Keputusan Zian

1092 Words
            Dua minggu ini terasa berat untuk Renata. Kenapa? Soalnya berat menahan Rindu ke pujaan hatinya yang tak kunjung sekolah. Denger-denger sih Zian lagi ada acara keluarga di luar kota. Tapi kok sampai dua minggu? Emang acara apaan sampai enggak sekolah selama itu? Apa jangan-jangan Zian dikawinin lagi karena kedapatan ngelakuin ONS di club sama cewek yang enggakk ia kenal!               Hah, memang pemikiran Renata itu super sekali! Memangnya Zian pergi ke club mana? Paling mentok ke acara kajian para rohis sekolah. ONS sama cewek? Deket cewek aja dia kayak yang alergi, kalau salaman enggakk pernah nyentuh. Gimana caranya dia bisa ONS sama cewek?.               Perhatian Renata kini berpindah mengamati Ibunya yang tengah menonton TV di sebelahnya. Dilihat-lihat Ibunya semakin kurus dan tidak bernafsu makan. Kalau di Tanya Renata pasti jawabannya lagi enggakk enak badan atau diet. Padahal bobot tubuh Mama kini menyusut sekali, dari yang sebelumnya bertubuh subur menjadi kurus. Kurusnya kayak enggakk sehat, kan kalau diet kurusnya segar. Ini lebih kayak sakit.               “Ma,”Panggil Renata.               “Hmm?”               “Ke dokter yuk! Kayaknya Mama sakit deh.”               “Enggakk usah, Mama cuma enggakk enak badan aja. Di tidurin juga entar sehat,”               “Selalu aja gitu! Dari kemarin-kemarin jawabnya gitu, tapi buktinya makin sakit kelihatannya. Ke dokter yuk Ma? Kan gratis pakai BPJS.”Bujuk Renata.               “Malas ngantri.”Jawab Mama sekenanya sambil mengusap perutnya.               “Yah kan yang ngurusin Renata, Mama cuma diem aja. Yuk Ma! Atau Rena telepon Papa ya minta Papa pulang cepat.”               “Enggakk usah sayang, Mama cuma butuh istirahat aja. Mending kamu ambilin apel di kulkas deh, Mama pengen yang segar-segar.”               Renata mengangguk dan mengambil dua buah apel di kulkas.               “Sini biar Mama yang kupas.”Ujar Mama mengambil apel dan pisau dari tangan Renata.               Renata nyengir.               “Kamu itu harus belajar ngupas buah, masak nasi, bikin telor, masak sayur, masak nasi goreng, bukan cuma bisa bikin mie instan aja! Nanti kalau kamu punya suami, suami kamu mau makan apa? Masa tiap hari mau di bikinin mie instan!”               “Lah kan Rena bisa masak satu menu lagi Ma,”               “Apaan? Masak air?”               “Ya bukan, roti selai Ma!”jawab Renata bangga.               “Yah Mama pikir roti bakar.”Sindir Mama.               “Roti bakar mah ribet, suka gosong Rena bikinnya.”               “Ya iyalah gosong, kamu kalau nyalain kompor gas, apinya suka besar. Itu bikin makanan cepat gosong sama boros ke gasnya.”               Renata tersenyum lebar. “Kan nanti kalau aku nikah, ada Mama yang ngajarin. Terus kalau nanti aku punya anak, Mama yang bantu ngurus anak aku kan Ma! Nanti kita belanja baju bayinya bareng biar bisa milih yang bagus-bagus.”               Mama terdiam sesaat.               “Ma?”panggil Renata lagi melihat Ibunya hanya menunduk.               “I-iya sayang.”Jawab Mama dengan suara bergetar.               “Tapi aku nikahnya juga masih lama Ma, soalnya kata Zian dia kalau nikah nunggu usia diatas kepala tiga.”               “Kamu suka banget ya sama Zian-Zian ini?”               Renata mengangguk semangat. “Suka soalnya dia mirip lee jong suk, artis korea kesukaan Rena!”               “Dulu kamu pernah suka sama Adit teman SMP kamu karena dia mirip aktor Thailand, sekarang pindah ke aktor Korea, kalau nanti kemana? India?”               Renata mengerucutkan bibirnya. “Ini yang terakhir Mama!”               “Dulu juga bilangnya gitu,”Ledek Mama.               “Seriusan Mama!”               “Iya deh percaya.”               “Percaya Mama kok bikin Rena enggakk yakin ya?”               Mama tertawa kecil. “Itu karena kamu suudzon sama Mama. Udah ah Mama mau tidur dulu.”               “Baru juga jam tiga sore, bentar lagi ashar lho Ma. Pamali.”               “Mama nunggu adzan di kamar aja.”               -ṀḦṂḈ-                 “Kalian enggakk bisa ya, minta aku istirahat sebentar baru kita obrolin masalah ini?”ujar Zian jengkel sambil menyimpan koper di sebelah sofa yang ia duduki.               “Bandung Bali kan dekat Zi, memangnya Bunda Ayah harus nunggu berapa lama lagi buat dengar keputusan kamu?”timpal Bunda.               Zian mendengus malas, ia mengacak rambutnya kesal. “Aku setuju asalkan dia juga menerima pernikahan ini.”               Ayah dan Bunda tersenyum lega dan kompak mengangguk.               “Lalu soal nafkah..”               “Enggakk usah kamu mikirin materi, biar Ayah yang biayai semua kebutuhan kalian.”Sergah Ayah cepat.               “Aku juga mau turut andil Ayah,”               “Memangnya kamu punya uang Zi?”Tanya Bunda penasaran.               Zian mengangguk. “Uang dari Ayah dan Bunda kasih tiap bulan, aku simpan di tabungan dan enggakk aku sentuh sampai saat ini, aku juga masih ada uang hadiah kejuaran olimpiade dan itu aku masukin ke saham rumah sakit punya Paman Rasya.”               “Jadi kamu ke Bali punya misi tersendiri? Enggak full liburan? Terus uang bensin, jajan sehari-hari kamu dari mana kalau semua uang kamu tabung?”Tanya Bunda terkejut.               “Uang yang Ayah kasih aku pakai sebagian, cukup kok untuk kebutuhan aku, apalagi makan di kantin sekolah juga enggakk mahal. Jadi, aku mau turut andil dalam menafkahi walaupun belum full. Minimal bayaran sekolah dan uang jajan.”               “Yakin kamu bisa?”               “Insya Allah, tapi aku juga butuh penghasilan tambahan.”Zian menarik nafas pelan dan menatap Ayahnya serius. “Kalau boleh aku diijinin untuk ambil part time kerja di perusahaan Ayah. Sejauh ini aku bisa bikin laporan data Ayah kan?”               “Tapi kamu masih sekolah Zian,”               “Aku bisa bagi waktu Bunda.”               “Untuk apa kamu kerja? Kamu cukup belajar saja. Soal nafkah tidak usah khawatir, ada Ayah dan Bunda.”Ucap Bunda jengkel.               “Menikah, adalah ibadah. Berapapun usia seseorang yang menjalani pernikahan, tetap saja aturan dan kewajiban laki-laki itu sama. Aku mungkin masih sekolah, tapi aku paham kewajibanku sebagai laki-laki, karena itu berapapun yang aku dapat walaupun nilainya kecil tapi aku ingin melakukannya dan memberikannya pada istrikku nanti.”Tegas Zian walaupun ia sempat bergidik kecil membayangkan Renata menjadi istrinya.               Ayah mengangguk. “Baik, Ayah akan bicarakan dengan atasan Ayah.. akan Ayah coba.”               “Lalu soal pertemuan kalian, Insya Allah lusa akan dilaksanakan.”               Zian menghela napas dan mengangguk. “Kalau gitu aku mau mandi dan istirahat.”Zian berdiri dan mengambil kopernya.               “Sudah mandi langsung makan, Bunda udah  buat ayam bakar buat kamu.”               Zian mengangguk malas.               Memikirkan dirinya akan menikah dalam hitungan hari membuatnya ingin tertawa, namun ia lebih ingin menerjunkan diri mengetahui siapa yang akan menjadi istrinya. Bisakah Renata di ganti dengan Asri? Gadis berjilbab, partnernya ketika olimpiade dan bersikap santun kepada siapapun? Hmmm… sepertinya Tuhan sudah memberikan cap pada Renata jika gadis itu adalah takdirnya… mungkin.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD