Bab 2

1139 Words
"Mama hanya akan menutup pintunya. Jadi, berani-berani keluar sebelum Mama mengijinkan kamu keluar, atau Mama akan menambah hukumannya." Ucap Ratna sebelum menutup pintu ruangan pengap tersebut. "Iya, Ma ..." Ratna menyimpan kembali ikatan lidi miliknya ke tempat sebelumnya, lalu meraih sebuah kotak makanan di atas nakas. la harus segera mengantarkan kue buatnya yang baru selesai dibuat. Ratna bekerja sebagai seorang pembuat kue untuk mencukupi kehidupannya dan juga kedua anaknya. Pekerjaannya juga tidak menuntut Ratna untuk membuat kue di toko, Ratna diizinkan untuk membuat kue di rumah karena ia harus menjaga Jia dan Jio. "Jia, jangan main keluar, ya. Mama mau ke toko sebentar." Jia hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya. Setelah melihat sang Ibu menghilang di balik pintu, Jia menoleh ke arah pintu gudang di mana sang Kakak kembar tengah menjalani hukuman. Anak kecil yang cantik jelita itu lalu meraih tongkat kayu miliknya dan mengapit di ketiak, lalu berjalan dengan tertatih-tatih menuju gudang sambil membawa segelas air dan juga dua buah es krim yang hampir mencair yang diambil Jio dari warungnya Bu Darmi. Satu tahun yang lalu, Jia terserempet sebuah mobil saat ikut bersama Ratna untuk mengantar kue ke toko. Ratna yang tidak mampu membayar biaya pengobatan Jia, membuatnya harus berjalan menggunakan tongkat sampai saat ini. "Kakak, minum dulu ya!" ucap Jia seraya menyodorkan segelas air putih. Jio meraih gelas tersebut lalu meminumnya hingga tandas. la merasa sangat haus setelah mendapatkan hukuman dari sang Ibu. "Tangan Kakak masih sakit karena di pukul Mama tadi, ya?" tanya Jia seraya meraih tangan sang Kakak. Walaupun dalam keadaan temaram, Jia bisa melihat jelas bekas kemerahan di tangan Kakaknya. "Tidak sakit kok, Dek. Mama kan mukul Kakaknya tidak kencang." "Lalu kenapa Kakak menangis?" "Tidak apa-apa kok." Jia kini tengah berusaha untuk duduk di samping sang Kakak, namun nahas tongkatnya tanpa sengaja menyenggol tumpukan barang-barang hingga barang-barang itu terjatuh dan menimpa kakinya yang sakit. Hal itu membuat Jia meringis kesakitan dan menangis, seraya memegang kaki kanannya yang terasa nyeri. Jio berusaha menyingkirkan barang-barang yang menimpa kaki Adiknya lalu mengusap lembut kaki Jia untuk mengurangi rasa sakitnya. Setelah Jia sudah mulai merasa sedikit tentang, Jio mengusap air mata sang Adik lalu memeluk tubuh kecil itu untuk menguatkan satu sama lain. Keduanya kini sudah mulai tenang. Mereka berdua duduk bersandar sambil menatap ke arah sumber cahaya. "Kak, Ayah kita di mana ya? Kenapa Nenek tua tadi mengatakan kalau Ayah kita entah berada di mana?" tanya Jia saat teringat dengan ucapan Bu Darmi tadi. Jia yang melihat anak kecil seusianya memiliki seorang Ayah membuatnya merasa iri. "Kakak juga tidak tahu. Nanti kita cari Ayah sama-sama kalau kita sudah besar." "Iya Kak. Nanti kalau bertemu dengan Ayah, aku ingin dibelikan mainan seperti milik Santi." "Kakak juga ingin dibelikan mainan mobil remote control. Pasti bagus sekali." "Tapi, apa nanti Ayah memiliki uang untuk membelikan kita mainan?" "Tidak tahu. Tapi, Ayah pasti akan bekerja untuk kita, agar kita bisa membeli mainan yang kita inginkan." Dari balik pintu, Ratna membeku mendengarkan percakapan dua anak kembarnya. la dengan kasar mengusap air mata yang membanjiri pipi mulusnya. Tiba-tiba Ratna mengingat masa lalu, ketika Adrian sering kali menuduhnya sebagai seorang jalang, yang akan melakukan segalanya demi uang. "Andai kalian tahu kalau Ayah kalian adalah orang yang bergelimang harta. Dia pasti mampu memberikan apapun yang kalian inginkan. Tapi, sayang dia sama sekali tidak menginginkan kita, karena dia benci sekali terhadap Mama." *** Sebuah pesawat baru saja akan mendarat di sebuah bandara kota Jakarta. Adrian baru kembali ke Jakarta setelah cukup lama berada di luar negeri untuk mengurus salah satu cabang perusahaannya. Ini adalah hari pertamanya kembali ke kota kelahirannya yang menyimpan banyak kenangan. Adrian menatap ke arah luar jendela untuk melihat pemandangan kota di bawah sana. Namun, tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja membasahi pipi. Entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ada rasa perih yang menyayat hati dan ia sendiri tidak tahu sebabnya apa. Adrian kembali teringat pada malam saat dia menodai seorang perempuan yang identitasnya belum ia ketahui sampai sekarang. Meskipun Adrian terus melakukan pencarian, namun hasilnya tetap tidak membuahkan hasil, bahkan satu-satunya orang yang menjadi saksi kunci apa yang terjadi di malam itu, tiba-tiba menghilang bak telan alam. Sehingga sampai detik ini, Adrian masih belum bisa mengetahui siapa perempuan itu sebenarnya. Selama beberapa tahun kebelakang, Adrian selalu di hantui rasa bersalah. Karena itulah, Adrian memutuskan untuk meninggalkan kota Jakarta dan hidup seorang diri di negara asing sebagai bentuk rasa bersalah. Adrian memilih memperdalam ilmunya dalam berbisnis dan berniat untuk mengambil alih perusahaan orang tuanya. "Kenapa? Aku rasa sekarang kamu jadi terlihat aneh dan sering melamun." Ucapan sahabat sekaligus asisten pribadinya itu membuat Adrian seketika tersadar dari lamunannya. Adrian hanya meliriknya sekilas, menatapnya dengan malas lalu kembali memalingkan pandangannya keluar jendela. Dari sana Adrian melihat pemandangan kota Jakarta. Beberapa menit lagi pesawat akan mendarat. "Tidak apa-apa, aku hanya sedang teringat akan sesuatu." "Ratna Grisela?" Adrian seketika menatap tajam orang yang mengucapkan nama tersebut. Sebuah nama yang ingin ia kubur dalam- dalam, dalam ingatannya. Namun sayang, setiap kali ia mencoba melupakan nama tersebut, Adrian justru semakin mengingat sosok si pemilik nama. "Tidak usah sok tahu. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku suka mual saat pesawat akan mendarat." jawab Adrian seraya memijat kepalanya. "Oh, aku pikir kamu sedang memikirkannya." Adrian memutar bola matanya malas. "Kapan kamu akan berhenti menyebut nama perempuan itu?" gerutu Adrian. "Kamu sendiri yang membuatku ingin terus menyebut namanya." Meskipun tahu sahabatnya merasa kesal, namun Rendi tidak berniat untuk berhenti menggodanya. Karena menggoda Adrian yang pendiam baginya adalah sebuah hiburan tersendiri. Apalagi, jika ia sudah membahas tentang masa lalu. Karena Adrian akan menunjukkan perasaannya saat dipancing dan Rendi selalu berhasil melakukannya. Meskipun, Adrian selalu membantahnya. "Kenapa aku membuatmu menyebut nama Ratna Grisela?" "Haha ... Kamu sadar gak? Kamu sendiri yang mengatakan tidak menyukainya, kamu sangat membenci dan bahkan menjauhinya. Tapi kamu masih saja mengingatnya sampai sekarang. Bukankah itu aneh sekali?" Adrian hanya berdecak kesal. Entah bagaimana caranya untuk menutup mulut sahabat kurang ajar di sebelahnya agar berhenti menyebut nama Ratna Grisela. "Hentikan!" "Kamu tahu, dia tiba-tiba pergi dari rumahnya beberapa tahun yang lalu dan tidak ada yang tahu dia ada dimana sekarang. Sisil mengatakan, Ratna si pembuat onar itu pergi dari rumah setelah diusir oleh Ayah dan Ibunya. Mereka sudah muak dengan tingkah Ratna yang bekerja sebagai wanita jalang dan membuat mereka malu. Selain itu, dia juga menjadi penyebab Ayahnya sakit sampai akhirnya usahanya gulung tikar," jelas Rendi panjang lebar. "Aku tidak mau tahu." Jawab Adrian datar. "Saat itu aku pernah melihat dia di stasiun kereta api tujuh tahun yang lalu. Dia menaiki kereta dengan terburu-buru seperti dikejar seseorang. Saat itu dia hanya mamakai kaos lengan pendek berwarna putih dengan celana jeans padahal sedang hujan lebat." Senyum di wajah Rendi seketika mengembang. "Ian ... Kamu masih ingat kapan terakhir kali melihat dia, bahkan kamu ingat dia pakai baju warna apa dan bahkan memikirkan kondisinya. Dan kamu masih mengatakan tidak perduli padanya?" ************* *************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD