Puisi Buatan Gadis Aneh

1483 Words
            Setelah pertemuan keluarga yang diadakan kemarin malam, maka sesuai kesepakatan bersama pernikahan akan terjadi hari jumat ini, sore hari di KUA. Tidak akan ada bunga, dekorasi, gaun pengantin, makanan melimpah bahkan gedung. Namun hal itu tidak mempengaruhi kebahagiaan yang dirasakan oleh Renata. Hal itu tidak membuatnya merasa sedih, jika faktanya ia akan menikah dengan laki-laki yang ia sukai.               Meskipun kemarin Zian tidak menanggapi permintaannya, namun Renata yakin jika Zian pasti akan berusaha mengabulkan permintaanya. Bukankah cinta akan hadir karena terbiasa? Mereka akan tinggal diatap yang sama, itu berarti kesempatan Renata untuk meraih cinta Zian berpeluang besar.               “Ngapain lo senyum-senyum sendiri?”Tanya Audri yang sejak tadi mengamati sahabatnya senyum-senyum sendiri begitu masuk kelas.               Renata tersenyum lebar menatap sahabatnya, ia pun memeluk Audri erat.               “Kenapa sih lo? Ini pasti lo jadi gila gara-gara cinta lo enggakk kebalas sama Zian.”               “Lo ngedoain gue, Ndri?”Tanya Renata melepaskan pelukannya.               “Habis lo pagi-pagi udah aneh aja! Kenapa sih? Kalau bukan Zian, apaan? Jangan-jangan duit jajan lo naik ya?”               “Lah, itu mah kagak mungkin! Nyokap gue kan pelit Ndri. Jatah gue ya tetep aja sepuluh rebu per hari.”Keluh Renata sebal.               “Terus apaan?”               “Kepo lo ah, Ndri! Eh Zian belum datang ya?”               “Emang dia bakalan masuk?”               Renata mengangguk.               “Kok lo bisa tahu? Chat lo dibalas ya?”               Renata tidak menanggapi pertanyaan Audri, kalau nanggapin bisa-bisa Renata keceplosan bilang kalau kemarin ia bertemu Zian, bahkan jumat ini mereka akan nikah. Kalau Audri tahu, bisa-bisa Zian ngamuk dan akhirnya mereka tidak akan menikah.               Audri menyenggol bahu Renata. “Tuh pujaan lo dating,”Ucapnya menunjuk kearah Zian yang baru memasuki kelas.               Dengan semangat Renata beranjak dari tempat duduk Audri dan berjalan ke bangkunya dimana letaknya bersebelahan dengan Zian. “Hai Zi!”sapa Renata sumringah.               Zian mendelik menatap Renata, mengabaikan sapaan gadis itu ia mulai menyusun buku pelajaran hari ini dan menyimpannya di kolong meja. Renata yang mengamati sejak tadi selalu merasa kagum dengan kerapihan Zian.               “Jangan senyum-senyum.”Ujar Zian melirik Renata.               “Kenapa? Gue cantik ya?”               “Serem,”               Renata memukul lengan Zian pelan. “Rese deh!”               Zian mengangkat bahu acuh  dan mulai membaca buku sedangkan Renata menyenderkan kepalanya di atas meja dengan ditopang kedua lengannya menatap Zian yang kini benar-benar larut dengan bacaannya, entah sudah berapa lama setiap paginya ia menatap Zian seperti ini? Selalu ia yang menatap dan Zian yang mengacuhkan dirinya.               Entah sampai kapan ini akan berlangsung.   -ṀḦṂḈ-                 “Apaan nih?”Tanya Renata ketika salah satu adik kelasnya menghampirinya di jam istirahat sambil meletakkan brosur di atas meja.               “Ini brosur perlombaan puisi,”Jawab adik kelas yang bernama Boby.               “Terus urusannya sama gue apa?”Tanya Renata bingung.               “Saya cuma disuruh Arka buat kasihin ini ke Teteh.”               “Arka ketua osis itu?”               Boby mengangguk. “Saya cuma disuruh kasih ini ke teteh, kalau gitu saya permisi ya Teh.”               Renata mengambil brosur itu dengan kasar. “Benar-benar itu orang, udah gue bilang enggakk mau tetep aja maksa!”               “Permisi gue mau keluar.”Ucap Zian datar.               Renata menatap Zian dan berdiri agar Zian dapat keluar.               “Mau kemana Zi? Ke kantin ya? Bareng dong.”               “Perpus.”Jawab Zian.               “Ikut!”               “Enggakk.”               Renata mencebik kesal melihat Asri yang tiba-tiba saja menghampiri mereka.               “Jadi ke perpustakaan bareng?”Tanya Asri ramah.               Zian menyunggingkan senyum kecil dan mengangguk, lalu ia menatap ketus Renata. “Kerjain PR, habis istirahat pelajaran kimia, jangan sampai lo diusir keluar.”Setelah mengatakan itu Zian dan Asri meninggalkannya.               Renata menghentakkan kakinya, kesal diingatkan. “Zi gue pinjem buku PR lo ya!”ucap Renata dengan suara yang tentu saja tidak akan bisa didengar Zian. Sambil terkikik ia pun kembali ke tempat duduknya dan mengambil buku PR Zian di kolong meja.               “Zian bisa ngamuk lho kalau tahu lo suka nyontek diem-diem ke dia.”Ujar Audri berdiri di sebelahnya sambil memberikan sekotak s**u rasa strawberry untu sahabatnya.               “Dia enggakk akan ngamuk selama dia enggakk tahu kalau gue nyontek,”               “Zian pergi lagi sama Asri?”               Renata mengangguk malas.               “Mereka pacaran ya?”               “Gila lo! Enggakk mungkin lah.”Sanggah Renata.               Audri mengambil brosur di atas meja Renata. “Lomba bikin puisi? Pasti diminta Arka ya?”               “Emang tuh brondong enggakk ada capenya nyuruh gue ikutan lomba.”               “Dia terobsesi sama puisi yang lo bikin di madding,”               Renata tidak menanggapi perkataan Audri, dirinya tengah disibukkan dengan menyalin tugas. Waktu istirahat akan habis dan sebelum Zian kembali ke kelas ia harus menyelesaikannya dengan rapi.               “Kenapa lo enggakk coba ikutan aja? Kalau menang lumayan lho hadiahnya dapat duit.”               “Berapa?”               “Satu juta. Lumayan banget tuh! Bukannya lo mau beli komik set detective conan ya?”               Renata terdiam sebentar. “Ikutan enggakk ya?”               “Coba aja tapi niatnya iseng jadi kalau enggakk menang ya enggakk akan kecewa. Apalagi… kalau lo menang siapa tahu Zian jadi naksir sama lo.”               Renata tertawa. “Masa naksir gara-gara ikutan lomba pusi?”               “Ya bisa aja dia jadi kelepek-kelepek denger puisi buatan lo.”               Renata berpikir sesaat sambil mengetukkan pulpen ke pelipisnya, hingga akhirnya ia berkata. “Oke deh gue coba.”     -ṀḦṂḈ-                 “Kamu kenapa Zian?”Tanya Asri mengamati Zian yang daritadi sepertinya tidak konsen membaca.               “Kenapa apanya?”               “Hari ini kamu kelihatan beda, kayak lagi banyak pikiran.”               “Enggakk kenapa-napa.”Jawab Zian datar dan kembali membaca buku.               “Oh iya kamu bisa kasih ini ke Renata? Aku lupa tadi mau kasih ini ke dia, titipan Arka.”               Zian menatap kertas yang dipegang Asri. “Ini brosur lomba puisi? Tadi juga ada yang kasih dia ini.”               Asri terkekeh. “Arka memang nyuruh siapapun buat kasih ini ke Renata. Itu usaha dia supaya Renata mau ikut berpartisipasi.”               “Kenapa?”               “Arka itu suka sama puisi buatan Renata,”               Zian merasa bingung. “Puisi? Memangnya dia bisa bikin puisi?”               Asri menatap Zian tidak percaya. “Kalian satu kelas, teman satu bangku tapi kamu enggakk pernah tahu soal puisi Renata? Itu lho yang pernah dipajang di mading waktu tahun kemarin. Puisi dia kan jadi favorit satu sekolah.”               “Aku enggakk tahu,”               Asri mengeluarkan HPnya dan memberikan pada Zian. “Nih baca puisinya, aku foto soalnya.”               Dengan ragu Zian mengambil HP itu dan menatapnya. Sedetik kemudian Zian merasa terperangah membaca puisi yang dibuat gadis yang sama sekali tidak disangkanya. Mungkin saat ini tidak akan ku temukan Cintamu dalam peta, atau pada cuaca Mungkin pula kau memang tak memilikinya Sedekat waktu yang terus berlalu Namun yang aku tahu, tiap garis waktu dan titik bumi yang kau lewati selalu mencipta warna berbeda dan tak terduga Dan jika ada warna selanjutnya yang akan kau temukan, mungkin itu adalah aku Atau jika kau bisa menunggu maka aku mampu menemukanmu               Zian memberikan HP itu pada Asri dan kembali membaca buku. “Gimana?”Tanya Asri penasaran. “Biasa aja,” Asri terkekeh membuat Zian menatapnya heran. “Kenapa?” “Bagus deh kalau biasa aja.” Zian kembali menatap buku. “Kamu tahu enggakk kenapa bagus?” Zian menatap Asri datar. “Soalnya aku sempat kepikiran kamu bakalan kagum sama Renata dan itu bikin aku…cemburu.” Zian sedikit terperangah dengan pemikiran Asri. Bagaimana bisa dirinya terperangah dengan gadis aneh dan menyebalkan seperti Renata?   Sepulang sekolah ketika Renata akan berjalan menuju parkiran motornya, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang. Ketika Renata hendak marah, ia mendadak diam begitu tahu jika Zian yang menariknya. “Ngagetin gue aja Zi! Kenapa? Mau ajak gue pulang bareng? Aduh gimana ya Zi, gue kan bawa motor harusnya lo chat gue semalam.” Zian menatap Renata sebal, gadis ini memang selalu suka menyimpulkan segala sesuatunya sendiri. “Pinjem jari lo.” Dengan ragu Renata mengulurkan tangannya. “Buat apaan Zi?” “Ngukur, hari ini gue sama Bunda mau beli cincin.”Jawab Zian yang masih sibuk mengukur jari Renata. Bersentuhan kulit dengan Renata entah mengapa membuat Zian merasa canggung. “Gue ikut dong!”pinta Renata semangat. Zian menatap datar Renata. “Enggakk,” “Kenapa?” “Lo ikut pasti berisik dan lama.” “Kok gitu sih? Enggakk akan lama kok! Janji deh gue enggakk bakalan berisik. Pleaseeee!” “Bukannya lo bilang lo bawa motor?” Renata mengguncangkan lengan Zian. “Motornya gue simpen disini aja, jadi gue ikut lo. Aman kok motornya soalnya pernah gue inepin di sini pas ban bocor. Boleh ya Zi?”rengek Renata manja. “Enggakk usah ngerengek! Berisik tahu!”Zian melepaskan tangannya dari genggakman Renata dan berjalan menuju mobilnya. Renata menatap Zian masam. Di depan pintu kemudi Zian menatap Renata. “Lo mau gue tinggal?” Renata tersenyum lebar dan segera menyusul Zian dengan berlari.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD