Bab 6. Sisi Lain Seorang Rizal

1281 Words
Rizal berjalan cepat meninggalkan ruang kerja Hendra Sanjaya dengan perasaan kesal. Setelah apa yang ia lakukan selama ini, ia merasa tidak dihargai, disepelekan bahkan tidak dianggap kehadirannya. Bukankah seharusnya ia memiliki hak yang sama seperti Kevin? Rizal mendengus kesal, menghentikan langkahnya di teras rumah mewah bercat kuning keemasan. "Akh, siaal! Dasar tua bangka gak tau diri!" umpatnya dengan d**a naik turun menahan rasa sesak. "Kenapa selalu dan selalu bawa-bawa Ibuku yang gak punya salah? b******k!" Rizal menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih ponsel canggihnya dari dalam sana. Setelah menatap layarnya sejenak ia pun akhirnya tahu di mana keberadaan Kevin. "Ya Tuhan, lagi ngapain lagi dia di Rumah Sakit?" decaknya, melangkah menuju mobil lalu masuk ke dalam sana. *** Sementara itu di Rumah Sakit. Kevin memasuki ruang rawat inap dengan membawa paper bag, juga kresek berisi buah-buahan segar yang sengaja ia beli di luar. Setelah menerima telepon dari ayahnya, Kevin menyempatkan diri untuk membeli semua itu untuk Evelyn yang masih terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit di ruangan VVIP. Sayangnya, ia tetap harus meninggalkan wanita itu sendirian di ruangan tersebut. Rasanya begitu berat, mengingat keadaan Evelyn yang sedang dirawat tanpa didampingi kerabat apalagi sahabat dekat. Sementara dirinya, orang yang telah membawanya ke Rumah Sakit, mau tidak mau harus tetap pergi karena jam malamnya dibatasi. "Kamu bawa apa, Vin?" tanya Evelyn, menoleh dan menatap ke arah pintu saat mendengar pintu dibuka. "Saya bawakan roti sama buah-buahan buat kamu, Ev. Kalau tengah malem kamu lapar, kamu tinggal makan roti ini," jawab Kevin, meletakan apa yang ia bawa di atas meja yang berada di samping ranjang. "Maaf, karena saya gak bisa nemenin kamu di sini, Ev. Saya harus pulang." Evelyn yang tengah duduk dengan bersandar bantal di belakang punggungnya seketika tersenyum manis. "Gak apa-apa, Vin. Makasih karena kamu udah nolongin aku, kalau nggak ... mungkin aku udah jadi mayat di rumah," jawabnya. "Sama-sama, Ev." Suasana mendadak canggung, Kevin tiba-tiba merasa bingung. Ia harus segera pulang, tapi dirinya tidak kuasa meninggalkan Evelyn sendirian. Rasa aneh seketika menyelusup masuk ke relung hatinya yang paling dalam, rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, rasa yang kehadirannya tidak pernah direncanakan dan diinginkan. Kevin menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Kakinya pun terasa berat untuk melangkah meninggalkan ruangan. "Katanya mau pulang, Vin? Kenapa kamu masih di sini?" tanya Evelyn dengan kening dikerutkan. "Hah? Eu ... i-iya, saya emang mau pulang, tapi apa kamu baik-baik aja saya tinggal sendirian?" jawab Kevin, terbata-bata. "Aku gak apa-apa, Vin. Aku baik-baik aja ko, lagian udah malem, aku cuma akan tidur sampe pagi," jawab Evelyn. "Kalau ada apa-apa, aku tinggal panggil perawat yang ada di luar." "Kamu gak mau ngasih tau orang tuamu kalau kamu dirawat di sini, Ev?" Evelyn terdiam, kepalanya menunduk. Kedua matanya tiba-tiba memerah dan berair. Kevin meraih lalu menggenggam telapak tangan Evelyn. "Kamu kenapa? Maaf kalau ucapan saya menyinggung perasaan kamu," ucapnya dengan lembut. "Aku udah gak punya orang tua, Vin. Mereka udah meninggal dua tahun lalu," jawab Evelyn lemah masih dengan kepala menunduk. Kevin menghela napas panjang. "Maaf, saya gak tau. Eu ... saya janji akan balik lagi ke sini besok. Maaf karena harus meninggalkan kamu sendirian, padahal kamu lagi sakit." "Gak apa-apa, aku udah biasa sendirian. Kamu pulang aja," jawab Evelyn dengan senyum kecil. "Hmm, saya baru beli motor baru siang tadi. Kalau kamu udah sembuh, kamu boleh ngejajal motor baru saya." "Benarkah?" Kevin menganggukkan kepala. "Waah, jadi gak sabar pengen cepet-cepet nyobain motor baru kamu." "Makannya, kamu cepat sembuh, ya." Evelyn menganggukkan kepala masih dengan senyuman yang sama. "Motornya juga saya tinggal di rumah kamu ko." Evelyn membulatkan matanya merasa terkejut. "What? Kamu tinggal motor kamu di rumahku?" "Mau gimana lagi, orang saya harus bawa kamu ke Rumah Sakit. Gak mungkin 'kan saya bawa kamu naik motor." Evelyn mengusap wajahnya kasar dengan senyum lebar. Ia semakin penasaran dengan kehidupan seorang Kevin Sanjaya. Sekaya apa dia hingga membeli motor dan hp saja seperti membeli jajanan di warung. Kedua barang itu dia beli di waktu yang bersamaan. Bahkan meninggalkan motor barunya di rumah orang lain. Mereka belum sedekat itu hingga Kevin mempercayakan kendaraan beroda dua itu di rumahnya. "Semoga motor kamu gak ilang, Vin. Rumahku kosong lho," ucap Evelyn merasa khawatir. "Kalau ilang ya tinggal beli lagi. Gampang, 'kan?" jawab Kevin dengan santai. Evelyn menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ya, aku gak tanggung jawab kalau motor kamu ilang." "Gak usah dipikirin. Kamu tidur dan istirahat. Saya pulang sekarang, ya." Evelyn menganggukkan kepala masih dengan senyuman yang sama seperti sebelumnya. "Makasih, Vin. Makasih, karena kamu udah hadir di hidupku. Aku ngerasa seperti punya teman dekat, padahal kita belum lama saling mengenal," batin Evelyn menatap kepergian Kevin dengan perasaan bahagia. *** Pukul 22.30, Kevin akhirnya tiba di rumah sang ayah, Hendra Sanjaya, seorang pengusaha kaya raya yang dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia karena aset yang ia miliki mencapai puluhan Triliun rupiah. Kevin melangkah memasuki rumah seraya menenteng jas hitam miliknya. Hendra yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan sang putra segera berdiri tegak saat melihat Kevin memasuki rumah mewah dua lantai tersebut. Hendra menatap tajam wajah Kevin seraya berkancah pinggang. "Dari mana kamu, hah?" tanyanya dengan tegas. Kevin menghentikan langkahnya dengan wajah datar. "Maaf, saya pulang terlambat. Saya harus mengurus beberapa hal penting," ucap Kevin dingin. "Hal penting apa yang mengharuskan kamu pulang selarut ini, Kevin?" bentak Hendra. "Kamu habis kumpul-kumpul sama teman kamu yang gak penting itu, nongkrong-nongkrong gak jelas, mabuk-mabukan, begitu?" Kevin menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Ia memang sedang merencanakan pemberontakan, mengatakan apa yang ia inginkan kepada sang ayah dan mencari jati dirinya, menjalani kehidupannya sendiri dan keluar dari bayang-bayang ayahnya. Namun, mengapa rasanya sulit sekali mengutarakan semua itu. Ia bahkan tidak memiliki keberanian sedikit pun. Sepengecut itukah seorang Kevin Sanjaya? "Sekarang naiklah, Daddy maafin kamu kali ini," kata Hendra dengan wajah datar. "Besok pagi-pagi sekali, kamu harus terbang ke LA buat meeting penting sama client yang ada di sana. Daddy gak mau kamu sampe terlambat. Paham?" Kevin hanya menganggukkan kepala masih dengan ekspresi wajah yang sama. "Saya naik dulu, Dad," ucapnya dingin. *** Keesokan harinya, Evelyn menunggu kedatangan Kevin Sanjaya yang konon katanya akan kembali untuk menemaninya di Rumah Sakit. Namun, setelah menunggu sekian lama pun, pria itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Pagi berganti siang, sore bahkan hingga matahari terbenam pun, pria berwajah tampan itu tak kunjung datang membuat Evelyn kecewa. Ternyata, Kevin hanya pandai merangkai kata, tapi semua ucapannya hanya kebohongan semata. "Dasar cowok, omongannya gak bisa dipegang," ucap Evelyn, berbaring dengan menutup tubuhnya menggunakan selimut tebal. "Katanya mau balik lagi ke sini, tapi mana? Udah malem juga gak dateng-dateng. Kesel deh." Suara pintu yang dibuka seketika memecah keheningan malam, Evelyn menoleh ke arah pintu dengan senyum lebar, berfikir bahwa yang ditunggu akhirnya datang. Namun, senyuman yang mengembang di kedua sisi bibirnya seketika sirna saat mengetahui bahwa pria yang memasuki ruangan bukanlah Kevin, melainkan Rizal, asisten pribadinya. "Selamat malam, Mbak Evelyn. Apa kabar?" tanya Rizal melangkah mendekati ranjang. "Malam juga," jawab Evelyn, menatap ke arah belakang masih mengharapkan kedatangan Kevin. "Tuan Muda gak bisa dateng ke sini karena dia lagi ada di LA," kata Rizal dengan wajah datar. Evelyn seketika merasa gugup dan kecewa. "Tuan Muda? Maksudnya, Kevin?" Rizal menganggukkan kepala. Sementara Evelyn kembali terdiam dengan sejuta pertanyaan. "Kalau kamu serius sama Tuan Muda Kevin, bantu dia bebas dari Ayahnya," ucap Rizal secara tiba-tiba. Evelyn mengerutkan kening. "Maaf, aku gak ngerti maksud Anda." "Cuma kamu yang bisa membebaskan Tuan Muda Kevin, Evelyn. Cuma kamu yang bisa membawa Kevin terbang dan terbebas dari sangkar emas," jelas Rizal. "Kalau kamu mau, saya bisa bantu kamu. Kalian bisa pergi ke tempat yang jauh dan memulai hidup baru di sana." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD