4. Oswald Group

1513 Words
“BAGUS! Setelah sok menjadi Pahlawan untuk Gelandangan ini, kamu masih berani membawanya menginjakkan kaki di Rumah ini!” Sarkas Ibu tirinya yang melipat tangannya dengan angkuh. “Kakak, aku merasa heran dari mana kamu mendapatkan uang untuk pengobatan Pria buruk rupa itu! Apa kamu mencuri uang Ibu Kak?” Tuduh Meira. “Enggak Mei, sungguh aku nggak mengambil uang Ibu. Aku berani bersumpah!” Sanggah Cinta dengan cepat. “Lalu dari mana kamu mendapatkan uang untuk Sampah ini?!” Tuding Ibu tirinya. “T-ta meminjam uang dari Ibunya Rena Bu.” Bohong Cinta yang agak tergagap karena takut ketahuan. “Halah! Bohong Bu, paling juga uang dari hasil jual diri di Pasar tuh Bu.” Cibir Meira yang tersenyum mengejek. Cinta hanya bisa menatap Adik tirinya itu dengan pandangan tak percaya, Kenapa dia begitu tega menuduhku seperti itu? “Untuk masalah ini Ibu akan berusaha mempercayaimu, tapi jangan sekali-kali melibatkan kami dalam urusan hutangmu. Jika sampai ada Orang datang ke Rumah untuk menagih hutangmu, bersiap-siaplah Ibu akan benar-benar menghukummu dengan berat!” Ancam Ibu tirinya. “Enggak Bu, Ta jamin.” Angguknya dengan Yakin. “Sekarang kamu masuk!” Titah Ibu tirinya dengan nada keras pada Cinta. “Dan kamu GEMBEL, cepat pergi dari Rumahku dan jangan injakkan kaki kotormu lagi di Sini!” Lanjut Melisa mengusir Ale dengan kasar. Ale sendiri hanya diam dengan wajah datar dan tenang, tapi tangannya terlihat mengepal dengan erat. Dalam hatinya dia sangat geram dengan sikap congkak Ibu dan Adik Cinta, andai mereka bukan Keluarga dari Gadis penolongnya mungkin Ale sudah memberi mereka pelajaran. “JANGAN BU, Ta mohon!” Seru Cinta dengan wajah memohon. “IBU TIDAK MAU, IBU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAH BURUKNYA ITU! DIA PASTI AKAN MEMBAWA KESIALAN DI RUMAH INI.” Kekeh Ibu tirinya. “Benar Bu, melihat wajahnya saja sudah membuatku jijik dan ingin muntah.” Sahut Meira yang bergidik ngeri. “Jangan Bu, Ta mohon! Dia masih belum sembuh dan nggak punya siapapun di sini. Ta mohon Bu...” Mohon Cinta yang menekuk kedua lututnya dan langsung memeluk kaki Ibunya dengan wajah putus asa. “Ta janji akan melakukan apapun, asalkan Ibu mau mengizinkan dia tinggal di Rumah kita.” Lanjutnya yang terus memohon, tapi Ibunya malah melepas paksa tautan tangan Cinta dari Kakinya dengan kasar hingga Cinta jatuh terduduk dengan wajah pias. Sedangkan Ale semakin mengepalkan tangannya, kini dia tahu kenapa Cinta harus bekerja di Usianya yang masih sangat muda padahal keluarganya cukup kaya. “BAIK, tapi semua itu tidak gratis...” Sahut Ibu tirinya yang tersenyum jahat dalam hatinya. “Mulai besok Ibu akan memberhentikan Bi Anik dan kamu yang akan menggantikan semua pekerjaannya, INGAT! Tak terkecuali.” Lanjutnya yang mengajukan sebuah syarat pada Cinta. Sedangkan Di sisi lain, Cinta nampak terduduk dengan lemas di lantai. Sungguh persyaratan yang Ibu tirinya ajukan sangat berat, bukan dia tidak sanggup mengerjakan semuanya tapi jika Bi Anik berhenti bekerja. Bagaimana beliau akan mendapat uang untuk menghidupi dirinya, Suaminya sudah lama meninggal. Dia tidak tega memutus mata pencaharian Bi Anik yang sudah dia anggap seperti Ibunya sendiri. “Tapi Bu, kasihan Bibi... Kalau dia nggak kerja, bagaimana bisa mendapat uang untuk makan.” Lirih Cinta dengan wajah bingung. “Bibi bersedia Nyonya...” Seru Bi Anik yang keluar dari dalam Rumah. “Bibi?” Lirih Cinta yang menatap Bi Anik dengan pandangan tak percaya. “Nona nggak usah khawatir, kebetulan... Kemarin Anak Bibi menghubungi Bibi. Dia meminta Bibi untuk ikut dengannya tinggal di Kota...” Bi Anik mendekati Cinta dan membantunya berdiri. “Tapi Bi?” Cinta terlihat keberatan mendengar jawaban Bi Anik. “Sebenarnya sudah lama Desi meminta Bibi ikut ke Kota tinggal bersamanya dan juga Suaminya, tapi Bibi masih berat untuk meninggalkan Nona demi wasiat terakhir mendiang Ibu Nona. Tapi sekarang Bibi sudah lega, tugas Bibi di sini sudah selesai untuk menjaga Nona. Bibi yakin Nona gadis yang kuat seperti mendiang Ibu Nona, Bibi percaya sekarang Nona bisa menjaga diri Nona sendiri.” Jelasnya pada Cinta yang terlihat menangis menatapnya. “Bibi... Jangan tinggalin Ta sendiri!” Pinta Cinta yang menangis memeluk Bi Anik, Cinta merengek dan meraung seperti Anak kecil yang takut di tinggal pergi Ibunya. Sejak kecil hanya Bi Anik yang selalu ada di Sisinya, menjadi tameng dirinya saat Ibu dan Adik tirinya menindasnya. Kini jika Bi Anik pergi siapa lagi yang akan menjaga dan melindunginya. “Bibi janji akan terus mengabari Nona, lagian Bibi sudah tua. Bibi lelah ingin istirahat, karena itu Bibi memutuskan tinggal bersama Cucu-cucu Bibi di Sana.” Tenang Bi Anik yang mengelus punggung Cinta dengan sayang. Sedangkan Ibu dan Adik tirinya Cinta hanya melihat pemandangan itu dengan raut wajah jengah. *** Setelah menjelang sore Cinta selesai membersihkan bangunan kecil di Belakang rumahnya yang di gunakan sebagai Gudang, Ibu tirinya Cinta menyuruh Ale untuk tinggal di Gudang belakang atau Ale tidak akan di izinkan untuk tinggal di Rumahnya. Cinta dengan terpaksa mengiyakan, dia tidak punya pilihan lain dari pada membiarkan Ale tidur di Jalanan dalam kondisinya yang masih belum sepenuhnya sehat. “Maafkan aku Al, aku hanya bisa memberi tempat tinggal yang tidak layak seperti ini.” Ucap Cinta yang selesai merapikan kasur lipat sebagai tempat tidur Ale. Ale hanya diam mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang luasnya hanya sepetak, hanya terdapat satu ruangan dan kamar mandi kecil. “Tidak masalah, ini sudah cukup...” Jawab Ale yang melihat ruangan ini sudah terlihat rapi dan bersih, tidak seperti sebelumnya yang kotor dan berantakan. “Syukurlah kalau kamu nggak keberatan.” Cinta terlihat menghela nafas lega. “Maaf, sudah membuatmu dalam masalah. Karena aku... Kamu harus mengalami semua ini.” Ucap Ale dengan penuh penyesalan, dia ingat bagaimana Cinta memohon dan merendahkan harga dirinya hanya untuk bisa menolong dan mempertahankannya. Bagaimana Cinta yang menangis karena harus kehilangan Bi Anik, membuat Ale sangat bersalah. “Ini bukan pertama kalinya untukku Al, jadi kamu nggak perlu merasa bersalah.” “Kenapa?” Tanya Al yang menatap lekat Cinta, dia penasaran bagaimana bisa ada Seseorang memiliki hati yang begitu baik seperti Cinta. Baginya Cinta seperti malaikat berwujud manusia, bukan hanya wajahnya yang cantik tapi juga hatinya. “Kenapa apanya?” Tanya balik Cinta dengan bingung. “Kenapa kamu sangat baik padaku?” “Oh... Itu...” Cinta terlihat manggut-manggut dengan pandangan menerawang. “Aku seperti melihat diriku sendiri, saat kita berada di Titik terendah dalam hidup kita... Saat kita berharap ada seseorang datang untuk menolong kita, tapi tak ada satu pun yang datang mengulurkan tangannya untuk kita.” Mendengar ucapan Cinta, membuat Ale langsung tertegun. Sebenarnya seberapa berat beban hidupmu? Sebesar apa penderitaanmu? Hingga kamu bisa sedewasa ini di usiamu yang masih sangat muda. Batin Ale yang merasa kagum akan sosok Gadis muda itu. “Aku nggak bisa membayangkan jika aku berada di Posisimu sekarang, mungkin aku akan memilih mati saja...” Lanjut Cinta berkata sembari menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan air matanya. “Kamu istirahatlah Al, aku akan menyiapkan makan malam dulu.” Pamit Cinta yang beranjak dari Tempatnya. “Terima kasih.” Ucap Ale yang memegang pergelangan tangan Cinta, sedangkan Cinta hanya tersenyum mengangguk dan berlalu pergi. Bibi tidak usah khawatir, kini akulah yang akan menjaga dan melindungi Cinta. Batin Ale saat teringat pesan Bi Anik yang menitipkan Cinta padanya. *** Di Tempat lain, di Perusahaan besar OSWALD GROUP. Perusahaan manufaktur yang bergerak dalam Industri tekstil dan Pakaian, Perusahaan besar itu menciptakan banyak Brand Fashion yang terkenal dan mendunia dari mulai kalangan Anak-anak hingga Tua, maka tak heran Perusahaan ini sudah mempunyai banyak cabang yang tersebar di Wilayah Indonesia dan Luar negeri. “Bagaimana hasil penyelidikan Anak buah yang kau sewa, apa sudah membuahkan hasil?” Tanya William Robert Oswald yang merupakan wakil Direktur dari Perusahaan OSWALD GROUP. “Maaf Bos, Mereka belum menemukan titik terang. Mereka bilang kemungkinan selamat sangatlah kecil, mengingat bagaimana kondisi jasad mendiang Tuan Alex.” Jawab Asistennya yang juga merupakan kaki tangannya. “Kau benar.” Angguk William yang menyadarkan punggungnya pada Kursi kebesarannya dengan gayanya yang arogan. “Lalu, apa langkah selanjutnya yang akan Bos lakukan? Sampai detik ini Tuan Robert masih belum mengeluarkan keputusannya.” Tanya Pria yang usianya sudah memasuki kepala Tiga itu. “Kakek Tua itu benar-benar keras kepala...” Geram William. “Tunggu saja, cepat atau lambat Kakek Tua itu akan menyerah! Bagaimana keadaan di sana?” Lanjutnya bertanya. “Keadaannya masih sama Bos, banyak reporter yang masih datang untuk mendapat berita dan banyak juga karangan bunga dukacita yang masih terus berdatangan...” “BUKAN ITU BODOH!” Potong William dengan kesal. “Lalu apa Bos?” Tanya Asistennya dengan nada takut. “Sudahlah, keluarlah!” Titah William yang mengibaskan tangannya pada Leo Asistennya. Leo segera membungkuk, lalu segera keluar dari Ruangan itu. Tapi langkahnya terhenti karena terdengar panggilan dari Bosnya, “TUNGGU!” “Apa ada yang lain lagi Bos?” Tanyanya. “Lusa Chris akan tiba di Indonesia, jangan lupa untuk menjemputnya! Dan juga... Pastikan semua berjalan sesuai dengan rencana!” Titah William. “Baik Bos, saya akan pastikan semua Wartawan sudah standby di Posisinya masing-masing.” Angguk Asistennya. “Bagus!” Seru William yang tersenyum senang, lalu mengibaskan tangannya lagi menyuruh Asistennya keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD