“Arga, jangan kenceng-kenceng,” teriak Laura di saat motor sport merah itu melaju dengan kecepatan sangat tinggi.
“Apa?” teriak Arga tak mendengar apa yang dikatakan Laura karena helm full face yang dipakainya dan bisingnya suara kendaraan lalu lalang di sekitarnya.
Laura bingung antara mau marah atau tidak. Arga tidak mendengarnya sama sekali padahal dia sudah berteriak sangat kencang. Bukannya Laura ketakutan karena motor yang melaju kencang, masalahnya motor sport ini terlalu nungging untuk ditempati penumpang belakangnya. Kalau Laura tidak berpegangan bisa risiko jatuh tapi jika Laura berpegangan, takutnya Arga berfikir yang macam-macam secara ini baru pertama kali dirinya membonceng Arga. Tadinya Laura hanya berpegangan pada besi belakangnya tapi lama-kelamaan dia urung melakukannya.
Laura akhirnya mengambil keputusan untuk berpegangan pada Arga. Biarin lah, toh kondisinya juga tidak memungkinkan. Sampai motor tersebut berhenti mendadak karena lampu merah. Laura kaget setengah mati dan tanpa sadar tangannya memeluk Arga erat. Arga menyadari hal tersebut dan dia menyunggingkan senyum tampak bahagia.
“Arga, iih modus.”
“Apaan sih Laura.”
“Jangan pura-pura. Awas saja kalau diulangi lagi.”
Laura mencubit pinggang Arga.
“Aww, sakit.”
Padahal dalam hati Arga berbunga-bunga. Bisa mendapatkan keuntungan dalam kesempitan. Motor sportnya sungguh bisa diandalkan. Kalau semesta mendukung, pingin setiap jalan lampu merahnya banyak jadi bisa modusin Laura terus.
“Makanya peluk yang erat, biar gak kaget. Siap ya, lampu hijau ngebut lagi.”
Benar saja begitu lampu merah berganti kuning dan hijau motor itu langsung gass puoll. Sampai akhirnya motor sport Arga berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang sejuk karena banyak pohon yang tumbuh di pekarangan rumah tersebut.
“Laura, ada yang pingin ketemu Kamu,” ujarnya setelah turun dari motor kemudian menggandeng tangan Laura untuk segera mengetuk pintu rumah tersebut.
“Assalamualaikum,” salam mereka berdua.
“Waalaikumsalam,” suara seseorang dari dalam yang tak lama kemudian membukakan pintu.
Seorang pria dewasa membukakan pintu dan mempersilakan mereka berdua untuk duduk. Laura dan Arga duduk di kursi tamu rumah tersebut.
“Siapa Ga?” bisik Laura teramat penasaran.
“Sabar, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya.”
Tak lama kemudian seorang nenek keluar dari dalam rumah bersama pria dewasa tadi. Laura baru ingat kalau nenek tersebut adalah nenek yang sempat ditolongnya 2 minggu lalu. Saat di RS, Laura harus segera pulang karena ada agenda taekwondo yang tidak bisa ditinggalkan jadi dia menitipkan nenek tersebut kepada Arga.
Yang Laura ingat setelah kejadian waktu itu tidak ada masalah sama sekali jadi Laura lama kelamaan melupakan begitu saja kejadian tersebut. Tak tahunya Arga malah membawanya ke rumah sang nenek.
“Nenek, apa kabar?” Laura segera berdiri dan mencium takzim punggung tangan nenek dengan diikuti pula oleh Arga.
“Alhamdulillah baik Cu,” ucap nenek terkekeh.
“Alhamdulillah,” ucap Laura dan Arga bersamaan.
Nenek Nurma namanya dan pria dewasa itu adalah putra nenek yang bernama Darto. Ternyata nenek Nurma dan keluarga mau mengucapkan banyak terimakasih atas bantuannya waktu itu. Jikalau tidak ada Laura entah apa yang akan terjadi dengan nenek dan tentunya hal buruk juga akan terjadi dengan Arga dan keluarganya. Saat itu adik Arga juga sakit keras dan harus segera mendapatkan pertolongan. Bisa terjadi tragedi beruntun jikalau tidak ada Laura saat itu. Laura, Arga dan nenek Nurma sekeluarga sangat bersyukur sekali untuk itu. Alhamdulillah.
Nenek Nurma mengajak mereka untuk makan siang bersama. Menu rumahan buatan nenek Nurma rasanya sangat enak dan membuat mereka ketagihan. Mereka berdua sampai kurang dan nambah lagi porsinya. Nenek juga berpesan untuk selalu berbuat baik kepada sesama dan selalu hati-hati di jalan. Nenek ingin agar mereka berdua sering berkunjung dan nenek sudah menganggap Laura dan Arga seperti cucunya sendiri. Sungguh luar biasa kuasa Tuhan.
Laura dan Arga akhirnya berpamitan karena dirasa sudah lama di kediaman nenek Nurma. Mereka berdua pulang dengan membawa bungkusan oleh-oleh yang banyak sekali dari nenek. Bungkusan tersebut berisi banyak mangga dan buah-buahan lainnya. Rejeki memang tidak dapat diduga sebelumnya.
“Laura, rumahmu daerah mana?” tanya Arga sebelum naik ke motornya.
Laura segera menjelaskan alamat rumahnya secara rinci dan Arga mengenali daerah tersebut.
“Ok, ayo cabut,” ajak Arga sambil menaiki motornya dan menggunakan kembali helm full face nya.
Laura segera menaiki kursi penumpang motor Arga. Tangan Laura segera ditarik Arga agar memeluknya dari belakang.
“Ingat kan apa yang dikatakan Nenek Nurma tadi, hati-hati di jalan. Jangan dilepas ya, biar gak jatuh.”
“Awas aja kalau modus ini.”
“Mana ada, modus dari mana. Takut kali aku sama atlet taekwondo.”
Motor mulai meninggalkan pekarangan rumah nenek Nurma dan menuju ke daerah yang sudah disebutkan Laura tadi. Kali ini laju motor tidak sekencang sebelumnya. Sepertinya Arga ingin memperlambat momen manis ini agar tidak terlalu cepat sampai tujuan. Apesnya bagi Laura jalan menuju ke rumahnya banyak sekali lampu merah. Jadilah Arga memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu lagi. Laura hanya bisa ngedumel dan terkadang mencubit pinggang Arga lagi. Tidak ada kapok-kapoknya ngerjain Laura.
Sekitar 15 menit kemudian motor tersebut berhenti tepat di depan rumah joglo, rumah Laura.
Laura turun dari motor dan menyerahkan helm yang tadi dipakainya kepada Arga.
“Mau mampir dulu?” tawar Laura sebelum masuk rumah.
“Lain kali saja sudah sore. Oh ya minta No hp kamu dong?”
Laura mengeluarkan hp Samsungnya dan memberikannya kepada Arga.
“Nih, ketik sendiri ya.”
“Ok.”
Arga segera mengetikkan no hp nya di hp Laura dan menekan klik dial. Hp Arga berbunyi tapi dibiarkan saja. Arga menekan tombol save dan menulis Arga love di hp Laura sambil tersenyum smirk, lalu hp tersebut dikembalikan lagi ke empunya Laura.
“See you sayang, pulang dulu ya. Muah.”
“Apa?”
Laura sungguh tak percaya dengan apa yang dilakukan si Arga yang begitu absurd. Arga hanya tertawa cekikikan dan mulai melajukan motornya.
“Dasar, Arga narsis.”
Setelah Arga tidak tampak lagi di pandangan, Laura segera masuk ke rumahnya dan menutup pintunya. Kalau sore seperti ini rumahnya masih sepi karena kedua orangtua Laura masih bekerja. Laura adalah anak tunggal.
Laura segera menuju kamarnya dan meletakkan tas nya di meja belajar. Masih ada waktu untuk mandi dan sholat untuk kemudian ke luar lagi latihan taekwondo di club Sedayu.