9. Insiden

1546 Words
Sepanjang perjalanan pulang Ale terlihat diam dengan wajah kaku, entah kenapa dia merasa tidak senang Cinta dekat dengan Pria lain. Apakah bisa di bilang cemburu? Entahlah... Dia tidak ingin gegabah mengartikan perasaannya. Bahkan dia tidak menjelaskan hubungan di antara mereka? Atau jangan-jangan mereka saling menyukai. Pikir Ale yang masih kesal karena tadi Cinta hanya memperkenalkan Evan padanya tanpa menyebut status di antara mereka, apalagi saat mengingat ucapan Evan tadi. “Bukankah dia pemilik senyuman tercantik di Muka bumi ini?” Ucap Evan pada Ale saat mereka duduk berdampingan. Kedua Pria itu sedang memperhatikan Keempat Perempuan yang bersahabat itu terutama Cinta, mereka sekarang sedang berfoto bersama di Tepi pantai dan Rangga bertindak sebagai fotografer. “Lalu?” Tanya Ale yang menaikkan sebelah alisnya. “Nothing.” Tanya balik Evan dengan santai. “Apa maksudmu mengatakan ini padaku?” Tanya Ale to the point. “Tidak ada, aku hanya mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat sempurna dan aku menyukainya...” “Aku tau kau menyukainya, tidak perlu berputar-putar seperti itu. Membuatku pusing saja.” Potong Ale. Mengingat hal itu Ale benar-benar merasa kesal setengah mati, Evan seolah mengingatkan dirinya bahwa Evan yang lebih dulu mengenal Cinta dan lebih berhak atas Cinta. Sedangkan dia hanya orang baru yang dekat dengan Cinta. Di sisi lain Cinta merasa heran dengan sikap Ale, dia tidak menyadari bahwa Ale cemburu karena dia dekat dengan Pria lain. “Apa kamu ingin aku membuatmu sesuatu?” Tawar Cinta pada Ale setelah sampai rumah. “Tidak, aku lelah ingin istirahat dulu.” Tolak Ale dengan nada sedikit ketus dan acuh. “Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam dulu.” Sahut Cinta yang tersenyum meskipun Ale bersikap acuh padanya. “Kenapa dia tidak peka sama sekali? Bukankah seharusnya dia membujukku?” Kesal Ale saat berada dalam kamar. Di sisi lain Cinta segera menuju dapur untuk menyiapkan makan malam, “Kenapa sepi sekali?” Tanpa Cinta sadari seseorang dari balik tembok sedari tadi memperhatikannya, lalu diam-diam berjalan menghampiri Cinta. “Akhirnya kita bisa memiliki waktu berdua.” Ucapnya yang membuat Cinta tersentak kaget, lalu membalik tubuhnya ke arah sumber suara. “Paman...” Lirih Cinta dengan tubuh menegang, kini dia mulai merasa was-was karena melihat tatapan lapar Pamannya. “Pa-man mau apa?” Tanyanya dengan takut. “Menurutmu?” Heri berjalan mendekati Cinta, membuat Cinta otomatis mundur hingga membentur meja dapur. “To-long jangan mendekat, nanti ada yang salah paham Paman!” Pinta Cinta yang semakin takut. “Salah paham? Siapa? Apa Ibu dan Adikmu?” Tanya Heri dengan senyum meremehkan, Cinta hanya mengangguk tanpa bisa mengeluarkan suara. “Kebetulan mereka sedang keluar, kurasa mereka akan pulang larut malam karena keasyikan menghabiskan uang dariku.” Sontak saja membuat Cinta membeliak. Heri menatap Cinta dengan tatapan lapar, seolah Cinta seperti mangsa kecil yang sudah siap di santap. “A-ku mau ke Kamar sebentar, ada barang yang harus aku ambil Paman.” Bohongnya pada Heri. Sungguh... Saat ini Cinta benar-benar merasa takut dan was-was karena memang jarak mereka sangat dekat. Cinta segera menghindar tapi langkah kakinya langsung terhenti karena Heri mencekal tangannya, lalu membenturkannya lagi ke Meja dapur. “Mau kemana Cantik? Apa kamu tidak mau menemani Pamanmu yang sedang kesepian ini?” Heri mengangkat jemarinya menyentuh wajah Cinta, membuat Cinta semakin gemetar ketakutan. “Tolong Paman! Lepaskan aku.” Pinta Cinta dengan mata berkaca-kaca. “Melihatmu seperti ini, membuatku semakin... Bersemangat dan ber ga irah.” Bisik Heri dengan nada sensual di akhir ucapannya. “Menjauhlah Paman!” Cinta berusaha mendorong Heri dengan air mata yang mulai berjatuhan, tapi Heri tetap tidak bergeming karena dorongan tangan kecil Cinta. Heri yang mulai tidak sabar dan selimuti oleh nafsu langsung mencium Cinta, tapi Cinta dengan cepat menghindar tapi justru mengenai lehernya. Membuat Heri semakin senang bisa mencum bu leher Cinta, sedangkan Cinta hanya bisa menangis dan meronta mendorong Pamannya tapi tenaganya tidak seberapa di bandingkan dengan Pamannya. “TIDAK...” Teriak Cinta. “Jangan paman, aku mohon!” Teriak Cinta lagi dengan tangisannya yang terdengar memilukan, dia tidak menyangka bahwa Pamannya tega melakukan ini padanya. Heri yang semakin kewalahan dengan pemberontakan Cinta segera mengangkatnya seperti karung besar dan membawa Cinta ke Kamarnya, tak peduli meskipun Cinta menangis. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, dia sudah susah payah mengeluarkan banyak uang untuk mengusir Kakak dan Keponakannya sementara waktu. Sedangkan Di sisi lain, Ale bergerak gelisah di Tempat tidurnya. Entahlah... kenapa sekarang perasaannya tidak enak? Atau mungkin, karena aku merasa bersalah sudah mengabaikan Cinta? Padahal dia tidak salah apa-apa. Pikir Ale yang merasa pikirannya tak tenang. Akhirnya Ale memutuskan untuk bangun dan menghampiri Cinta, saat dia masuk lewat pintu belakang rumah Cinta keadaannya terdengar sunyi hingga membuat Ale heran. Bahkan suara keras Ibu tiri dan Adik tirinya Cinta juga tidak terdengar seperti biasanya. Mungkin Cinta masih di Dapur. Pikir Ale yang bergegas masuk ke arah dapur, tapi lagi-lagi suasana dapur terlihat sangat sepi. Ale merasa heran sekaligus penasaran apa Cinta sudah selesai memasak? Tapi lagi-lagi dia merasa aneh karena dapur masih dalam keadaan berantakan karena bahan-bahan dapur belum selesai di masak, bahkan ada yang berceceran di Lantai membuat perasaan Ale kembali di hinggapi rasa cemas. Tiba-tiba saat itu Ale mendengar suara teriakan dari arah lantai atas. TIDAKKK... JANGANNN!! Ale segera berlari ke atas untuk melihatnya, jantungnya berdetak kencang karena takut telah terjadi sesuatu dengan Cinta. TOLONGGG... Dari lain atas Ale dapat mendengar dengan jelas bahwa itu adalah suara Cinta, membuat jantung Ale semakin berpacu dengan cepat. “CINTAAA...” Panggil Ale dengan suara panik. “CINTA... KAMU DI MANA?” Ale terus berlari mencari Cinta dengan memeriksa satu persatu pintu kamar yang ada di lantai tersebut, hingga sampai pada pintu terakhir yang dalam keadaan terkunci. Tanpa pikir panjang Ale segera mendobrak pintu kamar tersebut hingga terbuka. BRAKKKKK... Netra Ale langsung membeliak saat melihat Heri menindih tubuh Cinta, yang membuat Ale sangat geram dan marah kondisi baju Cinta yang cukup mengenaskan karena kemeja Cinta sudah robek. Untung saja Cinta memakai kaos dalaman hingga tubuhnya tidak sepenuhnya terekspos, Ale juga melihat Cinta menangis dalam keadaan yang menyedihkan. Tanpa berpikir dua kali Ale segera menghampiri Heri dan menghantamnya, “JANGAN MENYENTUHNYA DENGAN TANGAN KOTORMU BRENGSEKK!!” Ale menghajar Heri dengan membabi-buta hingga terkapar tak berdaya, “BAJINGANN! BRENGSEKK! MATI SAJA KAU!!” Sedangkan Cinta yang mendengar ucapan Ale, segera menghampiri Ale. Dia berjalan dengan tertatih memeluk tubuhnya, “Al, berhenti!” “Sudah Al, lepaskan dia.” Pinta Cinta sembari memeluk tubuh Ale dari belakang karena Ale yang tidak mau berhenti memukul Heri, dia tidak ingin Pamannya meninggal bukan karena Cinta peduli tapi dia tidak ingin Ale masuk penjara karena kejadian ini. Sedangkan saat tangan kecil melingkar pada tubuhnya, Ale langsung berhenti dan menghadap Cinta. Matanya masih memerah dengan raut wajah marah, bahkan otot-otot di wajahnya terlihat dengan jelas karena amarahnya yang memuncak sampai ubun-ubun. “Jangan teruskan! Sudah cukup, aku nggak mau kamu masuk penjara karena membunuh orang.” Pinta Cinta dengan sisa-sisa air matanya, membuat Ale langsung sadar. “Kamu nggak papa?” Tanya Ale dengan cemas sembari menakup kedua pipi Cinta, bahkan untuk pertama kalinya dia tidak berbicara formal pada Cinta. Sedangkan Cinta hanya menggeleng dengan mata berkaca-kaca, “Ayo pergi!” Ajak Ale yang langsung mengangkat Cinta dalam gendongannya ala bridal style. Ale membawa Cinta ke Gudang belakang karena Cinta yang masih bergetar ketakutan, “Minumlah!” Cinta menerima segelas air dari Ale dengan tangan bergetar, dia masih sangat syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. “Terima kasih... Kalau kamu nggak datang, aku nggak tau apa yang akan terjadi padaku.” Ucap Cinta dengan nafas tercekat, dia berusaha untuk menahan air matanya. Cinta berusaha untuk tetap kuat meskipun hatinya saat ini sangat rapuh dan takut. “Kemarilah!” Ale segera menarik Cinta dalam dekapannya. “Menangislah, jika ingin menangis! Ada aku di sini...” Sontak saja membuat tangis Cinta langsung pecah dalam dekapan Ale. “Maaf, aku datang terlambat hingga kejadian ini harus menimpamu.” Sesal Ale dengan mata berkaca-kaca, sungguh... Dia merasa menyesal dan tidak berguna karena dia tidak bisa melindungi Cinta. “A-ku ta-kut... Pa-man ingin memper kosaku.” Ucap Cinta dengan terbata di sela tangisannya. “Sekarang aku di sini, Si Brengsekk itu nggak akan bisa melakukan hal itu lagi padamu. Aku akan melindungimu.” Tenang Ale yang semakin mengeratkan pelukannya pada Cinta. Akhirnya Cinta tertidur dalam pelukan Ale karena terlalu lama menangis, Ale membaringkan Cinta di Kasur lipatnya. Dia tidak bisa membiarkan Cinta masuk kembali ke Dalam rumahnya. Entahlah... Kenapa hatiku sangat sakit melihatmu seperti ini? Hatiku sakit saat melihatmu menangis. Batin Ale yang meneteskan air mata melihat keadaan Cinta, Ale terus memandangi wajah Cinta yang terlelap dengan sisa-sisa air matanya. Jangan takut... Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi padamu, aku berjanji! Ale menghapus sisa air mata Cinta dengan lembut dan hati-hati, lalu Ale ikut berbaring dan menarik Cinta ke Dalam pelukannya. Entahlah... Kenapa dia sangat ingin mendekap dan menjaga Cinta? Hingga akhirnya Ale juga ikut tertidur. Sedangkan Di sisi lain, Melisa dan Meira baru pulang dengan membawa banyak barang belanjaan. Mereka langsung menuju ke arah Ruang makan untuk makan, tapi ternyata meja makan mereka masih kosong. “Kemana Anak pembawa sial itu? Bisa-bisanya jam segini meja masih kosong!” Geram Melisa. “BU... Lihat ke sini!” Seru Meira yang berada di Dapur. “APA-APAAN INI!!” Pekik Melisa dengan marah saat melihat dapurnya berantakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD