“Ren, pesan makan kamu dulu ya. Keluarga calon suamimu datang telat, tadi telepon katanya kejebak macet.”Kata Mama sambil melihat menu.
Renata mendelik kesal sambil melihat menu. Bagaimana tidak kesal, dari sore Mamanya sudah ribut menyuruhnya untuk berdandan, padahal acaranya habis isya tapi Renata disuruh siap-siap dari jam empat sore. Sekarang, make up ala kadarnya sudah mau luntur dan calon yang katanya mau dijodohkan saja datangnya telat. Pertemuan pertama saja sudah ngaret, apalagi membina rumah tangga dengannya? Kan Renata suka laki-laki tipe yang disiplin, biarpun dirinya masih suka ngaret tapi buat calon imam enggakk boleh dong.
Sambil menatap menu, Renata membayangkan.. bagaimana jika calon suaminya ini bertampang ganteng ala CEO negri oranye? Hmm.. kayaknya Renata bakalan mempertimbangkan baik-baik nih, apalagi kalau tampangnya mirip oppa alien yang di drama korea uuhh… Renata pasrah kalau ngeliat laki bening kayak gitu.
Tapi Zian gimana? Yah Zian mah dibungkus dulu aja ya, namanya juga kalau dapat rezeki gede mah enggakk ada yang bisa nolak. Nanti amit-amit kalau Renata sakit hati sama si oppa baru deh Ziannya dikeluarin. Renata terkikik membayangkan pikiran absurdnya.
“Hey, kok malah ngelamun?”tegur Mama.
“Enggakk,”
“Terus mau makan apa?”
Renata kembali menatap menunya sekilas. “Ma, ini yang bayarin nanti siapa? Keluarga kita atau mereka Ma?”
“Apaan sih Ren, jangan aneh-aneh ya kamu, cepat pilih menu!”
Renata mengerucutkan bibirnya dan memilih menu. “Yaudah deh mau ayam geprek aja.”
“Mana ada ayam geprek di restoran begini.”Timpal Papa.
“Emang calonnya bule ya Pa? makanya ketemuan di restoran kebarat-baratan gini?”Tanya Renata penasaran.
“Kamu tuh banyak nanya ya, udah biar Mama yang pesenin.”
“Kamu jangan bikin Mama kesal dong.”Tegur Papa lembut.
“Mama Papa juga bikin aku kesal!”
“Kesal kenapa?”
“Nikahin Rena. Emang Papa tega lihat Rena dibawa pergi sama cowo asing?”
Papa tidak menjawab, ia hanya mengelus rambut putrinya dan memberikan senyum lembut pada gadisnya.
“Ah, itu mereka! Nadya!”panggil Mama melambaikan tangannya dengan sumringah.
Renata menatap kedua pasangan suami istri yang sepertinya teman sebaya Ibunya yang kini tengah berpelukan bak sahabat lama. Renata kembali mencari sosok lain yang lebih muda, namun ia tidak menemukan sosok lain selain pasangan suami istri tersebut dan itu membuat hati Renata mendadak gelisah dilanda ketakutan jika orangtuanya akan menikahkan dirinya dengan laki-laki seusia Ibunya. Jika seperti itu, pulang dari sini Renata akan melapor kepada KPAI untuk meminta perlindungan.
“Ini mantu aku, Ta? Cantik banget! Haloo sayang.”Sapa tante Nadya memeluk Renata dengan hangat.
Diam-diam Renata bernapas lega, bahwa ia menemukan fakta dirinya tidak akan dinikahkan oleh suami tante ini. “Ha-halo tante.”
Tante Nadya melepaskan pelukannya dan menatap Renata lembut. “Enggak usah panggil tante, panggil Bunda aja ya, kan sebentar lagi kita jadi keluarga.”
Renata hanya tersenyum masam dan menyalami suami tante Nadya dengan canggung karena sempat berpikiran yang tidak-tidak pada Bapak ini. Ya kali, ia bakal menjadi istri kedua kayak film-film gitu. Biar dikata itu ibadah, hati Renata belum nyampe tahap segitu. Lihat Zian ngobrol sama perempuan aja hatinya udah ketar-ketir, apalagi di poligami lihat laki sendiri bobo sama perempuan lain. Uuuh… siksa Renata aja dah sekalian!
“Anakmu mana, Nad?”Tanya Mama sambil celingukan.
“Dia lagi ke toilet dulu sebentar.”
Renata tersenyum canggung menatap tante Nadya, Mama dan Om Ari yang kini asyik berbincang, sedangkan Papa yang berada disebelah Mama hanya tersenyum sambil mengelus kepala Mama. Papa dan Mamanya memang terpaut usia yang cukup jauh sehingga Renata seringkali melihat Papa lebih tenang dan selalu mengalah jika Mama sudah ngomel-ngomel. “Kalian udah kenal lama ya?”Tanya Renata tanpa sadar.
“Kami ini teman akrab dari kuliah. Tante, Om dan Mama kamu satu jurusan, dan kebetulan kami juga mahasiswanya Pak Kevin, Papa kamu.”Jawab tante Nadya semangat.
“Mama kamu itu fansnya pak Kevin lho!”timpal Om Ari sambil melirik nakal Mama.
“Jadi dulu Mama yang ngejer Papa?”Tanya Renata penasaran.
“Iya.”Jawab tante Nadya dan om Ari.
“Enggakk!”Jawab Mama jengkel namun pipinya merona.
“Enggakk boleh bohong kamu sama anak, Ta! Tim sukses cinta kamu itu kan kita berdua.”Timpal tante Nadya.
“Tita cuma gengsi itu, Bun.”Om Ari mengingatkan.
Tante Nadya nyengir menatap Mama dan memeluk Mama dari samping.
Papa yang sejak tadi terdiam kini tertawa pelan. “Kalau mereka udah kumpul, pasti selalu ramai Renata.”
Renata tersenyum senang melihat persahabatan yang terpampang di depan matanya. Ingin rasanya ia mengetahui cerita masa muda Mamanya. Dulu kalau Renata Tanya ke Mama, pasti Mama udah kabur duluan. Ternyata, Mama gengsi ketahuan kalau masa mudanya cuma buat ngejar Papa. Wajar saja jika Mama sangat menyukai Papa, meskipun Papa sudah berumur 53 tahun, Papa masih terlihat sangat tampan dan memiliki fisik yang bagus karena Papa selalu rajin berolahraga dan menjaga makanan, berbeda sekali dengan Mama yang lebih suka makan dan bermalas-malasan di rumah.
“Selamat malam,”Suara familiar menyentak Renata dari lamunan. Renata segera menoleh mencari si pemilik suara.
“Ini Zian anakku lho Ta, Pak Kevin.”Ujar Tante Nadya.
Renata menganga menatap pujaan hatinya yang kini tengah bersalaman dengan kedua orangtuanya. Hatinya berdetak begitu cepat, rasa hangat menjalar kekulitnya menatap Zian yang sudah berapa minggu tak ditemuinya kini hadir dihadapannya. Jika memang Zian adalah calon suaminya.. Renata siap menikah sekarang juga! Yuk halalin aku sekarang juga, Bang. Pikir Renata.
“Zian udah gede, makin ganteng aja ya!”puji Mama semangat.
Zian hanya tersenyum, ia duduk berhadapan dengan Renata yang masih menatapnya dengan pandangan memuja. Melihat reaksi Renata yang sudah ia sangka membuat Zian mendelik sinis.
“Renata, ini kenalin anak Bunda Zian.”
“Udah kenal kok Bunda,”Jawab Renata malu-malu.
“Kenal darimana?”Tanya Papa.
“Kita ini satu sekolah, satu kelas juga, iya kan Zi?”
Zian hanya bergumam sebagai jawaban.
“Jangan-jangan Zian yang sering kamu ceritain itu, yang ini lagi?”tebak Mama sambil berbisik.
Renata mengangguk semangat dan kembali menatap Zian yang kini sibuk melirik kearah lain. Sepertinya Zian berusaha menghindari tatapan Renata yang membuatnya teringat pada karakter shincan yang mendadak dimatanya ada lope-lope ketika melihat wanita cantik. Dan itu mirip sekali dengan Renata yang kini terus memandangnya tanpa malu.
“Bagus dong kalau sudah kenal, enggakk usah repot-repot kita kenalin lagi ya?”ucap Ayah Ari senang.
“Yaudah kalau sudah saling kenal, sekarang kalian pesan makanannya. Kita makan dulu ya.”Saran Papa.
-ṀḦṂḈ-
“Auw?!”rintih Renata ketika merasakan kakinya di injak seseorang. Renata menatap Zian yang kini membalas tatapannya dingin.
“Kenapa?”Tanya Mama.
“E-enggakk Ma.”Jawab Renata dan kembali menatap Zian dengan tatapan bertanya karena Zian kini menyenggol kakinya pelan. Zian mengendikkan kepala memintanya untuk keluar sebentar.
“Lo pengen kita berduaan?”Renata menyuarakan pikirannya dengan polos.
Zian menatap jengah Renata, memang gadis itu tidak mengerti kode. “Boleh Bunda?”Tanya Zian pada Ibunya.
“Boleh, kita juga masih pengen ngobrol-ngobrol kok.”Jawab Bunda.
Zian berdiri dan berjalan menjauh dari meja keluarga, disusul Renata yang mengikutinya. Begitu mereka sampai di gazebo yang cukup sepi, Zian berhenti dan menatap Renata datar.
“Lo tahu kan maksud keluarga kita ngadain pertemuan ini?”Tanya Zian tanpa basa-basi.
Renata mengangguk. “Mau ngawinin kita,”
“Nikah bukan kawin,”Zian memperingati dengan jengkel. “Lo setuju buat nikah?”
“Setuju.”
Zian sempat terkejut mendengar jawaban Renata yang cepat. Apa gadis ini tidak pernah berpikir ya? “Lo mikir deh sekali-kali, ini kita dinikahin ketika kita masih sekolah.”
“Emang kalau kita udah dewasa, lo bakalan lamar gue?”
“Ya enggakklah!”Sergah Zian cepat.
“Nah itu, mumpung ada kesempatan nikah sama lo, ya gue mau lah.”
“Karena?”
“Cinta,”Jawab Renata enteng.
“Lo emangnya enggakk sayang sama nasib lo? Lo enggakk mau ngeraih cita-cita lo?”Tanya Zian masih berusaha untuk membuat Renata mengubah keputusannya.
Renata tersenyum malu-malu. “Cita-cita gue jadi istri lo,”
Zian mengusap wajahnya, berhadapan dengan Renata memang seringkali membuatnya kewalahan. Cara berpikir gadis ini benar-benar frontal yang kadang membuat dirinya merasa malu sendiri mendengarnya.
“Zi, kita nikah aja kan asyik kalau udah halal!”ujar Renata semangat.
“Nikah itu enggakk sedangkal yang lo pikir.”
“Kok lo gitu sih? Nikah itu special kali.”
“Memangnya lo pikir martabak?”
“Bolehlah kalau disandingin martabak, kebetulan ini favorit gue. Tapi lebih special lagi kalau pake cinta.”
“Enggakk usah nyebut cinta kalau lo enggakk ngerti soal itu.”
“Kata siapa gue enggakk ngerti? Gue cinta kok sama lo, dari dulu malah.”Ujar Renata malu-malu.
“Terserahlah. Denger, soal pernikahan ini..”
“Gue enggakk mau ada nikah kontrak macam film-film gitu.”Sela Renata. “Gue mau kita nikah beneran, seumur hidup sekali.”
Zian menyentil dahi Renata. “Denger kalau lo mau nikah sama gue, ada beberapa syarat yang harus lo lakuin.”
“Apaan? Gue enggakk mau ya kita nikah kontrak gitu!”
“Bukan. Gue mau lo sembunyiin soal ini ke semua orang, kedua gue mau lo tingkatin belajar lo di sekolah, ketiga gue enggakk mau lo bolos sekolah atau pelajaran tambahan, keempat gue enggakk mau lo bikin ulah, kelima tidur kita terpisah, keenam lo harus masuk ranking sepuluh besar.”
Renata melongo mendengar persyaratan Zian. “Hah? Banyak amat Zi! Enggakk sekalian menguasai sekolah aja? Tapi kok kita enggakk tidur sekamar? Mama Papa aja kalau tidur satu kamar. Masa kita enggakk?”
“Kita tidur beda kamar, bahaya lo deket-deket sama gue! Bisa habis gue.”
Renata melipat lengannya di dadanya. “Emangnya gue mau ngapain?”Gerutunya lucu.
“Jadi gimana?”
“Okelah kalau gitu, tapi gue juga punya syarat.”
“Apaan?”
Renata menegakkan tubuhnya menatap lurus Zian. Zian yang merasa ditatap intens, mendadak merasa gugup.
“Zian.. belajar buat jatuh cinta sama gue ya?”