Bab 13. Janji Seorang Kevin Sanjaya

1047 Words
Keesokan harinya tepatnya pukul 07.30, suara dering ponsel seketika mengejutkan Kevin dan Evelyn yang masih terlelap dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal. Tubuh Kevin menggeliat, matanya berkedip pelan seraya mengulurkan telapak telapak tangannya mencari ponsel canggih miliknya ia letakan di atas meja kecil. Kevin membuka matanya dengan malas, menatap layar ponsel. "Astaga, siapa sih gangguin orang pagi-pagi begini," decaknya, sebelum akhirnya mengangkat sambungan telepon. "Halo," sapa Kevin dengan lemah, meletakan ponsel di telinga. "Di mana kamu, Kevin? Dasar anak kurang ajar, berani kamu sama Daddy, hah?" bentak Hendra di dalam sambungan telepon. Kevin terperanjat, matanya membulat. Rasa kantuk yang semula ia rasakan pun seketika sirna. Pria itu bangkit lalu duduk tegak dengan perasaan takut. "Daddy," ucapnya masih dengan nada suara yang sama. "Daddy tunggu kamu di rumah sekarang juga. Kalau nggak ..." Hendra menahan ucapannya, hanya helaan napasnya saja yang terdengar tidak beraturan. "Kalau nggak, Daddy akan cabut semua pasilitas yang kamu pake, paham?" Kevin memejamkan mata, mengakhiri sambungan telepon seraya menghela napas dalam-dalam. Evelyn yang baru saja terjaga, mengusap kedua matanya sebelum akhirnya bangkit lalu duduk tepat di samping Kevin. "Siapa yang nelpon, Vin?" tanyanya, sembari membuka mulutnya lebar-lebar menahan rasa kantuk. Kevin menoleh lalu menatap wajah Evelyn dengan senyum kecil. Satu kecupan singkat pun menyadari di bibir mungilnya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan wanita itu. "Ayah saya nelpon, Sayang," jawabnya, raut wajah Kevin seketika murung. "Kamu harus pulang sekarang?" Kevin mengangguk dengan rasa menyesal. Evelyn menghela napas dalam-dalam, merapatkan selimut tebal di mana tubuh polosnya tersembunyi di dalam sana. "Kalau kamu pulang, kapan kamu akan nemuin aku lagi? Aku takut kamu ngilang kayak kemarin. Tiba-tiba udah di LA aja." Kevin memeluk tubuh Evelyn erat dengan mata terpejam. "Itu karena saya gak tau harus mengabari kamu ke mana, Sayang. Hmm ... saya akan beliin hp baru buat kamu biar kita bisa komunikasi setiap saat, oke?" "Gak usah, Vin." "Gak bisa gitu, kalau kamu gak megang hp, gimana caranya saya ngehubugi kamu? Kalau saya lagi kangen sama kamu, gimana?" Evelyn terdiam, mengurai pelukan dengan wajah muram. Ia sudah menyerahkan satu-satunya mahkota yang ia miliki sebagai seorang wanita. Kejadian itu bahkan terjadi begitu saja. Mau dikatakan tanpa sengaja pun, tapi mereka melakukannya dengan kesadaran penuh. Dua-duanya hilang kendali dan tidak bisa mengendalikan hasrat, gairah dan bisikan setan yang tiba-tiba hadir menjadi orang ketiga di tengah-tengah mereka. Kevin meraih dagu Evelyn, membawa wajahnya tepat dihadapannya. "Kamu kenapa, Sayang? Kamu takut saya kabur setelah kita--" Kevin menahan ucapannya, menyesali kejadian semalam dan sadar betul bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. "Maafin saya, Ev. Seharusnya kita gak ngelakuin itu," ucapnya dengan lemah. "Kamu gak bakalan ninggalin aku, 'kan?" "Tentu saja, Sayang. Saya janji gak akan pernah ninggalin kamu." "Aku udah menyerahkan semuanya sama kamu, Vin. Aku gak akan bilang kamu yang udah merenggutnya dariku karena kita melakukannya dengan kesadaran penuh tanpa paksaan, tapi--" Evelyn menahan ucapannya, kembali menunduk dengan wajah sedih. "Tapi apa, Ev?" tanya Kevin mengusap satu sisi wajah Evelyn dengan lembut. "Tapi aku mohon jangan pernah tinggalin aku," jawab Evelyn dengan lemah. "Iya, saya janji gak akan pernah ninggalin kamu, Evelyn. Saya bersumpah demi hidup dan mati saya, saya Kevin Sanjaya, tidak akan pernah meninggalkan apalagi mengkhianati cinta Evelyn," kata Kevin seraya mengangkat telapak tangannya ke udara. Evelyn tersenyum lebar, mendaratkan kecupan singkat di bibir Kevin Sanjaya. "Udah cukup, aku percaya sama kamu, Vin," ucapnya dengan senyum. Kevin mengangguk lalu berucap, "Kita siap-siap pulang, ya. Semoga baju kita udah kering. O iya, motor saya disimpan di rumah kamu aja, ya. Kamu 'kan gak ada kendaraan, pake aja motor itu ke manapun kamu pergi, tapi ingat ... gak boleh boncengin cowok manapun, paham?" Evelyn menganggukkan kepala dengan senyum bahagia. Mulai detik ini, dirinya akan berhenti hidup mandiri, melakukan semuanya sendiri dan bekerja keras sendiri. Dirinya akan menggantungkan hidup kepada Kevin, sang pangeran tampan yang kini telah menjadi kekasihnya. Menceritakan apapun, merengek apabila ia sedang menginginkan sesuatu dan menjadikan Kevin satu-satunya tumpuan hidupnya. *** Kevin akhirnya tiba di kediamannya pada pukul 09.00, pria itu masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin. Meskipun masih agak sedikit basah bahkan terlihat kusut, tapi ia tidak memiliki pakaian lain lagi karena koper yang ia bawa dari LA tertinggal di mobil bersama Rizal. Dengan wajah datar Kevin melangkah memasuki rumah mewah dua lantai. Rambutnya pun agak sedikit berantakan, matanya nampak sayu seperti menahan rasa kantuk karena begadang bersama Evelyn hampir semalaman. Kevin menghentikan langkahnya tidak jauh dari tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua saat melihat Hendra sang ayah berjalan menuruni satu-persatu anak tangga. Pria berusia 60 tahun itu mengerutkan kening, menatap Kevin dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan kesal. "Dari mana aja kamu, hah?" bentak Hendra, suaranya terdengar menggelegar hingga memantul di udara. "Maaf karena saya pulang terlambat, Dad," jawab Kevin dengan kepala menunduk. Hendra menghentikan langkahnya di ujung tangga. "Sejak kapan kamu berani melanggar peraturan yang udah Daddy buat, Kevin? Liat, penampilan kamu kayak gembel!" Kevin diam-diam mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya memerah, rahangnya pun mulai mengeras menahan amarah yang entah sejak kapan ia tahan. Kevin mengangkat kepala, memandang wajah sang ayah dengan tajam. Tatapan yang tidak pernah Hendra liat sebelumnya. "Apa Daddy tau berapa umur saya sekarang, hah?" tanya Kevin dengan nada suara tinggi. "Umur saya udah 29 tahun, Dad, tapi apa prnah saya melakukan apa yang saya inginkan? Apa pernah Daddy bertanya apa yang saya sukai, apa yang saya mau dan apa hobi saya? Nggak, Dad. Nggak!" Hendra membulatkan mata, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang putra. Selain terdengar membentak, ucapan Kevin seolah sedang melakukan pemberontakan. Selama ini, Kevin tidak pernah berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Hendra melangkah cepat, tiba-tiba melayangkan telapak tangannya ke udara lalu mendarat di wajah sang putra keras dan bertenaga hingga wajahnya terhempas ke arah samping. "Dasar anak kurang ajar? Siapa yang ngajarin kamu bersikap kayak gini sama Daddy, hah?" bentaknya, lalu mencengkram kerah pakaian yang dikenakan oleh Kevin. "Dengerin Daddy, kamu putra Daddy, pewaris kerajaan bisnis yang Daddy punya. Kamu satu-satunya harapan Daddy, Kevin. Itu sebabnya Daddy mendidik kamu dari kecil, biar kamu siap saat Daddy pensiun nanti!" Dengan d**a naik turun juga menahan rasa nyeri di satu sisi wajahnya, Kevin menatap wajah sang ayah dengan mata memerah. "Benarkah cuma saya satu-satunya putra Daddy? Bukannya Daddy punya putra lain, hasil dari perselingkuhan Daddy sama w************n itu?" Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD