Bab 1
Di sebuah perkampungan kumuh padat penduduk,
Ratna yang sedang menyuapi putri kecilnya makan, di buat terkejut oleh suara gedoran pintu.
Ratna terpaksa menghentikan aktivitasnya lalu melangkah menuju pintu.
Bahkan sebelum tiba di ambang pintu, ia sudah dapat mendengar suara seseorang yang sedang menggerutu di balik pintu.
"Ratna!!! Cepat buka pintunya!" suara teriakan seseorang yang tak asing kini terdengar memekakkan telinga.
Karena ini bukan pertama kalinya ia mendengar suara seorang wanita yang selalu selalu saja mengganggu kehidupannya.
"Kenapa lagi Nenek tua jelek itu sudah teriak-teriak pagi-pagi seperti ini?" Ratna bergumam kesal seraya membuka pintu.
"Jia, sebentar ya, Sayang," Ratna menenangkan putri kecilnya yang ikut mengekor di belakang.
"Lebih baik Mama tidak usah keluar, Jia takut mendengar Nenek itu marah-marah," ucap Jia dengan raut wajah takut.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mama akan menyiramnya dengan air kalau sampai dia marah-marah." Jia mengangguk kecil lalu menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh sang ibu.
Ratna akhirnya membuka pintu. Terlihat seorang wanita bertubuh gempal dengan rambut ikal berdiri di ambang pintu dengan raut wajah penuh amarah.
Tatapan Ratna melirik tangan wanita tersebut yang tengah mencengkram kuat punggung baju seorang anak laki-laki.
"Apa salah anakku, kenapa berani sekali kamu berbuat seperti itu?" Ratna menarik kencang anak laki-laki tersebut lalu menyembunyikannya di belakang tubuh bersama dengan putri kecilnya.
Meski wanita bertubuh gempal tersebut ingin kembali menarik anak laki-lakinya, namun Ratna tak membiarkan hal tersebut terjadi.
Membuat mata wanita bertubuh gempal itu semakin menyorot tajam ke arah Ratna.
"Heh, kamu, Ratna! Wanita kotor yang tidak jelas entah berasal dari mana! Apa kamu tidak mendidik anakmu dengan benar? Coba kamu lihat sendiri, dia sudah berani mencuri di warungku. Atau jangan-jangan kamu sendiri yang menyuruhnya untuk mencuri? Dasar gembel!"
Ratna menghela nafas panjang, ia tidak ingin ikut tersulut emosi.
"Memangnya dia mencuri apa dari warungmu, Bu Darmi?"
"Kamu lihat saja sendiri apa yang ada di tangannya?"
Tubuh Ratna berbalik lalu menarik lengan anak laki-laki itu untuk keluar dari persembunyiannya.
Pria kecil itu, menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung dengan kepala menunduk dan tidak berani mendongak untuk menatap sang Ibu.
"Coba Mama lihat apa yang ada di tanganmu?" tanya Ratna.
Tapi anak berusia enam tahun itu masih tetap diam sambil terus menundukkan pandangannya.
"Mama akan hitung sampai tiga." Ratna kembali menghela nafas panjang. "Satu ... Dua ..."
Belum sempat Ratna selesai menghitung, Jio sudah mengulurkan tangannya.
Ratna melihat dua buah es krim dalam genggaman anak laki-lakinya. Ratna kembali di buat menghela nafas saat melihat apa yang sudah dilakukan oleh sang putra.
Bu Darmi yang merasa geram, dengan cepat merebut dua buah es krim tersebut dengan kasar, membuat Jio seketika terlonjak karena terkejut.
"Kamu lihat sendiri kan, dia sudah mencuri es krim di warungku. Makanya kalau miskin tidak perlu berlagak ingin makan es krim, tapi dengan cara mencuri."
"Tolong jaga bicaramu, dia hanya anak kecil, dia belum mengerti dengan apa yang dia lakukan. Biar aku yang membayar es krim itu, berapa harganya?"
"Giliran ketahuan mencuri saja, baru mau bayar. Menyedihkan sekali. Harga satu es krimnya 10 ribu. Jadi semuanya 20 ribu."
"Kenapa harga es krimnya mahal sekali?" Ratna menautkan kedua alisnya karena es krim yang di ambil oleh putranya hanya es krim kemasan kecil.
"Kenapa? Kamu gak sanggup bayar?" ucap Bu Darmi sambil membusungkan d**a.
Ratna menatap Bu Darmi dengan tatapan tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil uang.
"Nih ambil!" Ratna menyodorkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu.
Bu Darmi dengan cepat mengambil uang tersebut, dan ikut menatap tajam ke arah Ratna.
"Dengarkan baik-baik, kalau kamu sampai ketahuan mencuri lagi di warungku, aku tidak akan segan-segan menyeretmu ke penjara!" Bu Darmi menunjuk Jio dengan tatapan penuh intimidasi seraya melangkah pergi.
"Tunggu dulu!!" panggilan Ratna membuat langkah Bu Darmi terhenti.
"Mau apa lagi?"
Ratna melangkah menghampiri Bu Darmi lalu merebut dua buah es krim dari tangan Bu Darmi.
"Berikan es krimnya padaku. Aku sudah membayar es krim ini? Licik sekali kamu, dasar Nenek tua!"
"Dasar perempuan tidak tahu diri! Sana didik anakmu dengan benar. Jangan sampai di mencuri lagi. Dasar keluarga pencuri!"
Ratna berbalik ke arah teras rumahnya untuk menyimpan dua es krim dalam genggamannya, lalu kembali berbalik dan menghampiri Bu Darmi yang baru saja hendak melangkah pergi.
"Bu Darmi, kamu melupakan sesuatu!" teriakan Ratna membuat Bu Darmi seketika menoleh.
Byur!
Bu Darmi seketika mengap-mengap seperti ikan yang kekurangan air. Kemarahannya semakin menjadi saat Ratna menyiramnya dengan air hujan yang ia tadah di halaman rumah.
Bu Darmi terus mengusap tubuhnya yang kini sudah basah kuyup. Rasa dingin dari air hujan tersebut bahkan tidak mampu meredam api amarah dalam kepalanya.
"Ratna!!!!! Kamu benar-benar perempuan kurang ajar! Kamu dan anak-anakmu ternyata sama saja. Sama-sama entah berasal dari mana. Bahkan Ayah dari anakmu saja entah berada di mana." Bu Darmi terus memaki Ratna dengan berapi-api seraya terus menunjuk ke rumah Ratna dengan d**a yang bergemuruh.
"Dasar perempuan jalang tidak ...."
Byur!!!!!
Ratna kembali menyiram Bu Darmi dengan air.
"Ratna!!!!!"
Ratna menutup pintu dengan rapat setelah berhasil membuat Bu Darmi marah besar.
Bahkan dari dalam rumah, Ratna masih bisa mendengar cacian demi cacian dari Bu Darmi meskipun samar-samar.
Tapi sesampainya di dalam rumah, Ratna tidak melihat kehadiran Jio dan Jia.
Ratna meraih beberapa batang lidi yang ia ikat menjadi satu lalu duduk di ruang tengah.
"Jio ke sini!!" panggil Ratna yang masih berusaha tenang.
Hening! Jio masih tetap berada di tempat persembunyiannya tidak berani menghampiri sang ibu.
Ratna menoleh ke arah gorden kamar dan melihat ada empat kaki kecil di bawah tirai tersebut. Tapi, Ratna tetap duduk tenang di tempatnya.
"Mama hitung lagi sampai tiga. Kalau kamu masih bersembunyi, maka .." belum sempat Ratna menghitung, Jio sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan langkah ragu, Jio menghampiri sang ibu yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Jio tetap menundukkan kepalanya setelah berdiri di hadapan sang ibu.
Tubuhnya gemetar saat melihat ikatan lidi sebesar ibu jari di tangan kanan sang ibu, Jio sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan mamanya terhadapnya.
Karena Jio sudah sering mendapatkan hukuman yang sama setiap kali ia berbuat salah.
"Mana tangan kamu!"
Jio memilin ujung bajunya yang sudah lusuh seraya memberanikan diri untuk mendongak lalu menatap ke arah sang ibu.
Jio menatap wajah datar ibunya yang terlihat menyeramkan sambil dengan terpaksa mengulurkan tangannya.
Sementara Jia hanya memperhatikan dari balik gorden. Menyaksikan apa yang dilakukan oleh sang ibu dan kakaknya dari sana.
Jio merintih kesakitan saat ikatan lidi tersebut di hantamkan sang ibu ke punggung tangannya hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Namun, meski ia merasakan sakit dan perih, ia berusaha untuk tidak menangis.
Jio hanya menutup matanya sambil sesekali merintih kesakitan dengan mengatupkan bibir agar tangisnya tidak pecah saat itu juga.
Setelah memukul tangan anaknya dengan ikatan lidi sebanyak sepuluh kali, baru lah Ratna berhenti.
"Mama memukulmu sebanyak sepuluh kali karena ini adalah kesalahan kamu yang ke sepuluh. Kalau kamu sampai melakukan kesalahan lagi, Mama akan menghukummu dua kali lipat dari ini. Ngerti!!!"
"Iya, Ma aku ngerti," jawab Jio lirih.
"Kamu sudah tahu kan apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?"
Jio menganggukan kepalanya pelan, tanpa menjawab pertanyaan sang Ibu, Jio melangkah gontai memasuki gudang di rumah tersebut.
Duduk memeluk lutut di sudut ruangan yang pengap sekaligus gelap dan hanya bertemankan cahaya temaram yang masuk lewat ventilasi udara.
Tanpa Ratna ketahui jika sang putra sangat takut akan kegelapan.
**********
**********