Suara gaduh terdengar di dalam kamar Disya. Siapa lagi kalau bukan Disya orangnya? Gadis itu sedang memukul panci kesayangan bundanya dengan spatula.
"Woooo... Bang Olan kekasihku..." Disya menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sambil terus memukul panci dengan spatula.
Kenzo -adik Disya yang umurnya terpaut lima tahun itu- menggedor pintu kamar Disya, saking budeknya, ia tidak mendengarkan suara gedoran pintu kamarnya dan terus menyanyikan lagu ciptaannya.
"Walaupun kau menolakku, tapi ku tetap berusaha mendapatkanmu. Yeah!"
Mendengar suara Disya, telinga Kenzo langsung sakit mendengarnya. Tiba-tiba sang ayah -Ardigo- datang dengan sebuah kunci cadangan. Bukan Kenzo saja yang terganggu, bahkan, ayahnya pun ikut terganggu karena suara cetar Disya. Dan itu membuat pagi indahnya rusak karena suara putri pertamanya itu. Sedangkan Namira sang Bunda, beliau sudah kebal sama tingkah anak gadisnya yang abnormal itu. Maka, dia masa bodoh dengan suara gaduh di kamar anak gadisnya tersebut.
Pintu kamar Disya terbuka, Ardigo dan Kenzo hanya berdecak gemas melihat tingkah Disya yang bisa di bilang 'tidak normal' dan kamarnya terlihat seperti kapal pecah.
"Disya Ariana Wijaya!" Suara sang ayah membuatnya menghentikan nyanyiannya serta memukul pancinya. Melihat wajah Ardigo yang menatapnya dengan marah, ia hanya cengar-cengir gak jelas.
"Eh, ayah ganteng. Kok, datang-datang langsung marah, sih? Nanti gak ganteng lagi, loh. Mendingan bantu Disya beresin kamar daripada marah-marah." Ucapnya tanpa rasa bersalah.
Ardigo menghela nafas panjang, matanya terus menatap anak gadisnya dengan tajam. "Gak usah mengalihkan kemarahan ayah, Disya!"
Disya hanya meringis takut melihat ayahnya benar-benar murka sekarang.
"Bereskan kamarmu sekarang! SEKARANG!"
Nyali Disya langsung ciut, mau tak mau ia menuruti perintah ayahnya untuk membereskan kamarnya. Kenzo tersenyum geli melihat kakaknya kena marah oleh ayahnya. Kalau sudah melihat Ardigo murka, baik Kenzo dan Disya tidak bisa berkutik.
♡♡♡
"Disya!" Teriak Namira dari arah dapur. Disya yang sedang merilekskan tubuhnya yang pegal karena membereskan kamarnya, langsung terduduk karena teriakan membahana bundanya.
"Apa, Bun?"
"Siram tanaman!"
"Kan ada bik Surti." Ucapnya. Padahal aslinya Disya malas sekali kalau disuruh siram tanaman.
"Bunda tidak mau mendengar kata penolakan!"
Disya mengacak rambutnya dengan kesal. Bundanya tidak bisa mengerti apa dirinya lelah, lelah diomelin ayahnya, lelah bereskan kamarnya yang seperti kapal pecah dan sekarang malah menyuruhnya menyiram tanaman?! Ini kapan dia punya waktu rehat coba?
Saat sudah turun tangga, ia langsung keluar menuju halaman belakang sambil mendumal di dalam hatinya, kalau ia mendumal langsung dari bibirnya, ia bakalan kena marah lagi jika bundanya mendengarnya mendumal.
Rasa lelahnya menguap seketika, dumalan di dalam hatinya berhenti. Senyumnya langsung merekah karena melihat Bang Olan-nya sedang duduk sambil bermain ponsel di pembatas halaman rumahnya dengan halaman rumah pria itu.
Terbesit pikirannya ingin berbuat iseng pada suami masa depannya. Dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik, ia menuju ke arah Orlando yang duduk membelakanginya. Dan akhirnya....
"Duaaarrr...." kejutnya. Reflek, Orlando langsung jatuh terduduk, bibirnya mendesis kesakitan tatkala bokongnya mencium tanah yang beralaskan rumput dengan sadis.
Disya tertawa kencang melihat Orlando jatuh. Menurutnya, di saat jatuh pun, Olan tetap tampan.
"Disya!" Sentak Orlando, lalu ia melompat pembatas hingga sekarang ia berada di halaman belakang kediaman Wijaya. Dengan kesal, pria itu menarik rambut belakang Disya.
Disya meringis kesakitan, tangannya mencoba untuk melepaskan tangan Orlando yang menarik rambutnya yang belum keramas selama tiga hari dengan sadis.
"Huaa..., ampun, bang, ampun!"
Orlando mendesis tak suka, "tidak ada kata ampun untuk gadis petakilan seperti lo."
"Ih, kok, begitu, sih, bang. Disya janji, untuk tidak mengejutkan bang Olan lagi. Ini janji sang istri untuk suaminya!" Jelasnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Orlando berdecak kesal, lagi-lagi anggapannya seperti itu. Hey, siapa yang mau punya istri kayak Disya? Petakilan, jahil, usil, menyebalkan, yang ada dia langsung kejang-kejang punya istri seperti Disya. Dan satu lagi, hidupnya tidak bakalan nyaman bila punya istri macam Disya.
"Dalam mimpi lo!" Ketusnya, seraya melepaskan jambakannya. Saat tangan Orlando terlepas dari rambut panjangnya Disya, Disya menghela nafas dengan lega. Kini, kepalanya sedikit pusing karena Orlando yang menjambak rambutnya dengan keras.
Tanpa memperdulikan ucapan Orlando, gadis itu mencubit kedua pipi Orlando.
"Gemes banget sih sama bang Olan. Daripada jambak rambut Disya, mendingan bang Olan cium pipi Disya seperti waktu kecil itu, bang. Lagian, pahala loh, cium pipi Disya sang istri masa depan, daripada jambak rambut Disya, malah dosa yang ada." Jelasnya kalem.
Orlando hanya mendengus, sedangkan gadis dihadapannya, memasang senyum memuakkan sembari menaik-turunkan alisnya.
Malas mendengar celoteh Disya lagi, Orlando melompat lagi dari dinding pembatas, dan kini, pria itu berada di halaman belakang rumahnya.
"BANG OLAN! KOK LANGSUNG PERGI GITU AJA TANPA PAMITAN?!" Teriaknya.
"GAK PERLU PAMITAN SAMA GADIS ANEH KAYAK LO!" Balas Orlando, lalu masuk ke dalam rumahnya tanpa melihat Disya yang sedang menatapnya dengan sebal.
"Ish, bang Olan kok jahat banget, sih, sama calon istri sendiri." Gerutunya kesal sambil menggembungkan pipinya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, seseorang melihatnya sambil berdecak gemas melihat gadis itu.
"Disya! Bunda tadi suruh, apa?" Suara sang bunda membuat Disya menoleh ke sumber suara. Melihat sang bunda sedang berkacak pinggang, gadis itu hanya cengengesan lalu kembali bertugas yang di komando oleh bundanya.
♡♡♡
Sorenya, Disya duduk di gazebo yang letaknya di halaman depan seraya meminum segelas kopi hitam kesukaannya sambil ngemil gorengan yang masih hangat, barusan ia beli gorengan tersebut di depan komplek rumahnya. Saat ia sedang memakan cireng, ia mendengar suara yang sangat ia kenal. Dan suara tersebut berasal dari tetangga sebelahnya.
"Ayolah, masa kamu biarkan abangmu naik sepeda sendiri."
"Tapi Arlyna capek, bang."
"Lalu gimana? Sepedanya dua, harus ada yang duduk di bangku belakang."
Tiba-tiba, mata Arlyna tak sengaja menatap Disya, yang sudah dianggapnya sebagai calon adik iparnya. Saat Arlyna melihat Disya, Disya saat itu sedang menggigit cireng sambil nyengir kuda. Disya sangat hafal sekali tatapannya Arlyna, pasti ada sesuatu yang dirancang calon adik iparnya. Disya yakin itu.
"Sama Disya aja, mau gak bang?" Tanya Arlyna pada Orlando -sang Kakak-.
Orlando melototkan matanya, "sama dia? Jangan bercanda kamu." Balas Orlando dengan malas.
"Ajak, saja. Disya, kan menyenangkan. Gak rugi loh, ngajak dia, bang. Dicoba dulu siapa tahu kalian klop." Ucap Arlyna sambil menaik-turunkan alisnya.
Orlando bergidik. Menyenangkan? Menyenangkan dari mana? Menyusahkan yang ada. Lalu, NGAJAK DIA GAK RUGI?! Benar-benar adik kembarannya yang satu itu, malah, kalau ngajak Disya yang ada ruginya banyak. Rugi mendengar celotehnya, rugi karena dia pasti bahagia bisa bersepeda dengannya. Pokoknya, ruginya banyak, deh. Belum lagi Disya yang baperan, ntar dikira gadis itu dia sudah mulai mencoba berdekatan dengan Disya.
"Disya, sini!" Panggil Arlyna.
Disya langsung datang karena calon adik iparnya memanggilnya dan ia meninggalkan kopi beserta gorengannya di gazebo begitu saja.
"Ya, ada apa, kakak ipar?" Tanya Disya pada Arlyna, tapi, matanya memandang ke arah lain. Ke arah Orlando lebih tepatnya.
Arlyna tersenyum, "Kamu mau, kan, temani suami masa depanmu bersepeda?"
Orlando melebarkan kedua bola matanya. Suami masa depan?! Hey, kenapa adiknya juga mendukung makhluk astral itu sebagai suami masa depannya. Memikirkan dia menjadi suami masa depan seorang makhluk astral membuatnya bergidik.
"Mau dong, kak. Dengan senang hati, malah." Ujarnya, bibir tipisnya terus menyunggingkan senyum bahagia. Siapa yang gak bahagia coba kalau di ajak bersepeda. Apalagi bersama Bang Olan. Nyesal sampai mati bila menolaknya! Ini kesempatan emas untuknya, karena kesempatan emas ini tidak datang dua kali.
"Tuh, bang. Disya mau, tuh. Bareng dia aja bersepedanya."
Orlando hanya bisa mendengus pasrah, lalu ia menaiki sepedanya bagian depan tanpa mengucapkan satuh patah kata pun. Sedangkan Disya langsung naik sepeda bagian belakang sambil menahan senyum bahagianya.
"Siap?" Tanya Olando tanpa menoleh ke belakang.
"Selalu siap, siap di lamar, siap berumah tangga dengan Bang Olan, siap jadi istri, siap... kyaa...." pekiknya karena Orlando langsung menggoes sepedanya dengan laju hingga ia hampir terjungkal kebelakang.
"Jangan ribut, bantu goes dari belakang." Perintahnya.
Disya mengerucutkan bibirnya, tapi, bukan Disya Ariana Wijaya namanya bila harus mematuhi perintahnya, terkecuali menggoes sepedanya. Sepanjang perjalanan mengelilingi komplek, ia terus mengoceh tentang hal-hal yang tidak menarik bagi Orlando.
"Tahu, gak, bang Olan? Lihat punggung bang Olan dari belakang rasanya ingin di peluk. Kayaknya nyaman berada di dalam pelukan Bang Olan." Celotehnya sambil terus menggoes sepedanya.
Diam-diam, Orlando hanya diam mendengarkan celotehnya.
"Senang banget, bersepeda sama bang Olan. Lain kali, ajak Disya lagi, ya, bang. Jangan ajak cewek lain, nanti Disya patah hati." Curhatnya, sambil tersenyum geli.
Mendengar hal itu, Orlando hanya menyunggingkan senyum tipis. Disya tidak tahu, Orlando tersenyum karenanya. Karena mendengar ucapan konyolnya. Jika gadis itu tahu Orlando tersenyum karenanya, dia pasti kegirangan. Sayangnya, Disya tidak tahu.
"Oh iya Bang Olan naik sepeda mau ke mana sih?"
Tidak ada balas dari Orlando membuat Disya terdiam. Baiklah, Disya bakalan mengunci mulutnya dan mencoba menjadi gadis pendiam untuk hari ini saja, karena ia lebih nyaman diam dan menikmati suasananya saat ini. Bersepeda di sore hari bersama pria yang dia cintai.