Menuju Golden Grup, Owen yang saat itu tiba segera memasuki ruangan meeting, dengan pesona yang begitu banyak menggoda para karyawannya. Lift terbuka, dan berbunyi, Owen memasuki lift dan baru saja ingin menutup liftnya, seorang wanita muda yang lumayan cantik, berlari menuju pintu lift itu. Pertemuan yang tak terduga, pagi ini membuat Madu begitu semangat dalam memulai aktivitasnya sebagai asisten pribadi Owen Johnson yang baru, karena Audrey sudah diangkat menjadi CEO dari Arta Gemilang, salah satu anak perusahaan Golden Grup.
"Tunggu...." pinta wanita muda itu
Owen menahan lift itu, dan wanita muda itu masuk.
"Selamat pagi Pak Owen."
"Oh ya pagi juga." sapanya dengan dingin
"Perkenalkan saya aspri baru di sini, saya yang akan membantu menyiapkan semua rapat pagi ini dan keberangkatan bapak ke Jerman."
"Oh jadi kamu asprinya yang baru masuk hari ini, ya sudah selamat bekerja ya."
"Saya Madu pak, panggil saja madu."
"Hmm, ya." jawabnya dengan wajah datar
Madu yang kala itu berdiri di samping kiri Owen, begitu merinding, baru kali ini dia melihat wajah Big Boss Golden Grup itu, ternyata lebih tampan dari fotonya. Penuh menggoda hasrat dengan sentuhan brewok tipis yang membuatnya benar - benar tergoda.
Lift pun berbunyi===== tertanda mereka sudah tiba di ruangan direksi.
"Hmm, Madu tolong kamu siapin semuanya ya, dan inget tolong hubungi bandara pusat, untuk mempersiapkan jet pribadi milik saya, cek semua bahan bakar dan keadaan pesawatnya, saya mau terbang ke Jerman soalnya."
"Untuk urusan meeting semua sudah beres pak, maaf sekali lagi saya sedikit mepet waktunya, tadi ada kendala di kendaraan saya, sempat pecah ban di jalan."
"Ya sudah sekarang siapkan semua materi rapat, dan jangan lupa telepon ke bandara, untuk siapin pesawat saya."
"Siap Pak Owen"
Satu jam berlalu rapat berjalan dengan lancar. Owen memanggil Madu untuk memastikan keberangkatannya menuju Jerman.
Tok... tok... suara ketukan pintu
"Ya masuk." jawab Owen dengan dingin
"Ya pak, apa ada yang harus saya kerjakan lagi?" tanya Madu dengan lembut
"Hmm, ya bagaimana masalah pesawat saya, apa kamu sudah konfirmasi, sebentar lagi saya mau terbang ke Jerman."
"Sudah beres semua pak, seperti apa yang bapak mau."
"Kamu ikut ya, bantu saya di sana nanti, bawa paspor nggak?"
"Bawa pak, karena paspor selalu ada di dompet saya."
"Ya sudah, berangkat sekarang."
Madu tiba - tiba mematung karena begitu bahagia dia bisa menemani pimpinannya itu. Owen terus memanggil Madu, namun Madu seperti sedang bengong.
"Madu... heii kamu bengong ya, ayo jalan, diem aja dari tadi saya panggil."
"Ahh iya pak maaf."
"Inget ya kalau kamu kerja sama saya, tolong fokus, nggak usah mikirin macem - macem." ucapnya dengan tegas
"Baik pak, sekali lagi maaf."
"Ya sudah kamu bawain semua dokumen ini dan flashdisk warna orange itu, inget jangan sampai ada yang tertinggal."
"Siap Pak Owen"
Sesampainya di bandara, Owen dan Madu pun berangkat menuju Jerman, untuk bertemu klien besar. Sebelum pesawat tinggal landas, Owen seperti biasa menelpon Audrey, untuk sekedar memberitahukan kabar.
Menelpon Audrey=====
"Halo sayang, aku mau berangkat ke Jerman dulu ya, masalah yang sekarang kita hadapi, jangan kamu jadiin beban ya, mas harap kamu pulang, nggak usah balapan, oh ya sudah ya, nanti aku telepon lagi."
Telepon berakhir ====
"Pak Owen, itu istrinya ya, Ibu Audrey."
"Ya, saya sangat sayang sama dia, ya tetapi saat ini sedang ada sedikit masalah."
"Hmm, Pak Owen kalau berkenan cerita aja, barangkali saya bisa bantu untuk meringankan beban bapak."
"Ahh, cuman masalah sepele, saya dan istri saya itu belum bisa memiliki keturunan, saya sich tidak pernah masalahin, tetapi tante saya yang terlalu ikut campur, istri saya pergi tertekan, khawatir nanti dia balapan lagi."
"Balapan! Maksudnya bagaimana ya pak. Apa ibu Audrey pembalap, setahu saya menurut kabar, Ibu Audrey, merupakan salah satu CEO juga di salah satu perusahaan besar."
"Ya, istri saya CEO Arta Gemilang, salah satu anak perusahaan saya juga, rencananya sebentar lagi mau saya tarik ke sini aja, karena perusahaan ini sudah semakin besar, saya cukup kewalahan juga mondar mandir ngawasin semuanya."
"Hmm, wah Ibu Audrey pasti bersedia ya pak, membantu Golden Grup."
"Ya semoga saja nanti dia berkenan."
Keheningan begitu tercipta saat pesawat sudah lepas landas, Owen tertidur dengan wajah yang begitu sempurna. Aroma parfum yang mengelilingi kabin pesawat memasung sebuah suasana yang begitu menggoda hasrat.
"Hmm, Pak Owen, beruntung sekali, wanita yang saat ini menjadi istri bapak, andai saja suatu hari saya bisa mendapatkan jodoh seperti bapak, saya pasti sangat luar biasa bahagia."ucapnya lirih dengan memandang intens wajah Owen dari sisi kejauhan.
"Astaga apa sich yang ada di dalam pikiran gue, ya ampun, Madu loe harus sadar, Pak Owen itu udah punya istri, jadi nggak usah cari masalah." ucap Madu sembari menepuk pipinya.
Menuju rumah Cleo, jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Audrey yang saat ini pikiran dan hatinya tidak tenang. Selalu teringat akan omongan Tante Sonya, yang meminta Owen menikah lagi untuk keturunan Johnson
"Drey udah sich jangan nangis gitu ah, loe masa nggak percaya sama suami loe, nggak mungkin dia mau dengerin apa kata tantenya lah."
"Cleo, loe nggak ada di posisi gue, asli gue sampe nggak berangkat kantor, Owen pasti ngira gue ke kantor, apa gue balapan lagi aja ya, ngilangin stress."
"Aishh... apaan sich loe, yang ada nanti gue yang disemprot, loe kan udah janji sama dia, buat nggak balapan lagi."
"Ya udah kalau loe nggak mau nganterin, gue berangkat sendiri."
"Drey please udah lho, jangan kayak gini, gue selalu ada buat loe Drey, gini deh, gimana kalau loe cari dokter terbaik, diskusi deh sama dia, buat pencakokan rahim, ya tetapi efeknya bakalan satu tahun loe harus bener - bener rehat."
"Nanti aja, gue lagi males pulang, lagian juga dia lagi ke Jerman, bisa satu minggu lebih, namanya pencakokan itu nggak mudah Cleo, pemulihanya aja kan setahun, entah nanti bener - bener langsung jadi apa gagal, mana gue tahu."
"Drey, gue yakin dia pasti setuju deh, secara duit laki loe aja gila ya kan nggak berseri, apalagi urusan istrinya."
"Nggak tahu lah ya, tetapi batin gue, kayak ngerasa nggak enak banget, seandainya nanti memang Tante Sonya tetap maksain, gue bisa apa."
"Nggak mungkin Drey, yang tahu jiwanya Pak Owen kan loe, semua keputusan ada di tangan suami loe."
"Dah deh, pokoknya selama dia belum balik dari Jerman, gue mau nginep di sini aja."
"Heh, entar kerjaan loe di kantor giman, bukannya gue nggak mau loe di sini, tar nasip kantor nggak ada loe gimana, loe kan CEO juga Drey."
"Gue dah ijin, kalau gue mau cuti satu bulan dulu, dan tolong loe jangan kasih tahu Owen, gue ada di sini ya."
"Drey, loe lupa laki loe itu orang berpengaruh, dia kan bisa lacak kita berdua, gimana sich."
"Bodo amat lah, ngantuk gue."
Audrey pun tertidur dan mengakhiri pembicaraan===
"Yah dia tidur, kebiasaan dasar kebo." ucap Cleo yang melihat Audrey sudah pulas tertidur