Sudah satu bulan berlalu sejak Ale tinggal di Rumah Cinta, keadaan Ale sudah sepenuhnya pulih meskipun bekas luka bakar pada wajahnya tetap tak bisa pulih dan membuat wajahnya cacat. Sedangkan Cinta sudah kembali pada rutinitasnya lagi, meskipun sekarang pekerjaannya lebih berat karena harus menggantikan tugas Bi Anik yang kini sudah pindah ke Kota.
“Ta, jangan lupa Tugas dari Pak Jono!” Ucap Rena pada Cinta saat mereka berada di Parkiran sekolah.
“Jangan lupa kasih contekan maksudnya!” Cibir Eka yang juga merupakan teman satu kelas Cinta.
“Tau aja kamu Ka.” Balas Rena yang terkekeh sembari menuntun sepedanya.
“Udah selesai, kalau mau ambil di Rumah Ren.” Sahut Cinta yang juga sedang menuntun sepedanya keluar dari Sekolah.
Mereka berjalan berempat beriringan sembari menuntun sepeda masing-masing, mereka selalu pulang bersama karena posisi Rumah mereka yang searah.
“Eh Ta, kemarin kamu di cariin Boy.” Ucap Dewi pada Cinta.
“Boy siapa Wi?” Tanya Cinta dengan bingung.
“Ya ampun Ta, makanya jangan kebanyakan baca buku pelajaran mulu. Itu loh... Preman sekolah yang biasanya ngejar-ngejar kamu itu, Anak Taruna Bangsa.” Sahut Eka dengan cepat.
“Bukannya... Namanya Erwin ya?” Tanya Cinta dengan ekspresi yang masih bingung.
“Memang, tapi Anak-anak memanggilnya Boy... Si Anak jalanan.” Sahut Eka.
“Kenapa bisa begitu?” Tanya Cinta dengan heran.
“Tentu saja karena dia urakan Ta.” Sahut Rena dengan cepat.
“Meskipun dia urakan tapi ganteng kok orangnya.” Timpal Dewi yang terlihat mengagumi sosok Erwin, membuat Ketiganya bingung. Sosok Dewi yang lemah lembut malah menyukai sosok Erwin yang urakan.
“Jangan Ta! Mending sama Rangga aja, sudah aman dan terjamin keasliannya.” Celetuk Rena, Cinta hanya menggelengkan kepalanya dengan heran pada Teman-teman yang selalu menjodohkannya dengan Rangga.
“Memang kamu kira Rangga itu barang Ori Ren...” Celetuk Eka.
“Tapi ya... Rangga memang sempurna. Udah baik, pintar, ketua OSIS, juara kelas terus dan pastinya ganteng lagi.” Lanjutnya berkata dengan wajah berbinar.
Di sisi lain, Meira dan Kedua temannya baru keluar dari kelas.
“Eh, Mei... Tuh ada Kak Rangga.” Tunjuk salah satu teman Meira pada sosok Rangga, Pria tampan Idola sekolah yang baru keluar dari Ruang Guru.
Mata Meira terlihat berbinar ketika melihat Rangga, lalu dia segera menghampirinya.
“Kak Rangga.” Sapa Meira yang langsung bergelayut manja pada lengan Rangga.
“Ada apa Mei?” Tanya Rangga dengan raut wajah yang terlihat tidak nyaman, tapi tidak berusaha melepas rangkulan tangan Meira.
“Kak Rangga mau pulang ya? Aku nebeng ya kak? Hari ini aku nggak ada yang jemput.” Pinta Meira dengan nada manja.
“Bukannya... Kalau pulang biasa bareng Kedua teman kamu itu Mei?”
“Ah... Itu, mereka sudah ada yang jemput. Iyakan Git? Lin?” Jawab Meira sedikit tergagap, lalu memberi kode pada Kedua temannya lewat kedipan mata.
“Iya Kak Rangga.” Jawab Keduanya dengan kompak.
“Tapi sori Mei, sekarang aku ada urusan jadi nggak bisa memberi kamu tumpangan...” Sahut Rangga yang berusaha melepas tangan Meira di Lengannya saat melihat Cinta dan Teman-temannya.
“Sori banget ya Mei, aku duluan.” Lanjutnya berpamitan dan segera berlari menghampiri Cinta, tentu saja membuat Meira sangat kesal. Lagi-lagi Pemuda yang di sukainya itu mengacuhkan dan meninggalkannya demi Kakak tirinya.
“Mending nyerah aja Mei, udah jadi rahasia umum kalau Kak Rangga dari dulu suka sama Kakak tirimu.” Ucap Gita teman Meira.
“Iya Mei, kalau di bandingkan dengan Kak Cinta. Jelas... Cewek-cewek seperti kita akan kalah saing, udah pintar, cantik dan juga Kak Cinta itu idola para Cowok-cowok di sini.” Sahut Linda membenarkan ucapan Gita.
Tentu saja membuat Meira menjadi sangat kesal karena semua orang selalu membandingkan dia dengan Kakak tirinya itu.
“Kita lihat saja! Aku nggak akan biarin mereka bersama, aku pasti bisa merebut Kak Rangga dari tangan Kak Cinta.” Geram Meira yang mengepalkan tangannya erat.
Sedangkan Di Sisi lain nafas Rangga terlihat ngos-ngosan karena berlari mengejar Cinta.
“Ada apa Ngga?” Tanya Cinta.
“Mau pulang Ta?”
“Enggak, mau nyangkul.” Celetuk Rena dengan cepat, membuat Cinta berusaha menahan tawanya.
“Kamu main sambar aja Ren...” Sahut Eka.
“Ayo kita tunggu di Gerbang depan aja, jangan ganggu mereka!” Lanjutnya mengajak Rena dan Dewi berjalan lebih dulu.
Sedangkan Rangga terlihat salah tingkah karena di tatap Cinta secara intens, siapa yang tidak gugup kalau di tatap Pujaan hatinya. Apalagi saat melihat senyum Cinta yang begitu cantik, membuat hati Rangga jadi berbunga-bunga.
“Apa ada hal yang penting Ngga?” Tanya Cinta setelah melihat Ketiga temannya menjauh.
“Ah, itu... Bagaimana kalau hari libur depan kita ke Pantai?” Ajak Rangga seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Akhir-akhir ini aku jarang lihat kamu di sana, biasanya setelah pulang sekolah kamu selalu melihat sunset bersama Teman-teman kamu.” Lanjutnya berkata saat melihat Cinta hanya tersenyum ke arahnya.
“Aku ada keperluan, jadi langsung pulang. Tapi kok kamu tau Ngga?” Tanya Cinta dengan heran.
“Emm... Itu, aku ada perlu sama kamu jadi sepulang sekolah aku mencarimu ke sana.” Bohongnya, tentu saja membuat Cinta mengernyit. Kalau ada perlu bukankah di Sekolah mereka selalu bertemu, meskipun tidak satu kelas.
“Lihat nanti aja ya Ngga, nanti kalau nggak ada kerjaan aku ke sana...”
“Aku duluan, kasihan nanti mereka nunggu lama.” Pamit Cinta, tentu saja membuat Rangga sedikit kecewa.
“Hati-hati ya!” Rangga tersenyum sembari melambaikan tangannya dengan antusias pada Cinta, membuat Sang empunya terkekeh dengan tingkah Rangga.
“CIE CIEEEEE...” Kompak Ketiga temannya menggoda Cinta.
“Yang barusan di samperin Ayang.” Goda Dewi.
“Tarik Sis.” Seru Eka yang ikut menggoda Cinta.
“Ada apa dengan Cintaku? Sulit untuk aku ungkap semua.” Goda Rena yang menyanyikan sebuah lagu.
“Apaan sih kalian?” Cinta terlihat malu dan salah tingkah karena Ketiga nya getol menggodanya.
“Ayo pulang nanti keburu malam!” Ajak Cinta yang langsung menaiki sepedanya untuk mengalihkan perhatian mereka, membuat Ketiga temannya terbahak melihat tingkah lucu Cinta.
***
Malam telah tiba, seperti biasa setelah menyiapkan makan malam untuk Keluarganya. Cinta memilih makan malam bersama dengan Ale di Gudang belakang, lalu lanjut belajar dan mengerjakan tugas sekolah di sana untuk menemani Ale yang seharian selalu dia tinggal sendirian.
“Apa kamu selalu seserius ini?” Tanya Ale yang mengelus kepala Cinta, lalu menyisir rambut Cinta yang panjangnya di bawah pundak dengan jemarinya.
Membuat Cinta yang sedang menunduk karena sedang menulis tugas sekolah diam-diam tersenyum tanpa bisa Ale lihat, “Mungkin hanya kebiasaan, sejak kecil nggak pernah ada yang mengajariku belajar. Jadi aku harus fokus dan berkonsentrasi untuk bisa mengerjakan dan memahami segala sesuatu yang aku kerjakan sendiri...”
“Entahlah... Mungkin karena itu.” Lanjutnya berkata seraya mengingat masa kecilnya dengan raut wajah sendu.
Tapi saat rambut Cinta yang tadinya terurai, kini sudah nampak terikat dengan rapi. Seketika membuat Cinta tersenyum merona, tentu saja Ale lah pelakunya yang diam-diam mengikat rambutnya tanpa dia sadari.
“Tidurlah, biar aku yang melanjutkan!” Titah Ale yang membuat Cinta seketika menoleh.
“Kalau kamu yang mengerjakan semua tugas sekolahku, bagaimana aku bisa jadi pintar Ale?” Sahut Cinta dengan mata membeliak tak percaya.
Sejak dia membawa Ale pulang, Ale selalu membantunya mengerjakan tugas sekolahnya. Bahkan Ale menuliskan catatan penting mata pelajaran yang kurang dia kuasai, meskipun semua yang di lakukan Ale membuat semuanya jadi mudah tapi Cinta sendiri merasa tidak enak hati karena terus merepotkan Ale.
“Sekalipun kamu jadi bodoh aku akan terus menempel padamu, bahkan kalau perlu aku akan mengikatmu untuk terus berada di sisiku...” Jawab Ale dengan santai tapi justru membuat wajah Cinta memerah.
Meskipun dia mengatakan dengan wajah kaku dan datarnya, tapi kenapa terdengar begitu manis?
Batin Cinta.
“Sudah sana, cepat tidur! Aku bosan seharian hanya tidur, jadi biarkan aku membantumu.” Ale dengan cepat mengambil alih pensil yang di pegang Cinta.
“Terima kasih... Aku balik dulu ke Kamar...” Pamit Cinta dengan pasrah.
“Selamat malam Ale.” Ucap Cinta yang tersenyum dengan cantiknya sebelum keluar dari tempat Ale.
“Kenapa Gadis kecil itu terlihat sangat cantik saat tersenyum? Membuat jantungku tidak aman saja.” Monolog Ale setelah Cinta menutup pintu.
Setelah satu jam berkutat dengan tugas sekolah Cinta, Ale segera membereskan semua dan memasukkan semua buku-buku ke Dalam tas sekolah Cinta. Tanpa Ale sadari di luar hujan turun dengan derasnya, “Pantas saja, udaranya sangat dingin.”
Ale tidur dengan tubuh menggigil karena dia hanya menggunakan selimut kain tipis pemberian dari Cinta, dia bahkan sampai tidur meringkuk seperti bayi karena tidak tahan dengan udara dingin yang merasuk hingga pori-porinya. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu, membuat Ale segera bangun dengan tubuh menggigil.
Siapa? Apa aku salah dengar?
Batin Ale yang tidak yakin dengan suara ketukan pintu itu, pasalnya jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Tiba-tiba saja dia bergidik ngeri, “Apa jangan-jangan hantu?” Monolognya dengan ekspresi horor.
Tapi karena suara ketukan pintu itu terus terdengar, Ale segera bangkit dan memeriksanya dengan raut wajah takut. Ale membuka pintu kamarnya dengan pelan dan hati-hati, lalu menyembulkan kepalanya keluar.
“ARGGGHHHH... HANTU!”
Pekik Ale yang terkejut saat melihat Seseorang berdiri memakai mantel jas hujan dengan perut yang terlihat menggembung besar.
Sedangkan Sosok yang di takuti Ale hanya terbahak melihat tingkah lucu Ale yang ketakutan, dia baru tahu kalau Ale takut dengan hantu hingga berteriak seperti itu.
“Ini Cinta Al.” Ucapnya setelah berhasil meredakan tawanya.
“Kenapa kamu di sini tengah malam begini?” Tanya Ale yang terlihat menormalkan ekspresinya kembali ke mode datar dan cool.
“Aku hanya ingin memberikan ini.” Ucap Cinta yang mengeluarkan selimut yang dia peluk dari dalam mantel, dia juga tidak mengungkit tentang kejadian tadi karena Cinta tahu Ale pasti merasa malu.
“Lalu kamu?” Tanya Ale yang menerima selimut dari Cinta dengan perasaan haru, meskipun wajahnya terlihat datar.
“Tenang aja, aku ada kok. Ini selimut baru nggak pernah aku pakai. Hadiah ulang tahun dari Rena...” Jelasnya.
“Aku buatkan kamu teh hangat ya, kamu pasti nggak terbiasa dengan musim penghujan di Tempat ini.” Ucap Cinta lagi yang merasa kasihan saat melihat bibir Ale yang membiru karena kedinginan.
“Tidak usah! Aku baik-baik saja...” Cegah Ale saat Cinta hendak beranjak pergi.
“Kembalilah tidur! Besok kamu masih harus kerja.” Lanjutnya menyuruh Cinta kembali, membuat Cinta mengangguk pasrah lalu pergi dari hadapan Ale.
Apa Gadis kecil itu juga melakukan ini pada Pria lain? Kalau iya... Ingin aku karungin saja Gadis kecil itu, biar dia tidak berbuat baik pada Pria lain.
Pikir Ale yang merasa sedikit kesal.