Renata memegang perutnya yang keroncongan. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 23.00 tidak terasa hampir tujuh jam lamanya ia belajar untuk ulangan besok. Ia tersenyum melihat kertas ringkasan yang dibuat Audri untuknya. Semenyebalkan mulut Audri, tetap saja sahabatnya itu yang akan menjadi pendukung utama. Renata kini menatap buku memo kecil yang bertengger di meja belajarnya, memo itu sudah kusam dan bergelombang kertasnya karena terhimpit buku lainnya. Menghela napas Renata membuka buku itu. Untuk Suara Yang Menyapa Setiap pagi sebelum sebuah lonceng berbunyi Terselip kata selamat pagi dalam sebuah sapa Untuk suara yang selalu menyapa setiap pagi Kemana kini kau menghilang pergi Senyap menuggu sebuah kalimat dari mulutmu Menyisakan se

