Menikah

1675 Words
        Hari berlalu begitu cepat, entah bagaimana hari ini adalah hari pernikahan Zian dan Renata. Sejak di kelas mereka saling menatap namun tidak mengatakan apa-apa, seakan-akan mereka memiliki satu pemikiran. Gugup.             Bahkan Audri yang sejak pagi memperhatikan Renata, ikut bingung menatap sahabatnya yang menjadi pendiam. Jika ditanya, Renata hanya nyengir. Audri tahu jika Renata menutupi sesuatu darinya, karena Renata adalah gadis yang sulit berbohong. Jika ada sesuatu yang membuatnya diam, itu pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh Renata. Namun Audri tidak mau mengusiknya, ia akan menunggu sampai Renata mau berbicara dengannya.             Setiap jam istirahat, brosur yang dikirimkan Arka si berondong ketua osis masih setia hadir melewati para utusannya yang seakan-akan tidak pernah bosan menuruti perintah Arka. Renata sendiri lupa jika dia akan menemui Arka langsung yang biasa berdiam diri di ruang osis.             Arka adalah murid kelas XI sekaligus ketua osis yang begitu ditakuti oleh sebagian besar murid sekolah. Alasannya simple, selain ia ketua osis, ia juga anak dari pemilik sekolah, sehingga dengan kekuasaannya ia memiliki kewenangan yang bahkan guru pun tak mampu membantahnya. Arka lebih sering berdiam diri di ruang osis dibandingkan di kelas.             Pertama kali Arka kenal Renata melalui puisi. Setahun yang lalu ketika Arka masih kelas X, Arka terperangah menatap puisi yang terpajang di mading sebagai puisi favorit dalam perlombaan antar kelas. Karena penasaran siapa yang membuatnya, Arka mendatangi Renata yang tentu saja Renata menyimpulkan jika Arka menyukainya, padahal Arka belum mengatakan apa-apa pada Renata.             Awalnya Arka menyukai puisi Renata, namun setelah melihatnya langsung Arka pun menyukai kakak kelasnya itu. Bukan tanpa sebab. Renata itu cantik, bahkan teramat cantik. Dengan kulit putih, mata coklat dan tubuh mungilnya membuat banyak pria yang menyukainya. Namun sayang, jika Renata sudah mengeluarkan suara langsung seketika para lelaki yang menyukainya, patah hati massal. Karena sifat Renata yang narsis, cerewet bahkan terang-terangan menyukai si penyendiri Zian, membuat laki-laki mundur. Tapi tidak dengan Arka. Melihat sifat Renata justru membuatnya semakin terobsesi dengan Renata, yang tentu saja tidak ditanggapi oleh Renata sama sekali. Baginya Zian tetaplah nomor satu.             Setelah jam sekolah selesai, di mana ketika hari jumat jam pulang lebih awal, Zian segera bergegas menuju masjid untuk menjalankan shalat jumat. Renata sendiri sudah dijemput orangtuanya untuk bersiap-siap ke KUA. Tidak ada gaun ataupun riasan sebagai hiasan. Renata hanya mengenakan baju terusan putih polos selutut namun membuat dirinya begitu cantik dan anggun. Sementara disisi lain, Zian hanya mengenakan kemeja putih rapi membuatnya tampak lebih dewasa.             Bertemu di KUA, Renata terpaku menatap Zian. Berdampingan mereka masuk ke dalam ruangan yang telah disiapkan, di mana penghulu sudah hadir dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Sebelum melakukan ijab, Renata dan Zian diberikan nasihat mengenai makna rumah tangga dan mereka mendengarkan dengan seksama.             Hingga akhirnya ijab dilakukan dan dengan tegas, suara lantang dalam satu tarikan nafas Zian dengan lancar mengucapkan ijabnya.             "SAH!”Ucap bapa penghulu dengan lantang.             Renata menatap laki-laki yang kini resmi menjadi suaminya ini dengan haru dan bahagia.             Zian menatap Renata. Ekspresinya sulit ditebak, seperti biasa. Renata menatap kedua orangtuanya yang kini menatap mereka bahagia, terutama orangtua Renata. Terlihat Mama  masih menangis. Renata berjalan dan memeluknya, tak urung ikut menangis.             Sepulang sekolah Renata dan Zian segera berangkat ke KUA di mana orangtua mereka sudah menunggu..             Zian memasang cincin di jari manis Renata begitu pun Renata  memasang cincin di jari manisnya. Renata menatap haru  cincin yang berisi ukiran yang  "together”dicincinku dan “forever”di cincin Zian. Bunda dan Mama  yang mengusulinya, di mana itu adalah doa kedua orangtua  pada pernikahan mereka.             Selesai prosesi ijab qobul mereka  langsung menuju ke restoran yang telah di pesan orangtua Zian.             Renata memeluk lengan Zian erat. Zian merasa jengah. Melihat istrinya begitu manja, berkali-kali ia menggeliat ingin lepas. "Jangan kayak gini,"             "Kan waktu itu bilang kalo udah nikah boleh pegang-pegang!” "Ya tapi enggakk kayak gini juga kali. Lo kayak mau nyerang gue.”Ucapnya ketus.               "Nyerang gimana maksudnya?”             Zian menatap Renata kesal dan kembali meminun jusnya, membiarkan Renata yang masih memeluk lengannya, tak peduli dengan tatapan orangtua mereka yang tersenyum senang.             "Zi, ingat ya jangan langgar batasan sampai kalian lulus SMA. Dua hari sekali Bunda dan mertuamu akan datang mengawasi kalian,”Kata Bunda.             Zian hanya mendesah kesal dan kembali memakan makanannya.             "Ren, lepas dulu tangannya Zian. Kasihan Zian mau makan jadi kagok gitu.”Kata Mama.               "Enggakk akan ilang kok suamimu,”Tambah Papa.               Renata  melepaskan lengan Zian dengan tidak rela dan memakan makanannya sambal manyun.    -ṀḦṂḈ-               Renata kini berada di depan sebuah rumah yang kini bisa dikatakan rumah barunya bersama Zian. Rumah ini terletak disalah satu permuhan elit di kota Bandung. Namun, bukan masalah letaknya. Bagi Renata, asalkan bersama Zian tinggal di gubuk pun ia bersedia.             "Ngapain diem aja? Cepet masuk,”Ucap Zian menarik tangan Renata  ke dalam.             Renata semakin terkejut  ketika masuk ke dalam rumah. Rumah itu begitu indah, terang dan bersih. Terdapat tiga kamar, satu kamar dilantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Dapur beserta mini bar terletak dibelakang yang menghadap taman dan kolam renang. Ruang tv yang besar dan satu ruangan kecil berisi ruang pakaian Renata dan Zian. Renata  mengerutkan alis, sejak kapan baju-bajunya dipindahkan kerumah ini.             "Kemarin Mama datang kesini sambil beres-beres bareng Bunda,”Kata Zian menjawab pertanyaan yang ada dipikiran Renata. Renata berjalan menuju kamar di lantai bawah. Kamar itu sangat luas, bernuansa putih dan ranjang ukuran king yang mendominasi. Renata meneguk ludah memandang tempat tidur itu.             "Untuk sementara kamar ini enggakk kita pakai. Sebelum kita lulus kita pakai kamar di atas. Barang-barang lo semuanya udah diberesin. Termasuk perlengkapan sekolah,”Jelas Zian.             Renata  menatap Zian dalam-dalam. Masih tak percaya laki-laki tampan ini kini menjadi suaminya. Tanpa sadar Renata memeluk pinggang Zian dengan erat. Zian agak bergidik ketika Renata memeluknya, namun ia tidak melepaskan pelukan. Tersenyum dipelukan, Renata menyandarkan kepala di d**a Zian.             "Lo enggakk mau liat kamar atas?”Tanya Zian kaku, bagaimanapun ini pertama kalinya ia bersentuhan secara intim dengan perempuan.             "Nanti,”Gumam Renata.             Zian menghela napas. "Kita harus ganti baju. Mau sampai kapan kita pakai seragam terus?"             Renata tersenyum dan melepaskan pelukannya. "Zi, kita kan nanti berangkat bareng. terus, kalo temen-temen nanya gue harus jawab apa?”             "Kita berangkat terpisah.”Kata Zian tegas.               "Gue berangkat naik apa Zi? Angkot?”               "Bebas,”               "Kalo bebas ya gue naik mobil lo, kalo naik angkot kan harus jalan dulu ke depan. Jauh Zi! Bisa-bisa gue tepar dijalan.” Zian mengangkat tangannya. "Lo bawel banget sih. Kan bisa pake taksi online,”             "Boros Zi."   "Kan gue yang nafkahin lo.”             "Tetep aja pemborosan. Ayolah Zi, gue pergi bareng lo. Kalo ada yang nanya kenapa kita bareng kan gue bisa jawab kita pacaran,”Usulku antusias.             "Enggakk. Lo bisa nyetir mobil kan? Gue ada mobil satu lagi, kalo lo mau bisa gue ambil dirumah nyokap.”             "Gue enggakk bisa nyetir, Zi. Kalo nyetir motor gue bias,”             "Gue ada motor matic di garasi. Lo pake aja.”             Renata  menghela napas kesal. "Zi, gue pengen bareng lo!”             "Gue enggakk mau jadi pusat perhatian,”Gumam Zian. Renata menganga mendengar jawaban Zian. Ia menunjuk Zian dari atas sampai bawah."Ya ampun Zi, jangankan lo jalan sama gue. Lo jalan ke kantin sendiri aja udah jadi pusat perhatian.”             "Kenapa?”Tanya Zian dengan bingug.             Renata  menatap Zian jengah. Tangannya menunjuk kearah Zian. "Lo cowo paling ganteng disekolah! Temen-temen aja pada cengo liatin lo. Inget enggakk waktu pertama kali lo masuk kelas? Si Dian yang duduk di belakang lo aja sampai menganga ngeliat lo."             Zian menatap Renata dengan sebelah alis yang terangkat. "Lo sendiri cengo enggakk ngeliat gue?"             Wajah Renata memanas. "Hmmm.. Siapapun juga pasti cengo ngeliatin cowo seganteng lo.”Ucapnya malu-malu.                         Zian terkekeh melihat ekspresi malu-malu Renata dan berjalan keluar kamar.                            "Zi jadi gimana? Gue berangkat sekolah sama lo kan?”Renata menyusulnya menuju lantai dua.             "Enggakk, kita tetep berangkat terpisah. Lo pake motor yang ada digarasi. Gue enggakk menerima penolakan.”Zian langsung menutup pintu kamarnya tepat di depan Renata.               Renata  mendengus kesal dan berjalan menuju kamarnya dengan menghentakkan kaki seperi anak kecil.   -ṀḦṂḈ-   "Zian!!”Teriak Renata mencari Zian             Renata mencari Zian di kamar, lantai bawah dan taman , tetapi Zian sama sekali tidak ada. Tadi sore, setelah ia masuk kamar mungkin karena kelelahan Renata  langsung tertidur.             Renata menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 21.00. ia  mendesah kesal, perutnya terasa  lapar.             "Zian?!!!”Teriak Renata lagi.             Renata memekik terkejut ketika  Seseorang menarik rambutnya dari belakang. "Udah malam, enggak usah teriak-teriak.”             "Lo darimana?”Tanya Renata mengelus rambutnya yang baru saja ditarik Zian.             Zian menunjukkan kantong plastik berwarna putih. "Belanja bahan makanan. Dikulkas enggakk ada persiapan, kayaknya Bunda lupa belanja."             "Kok enggakk bangunin gue?" Zian berjalan menuju dapur dan memasukkan bahan makanan kedalam kulkas dengan rapi. Renata sendiri lebih memilih duduk di kursi mini bar dan memperhatikan Zian.             "Lo tidur kayak kebo. Dibangunin susah banget."             Renata  tersenyum malu-malu.             "Oh iya, lo bisa masak kan?”Tanya Zian menoleh pada Renata.             Renata mengangguk dan mendekatinya. "Suamiku sayang mau dimasakin apa?”             Zian menggeleng melihat Renata. "Apa aja deh yang penting bisa dimakan,”             Renata menepuk dadanya dengan bangga. "Siap suamiku, istri cantikmu akan mulai memasak.”   -ṀḦṂḈ-   "Selamat makan suamiku!!”seru Renata begitu nasi goreng yang sudah dibuat siap di santap.             "Nasi goreng?”Tanya Zian menatap ragu nasi goreng yang terlihat hitam. Mungkin ini lebih cocok kecap topping nasi.             "Eits.. Bukan nasi goreng biasa, ini namanya nasi goreng roller coaster!”               "Roller coaster? Apaan tuh?”Tanya Zian sambil menyuap nasi goreng buatan Renata ke mulutnya.               "Soalnya antara enak atau enggak kayak roller coaster keliatannya asyik pas kita naik ternyata bikin mulas,"             Zian menyemburkan nasi goreng yang berada dimulutnya. Ia tersedak. Renata  segera memberikan air dan menepuk punggungnya.               "Lo pernah masak?”Tanya Zian setelah tenang.  Renata nyengir dan menggeleng.             "Lo duduk di sini. Jangan sentuh bahan dapur. Gue yang masak!”             "Emang masakan gue kenapa?”    "Coba aja sendiri,"             Renata  menyuap nasi goreng yang ia buat dan langsung menyemburnya. "Kok asin banget ya? Ini mah kayaknya gue masukin garam kebanyakan.”Komentarnya menjauhkan piring dari hadapannya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD