Tarik nafas... hembuskan... tarik lagi... lalu hembuskan.... Dari jarak sedekat ini, rasanya nafas Disya tidak bisa berhembus dengan normal. Lihat saja, keduanya masih tatapan dan saling tindih-tindihan. Hembusan nafas Orlando pun terasa di lekukan lehernya. Apalagi jantung Disya semakin berdetak kencang tatkala mata tajam milik Orlando menatapnya dengan intens. Mata hitam milik Orlando membuat Disya meneguk ludahnya dengan susah payah. "Badan lo berat juga ya," ucap Orlando membuat Disya langsung tersadar dari lamunannya. Disya langsung mengangkat tubuhnya dari d**a bidang Orlando. Wajah Disya langsung memerah menahan malu karena ketahuan masuk ke dalam Orlando secara diam-diam seperti maling. Disya gelagapan, "enak aja berat, Disya, kan kurus." Ucap Disya dengan kikuk. "Pulang san

