Bab 15. Celine

1030 Words
Kevin tersenyum hambar menerima uluran tangan wanita bernama Celine. "Salam kenal, saya Kevin," ucapnya menjabat tangan wanita itu. "Hmmm, kayaknya Daddy terlalu berlebihan deh. Saya gak setampan itu." Celine tersenyum lebar, melepaskan jabatan tangan mereka. "Nggak sama sekali, kamu emang ganteng ko. Eu ... gimana kalau kita duduk di sana, biarkan orang tua kita membicarakan perjodohan kita, sementara kita anak-anak muda bikin acara sendiri. Ya, anggap aja sambil saling mengenal satu sama lain," ucapnya, seraya menunjuk meja lain yang berada di sisi sebelah kiri. "Boleh," jawab Kevin singkat, mengalihkan pandangan matanya kepada Hendra dan kedua orang tua Celine. "Dad, Om, Tante. Kamu duduk di sana, ya. Anggap aja kami sedang melakukan penjajakan," ucapnya dengan senyum ramah. Hendra tersenyum lebar seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Tentu saja boleh, Kevin," jawabnya dengan ramah. Kevin membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada mereka, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menuju meja yang ditunjuk oleh Celine. Hal yang sama pun dilakukan oleh wanita bergaun merah itu. Raut wajah Celine seketika berubah saat wanita itu melangkah mengikuti Kevin, bahkan ketika mereka duduk di kursi, saling berhadapan pun raut wajahnya tidak seramah sebelumnya. Kevin mengerutkan kening, menatap wajah Celine dengan bingung. "Kamu yakin mau nerima perjodohan ini?" tanyanya dengan dingin. "Kamu sendiri, apa kamu mau menjalani rumah tangga dengan wanita yang tak kamu cintai?" Celine balik bertanya dengan wajah datar. "Apa orang-orang seperti kita pulang keberanian buat menentang keinginan orang tua? Kalau pun aku nekat menolak perjodohan ini, aku pasti akan kehilangan segalanya dan kemungkinan terburuknya adalah, namaku akan dicoret dari ahli waris." "Sekarang jawab pertanyaan saya dengan jujur," pinta Kevin dengan setengah berbisik. "Apa kamu punya pacar?" Celine terkejut dan gelagapan, menoleh dan menatap ke wajah kedua orang tuanya yang berada di meja yang berbeda. "Kamu sendiri, apa kamu punya pacar?" tanyanya juga dengan setengah berbisik. Kevin tersenyum sinis, tanpa menjawab pertanyaannya pun, sikap Celine sudah memberinya jawaban yang jelas. Wanita itu sudah memiliki pacar dan hubungan mereka dirahasiakan. Jika tebakannya benar, itu artinya ia dan Celine berada di posisi yang sama. "Kamu pasti udah punya pacar, 'kan?" tanya Kevin. "Kalau nggak, kamu gak bakalan sepanik ini mendengar pertanyaan saya." Celine mendengus kesal. "Meskipun kita punya sama-sama punya pacar, apa kita berani buat menolak perjodohan ini?" Kevin terdiam, menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan. Ia kembali mengingat ancaman Hendra, sang ayah. Jika ia berani menolak perjodohan tersebut, maka ayahnya itu tidak akan segan menyakini Evelyn, wanita yang ia cintai. "Kayaknya gak leluasa ngobrol di sini," ucap Celine. "Aku takut mereka denger obrolan kita." "Apa kamu mau kita bicara di tempat lain?" "Kalau boleh." "Tentu saja boleh. Kita bilang aja sama mereka kalau kita mau ngedate, pasti diizinin ko." Celine terdiam, menoleh dan menatap wajah orang tuanya yang tengah berbincang dengan Hendra Sanjaya. Mereka terlihat akrab, bahkan tidak segan tertawa bersama. "Hmm, kamu aja yang ngomong deh. Izin sama orang tuaku," ucap Celine kembali menatap wajah Kevin Sanjaya. "Oke, tunggu sebentar, ya," jawab Kevin, berdiri tegak lalu melangkah menuju meja Hendra dan kedua orang tua Celine. *** 30 menit kemudian, Kevin berbicara empat mata dengan Celine, wanita pilihan sang ayah. Wanita cantik, berkrlas, berpendidikan dan putra dari salah satu orang terkaya di negara ini. Parasnya sempurna, bodynya pun begitu indah bak gitar spanyol. Namun, kecantikan dan kesempurnaan wanita itu sama sekali tidak membuat hatinya bergetar, bahkan tidak membuatnya kagum. Hatinya sudah terisi satu nama, perasaanya cintanya sudah ia persembahkan untuk wanita bernama Evelyn. Kevin dan Celine duduk kursi kayu di taman yang berada di pusat kota. Kevin menceritakan bahwa ia sudah memiliki seorang pacar bernama Evelyn. "Hmm ... jadi pacar kamu montir cantik?" tanya Celine seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Yap, dia kerja di bengkel. Jago naik motor, tomboi dan ..." Kevin menahan ucapannya membayangkan sosok Evelyn. Evelyn mengerutkan kening. "Dan apa?" "Dan tomboi," jawab Kevin tersenyum dengan kepala menunduk. "Kayaknya hubungan kalian udah dalem banget," ucap Celine menatap lekat wajah Kevin. "Kamu yakin kamu menikah denganku?" Kevin terkejut, matanya membulat. "Nggak, siapa bilang?" tanyanya seraya menoleh dan menatap wajah Evelyn. "Kamu sendiri gimana? Apa kamu mau nikah sama saya dan meninggalkan pacar kamu itu?" "Nggak, enak aja," decak Celine tersenyum sinis. "Tapi aku bingung, Vin. Gimana caranya agar orang tua kita membatalkan perjodohan ini? Aku gak mau kawin sama cowok yang gak aku cintai, apalgi cowok itu udah punya pacar. Bisa-bisa aku mati pelan-pelan ngejalani rumah tangga kayak gitu!" "Saya juga sama, Cel. Saya gak mau kawin sama cewek yang gak saya cintai, tapi--" ucapan Kevin tertahan, kepalanya menunduk dengan wajah muram. "Tapi kenapa?" Kevin menceritakan ancaman ayahnya yang akan mencelakai kekasihnya jika ia berani menolak perjodohan mereka. Bukan hanya itu saja, Kevin menceritakan kehidupan seperti apa yang ia jalani selama 29 tahun ini. Celine pendengar yang baik, ia tidak menyela bahkan tidak memberikan tanggapan yang membuat Kevin tersinggung. Wanita itu hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengerti. "Ya Tuhan, malang sekali nasib kamu, Vin," ucap Celine seraya menarik napas panjang-panjang. "Gini deh, kita jalani aja dulu perjodohan kita ini." Kevin mengerutkan kening, merasa bingung. "Maksud kamu?" "Tadi kamu bilang kalau Om Hendra ngancam kamu, 'kan? Sekarang kita cari aman dulu, kita pura-pura menerima perjodohan ini," jelas Celine. "Cuma pura-pura di depan orang tua kita, ya. Di belakang mereka, kita jalani hubungan dengan pacar masing-masing. Kamu sama pacar kamu, saya sama pacar saya." Kevin terdiam, ide Celine tidak terlalu buruk. Jika dirinya berpura-pura menerima perjodohan ini, maka posisi Evelyn aman dari ancaman. Masalahnya adalah, bagaimana jika pernikahan mereka dipercepat. Batin Kevin, sekejap larut dalam lamunan. Celine menepuk pundak Kevin depan. "Hey, malah ngelamun lagi," tegurnya seketika membuyarkan lamunan panjang seorang Kevin. "Kamu ngerti apa yang aku omongin tadi?" Kevin terperanjat, menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal. "I-iya, saya ngerti," jawabnya, tersenyum hambar. "Ide kamu gak terlalu buruk, tapi sampai kapan kita akan berpura-pura kayak gitu?" "Ya sampe ketahuan sama mereka." "Hah?" "Gini deh, aku bakalan kenalin kamu sama pacarku dan kamu pun wajib kenalin aku sama pacar kamu, gimana?" Kevin mengangguk dengan wajah datar. "Nama pacarku Edwin, kerjaannya gak gelas, kadang di pasar, kadang tiba-tiba jadi tukang parkir. Orangnya urakan dan dia berasal dari keluarga biasa aja," ucap Celine membayangkan sosok sang kekasih. "Tapi dia pernah nolongin aku dari begal. Sifat pemberaninya membuatku jatuh cinta sama dia, Vin." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD