Evelyn terdiam mendengar pengakuan sang kakak. Ternyata, dibalik sikap kasarnya, terlihat tidak peduli dengan adiknya sendiri bahkan kerap memeras dan bersikap kasar kepadanya, Edwin menyimpan kesedihan yang begitu dalam yang tidak pernah dia ungkapkan kepada siapapun. Terlahir sebagai keluarga miskin, menjadi yatim piatu sejak mereka masih muda, Evelyn tidak pernah meratapi kehidupannya. Ia adalah sosok pekerja keras, wanita tomboi yang bersedia bekerja apapun demi mendapatkan uang. Namun, berbeda dengan Edwin, pria itu diam-diam menyesali kehidupan naasnya, meratapi kemiskinannya bahkan menyesali kelahirannya. Evelyn mengusap bahu Edwin dengan lembut seraya menahan isakan. "Udah, jangan cengeng gini akh. Sejak kapan abangku yang kasar dan kurang ajar jadi melow kayak gini, hah?" ucap

