"Zi, lo tau enggakk alasan kenapa kita mendadak dikawinin? Kan enggakk masuk akal, kita masih sekolah, masih belasan tahun, apalagi kita enggakk melakukan perbuatan yang senonoh.. Kok tiba-tiba aja mau dikawinin lusa.Bunda ngasih alasan enggakk ke lo?”Tanya Renata menatap Zian yang sedang menyetir.
Zian memegang kemudinya dengan erat, matanya sedikit mengeras. "Mungkin mereka punya pemikiran tersendiri tentang kebaikan kita,”
"Iya, tapi pemikirannya apa ya? Hmm.. Gue bukannya nolak mau dikawinin sama lo, cuma agak heran aja. Gue masih enggak ngerti, Zi.”
Zian mendesah mendengar Renata. Menatap Renata sekilas tanpa mengeluarkan suara. Sepintas, gurat sendu terlihat diwajahnya. Ia sebenarnya tahu apa alasan kedua orangtuanya menjodohkan dirinya. Namun ia merasa memberitahukan hal yang sebenarnya sekarang tanpa persetujuan calon mertuanya bukanlah keputusan yang baik. Jadi, Zian hanya memilih diam dan fokus menatap jalanan.
Sesampainya di parkiran, Zian langsung keluar dari mobil. Namun langkahnya terhenti, menatap Renata yang masih didalam sambil nyengir. Zian memahami maksud Renata, ia membukakan pintu mobil untukku.
"Makasih,”Ucap Renata sambil tersenyum lebar.
Zian tidak menjawab, ia hanya memijit pelipisnya dengan frustasi.
"Zi!”Panggil Renata melihat Zian berjalan didepannya.
Zian menatap Renata datar yang mengulurkan tangannya kearah Zian. Zian mengangkat alisnya sebelah, sepertinya ia tidak paham maksud Renata.
"Gandengan!”Jelas Renata.
"Enggakk.”Jawabnya datar dan kembali berjalan.
Renata mengejarnya dan memegang lengannya. "Kok gitu sih Zi? Tuh liat yang lain juga pada gandengan tangan. Kan romantis!!”
"Lo bukan anak kecil, gue enggakk gandeng juga lo enggak akan ngilang!”
"Tapi kan pasangan disini pada gandengan Zi,”Rengek Renata.
"Kita bukan pasangan.”
"Tapi kan kita mau kawin,”Kata Renata tidak mau kalah.
"Ya nanti aja kalau udah nikah.”Jawabnya cuek.
Renata tersenyum lebar, tanpa sadar merentangkan tangan mendekati Zian. Melihatnya Zian refleks mundur kebelakang. "Ngapain lo?”Tanya Zian sinis.
"Tadinya mau melukin, tapi enggakk jadi kok Zi hehe...”Kata Renata mengayunkan tangan, malu.
"Lo tau enggakk kalo megang-megang orang sembarangan itu termasuk tindakan pelecehan s****l? Sekali lagi lo nyentuh gue, awas lo ya.”Ancam Zian kesal dan berjalan duluan..
Renata mengerucutkan bibir, antara kesal dan malu.”Zi, tunggu!”Renata menarik lengan Zian, menuntut diperhatikan. "Jadi entar abis nikah bisa dong!”
"He-eh”Jawab Zian malas
"Eh Zi, ada mamaku juga. Mama!”Teriak Renata pada Mama yang sedang melihat perhiasan bersama Bunda Nadya.
"Loh kamu datang juga?”Tanya Mama Renata menatap anak gadisnya.
"Siang, Ma.”Sapa Zian sambil menyalami Mama dan Bunda..
"Siang mantu tersayang,”Balas Mama riang. Renata terkekeh melihat ekspresi Zian yang datar disebut mantu.
"Ren, lihat deh ini cincinya bagus lho!”Ujar Bunda menunjukkan sepasang cincin di etalase dimana bagian permatanya tampak sangat mencolok.
Renata menatap cincin elegan yang dihiasi butiran permata. Kesan pertama yang ia lihat adalah mewah dan elegan.
"Terlalu mencolok, kalau kami yang pakai.”Ujar Zian dengan datar.
Renata mengangguk setuju.
"Kan namanya juga cincin nikah, dipakai seumur hidup sekali. Yaaah cincin kayak gini cocoklah.”Protes Bunda.
Zian menggeleng tetap tidak setuju.
"Kalau yang ini gimana?”Tanya Mama menunjukkan sepasang cincin silver yang polos. “Mbak, bisa saya lihat cincin yang ini?”Pinta Mama..
Renata dan Zian mengamati cincin itu dengan seksama. Sederhana namun indah.. dengan semangat Renata mencoba menggunakannya di jari manis dan ukurannya pas sekali. Lalu ia melirik Zian yang kini menatap cincin itu dijari manis milik Renata, matanya menatap hangat. renata mengkeret mendekatinya, menghapus jarak.. Zian tidak protes ketika lengan mereka bersentuhan.
"Cantik kan Zi?”
Zian mengangguk setuju.
"Coba dipakai yang kamu Zi, takutnya ukurannya enggak pas.”Saran Bunda.
Zian meraih cincin itu agak ragu. Renata mendahului mengambil cincinnya, meraih tangan Zian dan memasangkannya di jari manis Zian.
"Pas Zi!”Kata Renata senang.
"Kebalik kali Zi, harusnya kan kamu yang pakai di jari manis Renata. Ini yang cewe malah masangin cincin cowo.”Sindir Bunda.
Zian mendengus dan melepaskan cincinnya. "Udah bereskan?”
"Nad mending cincinnya diukir deh, biar enggak polos banget.”Saran Mama.
"Oke! Mba saya mau ambil yang ini dan tolong ukir tulisan juga ya.”
"Baik bu. Untuk pengukiran membutuhkan waktu satu jam, palingan Bu.”
"Iya enggakk apa-apa, nanti satu jam lagi saya kesini. Saya bayar dulu aja.”Kata Bunda mengeluarkan kartu berwarna gold.
"Sambil nunggu kita makan dulu aja ya di restoran lantai atas?”Ajak Mama dan mereka berempat berjalan menuju restoran di lantai atas.
"Ren, habis nikah kamu tinggal sama Bunda ya?”Kata Mama ketika kami sedang menunggu pesanan makanan.
"Bunda udah beresin kamar kamu lho! Sebelum lulus sekolah kalian harus sabar bobonya pisah ya.”Kata Bunda sambil cekikikan dengan Mama..
Wajah Renata memanas membayangkan tidur seranjang dengan Zian, jiwa mesumnya kembali datang, membuat mukanya merona membayangkan yang iya-iya. Zian yang duduk di sebelahnya menyenggol bahu Renata dengan sengaja.
"Bun, Aku udah bilang kan berapa kali. Habis menikah aku mau tinggal di rumah batu nunggal!”Sergah Zian jengkel.
"Tunggu kamu lulus SMA Zi. Kalo kamu tinggal disana, siapa yang ngawasin kalian? Bunda enggakk mungkin tiap hari kesana kan?”
Zian menyipitkan matanya, rahangnya mengeras. Seperti mencoba menahan amarah. "Bun, Rena tanggung jawabku. Kami tidak akan melakukan apapun yang kalian pikirkan,"
Bunda menatap Zian jengkel. "Fine, nanti Bunda bujuk Ayah kamu.”Bunda menatapku. "Kamu sendiri mau tinggal di mana, Ren?”
"Aku ngikut Zian aja deh Tante hehe..”
"Aku ke toilet dulu,”Ucap Zian.
Begitu Zian pergi, Bunda memegang lembut tangan Renata . "Kamu harus sabar ya Ren ngadepin sikap Zian. Dia memang cuek tapi hatinya baik kok. Zian memang agak sulit bersosialisasi.”
"Di sekolah Zian kayak gimana, Ren?”Tanya Mama.
"Hmm.. Ya gitu Ma, jutek ke orang-orang. Zian juga selalu sendirian. Temen-temen yang lain juga pada enggakk berani ngedeketin Zian, enggakk ngerti Rena juga, padahal dia kan pernah jadi ketua kelas waktu kelas X."
"Anakmu itu kebanyakan bergaul sama buku, Nad.”
"Aku juga bingung. Dari dulu emang si Zian itu lebih suka sendirian. Aku sama suamiku udah pusing gimana ngadepinnya.”
"Bun, tapi Zian populer banget lho! Temen sekolahku banyak banget yang naksir dia. Hmmm.. Zian pernah punya pacar enggakk?”Pancing Renata..
"Boro-boro pacar, temen perempuan yang deketin dia sampai ke rumah aja dia galakkin.”Bunda menatap Renata tersenyum. "Tapi kok ke kamu beda ya Ren? Dia keliatan sayang banget sama kamu. Mungkin dia udah nerima banget perjodohan ini kali ya?”
"Tapi Zian sering galak sama aku,”Kataku mengerucutkan bibir.
"Galak ke kamu karena nyari perhatian kali,”Celetuk Ibuku.
"Ihhh.. Apaan sih!”Kata Renata malu-malu.
Sementara di sisi lain Zian yang sengaja berlama-lama di toilet menatap dirinya sendiri melalui kaca dengan datar. Tinggal menghitung hari pernikahannya akan tiba. Hatinya masih berharap jika pernikahan ini akan dibatalkan. Namun melihat kondisi Mama Tita yang terlihat semakin pucat dan kurus membuat Zian merasa iba. Sekali lagi Zian dipaksa untuk menerima takdir. Ini bukanlah pernikahan yang ia harapkan, ia bahkan selalu memblack list nama Renata sebagai wanita yang patut ia perhitungkan sebagai partner hidupnya. Renata terlalu membuatnya pusing, dirinya selalu merasa tidak berdaya jika berada di sekitar Renata. Karena itu ia akan menutupi perasaan tidak karuannya ini dengan bersikap galak dan ketus pada gadis itu.
Tapi mengapa.. Tuhan memilih Renata menjadi partnernya?
Jika dibolehkan, bisakah Zian bernegoisasi dengan Tuhan?
Renata itu… baginya adalah gadis yang menakutkan.