Elite Agency—agensi model paling bergengsi di Milan. Sepanjang Marie Jane menyajikan hidangan, sepasang mata mata Roberto tak berkedip. Bukan tatapan merayu p****************g, melainkan tatapan seorang kurator yang menemukan karya seni bernilai tinggi. Saat Marie Jane hendak meletakkan bill pembayaran, Roberto menahan langkahnya. "Mi scusi, Marie Jane... benar namamu?" "Sì, signore. Ada yang bisa saya bantu?" Roberto tersenyum, menyandarkan punggungnya. "Aku bukan sedang merayumu, Nona. Tapi naluriku sebagai pengamat model tidak pernah keliru. Tempat ini tidak cocok untuk gadis secantik dirimu. Kau memiliki pesona seorang model dunia. Kulitmu, bibirmu, dan warna matamu... emerald yang begitu terang." Jantung Marie Jane mengembang. Darah mengalir ke wajah kaukasianya, menimbulkan rona merah alami. Roberto kemudian mengeluarkan secarik kartu nama mewah dari dompetnya dan menyodorkannya ke tangan Marie Jane yang gemetar, "Aku Roberto Accardi dari De Elite Agency Milan. Datanglah ke agensiku minggu depan. Kau memiliki koneksi langsung denganku untuk menjadi kandidat terkuat. Jangan sia-siakan anugerahmu." Pertemuan itu sempat diinterupsi oleh Rodrigo Caruso, sang pemilik kafe yang ketus karena mengira pelayannya mengabaikan pekerjaan. Namun, dengan lihai Roberto memuji kafe tersebut untuk menyelamatkan Marie Jane sebelum akhirnya rombongan dari Milan itu pergi. Malamnya di kamar sewaan, Marie Jane tidak bisa tidur. Dadanya membuncah. Kartu nama di atas mejanya seperti magnet yang terus memanggil. Tekadnya bulat. Esoknya, dengan berani ia berbohong pada Rodrigo Caruso untuk mengambil cuti darurat. Berbekal pakaian sederhana, tabungan yang menipis, dan selembar kartu nama itu, Marie Jane melangkahkan kakinya membelah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur—Milan. Namun, takdir langsung menamparnya begitu ia menginjakkan kaki di gedung De Elite Agency yang megah dan menjulang tinggi. "Tuan Roberto Accardi sedang berada di luar negeri untuk urusan mendadak, Nona. Kami tidak tahu kapan beliau kembali," ucap resepsionis berwajah dingin tanpa minat, seraya menyodorkan selembar pamflet. "Kalau kau tertarik, minggu depan ada ajang pencarian wajah baru di sini. Silakan ikut audisi umumnya." Hati Marie Jane terasa remuk seketika. Harapan yang membumbung tinggi luruh ke lantai. Langkah kakinya terasa berat saat berbalik untuk keluar dari lobi gedung. Pikirannya kalut memikirkan ongkos dan nasibnya. Karena berjalan sambil menunduk menahan tangis, ia tidak melihat rombongan orang yang baru saja melangkah masuk dari pintu kaca. Braakk! Tubuh Marie Jane oleng. Benda pipih di tangannya terlempar keras ke atas lantai marmer. Layar ponsel kesayangannya—satu-satunya alat untuk menghubungi neneknya—retak seribu dan mati seketika. "Eh, hati-hati dong kalau jalan! Punya mata enggak, sih?!" seru sebuah suara wanita yang melengking angkuh. Marie Jane mendongak dengan mata berkaca-kaca. Wanita yang menegurnya adalah Beatrisca Maria Romani, model papan atas bertubuh semampai yang wajahnya ketus, sedang membersihkan mantel bulunya dengan jijik. Namun, bukan Beatrisca yang membuat napas Marie Jane tercekat. Di samping Beatrisca, berdiri seorang pria jangkung atletis dengan rahang tegas dan tatapan mata yang tajam namun meneduhkan. Dunia seakan berhenti berputar bagi Marie Jane. Wajah itu... ia menghafalnya di luar kepala. Wajah yang menghiasi poster dinding kamarnya, majalah olahraga, dan layar ponselnya yang baru saja hancur. Itu Fellipe Ignatio. Bintang lapangan hijau termahal di dunia. Sang idola yang selama ini ia kagumi dalam diam. Fellipe sempat menatap Marie Jane sejenak. Ada kilat keprihatinan di mata pria itu saat melihat ponsel Marie Jane yang hancur berkeping-keping di lantai, juga saat menatap mata zamrud Marie Jane yang digenangi air mata. Fellipe sedikit membungkuk, hendak mengulurkan tangan untuk membantu. Namun, sebelum jemari Fellipe sempat menyentuhnya, Beatrisca sudah menarik lengan kekasihnya dengan sentakan kuat. "Sudah, ayo pergi, Fellipe! Jangan pedulikan orang asing seperti dia. Kita sudah terlambat untuk pemotretan!" Fellipe menghela napas berat, menatap Marie Jane sekali lagi dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya melangkah pergi mengikuti tarikan tangan Beatrisca. Marie Jane terduduk lemas di lantai marmer yang dingin. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan hanya karena syok ponselnya hancur, tapi karena tatapan pertama dari pria berwajah rupawan itu. Mengapa di saat mimpinya hancur, takdir justru mempertemukannya dengan Fellipe dalam situasi seburuk ini? Saat ia sedang mengumpulkan serpihan ponselnya dengan tangan gemetar, sebuah bayangan tubuh menghalanginya. "Hei, kau tidak apa-apa? Ya ampun, kasar sekali wanita tadi, siapa dia??" sebuah suara ramah menyapa. Marie Jane menoleh. Seorang wanita muda dengan dandanan modis sedang menatapnya khawatir, tangannya penuh memegang koper kosmetik yang berat. Di tanda pengenalnya tertulis nama: Cassandra - Chief Makeup Artist. Marie Jane buru-buru menyeka air matanya dan berdiri. "Saya tidak apa-apa, Signora. Mari, biar saya bantu bawakan kopernya. Anda terlihat kesulitan." Cassandra tertegun melihat kebaikan dan ketulusan gadis di hadapannya, namun matanya yang jeli sebagai penata rias profesional justru terpaku pada proporsi tubuh sempurna dan mata zamrud indah milik Marie Jane. "Kau... siapa namamu? Apakah kau salah satu peserta audisi model baru?" tanya Cassandra dengan mata berbinar penuh ketertarikan. Marie Jane menggeleng pelan, namun di dalam hatinya, sebuah celah harapan baru perlahan kembali terbuka.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.4K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook