Bab 5. Terlepas dari Bayang-bayang sang Ayah

1030 Words
"Jangan bercanda, Vin. Lo gak tau kehidupan seperti apa yang gue jalani, kalau lo tau, gue yakin lo gak akan mau hidup kayak gue," jawab Evelyn seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Seperti apapun kehidupan yang kamu jalani, saya yakin masih mengenaskan kehidupan saya," timpal Kevin tersenyum hambar, membayangkan kehidupan yang ia jalani membuat jiwanya tertekan. "Saya dipaksa hidup seperti Ayah saya, tidak boleh melakukan hal yang saya suka bahkan saya ngerasa jadi boneka yang jalan kehidupannya udah diatur sama Ayah saya sendiri." Evelyn menoleh dan kembali menatap wajah Kevin. Ia semakin yakin bahwa pria itu bukan orang sembarangan. Jika bukan anak pejabat penting, kemungkinan besarnya adalah putra konglomerat, ahli waris yang kehidupan bahkan jodohnya sudah diatur oleh orang tuanya. "Gue makin penasaran sama lo, Vin. Sebenarnya lo siapa sih?" tanya Evelyn dengan penasaran. Kevin tersenyum cengengesan seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. "Hmm! Saya 'kan udah bilang, kalau saya cuma manusia biasa, Ev. Gak ada yang spesial dengan saya," jawabnya dengan canggung dan gugup. "Gak, gue gak percaya," sahut Evelyn, lagi-lagi jawaban Kevin sama sekali tidak mengobati rasa penasarannya. "Ya terserah kamu mau percaya atau enggak, yang jelas gak ada yang spesial dari diri saya. Saya cuma seorang anak yang dipaksa buat menjalani kehidupan yang sama seperti Ayah saya," ucap Kevin. "Padahal, saya ingin sekali saja melakukan apa yang saya sukai, menjadi diri sendiri dan hidup terbebas dari bayang-bayang Ayah saya sendiri." Evelyn menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kenapa kamu gak berontak? Kamu berhak menentukan jalan hidup kamu sendiri, Vin." Kevin terdiam, sudah sejak lama ia ingin melakukan apa yang baru saja diucapkan oleh Evelyn. Berontak dan melakukan apa yang ia inginkan adalah mimpinya sejak lama. Pertanyaannya adalah, apa ia sanggup hidup tanpa sokongan orang tuanya, tanpa harta dan pasilitas yang diberikan oleh sang ayah yang merupakan orang terkaya di negara Republik Indonesia. "Entahlah, saya sedang merencanakan pemberontakan besar-besaran, saya lagi nyiapin mental saya dulu," jawab Kevin tersenyum cengengesan. Suara dering ponsel seketika terdengar nyaring. Kevin merogoh saku jas hitam yang ia kenakan lalu meraih ponsel miliknya dari dalam sana. Kevin menatap layarnya sejenak lalu memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. "Lo udah beli hp baru?" tanya Evelyn, menatap ponsel canggih keluaran brand ternama. Kevin tersenyum kecil. "Iya, baru saya beli siang ini." "Terus, kenapa gak diangkat telponnya?" Kevin menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ini Ayah saya, Ev. Saya malas angkat telpon." "Angkat aja dulu, siapa tau penting." Kevin menganggukkan kepala lalu berbalik dan berjalan keluar dari dalam ruangan sebelum akhirnya mengangkat sambungan telepon. "Halo, Dad," sapa Kevin dengan malas, meletakan benda pipih itu di telinga. "Di mana kamu?" samar-samar terdengar suara Hendra Sanjaya sang ayah. "Saya lagi di luar, Dad. Ada apa?" "Iya, di luar di mana? Sebenarnya apa yang kamu lakuin di luar, hah? Akhir-akhir ini kamu tuh sering tiba-tiba ngilang. Pokoknya, Daddy gak mau kamu ngelakuin hal-hal bodoh. Ingat, kamu adalah pewaris tunggal perusahaan Sanjaya Grup. Jadi, kamu harus jaga sikap dan jangan bergaul sama orang-orang yang tak ada faedahnya buat hidup kamu, paham?" Kevin menghela napas panjang. "Iya, Dad. Saya paham," jawabnya dingin. "Daddy tunggu kamu di rumah. Ada yang mau Daddy bicarakan sama kamu, penting." "Maaf, Dad. Sepertinya malam ini saya pulang agak malam, tapi saya janji akan pulang. Udah dulu ya, Dad." Ucapan terkahir Kevin sebelum pria berusia 29 tahun itu menutup sambungan telepon. *** Sementara itu di kediamannya, Hendra menutup sambungan telpon dengan perasaan kesal. Rahangnya mengeras dengan wajah memerah, matanya nampak tajam menatap pria yang tengah berdiri di hadapannya. "Dasar bodoh, t***l!" bentaknya kepada Rizal. "Saya udah bilang kalau kau harus mengawasi Kevin 24 jam, kalau perlu ke kamar mandi pun kau ikuti dia." Rizal menundukkan kepala dengan tubuh gemetar. "Ma-maafkan saya, Tuan besar. Saya ngaku salah," ucapnya dengan lemah. Hendra pria berusia 60 tahun dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih itu seketika melayangkan telapak tangannya ke udara lalu mendarat di wajah Rizal keras dan bertenaga hingga wajah pria itu terhempas ke samping. "Dasar anak gak tau diri, udah sukur saya ambil kau dari panti asuhan!" bentak Hendra penuh emosi. "Apa kau mau saya kirim ke panti asuhan lagi, hah?" Rizal memejamkan mata, rasa panas bercampur nyeri seketika menjalar di permukaan wajahnya. Bibirnya pun terasa perih, terluka hingga mengeluarkan darah segar. "Se-sekali lagi saya minta maaf, Tuan Besar. Saya janji gak akan membiarkan Pak Kevin pergi sendiri lagi," ucap Rizal seraya menahan rasa nyeri. "Pak Kevin? Kata siapa kau boleh manggil dia dengan sebutan Pak Kevin? Panggil dia Tuan Muda, Rizal!" "Baik, Tuan Besar. Mulai sekarang saya akan manggil dia Tuan Muda." Hendra Sanjaya, menghela napas dalam-dalam. Mengibaskan telapak tangannya yang nyeri akibat menampar wajah Rizal. Pria itu duduk dengan bersilang kaki, menatap wajah pria berusia 28 tahun itu masih dengan tatapan mata yang sama. "Sekarang katakan di mana Kevin?" pintanya dengan dingin. "Mohon maaf, Tuan Besar. Saya tak tahu persis di mana Tuan Muda sekarang, tapi saya akan cari dia dan bawa dia pulang," jawab Rizal masih dengan kepala menunduk. "Haaa! b******k, manusia gak guna!" bentak Hendra semakin murka. "Pergi cari Kevin dan bawa dia pulang, kalau nggak--" Hendra menahan ucapannya, berdiri lalu melangkah mendekat. "Kalau kau gak bisa bawa Kevin pulang malam ini, saya gak tau apa yang akan saya lakuin sama Ibu kamu, paham?" Rizal diam-diam mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras. Matanya memerah, mendengar sang ibu disebut membuat amarahnya naik, tapi ia tidak mampu memuntahkan amarah yang sebenarnya ingin sekali ia ledakan. Rizal memejamkan mata menahan diri dan menekan emosi. "Kau dengar apa yang saya katakan?" tanya Hendra dengan tegas. "Saya dengar, Tuan Besar," jawab Rizal dengan wajah datar. "Dasar b******k, beraninya cuma mengancam. Saya dan Kevin punya hak yang sama. Semakin Anda mengekang dia, saya akan semakin membiarkan dia terbang bebas dan mendapatkan apa yang dia inginkan," batin Rizal dengan tangan mengepal. "Kenapa kau masih diam di situ, b******k? Cepat cari Kevin dan bawa dia pulang!" bentak Hendra penuh emosi. "Baik, Tuan. Saya permisi," pamit Rizal lalu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan. Hendra menatap kepergian Rizal dengan mata memerah penuh amarah. "Kau adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, Rizal. Jadi, kau harus menebus kesalahan kau dengan menjaga Kevin, mengawasi dia dan memastikan dia tak salah pergaulan," gumamnya pelan. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD