Dua tahun berlalu, hubungan Owen dan Audrey semakin hangat, mereka telah melalui dua kali bulan madu, namun kebahagiaan mereka tidak berangsur lama saat datangnya Tante Sonya. Sedan merah mewah yang terparkir di rumah itu, terlihat jelas Tante Sonya datang. Owen yang saat itu sedang bersiap berangkat menuju kantornya dikejutkan dengan kedatangan Tante Sonya.
"Haii keponakan tante yang ganteng, Owen... wah kamu ini kayak papah kamu ya sama persis." ucapnya sembari memberikan kecupan pipi di wajah keponakan tersayangnya itu
"Halo Juga Tante Sonya, ahh bedalah papa itu penuh kharisma."
"Hmm by the way mana istrimu, tante belum ketemu, maaf ya tante nggak bisa hadir lho, soalnya tante sibuk banget urus kantor cabang."
"It's okay tante, udah lewat juga kan. Istriku nanti juga keluar dia lagi mandi sepertinya."
Audrey pun keluar dengan balutan baju blazer yang begitu cantik, dengan dalaman kemeja berwarna putih, langkahnya melambat dan memberikan salam hangat pada Sonya.
"Heii... ini Audrey yach, wah kamu cantik juga ya aslinya."
"Hmm makasih ya tante, salam kenal ya tante."
"Duduk, tante mau bicara hal penting dan tidak bisa ditunda, ini semua demi masa depannya Owen."
"Tante mau bicara apa memangnya, Owen bisa urus masa depanku sendiri."
"Hmm Owen, kamu tuch ya jangan lupa, tante ini yang mengurus kamu dari kecil, saat papa dan mama kamu jarang di rumah, jadi dengerinlah tante dulu Owen."
Tangan Audrey menggengam erat Owen dan memberikan tatapan lembut penuh isyarat kata untuk tidak membantah Tante Sonya.
"Ya sudah tante mau bicara apa! Owen hanya punya waktu sepuluh menit, karena mau ke kantor dan langsung mau Jerman."
"Hmm okay, jadi bagaimana kamu udah tujuh tahun kan menikah."
"Ya terus kenapa memangnya."
"Owen kamu itu harus punya penerus, semua harta kamu yang begitu melimpah ini, harus ada penerusnya sayang."
"Hmm masalah itu Owen serahkan sama yang maha kuasa aja tante, toh kita sudah berusaha, sudah cek di antara aku dan Audrey tidak ada masalah, nanti juga Tuhan kasih." jawabnya dengan dingin
"Owen... kamu ini gimana si, waktu tujuh tahun itu bukan waktu yang main - main, kalau kamu terus santai nggak memikirkan penerus mau jadi apa kelanjutan keluarga Johnson sayang. Tante sudah putuskan untuk mencarikan madu untuk Owen."
"Apa! jawabnya dengan kesal sembari menjatuhkan sendoknya. Maaf tante ya, ini urusan rumah tanggaku, biar aku yang mengurus, aku nggak pernah masalahin, kapan Owen dan Audrey punya keturunan, paitnya jika memang Tuhan nggak kasih Bima keturunan, masih ada cara lain adopsi anak."
"Eh.. Owen, mana bisa dan tidak ada kamus keluarga Johnson itu gagal dalam memiliki keturunan ya. Kamu yakin istri kamu bener - bener sehat kandungannya."
Mendengar ucapan Tante Sonya membuat hati Audrey seperti tertusuk duri, dia beranjak dari kursinya dan kembali ke dalam kamar. Owen yang melihat wanita yang disayanginya begitu sedih karena mendengar ucapan Tante Sonya, menahan langkah Audrey.
"Audrey... diem kamu tenang aja, semua keputusan ada di tangan aku ya, kamu tenang aja."
"Maaf, Tante Sonya, aku harus segera ke kantor, aku ada rapat pagi hari ini, silahkan kalian lanjutkan obrolan."
"Eh... eh kamu ini nggak sopan banget ya sama yang lebih tua Audrey. Tante ini selaku wakil orang tua Owen, kamu itu hanya orang luar, kalau memang kamu udah nggak bisa kasih keturunan buat apa Owen, untuk apa Owen mempertahankan kamu."
"Cukup tante, jangan buat kesabaran aku ilang." jawabnya sembari menggenggam erat tangan Audrey
"Udah stop, lebih baik kamu jujur, kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi, kalau sejak lahir aku sudah punya kelainan sindrom Mayer Rokitansky, di mana sudah tidak ada rahim sejak aku dilahirkan, jika memang seorang penerus benar - benar dibutuhkan di keluarga ini, aku sampai kapan pun tidak akan bisa memberikanmu keturunan."
"Apa kamu bilang! Kamu punya sindrom itu, gila ya kamu, kamu tahu nggak, Johnson harus punya penerus, Owen tante mau ya kamu segera cari istri baru yang benar - benar bisa kasih keturunan buat kamu." jawab Tante Sonya
"Diam semuanya aku bilang! Tante Sonya, Owen sampai kapan pun tidak akan pernah menikahi wanita lain, aku tahu, tante sudah mengurusku sejak kecil, aku ucapkan terima kasih, tetapi bukan berarti tante bisa mengatur aku, Golden Grup besar dan begitu megah semua berkat kerja keras aku, bukan papa, papa hanya membangun satu perusahaan, tetapi yang mengembangkan semua aku tante, jadi tante silahkan pergi dari rumah aku, atau apa perlu aku panggilkan satpam untuk membawa tante keluar."
Plakkkkk===== tamparan keras mendarat ke wajah Owen pagi itu
"Kurang ajar kamu ya Owen, tante ini udah anggap kamu seperti anak sendiri, tante rawat kamu dengan rasa kasih sayang, lalu kamu semudah itu mengusir tante, di mana akal sehat kamu, seumur hidup tante mengurus kamu sampai sebesar ini, kamu belum pernah melawan sama tante, ini pasti pengaruh dari Audrey kan."
"Cukup tante! Jawab Audrey dengan tegas. Aku ini tidak pernah mengajakarkan Owen hal yang tidak baik ya tante, kalau memang tante mau memaksakan Owen untuk menikah lagi, silahkan, aku juga sadar diri, aku banyak kekurangan."
"Ya haruslah sadar diri, apa jangan - jangan kamu cuma mau menguasai harta Owen gitu ya."
"Cukup Tante Sonya, aku bilang cukup." jawabnya dengan tegas. Satpam tolong masuk dan bawa keluar tante saya. Pinta Owen pada salah satu satpamnya.
Sementara itu Audrey, dengan cucuran air mata, bergegas pergi meninggalkan Golden Mansion. Tanpa berpamitan dengan Owen. Audrey mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Cleo sahabat karibnya.
"Hal Cleo... Loe di rumah nggak hari ini okay gue otw sekarang yah."
Telepon pun berakhir =====
Owen mengejar Audrey namun terlambat Audrey sudah pergi dengan mobilnya. Walaupun dia baru dua bulan ini belajar menyetir.
"Akhhhh.... Audrey, kamu jangan tinggalin aku lagi."
"Kenapa Tuan Owen nggak kejar Mbak Audrey nya."
"Saya ada meeting Naryo. Audrey lagi terbawa emosi, biarin dulu nanti juga pulang sendiri, toh mobilnya udah saya taro GPS, jadi tenang aja. Dia palingan ke arena balapan."
"Hah apa Tuan balapan, siapa yang balapan."
"Istri saya, saya hafal kalau dia sudah marah, dia pasti luapin emosinya ke arena balapan."
"Apa perlu saya susul Mbak Audrey nya, dari pada nanti kenapa - napa."
"Nggak usah, nanti juga dia kembali sendiri, semua karena Tante Sonya."
"Haduhh tadinya juga saya dah ngerasa Bu Sonya pasti bikin masalah, kan dia merasa jadi ibunya Tuan Owen"
"Ya udah, kita jalan dulu, ada rapat pagi lanjut langsung terbang ke Jerman. Jalan Naryo, saya nggak mau telat."
"Siap Tuan Owen."