Bab 7. Sang Pewaris

1092 Words
Evelyn seketika mengerutkan kening dengan perasaan bingung. "Maksud Anda apa? Aku dan Kevin belum sedekat itu. Mana mungkin aku bisa membebaskan dia dari Ayahnya. Aku juga gak mau jadi perusak hubungan seorang anak sama orang tuanya." Rizal tersenyum ringan, berdiri di samping ranjang, memandang wajah Evelyn dengan tatapan dingin. "Mungkin kedengarannya aneh dan tak masuk akal, tapi selama saya bekerja sama Tuan Muda, dia gak pernah deket sama cewek manapun. Cuma kamu satu-satunya wanita yang deket sama dia, Evelyn," ucapnya. "Saya yakin, Tuan Muda saya itu punya perasaan lebih sama kamu, dia suka sama kamu. Kalau nggak, buat apa dia sampe bela-belain bawa kamu ke Rumah Sakit, nungguin di sini sampe malem. Aneh, 'kan?" Evelyn terdiam, menggerakkan matanya ke kiri dan kanan. Ya, pria bernama Kevin memang menunjukkan perhatiannya, tapi ia tidak yakin bahwa pria itu memiliki perasaan lebih kepadanya. Kevin Sanjaya hanya ingin membalas budi atas pertolongan yang ia berikan malam itu. Evelyn seketika larut dalam lamunan, apa yang Rizal jabarkan sangat tidak masuk akal. Ia hanya wanita biasa, tidak ada yang spesial dengan dirinya, wajahnya pun tidak terlalu cantik untuk dicintai oleh pria mapan seperti Kevin. "Gimana, apa kamu mau memperjuangkan cinta kalian? Kalau kamu mau, saya bisa bantu kamu, Evelyn," tanya Rizal dengan senyum kecil. "Kamu cukup kabur sama dia dan kalian bisa memulai hidup di suatu tempat yang jauh dari Ayahnya." Evelyn tersenyum hambar. "Sepertinya Anda salah paham, Pak. Aku dan Kevin tak memiliki hubungan sespesial itu hingga kami harus kabur dan memulai hidup di suatu tempat. Kami baru kenal selama beberapa hari. Permintaan Anda terlalu berlebihan, Pak." Rizal tersenyum ringan, melangkah menuju jendela yang berada di sisi kiri ranjang di mana Evelyn berbaring. Tatapan matanya tertuju kepada kaca jendela dengan tirai berwarna coklat s**u yang terbuka, memperlihatkan pemandangan area Rumah Sakit di bawah sana karena ruangan VVIP yang dihuni oleh wanita itu berada di lantai dua. Rizal memutar badan, menyandarkan punggungnya di antara jendela, menatap wajah Evelyn dengan datar. "Apa kamu tau siapa Kevin?" tanyanya dan hanya dijawab dengan kebisuan oleh Evelyn karena wanita itu memang tidak tahu siapa sebenarnya Kevin Sanjaya. "Dia itu anak dari orang terkaya di negara ini. Nama Ayahnya Hendra Sanjaya, pemilik kerajaan bisnis Sanjaya Grup. Kekayaan yang dia miliki berjumlah triliunan," jelas Rizal dengan senyum lebar. "Kamu yakin gak mau jadi bagian dari keluarga itu? Kamu bakalan kaya raya, Evelyn. Kamu akan hidup bergelimang harta." Evelyn terdiam, tebakannya selama ini ternyata benar. Kevin bukan orang sembarangan, pria itu anak dari salah satu konglomerat dengan aset triliunan. Setelah mengetahui hal tersebut, Evelyn semakin merasa hal yang sangat mustahil pria kaya raya itu menaruh hati kepadanya. Memangnya dia siapa hingga dicintai oleh pewaris tahta kerajaan bisnis seorang Hendra Sanjaya? "Lebih baik Anda pulang, Pak. Permintaan Anda sangat tidak masuk akal. Aku dan Kevin sama sekali gak punya hubungan sespesial itu," ucap Evelyn dengan dingin. "Astaga, kamu masih gak percaya kalau Kevin suka sama kamu?" Evelyn terdiam. Percaya? Dalam mimpi pun ia tidak pernah membayangkan akan dicintai oleh pria kaya raya. "Aku bukan Cinderella, Pak. Dicinta oleh pangeran tampan dan kaya raya seperti Kevin," jawab Evelyn dengan dingin. "Apalagi aku harus merusak hubungan seorang Ayah sama anaknya. Meskipun aku punya perasaan sama dia, lebih baik aku mundur." "Dasar bodoh!" ketus Rizal dengan dingin. "Saya udah memberi kamu kesempatan, Evelyn, tapi kamu menyia-nyiakan kesempatan yang saya berikan. Jangan salahkan saya jika saya mencari wanita lain buat menjadi pendamping Kevin." Ucapan terkahir Rizal sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan ruangan VVIP dengan perasaan kesal. "Dasar mental miskin. Kayaknya tuh cewek udah nyaman sama kemiskinannya, diberi kesempatan buat hidup enak malah gak mau. Dasar bodoh," batin Rizal dengan senyum sinis. Evelyn terdiam, memikirkan percakapannya dengan Rizal, mencoba mencari benang merah antara ucapan pria itu dengan apa yang pernah diceritakan oleh Kevin. Kevin memang mengatakan bahwa dia sedang merencanakan pemberontakan, hidupnya tidak bisa lepas dari bayang-bayang ayahnya bahkan tidak memiliki ruang untuk melakukan hal yang dia inginkan. Namun, ia tidak ingin terlalu percaya diri. Dicintai oleh pria sempurna seperti Kevin adalah hal yang mustahil menurutnya. "Ya Tuhan, sebenarnya apa yang Engkau rencanakan dengan hidupku. Buat apa Engkau mempertemukan aku sama Kevin? Mustahil laki-laki seperti dia mencintaiku," gumam Evelyn seraya mengusap wajahnya kasar. *** Tiga hari kemudian, pesawat yang ditumpangi oleh Kevin baru saja mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, setelah melakukan penerbangan selama kurang lebih 18 jam, ia akhirnya tiba di tanah air. Dengan menarik koper berukuran kecil, Kevin berjalan di area Bandara. Rizal nampak berdiri di kejauhan, menunggu kedatangan sang majikan. Pria itu segera menghampiri dan mengambil alih koper yang tengah ditarik oleh Kevin. "Selamat datang kembali, Tuan Muda," kata Rizal dengan ramah. Kevin mendengus kesal, menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Rizal. "Jangan panggil saya dengan sebutan Tuan Muda, Rizal. Saya gak suka," pintanya dengan tegas. "Tapi Tuan Besar meminta saya manggil Anda dengan sebutan itu, Tuan Muda," keluh Rizal. "Saya bisa dipecat kalau saya melanggar apa yang beliau perintahkan." "Kamu bekerja sama saya, Rizal. Tak ada yang boleh mecat kamu selain saya, paham?" Rizal mengangguk patuh. "Baik, Pak. Mulai saat ini, saya berkerja sama Anda dan akan patuh dengan perintah Anda." "Bagus," seru Kevin lalu melanjutkan langkahnya. "Apa kamu udah mengurus Evelyn? Dia udah pulang dari Rumah Sakit?" "Sudah, Pak. Dia udah pulang dari Rumah Sakit dua hari yang lalu." Kevin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia memang meminta Rizal mengurus administrasi dan keperluan lainnya saat Evelyn masih dirawat di Rumah Sakit. Seharusnya, ia sendiri yang melakukan hal tersebut karena dirinya yang membawa Evelyn ke Rumah Sakit, maka ia yang harus bertanggung jawab atas semua biaya pengobatannya. "Anterin saya ke rumahnya, Rizal. Saya mau ketemu sama dia," pinta Kevin. "Baik, Pak," jawab Rizal patuh. "Tapi, Pak. Boleh saya tanya sesuatu sama Anda?" "Kamu mau tanya apa?" "Eu ... apa Anda suka sama Mbak Evelyn?" Kevin menghentikan langkahnya lalu menatap tajam wajah Rizal. "Maksud kamu apa bertanya kayak gitu?" Rizal sontak melakukan hal yang sama seperti Kevin, berdiri di hadapannya. "Maaf, Pak. Bukan maksud saya buat ikut campur sama urusan Anda, saya cuma mau mengingatkan Anda kalau Tuan Besar tau Anda dekat sama wanita miskin, saya takut beliau akan--" "Cukup," sela Kevin tegas dan penuh penekanan. "Saya hargai perhatian kamu, tapi jangan sekali-kali panggil dia dengan sebutan wanita miskin, Rizal." Rizal terdiam dengan kepala menunduk. "Saya gak suka jika ada orang yang membeda-bedakan kasta. Apa itu kaya dan miskin? Kita semua sama dihadapan Tuhan dan harta gak akan dibawa mati," jelas Kevin. "Satu lagi, saya memang suka sama Evelyn dan saya akan mengejar dia. Jadi, kamu bantu sembunyiin masalah ini dari Daddy. Jangan sampai beliau tau tentang Evelyn, paham?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD