Bab 14. Perjodohan

1065 Words
Hendra seketika murka, kepalan tangannya tiba-tiba mendarat di wajah Kevin, kali ini lebih keras dari sebelumnya hingga tubuh sang putra terhempas lalu mendarat di lantai. "b******k, anak kurang ajar!" teriak Hendra, dengan amarah yang meledak-ledak. "Tau dari mana kalau Daddy punya anak dari wanita lain, hah? Jangan so tau kau, Kevin!" Kevin meringis kesakitan, menahan rasa pusing di kepala juga nyeri di wajahnya. Ujung bibirnya bahkan terluka dan mengeluarkan darah segar. Ia menyeka cairan merah itu, seraya berdiri tegak dengan tubuh sempoyongan. "Jangan Daddy pikir saya gak tau kalau Daddy pernah selingkuh dari mendiang Mommy, Dad. Saya tau semuanya!" teriak Kevin, matanya memerah dan berair. "Mommy begitu tersiksa punya suami kayak Daddy hingga dia meninggal!" Amarah yang selama ini Kevin tahan benar-benar dimuntahkan. Rasa sesak di dadanya seakan tidak mampu lagi ia bendung. Kevin ingin memanfaatkan kesempatan yang ada. Dirinya tidak pernah memiliki keberanian sebesar itu untuk melawan ayahnya sendiri. Di usianya yang sedewasa ini, Kevin terkurung dalam rasa takut, bahkan kepada sosok yang ia panggil dengan sebutan Daddy, ayah kandungnya sendiri. "Saya bukan anak kecil yang bisa Daddy atur-atur sesuka hari Daddy. Saya punya hobi sendiri, yang punya cita-cita sendiri dan saya tidak ingin mewarisi apa yang Daddy sebut sebagai kerajaan bisnis Daddy itu," bentak Kevin, matanya semakin memerah menahan isakan. "Kenapa gak Daddy suruh aja anak haram Daddy buat mewarisi perusahaan Daddy itu, hah!" Hendra semakin murka, rahangnya mengeras benar-benar berada dipuncak amarah. Ia kembali melayangkan kepalan tangannya hendak mendarat di wajah Kevin. Namun, Rizal tiba-tiba menahan pergelangan tangan pria itu dan memintanya untuk berhenti. "Cukup, Tuan Besar. Kekerasan gak akan menyelesaikan masalah," pintanya, pria itu sempat menyaksikan pertengkaran mereka dan sengaja datang di waktu yang tepat. Kedatangannya bahkan tidak disadari oleh anak dan ayah yang tengah berseteru. Hendra mengalihkan pandangan matanya kepada Rizal, dadanya terlihat naik turun menahan rasa sesak karena tidak mampu melampiaskan amarah yang sudah berada di ubun-ubun. "Lepasin saya, Rizal!" bentak Hendra dengan emosi. "Lepasin dia, Rizal. Biarkan dia melampiaskan amarahnya sama saya biar saya mati sekalian!" pinta Kevin dengan suara lantang. "Sudah cukup, Tuan Muda!" pinta Rizal, matanya membulat. "Sekejam-kejamnya Tuan Besar, dia tetap Ayah kandung Anda." Hendra menghempaskan pergelangan tangan Rizal seraya berteriak kencang guna melampiaskan rasa kesal. "Haaaa! Dasar b******k!" umpatnya dengan d**a naik turun lalu menunjuk wajah Kevin seraya menahan amarah. "Pergi ke kamar kau sekarang juga, Kevin! Cepaaat!" "Pergilah, Tuan Muda. Jangan bikin Ayah Anda semakin emosi," pinta Rizal kepada Kevin. Ia ingin menjadi pahlawan, menjadi penengah di antara pertikaian yang sebenarnya ia sendiri yang menciptakan. Kevin mendengus kesal lalu melangkah menuju tangga kemudian naik ke lantai dua. "Saya harus mencari anak haramnya Daddy. Saya akan meminta dia menggantikan posisi saya dan mewarisi seluruh perusahaan Daddy. Akan saya buktikan, kalau saya bisa hidup tanpa harta Daddy," batin Kevin, ingin terlepas dari bayang-bayang sang ayah dan menjalani hidup tanpa beban dan tekanan. Permasalahannya adalah, dirinya tidak memiliki petunjuk tentang anak hasil perselingkuhan ayahnya itu. Hendra begitu pandai menyembunyikan bangkai, menutup rapat aibnya sendiri hingga ibunya meregang nyawa karena tekanan yang teramat besar dari suaminya sendiri. "Jam satu siang kamu akan ketemu sama calon istri kamu, Kevin!" teriak Hendra membuat Kevin seketika menahan langkah kakinya. "Kalau kau berani melawan Daddy lagi, Daddy tak akan segan mencelakai wanita itu." Mata Kevin membulat merasa terkejut, berbalik, berada di tengah-tengah tangga. "Maksud Daddy?" tanyanya, tubuhnya seketika gemetar. "Jangan kamu pikir Daddy gak tau di mana kamu menginap semalam," kata Hendra, tersenyum menyeringai. "It's oke, Daddy maklumi. Kamu udah dewasa dan kamu laki-laki normal. Kamu boleh tidur sama wanita manapun, tapi ..." Hendra menahan ucapannya, melangkah lalu berhenti tepat di ujung tangga. "Calon istri kamu tetap Daddy yang tentuin dan kamu tak bisa menolak karena hidup kamu milik Daddy, paham?" "Dasar siaaaal!" teriak Kevin dengan tangan mengepal. Andai pria paruh baya yang berdiri di depan sana bukanlah ayah kandungnya sendiri, mungkin sudah ia hajar habis-habisan. Andai Hendra Sanjaya tidak menggunakan Evelyn sebagai senjata, ia pasti akan menolak bertemu dengan wanita yang dijodohkan dengannya itu. Namun, apa ia memiliki pilihan lain? Hidup yang dijalani oleh Evelyn sudah berat, jalan yang dilewati kekasihnya itu penuh derita dan nestapa, meskipun Evelyn terlihat tegar dan baik-baik saja sejauh kakinya melangkah hingga takdir mempertemukan mereka dan menjadi sepasang kekasih. "Sial, dari mana Daddy tau tentang hubungan saya sama Evelyn?" batin Kevin, melirik wajah Rizal. Hanya asistennya itu yang tahu mengenai hubungan mereka. Hendra tersenyum menyeringai, panah yang ia tembakan tepat mengenai sasaran. Ia yakin, Kevin tidak akan berani membangkangnya lagi. Meskipun begitu, ia tetap harus memisahkan putranya dari wanita yang telah merubah Kevin menjadi anak yang durhaka. Ia akan memberinya uang dan memintanya pergi sejauh mungkin. Akan tetapi, jika wanita bernama Evelyn itu masih menolak meninggalkan Kevin Sanjaya, maka kematianlah yang akan memisahkan mereka berdua. "Lupakan pertengkaran kita hari ini dan ikuti semua kemauan Daddy seperti biasa, kalau kamu gak mau wanita itu celaka, paham?" ancam Hendra penuh penekanan. Rizal yang masih berada di sana seketika mengepalkan kedua tangannya. Dari mana pria paruh baya itu mengetahui hubungan Kevin dan wanita bernama Evelyn? Ia tidak membocorkan rahasia itu kepada siapapun, bahkan ketika Hendra mendesaknya pun, dirinya tetap bungkam. Sepertinya, Hendra diam-diam mengirimkan mata-mata dan mengintai gerak-gerik Kevin pasca kepulangannya dari LA. "Sial, dasar tua bangka sialan! Sepertinya, saya harus lebih berhati-hati. Si b******k itu menggunakan mata-mata lain selain saya. Ternyata, dia udah gak percaya lagi sama saya," batin Rizal, menatap tajam wajah Hendra Sanjaya. *** Pukul 13.00, dengan mengenakan jas berwarna hitam tanpa dasi, Kevin terpaksa mengikuti keinginan sang ayah untuk bertemu dengan wanita pilihannya. Wanita cantik yang berasal dari kasta yang sama dengannya, putri dari konglomerat yang memiliki kekayaan hampir setara dengan Hendra Sanjaya. Restoran terkenal pun sengaja di boking khusus guna memperkenalkan mereka bedua. Hendra yang tengah duduk di mejanya bersama sang putra seketika berdiri tegak saat melihat calon besan dan menantunya berjalan mendekati mereka. "Selamat siang, Pak Hartawan," sapa Hendra dengan ramah. Pria itu menyalami pria bernama Hartawan berserta istrinya juga gadis cantik dengan gaun berwarna merah terang yang membalut tubuh langsingnya. Kevin melakukan hal yang sama seperti sang ayah. Wajahnya nampak datar, jiwanya pun tertekan, tapi ia harus tetap tersenyum saat Hendra mengenalkannya kepada gadis berparas cantik itu. "Kenalin, dia Kevin putra Om," ucap Hendra. Wanita itu tersenyum lebar, mengulurkan telapak tangannya untuk bersalaman. "Namaku Celine, senang berkenalan sama kamu, Kevin. Hmm ... kamu tampan juga. Ternyata Om Hendra gak melebih-lebihkan saat mengatakan punya anak yang tampannya seperti seorang pangeran." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD