8. Evan Anggara

1596 Words
“Ta, jangan telat ya besok!” Seru Rena sewaktu mereka pulang sekolah. “Iya Rena, kamu udah bilang ini ratusan kali.” Sahut Cinta yang tertawa dengan geli. “Nggak sebanyak itu juga kali Ta.” Sontak saja membuat Cinta lagi-lagi terkekeh, termasuk Eka dan Dewi. “Perasaan dari tadi kamu semangat sekali mengingatkan Cinta Ren, sedangkan sama kita-kita biasa bae. Aku jadi curiga.” Sahut Eka dengan tatapan menyelidik. “Rena mah nggak bisa hidup tanpa Cinta Ka, kalau nggak ingat dapat semburan rohani dari Emaknya... Cinta pasti di tempelin sampai rumahnya.” Sahut Dewi yang terkikik geli, membuat Rena tercengir malu. “Soalnya aku punya kejutan buat Cinta tau, sudah ah... Kalian nggak asyik banget.” Kilah Rena. “Oh iya... Kalian duluan aja ya, aku ada urusan sebentar.” Sahut Cinta yang menyela obrolan mereka. “Urusan apa?” Tanya Rena dengan cepat. “Kepo ih Rena...” Sahut Cinta yang tersenyum menggoda Rena, membuat Sang empunya tersenyum kecut. “Pokoknya kali ini kamu jangan ikut, aku cuma sebentar.” Lagi-lagi membuat Rena menekuk wajahnya. “Hati-hati kalau gitu! Jangan terlalu malam kalau pulang, kalau ada yang jahatin kamu teriak aja yang kencang. Kalau lewat jangan cari yang jalanannya sepi...” “Astaga Ren... Kamu udah kayak pacarnya Cinta aja!” Potong Eka dengan jengah, membuat Cinta terkikik geli. “Sampai ketemu besok ya.” Pamit Cinta yang melambaikan tangannya pada Ketiga temannya. *** “KAMU KEMANA SAJA JAM SEGINI BARU PULANG HAH!!” Sentak Melisa saat melihat Cinta baru pulang. “Ma-af Bu, Ta tadi ada perlu sebentar.” Jawab Cinta dengan terbata. “SEBENTAR KAMU BILANG HAH!! Bahkan sekarang sudah waktunya makan malam, apa kamu sengaja membuat kami mati kelaparan HAH!!” Bentak Melisa dengan kesal. “Ban sepeda Ta tadi bocor Bu...” “HALAH... Jangan banyak alasan! Cepat siapkan malam sekarang! SEKARANG JUGA!!” Titah Melisa dengan mata melotot marah. “Baik Bu.” Cinta segera pergi arah dapur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu, meskipun tubuhnya terasa lelah karena tadi mendorong sepedanya. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja ban sepedanya bocor, dia juga tidak menemukan Tukang tambal ban dalam perjalanan pulang. Bun... Kenapa Bunda meninggalkan aku sendiri di sini? Kenapa Bunda nggak ajak Cinta sekalian? Batin Cinta dengan pandangan berkaca-kaca, bukan karena bentakan dari Ibu tirinya yang membuat hatinya sakit dan terluka. Tapi karena perkataan Ibu tirinya yang sempat dia dengar tadi. “Dasar Pela cur kecil, Ibu dan Anak tidak ada yang benar. Sama-sama Pela cur.” Cibir Melisa. Setelah menyiapkan makan malam dan membersihkan dirinya, Cinta bergegas menuju Gudang belakang. “Malam sekali?” Tanya Ale saat melihat Cinta masuk. “Maaf Al, kamu pasti sudah lapar karena terlalu lama menungguku.” Sesal Cinta. “Duduklah!” Ale menepuk lantai sebelahnya, Cinta dengan patuh menuruti perintah Ale. “Aku tidak akan meninggal walaupun seharian tidak makan...” Ucap Ale sembari meraih telapak tangan Cinta untuk dia genggam. “Aku bertanya kenapa kamu pulang terlambat karena aku cemas dengan keadaanmu.” Lanjutnya berkata. “Aku baik-baik aja...” Cicit Cinta dengan kepala menunduk untuk menyembunyikan rasa harunya, dia senang karena ada yang memperhatikannya di Rumah selain Bi Anik. “Aku malah khawatir denganmu, apa sudah lebih baik sekarang?” Ucap Cinta yang mendongak menatap Ale, sontak saja membuat Ale balik menatap Cinta dengan dalam. Wajah yang begitu tidak terlihat baik-baik saja tapi masih bisa memperhatikan orang lain. “Aku sudah sembuh.” Jawab Ale yang tersenyum tipis. “Syukurlah... Ayo kita makan dulu!” Ajak Cinta yang menyajikan makanan buat Ale, lagi-lagi membuat Ale tersenyum tipis. Entah apa yang di pikirkannya? Ale memperhatikan gelagat Cinta yang terlihat makan dengan enggan dan pelan, seolah dia tidak menyukai makanannya. Tapi Ale tahu Cinta bukan tipe orang pemilih makanan, “Biar aku suapi, buka mulutmu!” Titah Ale menyodorkan sesendok nasi pada Cinta. “Akh...” Ucap Ale lagi saat melihat Cinta hanya bengong menatapnya. “Apa perlu aku melakukannya dengan mulutku?” Tanya Ale. “Apa?” Tanya Cinta dengan ekspresi bingung. “Lupakan saja, ayo!” Jawab Ale yang kembali menyodorkan sendoknya, membuat Cinta langsung membuka mulutnya. Tetaplah tersenyum seperti ini Gadis kecil! Melihatmu tersenyum membuat hatiku senang. Batin Ale saat melihat Cinta yang terus tersenyum menatapnya saat dia menyuapinya. Setelah selesai Cinta memberi sebuah paperbag kecil pada Ale, “Untukmu Al.” “Apa ini?” “Bukalah!” Ale segera membuka paperbag tersebut, lalu mengeluarkan sebuah barang dari dalamnya. “Topi? Masker?” Beo Ale. “Besok ikutlah denganku! Aku dan Teman-teman akan pergi ke Pantai, aku nggak ingin meninggalkanmu sendiri di Rumah. Sedangkan aku malah bersenang-senang dengan temanku, lagian kamu juga pasti bosan terus berada di Rumah.” Ajak Cinta. Tapi justru membuat Ale berpikiran lain, “Apa kamu malu mengajakku bertemu dengan Temanmu dengan wajah burukku ini?” Tanyanya. Sontak saja membuat Cinta membeliak karena dugaan tak masuk akal Ale, “Enggak Al, bukan seperti itu...” “Aku nggak malu Ale, aku hanya nggak ingin ada yang membicarakan dan menghinamu. Hatiku ikut sakit jika aku mendengarnya, bahkan lebih sakit rasanya di bandingkan saat orang lain mengataiku.” Lirih Cinta dengan pandangan menerawang, dia mengingat bagaimana hidupnya yang begitu sulit. “Kenapa? Kenapa kamu begitu baik padaku?” Tanya Ale yang mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Cinta. “Bukankah sesama manusia harus saling tolong-menolong?” Tanya balik Cinta. “Tidurlah, sudah malam!” Titah Ale yang berusaha menyembunyikan rasa kecewanya saat mendengar ucapan Cinta, entahlah... Kenapa dia malah berharap lebih? “Hemm... Aku pergi dulu, kamu juga istirahat lah!” Pamit Cinta yang mulai berdiri tapi tiba-tiba saja kakinya terasa sakit karena kram, “OUCHH.” “Kamu kenapa?” Tanya Ale dengan cemas. “Mungkin karena terlalu lama berjalan tadi, kakiku jadi kram.” Jawab Cinta dengan spontan, tapi dia langsung menutup mulutnya saat sadar dia sudah keceplosan bicara. “Jalan? Jadi kamu pulang telat karena jalan kaki? Bagaimana kamu bisa begitu bodoh?!” Sentak Ale dengan geram, lalu dengan cepat meraih kaki Cinta. “Jangan marah! Aku nggak papa, tadi ban sepedaku bocor dan nggak bisa menemukan Tukang tambal ban... Jadi terpaksa jalan.” Cicit Cinta yang menarik kakinya dari tangan Ale, membuat Ale menghela nafas panjang untuk menormalkan amarahnya. “Biar aku lihat!” Titah Ale yang kali ini terlihat lebih lembut, Ale kembali meraih kaki Cinta kemudian memijatnya. Bagaimana bisa aku tidak tertarik padamu kalau kamu seperti ini Gadis kecil? Batin Ale. Di sisi lain lagi-lagi Cinta merasa terharu, saat berada dekat Ale dia selalu merasa aman dan terlindungi. *** Keesokan harinya Cinta dan Ale pergi ke Pantai berjalan kaki karena letaknya cukup dekat dari rumah Cinta, saat tiba di sana ternyata Eka dan Dewi sudah ada di sana. Bahkan Rangga juga sudah datang dan bergabung dengan mereka. “Dia siapa Ta?” Tanya Rangga dengan nada sedikit posesif. “Eh, apa Pria ini yang kapan hari kamu ceritakan itu Ta?” Sahut Eka yang menyela pertanyaan Rangga tanpa mengerti dan peka dengan kecemburuan Rangga. “Iya... Dia Ale...” Jawab Cinta. “Ale, perkenalkan mereka Teman-temanku... Eka, Dewi dan Rangga.” Lanjutnya memperkenalkan Ale pada mereka. “Halo... Aku Eka, kalo gini kelihatan ganteng Ta.” Celetuknya yang membuat Cinta terkekeh karena sifat Eka dan Rena yang hampir mirip, memang penampilan Ale yang tertutup karena memakai topi dan masker membuat wajahnya tidak terlalu terekspos. Postur tubuhnya yang tinggi juga membuat Ale terlihat sangat gagah. “Aku Dewi Al, senang berkenalan denganmu.” Sapa Dewi yang bergantian menjabat tangan Ale, sedangkan Ale hanya mengangguk membalas sapaan Dewi. Lalu tiba giliran Rangga, mereka terlihat saling menatap sejenak. Oh... Pengganggu kecil. Batin Ale, dari cara Rangga memandang Cinta... Dia bisa tahu bahwa Pemuda itu menyukai Cinta. “Rangga.” Mereka saling menjabat tangan dengan erat, mata mereka juga saling menatap tajam satu sama lain. Cinta yang menyadari itu berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka, “Ngga, Rena belum datang ya?” Sontak saja Rangga langsung melepas jabatan tangannya. “Aku nggak lihat waktu lewat rumahnya...” Jawab Rangga yang terjeda karena mendengar suara teriakan seseorang. “AKU DI SINI!!” Pekik Rena yang baru datang dengan seorang Pria. Sontak saja membuat semua yang ada di sana serempak menoleh ke arah Rena. “Kak Evan.” Lirih Cinta dengan mata membeliak saat melihat Pria yang datang bersama Rena. “Halo Cantik, lama tidak bertemu.” Sapa Pria pemilik nama Evan Anggara itu, sontak saja membuat Cinta tersenyum melengos lalu dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ke arah Pria tersebut dan langsung memeluknya. Kalau Ketiga teman perempuannya nampak tersenyum menatap Cinta dan Evan, lain halnya dengan Ale dan Rangga yang merasa terbakar cemburu melihat mereka berpelukan. “Bagaimana kabarmu Princess?” Tanya Evan di sela pelukannya. “Aku baik Kak, Kak Evan kapan datang?” Tanya Cinta yang melepas pelukannya. “Sudah dari kemarin-kemarin.” Jawab Evan yang tersenyum menatap dalam manik bola mata Cinta yang begitu jernih. “Curang! Kenapa nggak beritahu Ta.” Protes Cinta dengan manja. “Kalo aku ngomong namanya bukan kejutan dong Ta...” Sahut Rena yang menyela obrolan mereka. “Apa kamu merindukanku Princess?” Tanya Evan yang tersenyum menggoda Cinta. “Bilang enggak ya?” Cinta balik menggoda dengan ekspresi seperti tampak berpikir. “Cie cieee... Ada yang malu-malu kucing nih.” Seru Rena yang menggoda Cinta. “Astaga... Adikmu itu jail banget sih Kak Evan.” Sahut Cinta yang menggelengkan kepalanya dengan heran, sedangkan Evan langsung mengacak rambut Rena yang merupakan Adik kandungnya dengan gemas. Di sisi lain Ale yang merasa cemburu dengan keakraban Cinta dan Evan langsung menggenggam tangan Cinta, “Siapa?” Tanyanya dengan nada tidak suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD