10. SAH

1503 Words
“Meira, cepat cari Cinta di kamarnya!” Titah Melisa pada Putrinya dengan wajah penuh amarah. “Kenapa harus Meira sih Bu?” Protes Meira yang malas menuruti perintah Ibunya karena sudah terlalu lelah. “Jangan banyak protes, cepat kerjakan!” Titah Melisa lagi dengan kesal karena Putrinya selalu membantah perintahnya. Meira akhirnya melangkahkan kakinya dengan malas menuju kamar Cinta, tapi saat dia membuka kamar Cinta... Dia tidak mendapati Cinta di kamarnya. “Dia nggak ada di kamar Bu.” Lapornya pada Melisa. “Lalu kemana Anak itu?” Ucap Melisa dengan geram. “Apa jangan-jangan dia di Gudang belakang bersama Monster itu Bu?” Tanpa menjawab, Melisa segera pergi ke Gudang belakang di ikuti oleh Meira yang mengekorinya. “Kenapa sepi sekali? Tapi lampunya menyala.” Heran Meira. “Cepat masuk dan cek ke Dalam!” Titah Melisa pada Putrinya. “Kenapa aku lagi?” Gerutu Meira dengan kesal, tapi tetap dia lakukan karena dia tidak ingin mendengar omelan Ibunya. Meira membuka pintu Gudang belakang yang tidak terkunci itu dengan perlahan, lalu netranya langsung membeliak saat melihat Cinta dan Ale tidur berpelukan. Melisa yang penasaran segera mendekati Putrinya, reaksi Melisa pun sama seperti Meira saat melihat mereka. “Mereka?” Gumam Melisa dengan pandangan tak percaya. “Bisa-bisanya mereka...” Saat melihat Ibunya akan marah, Meira segera menarik Ibunya menjauh dari sana. “Apa yang kamu lakukan?” Protes Melisa pada Putrinya, padahal dia ingin memberi pelajaran pada Anak tirinya itu yang enak-enakan tidur dan melupakan tugasnya untuk menyiapkan makan malam. “Tenanglah Bu!” Meira menempelkan jari telunjuknya pada mulutnya sendiri agar Ibunya tidak bicara dengan keras. “Biarkan saja mereka...” Lanjutnya berkata tapi langsung di potong oleh Ibunya. “Apa maksudmu Meira?” Melisa terlihat kesal karena Putrinya malah menghalanginya. “Bukankah Ibu dari dulu ingin sekali menyingkirkan Kak Cinta?” Membuat Melisa menaikkan sebelah alisnya. “Aku punya caranya...” Meira segera membisikkan rencananya yang membuat Melisa menaikkan sudut bibirnya, dia nampak setuju dengan rencana Putrinya. “Biar aku saja yang urus Bu! Ibu tinggal duduk tenang dan menunggu hasilnya.” Meira segera masuk ke Dalam rumahnya dan menghubungi seseorang lewat telepon rumahnya, Tak seberapa lama beberapa orang Penduduk desa datang ke Rumahnya termasuk Kepala desa mereka. “Ini ada apa ya Pak Kades?” Melisa berpura-pura bertanya dengan ekspresi bingung dan penasaran, Melisa dan Meira juga terlihat berdiri di depan Rumahnya dengan membawa barang belanjaannya tadi. “Kami mendapat laporan dari warga kalau ada pasangan yang melakukan hal terlarang dan tidak bermoral di Rumah ini Bu Melisa.” Jawab Pak Kades mewakili Para warganya. “APA? Bagaimana mungkin Pak Kades? Memangnya siapa mereka Pak Kades?” Tanya Melisa dengan ekspresi kaget. “Bu, siapa mereka Bu? Kita baru kembali ke Rumah setelah seharian bepergian tapi sudah mendapatkan kabar tidak baik seperti ini...” Sahut Meira yang ikut berakting meyakinkan Para warga bahwa mereka seolah tidak tahu apa-apa karena dia baru datang dengan Ibunya. “Apa jangan-jangan Kak Cinta Bu? Karena hanya ada Kak Cinta dan Pria itu yang berada di Rumah? Tapi aku tidak yakin.” Lanjut Meira memprovokasi Warga, membuat mereka langsung riuh. “Langsung kita periksa ke Dalam saja Pak Kades! Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja, mereka sudah mengotori Desa kita dengan perbuatan tidak bermoral.” Seru mereka lagi. “Benar Pak Kades, bagaimana bisa mereka melakukan hal bejatt seperti itu di saat Rumah dalam kondisi kosong? Sungguh membuat Desa kita malu saja.” Sahut salah satu dari mereka yang ikut memprovokasi. “Tenang-tenang!” Seru Pak kades kepada Para warganya. “Izinkan kami masuk dan menggeledah Rumah Bu Melisa untuk melihat apakah berita yang kami terima merupakan kebenaran atau hanya berita bohong Bu!” Izin Pak Kades pada Melisa. “Tentu saja Pak Kades, silahkan!” Angguk Melisa. Mereka segera masuk dan memeriksanya, Meira mengarahkan mereka ke arah Gudang belakang tempat Ale selama ini tinggal. Saat membuka pintu Gudang belakang semua orang di buat terkejut melihat Cinta dan Ale masih dalam kondisi yang sama, tidur dalam kondisi saling berpelukan. “CINTAAA.” Pekik Melisa dengan raut wajah syok, membuat Meira tersenyum dalam hatinya memuji Ibunya yang sangat pandai berakting. Sedangkan Kedua insan itu langsung terperanjat kaget, mereka duduk dengan ekspresi bingung karena mendapati Tempatnya di kerumuni oleh Orang banyak. “Apa yang sudah kalian lakukan?” Tanya Pak Kades dengan pandangan tak percaya, sosok Cinta yang selama ini dia kenal sebagai Anak baik... Sopan dan lemah lembut ternyata tega melakukan hal tercela seperti itu. “A-da apa ini? Ke-napa kalian semua ada di sini?” Tanya Cinta dengan terbata. “Justru kami yang harusnya bertanya padamu Kak? Kenapa Kakak melakukan hal yang memalukan seperti ini? Kakak berzi na dengan Pria yang Kakak tolong, bahkan di Rumah ini saat kami tidak ada di Rumah...” Sahut Meira dengan raut wajah tak percaya, sedangkan Melisa berpura-pura sedih dan kecewa dengan tindakan Cinta. “Atau jangan-jangan Kakak sudah melakukan ini sejak lama? Aku sering melihat Kak Cinta malam-malam datang ke sini.” Lanjut Meira yang berusaha memojokkan Cinta, membuat Para warga kembali riuh dan saling berbisik. Sedangkan Cinta sendiri masih bingung dan syok dengan kejadian ini. “Saya tidak menyangka kamu melakukan ini Nak Cinta.” Sahut Pak Kades yang percaya dengan ucapan Meira, apalagi saat melihat kondisi Cinta yang hanya memakai dalaman Tank top dan ada bekas kemerahan di lehernya dan d*da atasnya karena perbuatan Heri tadi. “Tidak! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, kami tidak melakukan hal yang kalian tuduhkan.” Seru Ale yang mulai angkat bicara. “Halah... Jangan banyak alasan! Sudah kepergok tapi masih bisa berkilah.” Sahut salah satu warga. “Iya, apa kamu mau lari dari tanggung jawab HAH?” Bentak mereka. “Dasar Anak muda sekarang! Benar-benar tidak memiliki moral.” Cibir mereka pada Cinta dan Ale. “Langsung kita nikahkan saja Pak Kades! Agar mereka tidak terus-terusan melakukan zinaa.” “Benar Pak Kades, bisa-bisa... Mereka akan mencoreng nama baik Desa kita.” Mereka terus saja melakukan aksi protes, hingga membuat Pak Kades memutuskan untuk menikahkan Cinta dan Ale saat itu juga. Mereka di nikahkan di Depan Penghulu, dengan Para warga sebagai saksi hingga terdengar kata SAH. Sedangkan Cinta hanya bisa menerima pernikahan itu dengan raut wajah yang masih syok sekaligus tak berdaya, Cinta tidak menyangka dia akan mengalami hal buruk bertubi-tubi. Hampir di perkosa oleh Pamannya sendiri dan sekarang di fitnah oleh Keluarganya sendiri dan juga Para warga hingga menikah di usianya yang masih sangat muda. Di sisi lain, Melisa dan Meira tersenyum puas dengan kejadian tadi. Meskipun mereka tidak bisa membuat Cinta terusir dari Desa ini, tapi setidaknya mereka merasa puas bisa melihat Cinta menikah dengan Pria yang miskin dan buruk rupa. Terutama Meira yang senang karena Evan akan berhenti mengejar Kakak tirinya jika tau dia sudah menikah. Sedangkan Cinta dan Ale kembali ke Gudang belakang, Cinta nampak termenung dengan raut wajah sedih yang membuat Ale merasa terluka. “Apa kamu menyesal menikah denganku?” Tanya Ale dengan raut wajah kecewa, dia mengira Cinta sedih karena tidak ingin menikah dengannya. Sedangkan Cinta langsung menoleh menatap Ale, “Kenapa kamu bertanya seperti itu? “Kamu sepertinya sedih dan nggak rela menikah dengan Pria buruk rupa seperti aku?” “Enggak Al, bukan seperti itu...” Jawab Cinta dengan pandangan menerawang. “Memang sudah jalan-Nya seperti ini, Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuk kita. Karena itu... Aku ikhlas menerimanya, bagiku rupa bukanlah segalanya. Rupa bisa berubah kapan saja, tapi kebaikan dan ketulusan akan kekal selamanya.” “Lalu kenapa kamu sedih?” Tanya Ale dengan penasaran. “Aku hanya merasa... Sedikit sedih karena aku menikah bukan dengan kehormatan, tapi dengan cara memalukan seperti ini. Ayah pasti kecewa padaku.” Jawab Cinta yang menunduk sedih, selama ini sikap Ayahnya sangat acuh padanya. Dia tidak tahu bagaimana reaksi Ayahnya saat mendengar kabar ini. “Maafkan aku... Semua ini terjadi karena aku, aku sudah banyak menyusahkan dan memberimu masalah.” Sesal Ale yang ikut menunduk dengan wajah sedikit frustasi. “Enggak Ale, justru aku yang harus meminta maaf. Aku sudah melibatkanmu dalam hidupku terlalu jauh, bagaimana pun kamu belum mengingat dirimu sendiri dan juga keluargamu. Bagaimana kalau kamu sudah menikah atau mempunyai seseorang yang sangat kamu cintai? Aku pasti akan merasa sangat bersalah padamu.” Balas Cinta yang menumpukan tangannya di atas tangan Ale yang mengepal. Sontak saja Ale langsung mendongak menatap Cinta, Gadis kecil yang kini telah sah menjadi Istrinya itu justru mengkhawatirkan dirinya. Entahlah... Terbuat dari apa hati Gadis kecilnya itu? Tak peduli masa laluku, aku tidak akan melepaskanmu... Istriku. Kamu adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku, meskipun seluruh dunia menentangku dan menganggap aku egois. Janji Ale dalam hati seraya menggenggam tangan Cinta dengan erat, Tuhan telah membuat dirinya terikat dalam ikatan suci pernikahan dengan Cinta. Karena itu... Dia tidak akan pernah melepaskan Cinta meski semua orang mengatakan dia tidak pantas untuk mendapatkan Cinta. Keesokan harinya, berita itu sampai ke telinga Ayah Cinta yang sekarang sedang berada di Kota hingga membuat Edi Baskara segera meminta izin pada Perusahaan tempat dia bekerja untuk kembali pulang ke Desa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD