7. Christian Robert Oswald

1513 Words
Cinta menerobos kerumunan Temannya yang terlihat mengerubungi seseorang dengan tubuh basah kuyup, dia bisa mendengar dengan jelas Teman-temannya sedang mengolok-olok dan menghina Orang yang mereka bilang gila tadi. “Ale?” Panggil Cinta saat melihat bahwa Pria gila yang mereka maksud tadi ternyata adalah Ale, Cinta melihat Ale berdiri dengan kepala menunduk sembari memegang Jas hujannya. Sedangkan Ale langsung mendongak saat mendengar suara Cinta. “Kenapa kamu di sini?” Tanya Cinta yang berjalan mendekati Ale, dia tidak peduli meskipun banyak Temannya yang terlihat berbisik membicarakannya. “Aku mengantarkan ini untukmu.” Ale menyodorkan Jas hujannya pada Cinta, membuat Cinta terharu dengan apa yang di lakukan oleh Ale. Dia rela hujan-hujanan dan basah kuyup karena khawatir dengan dirinya akan kehujanan karena tidak membawa Jas hujan. “Terima kasih...” Ucap Cinta yang mengambil Jas hujan tersebut dengan mata berkaca-kaca. “Ayo pulang!” Ajak Cinta yang meraih tangan Ale untuk dia genggam. “Tunggu... Aku akan mengambil sepedaku di dalam, kamu tunggu di sini sebentar!” Cinta yang teringat sepedanya segera melepas genggaman tangannya dan berlari masuk ke dalam untuk mengambilnya. Setelah beberapa saat Cinta kembali dengan menuntun sepedanya, “Ayo!” Ajak Cinta pada Ale. “Bodoh! Sudah terlanjur basah kuyup, kenapa masih di pakai?” Ucap Ale dengan nada datar saat melihat Cinta memakai Jas hujannya, membuat Cinta terkikik geli. “Tentu saja, kamu sudah susah payah mengantarkan ini padaku. Mana mungkin aku menyia-nyiakan pengorbananmu untukku.” Kenapa ucapan Gadis kecil ini begitu manis? Batin Ale yang berusaha menahan senyumnya. “Aku hanya tidak ingin kamu sakit, sini biar aku yang mendorong sepedamu.” Ketus Ale yang langsung mengambil alih sepeda Cinta. Cinta tersenyum dengan geli saat melihat mulut dan tindakan Ale yang tidak sinkron, mulutnya boleh terlihat acuh tapi Cinta tahu hatinya begitu peduli padanya. Mereka berjalan beriringan di tengah derasnya hujan, meskipun tubuh mereka kedinginan tapi hati mereka merasa hangat satu sama lain. Tanpa mereka sadari ada Dua orang yang menyaksikan mereka dari kejauhan dengan ekspresi yang berbeda, Rangga yang terpaku dengan tubuh basah kuyup. Saat melihat Cinta menerobos hujan, dia sangat khawatir dan ikut mengejar Cinta tapi dia malah menyaksikan kemesraan Cinta dengan Pria lain. Meskipun dia tidak tahu apa hubungan Pria buruk rupa itu dengan Cinta, tapi dia tetap merasa cemburu dan terluka saat melihat Cinta begitu perhatian pada Pria buruk rupa itu. Di sisi lain ada juga Meira yang menyaksikan bagaimana Pria yang di sukainya berlari mengejar Kakak tirinya, membuat Meira semakin iri dan membenci Kakak tirinya. Malam harinya Cinta nampak bersin-bersin di Kamarnya, tapi bukannya mengkhawatirkan dirinya sendiri dia malah mengkhawatirkan keadaan Ale. “Aku harus mengeceknya sendiri.” Gumam Cinta dengan pikiran tidak tenang. Dan ternyata benar saat Ale membuka pintu, wajahnya terlihat pucat. “Kamu baik-baik saja Al?” Tanya Cinta dengan cemas sembari menempelkan telapak tangannya pada dahi Ale, sedangkan Ale hanya mengangguk dengan tubuh lemas dan tak berdaya. “Badanmu panas Al...” Seru Cinta saat merasakan suhu tubuh Ale. “Berbaringlah! Aku akan mengambilkan obat untukmu dulu.” Cinta membantu memapah tubuh Ale berbaring di atas kasur lipatnya dan bergegas pergi mengambilkan obat untuk Ale. “Kelak, jangan lakukan ini lagi! Aku nggak ingin ada yang terluka atau sakit karenaku.” Pinta Cinta pada Ale dengan raut wajah sedih, dia tidak ingin ada orang lain yang berkorban untuk hidupnya yang tidak berharga. “Aku hanya ingin balas budi, aku tidur dulu! Kepalaku pusing.” Balas Ale dengan nada datar, lalu memejamkan matanya. Bagaimana bisa aku mengabaikanmu? Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku, aku rela. Jika dulu kamu tidak menolongku... Mungkin sekarang aku sudah menjadi mayat. Batin Ale yang membayangkan bagaimana baiknya sosok Gadis kecil penolongnya. Sepanjang malam Cinta dengan telaten mengompres dahi Ale, meskipun kondisinya juga tidak seberapa baik. Sedangkan Ale sudah tertidur karena pengaruh obat. *** “Siapa Pria gila kemarin Mei? Kelihatannya akrab sekali sama Kak Cinta.” Tanya Linda pada Meira dengan penasaran. “Jangan sebut nama Perempuan sok baik itu! Mendengarnya saja sudah membuatku muak.” Sentak Meira dengan geram. “Kenapa? Bagaimana pun juga dia Kakakmu, meskipun saudara tiri.” “Apa kamu nggak lihat kemarin? Kak Rangga sampai rela hujan-hujanan hanya untuk mengejar Kak Cinta.” Kesal Meira. “Kayaknya sebelum janur kuning melengkung Kak Rangga nggak bakal berhenti kejar Kak Cinta deh Mei.” Sahut Linda. “Janur kuning? Siapa yang mau buat Ketupat Lin?” Tanya Gita dengan bodohnya, yang sontak saja langsung mendapat geplakan dari Linda. “Maksudnya itu menikah bodoh, Makanya jangan makanan terus yang di pikirin!” “Ya mana aku tau, kita kan masih sekolah jadi aku nggak kepikiran sampai sejauh itu Lin.” Sanggah Gita yang mengelus kepalanya. “Menikah?” Gumam Meira dengan senyum miringnya, tiba-tiba saja dia mendapatkan sebuah ide. Di sisi lain, Cinta sudah di kerumuni oleh Ketiga temannya saat istirahat sekolah. “Sekarang, ceritain sama kita Ta... Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Dan siapa Pria buruk rupa itu Ta, sampai rela hujan-hujanan gitu?” Tanya Eka dengan penasaran. “Memang ada apa kemarin?” Tanya Rena. “Kamu sih nggak masuk jadi nggak tau ada kejadian heboh kemarin.” Jawab Eka dengan antusias. “Ta?” Tanya Rena pada Cinta dengan tatapan menyelidik. “Apa?” Tanya Cinta balik dengan ekspresi salah tingkah karena mendapat tatapan tajam dari Ketiga temannya. “Aishh... Itu Ale, Pria yang aku tolong waktu tenggelam di Pantai. Dia ke sini karena mengantarkan jas hujanku yang ketinggalan.” Jawab Cinta yang tercengir menatap mereka. “Jadi Ale ke sini?” Seru Rena dengan hebohnya. “Ren!” Peringat Cinta yang memberi isyarat agar tidak bersuara dengan keras. “Kamu tau Pria itu Ren?” Tanya Dewi yang sedari tadi diam. “Tau lah, Rena gitu loh!” Seru Rena lagi yang membusungkan dadanya dengan bangga. “Tapi ya... Si Minuman gelas itu cukup gentle juga Ta.” Lanjutnya berpendapat. “Iya, meskipun sekarang Bi Anik sudah pergi tapi masih ada Ale yang selalu menjagaku di Rumah... Dan aku bersyukur untuk itu.” Sahut Cinta yang tersenyum dengan rasa syukur. “Dia tinggal di Rumahmu? Bagaimana ceritanya Ta?” Tanya Eka yang lagi dalam mode penasaran akut. Cinta mengangguk lalu menceritakan kronologi kejadian saat dia menemukan Ale di Tepi pantai bersama Rena. “Aku kira Orang amnesia hanya ada di tipi-tipi aja Ta, ternyata dalam kehidupan nyata juga ada.” Sahut Eka yang manggut-manggut setelah mendengar cerita dari Cinta. “TV KAAA...” Seru Cinta, Rena dan Dewi dengan kompak. Membuat Eka langsung menutup kedua telinganya, lalu mereka tertawa bersama. *** Di Tempat lain, sosok Pemuda tampan keluar dari Pintu kedatangan Bandara Internasional. Dia berjalan dengan gagahnya, wajahnya yang terlihat kebule-bulean membuat Para pengunjung terpesona akan sosoknya. Saat melihat sosok yang dia kenal, Pemuda itu segera menghampirinya. “Paman sendiri?” Tanyanya. “Iya Tuan muda...” Jawabnya sembari membungkuk dengan hormat. “Selamat datang Tuan Muda, saya senang Anda kembali pulang...” “Bukankah aku sudah bilang jangan panggil aku Tuan muda Paman, panggil saja Chris!” Protes Pemuda tampan yang bernama lengkap Christian Robert Oswald. “Begitu juga dengan Anda Tuan muda, kurasa saya masih belum terlalu tua tapi Anda memanggil saya dengan sebutan Paman.” Canda Pria yang usianya sudah memasuki kepala Tiga itu, Pria yang biasa di panggil Gerald itu merupakan Asisten Ayahnya. “Kurasa akan lebih aneh lagi kalau aku memanggil Kakak, Paman? Usia kita bahkan beda 10 Tahun...” Sahut Chris yang terjeda karena dia melihat Gerald sedang berbicara dengan orang lain lewat earphone-nya. “Kerja bagus, lakukan sesuai rencana. Pastikan tidak ada kesalahan sedikitpun atau Bos besar akan marah!” Titah Gerald lalu mematikan earphone-nya. “Meskipun begitu, jangan lupakan kalau saya masih lajang Tuan muda...” Lanjutnya berkata yang membuat Chris melengos malas. “Silahkan masuk Tuan! Kita harus bergegas pulang sebelum Bos besar marah karena saya menahan Anda terlalu lama di Bandara.” Gerald segera membukakan pintu mobil belakang. “Ck! Pantas saja sampai sekarang Paman masih lajang, Paman sangat membosankan.” Kesal Chris yang segera masuk ke Dalam mobil, Gerald hanya tersenyum melihat ekspresi kesal Putra Bosnya. Sungguh berbeda saat Chris berhadapan dengan Kedua Orang tuanya. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mereka akhirnya tiba di Rumah mewah bergaya modern di kawasan perumahan elit di daerah Jakarta, saat memasuki rumah Pemuda berusia 21 Tahun itu sudah di sambut oleh Clarissa. Ibu kandung Chris yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah memasuki kepala Empat. “Selamat datang Putraku...” Sambutnya dengan gaya anggunnya, gaya berpakaiannya yang glamor membuat dia terlihat sangat berkelas. “Mami senang akhirnya kamu bersedia melanjutkan pendidikanmu di sini.” Lanjutnya berkata setelah memeluk Chris. “Apa aku pilihan? Kalian selalu melakukan apapun untuk mendapatkan keinginan kalian.” Sahut Chris yang terlihat acuh dan datar, tidak seperti ketika berhadapan dengan Gerald tadi. “Kami melakukan semua ini demi kebaikan dan masa depanmu Chris.” Sentak Clarissa. “Ya... Ya, aku tau. Sudahlah... Aku lelah ingin istirahat dulu.” Chris segera bergegas naik ke Lantai atas menuju kamarnya tanpa menghiraukan kekesalan Ibunya. “Anak itu... Semakin besar semakin memberontak dan susah di atur.” Kesal Clarissa saat melihat kelakuan Putranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD