“Kapan kamu pulang?” Tanya Melisa pada Heri Adiknya.
“Semalam.” Heri berkata dengan raut wajah acuh, lalu segera duduk dan mengambil sarapannya.
“Sebenarnya kamu itu kerja apa Her? Selalu pulang dan pergi seenaknya, bahkan setiap kali pergi kamu sampai tidak pulang berhari-hari. Apa tidak bisa kamu mencari kerja di sini saja...” Omel Melisa yang sedikit kesal dengan kelakuan Adiknya, membuat Heri merasa jengah mendengar omelan Kakaknya setiap kali dia pulang.
“Tapi untunglah kamu datang, sudah satu bulan ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena takut dengan keberadaan Gembel itu.” Lanjutnya berkeluh kesah.
“Gembel?” Tanya Heri yang mengernyitkan dahinya dengan penasaran.
“Monster yang di tolong oleh Kak Cinta Paman.” Sahut Meira yang datang dari arah Lantai atas.
“Selamat pagi Baby.” Sapa Heri yang tersenyum dengan lebar saat melihat kehadiran Keponakannya.
“Pagi juga Paman.” Balas Meira yang ikut duduk bersama untuk sarapan pagi.
“Sebenarnya apa yang terjadi selama aku pergi?” Tanya Heri pada mereka.
“Itu... Si Cinta buat ulah lagi...” Jawab Melisa.
“Dia pulang membawa Pria asing yang ditolongnya di Tepi Pantai, hanya karena Pria itu hilang ingatan dia sampai memohon untuk mengizinkan Gembel itu tinggal di Rumah ini. Entah... Gembel itu benar-benar hilang ingatan atau hanya berpura-pura? Bagaimana kalau Gembel itu ternyata Penjahat atau seorang Pencuri.” Lanjutnya bercerita sembari memijit pelipisnya dengan raut wajah frustasi.
“Yang lebih mengerikannya lagi Paman, wajah Pria itu seperti monster.” Sahut Meira.
“Monster?” Tanya Heri dengan bingung.
“Iya Paman, dia mengalami luka bakar yang parah hingga membuat wajahnya cacat dan berubah jadi mengerikan seperti monster... Sangat menjijikkan wajahnya Paman.” Jawab Meira yang bergidik ngeri.
“Lalu sekarang Pria itu di mana?”
“Tentu saja aku suruh tidur di Gudang belakang, enak saja jika tidur di sini. Bisa-bisa... Gembel itu membawa kesialan di Rumah ini Her, melihatnya saja sudah membuatku takut.” Sahut Melisa.
“Apa Mas Edi tau mbak?” Tanya Heri yang mulai penasaran dengan Sosok Pria itu hingga Cinta mati-matian menolongnya.
“Belum Her, nanti saja lah kalau Mas Edi pulang. Mbak mengizinkan Gembel itu tinggal di sini dengan syarat Cinta mau menggantikan tugas Bi Anik, lumayan lah... Aku tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk menggaji Bi Anik.”
“Jadi Bi Anik sudah berhenti kerja di sini?” Tanya Heri.
“Iya, Bi Anik sekarang sudah pindah ke Kota ikut Anaknya.” Tentu saja membuat Heri tersenyum jahat dalam hatinya karena tameng Cinta di Rumah ini sudah pergi, kini dia bisa bebas mendekati Cinta.
***
Di sisi lain Ale baru bangun setelah semalam dia bisa tidur dengan nyenyak berkat selimut tebal pemberian Cinta, Ale melihat di Meja sebelah pintu sudah tersedia sarapan paginya yang di antar Cinta sebelum berangkat kerja seperti hari-hari biasanya.
Selamat pagi Ale...
Hari ini aku banyak membuat makanan untukmu, jangan lupa di habiskan ya! Aku juga membuatkan teh hangat untukmu.
Cinta.
Ale tersenyum membaca catatan yang di tinggalkan Cinta untuknya.
“Apa Gadis kecil itu ingin membuat aku terkena serangan jantung?” Gumam Ale memegangi dadanya yang berdetak kencang karena perhatian kecil dari Cinta.
Tapi tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari arah luar.
“HAI GEMBEL... KELUAR KAMU!!” Seru suara seorang wanita, Ale segera membuka pintu untuk melihat siapa yang sudah membuat keributan.
“CEPAT KELUAR!!” Pekiknya lagi.
“Oh... Jadi ini Pria buruk rupa itu.” Seru seorang Pria saat melihat Ale keluar dari Gudang.
Sedangkan Ale sendiri memperhatikan Pria asing itu dengan seksama, dia bertanya-tanya apakah Pria itu adalah Ayahnya Cinta atau tidak? Tapi dia tidak yakin karena usianya jauh lebih muda dari pada Ibu tiri Cinta.
“Aku heran bagaimana caramu mempengaruhi Cinta agar dia bisa menghidupimu di sini?” Sarkas Pria itu yang tak lain adalah Heri yang datang bersama Melisa dan Meira.
“Menyenangkan bukan hidup menumpang tanpa harus bekerja keras?” Cibirnya lagi pada Ale yang terlihat hanya diam.
“Tentu saja Paman... Dia seperti parasit, benar-benar menjijikkan! Sama seperti wajahnya.” Sahut Meira yang ikut menghina Ale.
Kalau di tanya apakah Ale merasa sakit hati? Tentu saja iya, siapa yang tidak sakit hati jika di rendahkan seperti itu. Dia bisa saja meninggalkan tempat ini karena dia sudah sembuh, tapi jika mengingat Cinta yang harus tinggal di sini bersama keluarga buruknya ini. Ale merasa tidak tega meninggalkan Cinta, apalagi dia sudah berjanji pada Bi Anik untuk menjaga Cinta.
“Setidaknya kau harus sadar diri, kalau ingin tinggal dan makan gratis di sini kau harus kerja. Jadi cepat bersihkan halaman depan dan belakang rumah ini!” Titah Melisa dengan angkuhnya.
Sebelumnya dia tidak berani memerintah Ale karena dia takut kalau Ale itu seolah kriminal, tapi sekarang dia berani karena Adiknya sudah kembali.
“INGAT! Harus sampai bersih.” Lanjutnya memperingatkan.
Dengan terpaksa Ale mengikuti perintah mereka, bukan karena dia takut dengan mereka. Dia melakukannya hanya demi Cinta yang sudah menolongnya, dia juga tidak bisa hanya diam dan bersantai seharian sedangkan Cinta harus bekerja keras sendirian.
Di sisi lain Cinta yang baru pulang dari Pasar terkejut saat melihat Ale ada di Halaman depan rumahnya dan membersihkan selokan dengan pakaian yang sudah sangat kotor, “Ale, kamu sedang apa?”
“Mencari harta karun.” Celetuknya dengan nada datar, tentu saja membuat Cinta mengernyit heran.
Dia memperhatikan sekelilingnya, halaman rumahnya terlihat sudah bersih tanpa daun-daun kering yang biasanya selalu mengotori Halaman depan rumahnya. Bahkan rumput-rumput liar yang tumbuh di halaman rumahnya sudah tercabut bersih.
“Apa Ibu dan Meira yang menyuruhmu Al?” Tanya Cinta.
“Tidak, aku hanya ingin membantumu.” Kilahnya dengan acuh tanpa melihat ke arah Cinta.
“Aku bantu ya?” Tawar Cinta yang merasa tidak enak hati.
“Tidak, kamu pasti lelah pulang kerja. Lebih baik kamu istirahat! Aku melakukannya karena ingin membantumu, aku bosan seharian hanya tidur dan tidak melakukan apapun.” Tolak Ale yang kini menatap wajah Cinta, wajah yang nampak lelah tapi tak pernah sekalipun terlihat mengeluh.
“Tapi aku ingin bantu.” Rengek Cinta dengan bibir yang mengerucut lucu.
Sontak saja membuat Ale menahan senyumnya, biasanya Cinta terlihat begitu dewasa di usianya tapi kini dia nampak begitu menggemaskan saat bertingkah seperti anak kecil.
“Baiklah...” Pasrah Ale.
“Kamu duduklah di sana! Awasilah tempat sampahnya, kalau sudah penuh bilang padaku.” Lanjut Ale memberi tugas sembari menunjuk tong sampah, sontak saja membuat Cinta mendelik.
“Bukankah aku terlihat seperti Satpam penjaga pintu selamat datang?”
Ale langsung tersenyum tipis saat mendengar gerutuan Cinta, tapi meskipun begitu Cinta tetap patuh duduk di sebelah Tong sampah sembari melongokkan kepalanya mengintip isi tong sampah yang sudah hampir penuh dengan potongan-potongan daun kering dan rumput liar.
***
Sore harinya Ale segera beranjak keluar dari kamarnya saat mendengar hujan mulai turun dengan derasnya.
Gadis kecil itu melupakan Jas hujannya.
Batin Ale yang merasa khawatir Cinta akan kehujanan saat pulang sekolah karena dia tidak membawa Jas hujan, tanpa pikir panjang Ale segera mengambil Jas hutan Cinta dan berlari menerobos hujan.
Sedangkan di sisi lain, di Sekolah SMA Pelita Bangsa Siswa dan Siswi mulai berhamburan keluar dari kelas karena pelajaran sekolah telah selesai.
“Kenapa tiba-tiba hujan deras? Padahal tadi siang masih cerah.” Keluh Eka pada Cinta dan Dewi.
“Kan sudah masuk musim penghujan Ka, jadi wajar kalau hujan datang sewaktu-waktu...” Sahut Cinta.
“Kalian bawa Jas hujan? Aku lupa soalnya nggak bawa.” Lanjut Cinta bertanya.
“Untung saja aku bawa tadi Ta.” Jawab Dewi.
“Aku juga, kayaknya tadi Ibu deh yang masukin tas aku. Kok tiba-tiba langsung nongol aja.” Sahut Eka yang memeriksa isi tas bagian depan.
“Lalu kamu gimana Ta pulangnya?” Tanya Dewi.
“Gampanglah... Kalian duluan aja nggak apa, nanti kalau udah sedikit reda aku pulang.”
Tepat saat itu, tampak seorang Pemuda berseragam sama datang menghampiri mereka.
“Bareng sama aku aja Ta biar nggak kehujanan?” Tawarnya pada Cinta.
“Rangga?” Seru Cinta dengan bingung.
“Maaf, tadi aku mendengar pembicaraan kalian. Pulangnya aku antar aja Ta, kelihatannya... Bakal lama hujannya.” Ucap Rangga.
“Iya Ta, sepedanya tinggal aja di Sekolah.” Sahut Dewi.
Sedangkan Cinta tampak diam dan berpikir untuk menerima tawaran Rangga atau tidak? Dia tahu Adik tirinya menyukai Rangga, jadi dia tidak ingin terlalu dekat dengan Rangga untuk menjaga perasaan Adik tirinya. Meskipun dalam hati Cinta ada sedikit rasa kagum akan sosok Rangga.
“Gimana Ta?” Tanya Rangga dengan penuh harap.
Saat Cinta ingin menjawab, tiba-tiba saja terdengar keramaian di Depan Gerbang depan sekolah.
“Ada apa? Kenapa kalian kembali?” Tanya Eka dengan penasaran pada beberapa Temannya yang kembali berlari masuk ke Dalam Gedung.
“Itu... Di depan ada Orang gila.” Sahut salah satu dari mereka.
“Orang gila?” Cinta menatap mereka dengan penasaran.
“Iya Ta, apalagi wajah Orang gila itu sangat mengerikan. Malah tadi aku kira dia hantu, tapi mana mungkin hantu hujan-hujanan kan.” Jelasnya pada Cinta.
“Mengerikan gimana maksudnya sih Del?” Tanya Eka dengan penasaran.
“Wajahnya rusak Ka, pokoknya mengerikan deh.”
Mendengar ucapan Temannya, tanpa pikir panjang Cinta segera berlari menerobos hujan untuk melihat ke Depan.
“TA... CINTAAA? KAMU NGAPAIN?” Seru mereka dengan bingung dan panik saat melihat Cinta tiba-tiba saja pergi menerobos hujan, tapi Cinta tidak memedulikan panggilan Teman-temannya. Yang ada dalam pikirannya... Dia hanya ingin memastikan sesuatu.